Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

‘Maksudku … well, kukira dia akan senang membentuk perkumpulan Pertahanan rahasian tepat di bawah hidup seseorang dari Kementerian … kukira dia benar-benar frustrasi terhadap betapa sedikitnya yang bisa dia lakukan di tempat dia berada … jadi kukira dia cenderung … menghasut kita.’

Ron terlihat benar-benar bingung.

‘Sirius benar,’ katanya, ‘kau memang terdengar persis seperti ibuku.’

Hermione menggigit bibirnya dan tidak menjawab. Bel berdering persis ketika Peeves menukik ke arah Katie dan mengosongkan satu botol penuh tinta ke atas kepalanya.

*

Cuaca tidak membaik ketika hari semakin malam, sehingga pada pukul tujuh malam itu, ketika Harry dan Ron turun ke lapangan Quidditch untuk berlatih, mereka basah kuyup dalam waktu beberapa menit, kaki mereka tergelincir dan meluncur di atas rumput yang basah. Langit kelabu gelap dan bergemuruh dan lega rasanya mendapatkan kehangatan dan cahaya ruang ganti, walaupun mereka tahu kelonggaran itu hanya sementara. Mereka menemukan Fred dan George sedang berdebat apakah akan menggunakan salah satu Kotak Makanan Pembolos mereka sendiri untuk berkelit dari terbang.

‘… tapi aku bertaruh dia akan tahu apa yang sudah kita lakukan,’ Fred berkata dari ujung mulutnya. ‘Kalau saja aku tidak menawarkan kepadanya beberapa Pastilles Muntah kemarin.’

‘Kita bisa mencoba Gula-Gula Demam,’ George bergumam, ‘belum ada yang pernah melihat itu –‘

‘Apakah bisa bekerja?’ tanya Ron penuh harap, selagi hantaman hujan pada atap menguat dan angin menderu di sekeliling bangunan itu.

‘Well, yeah,’ kata Fred, ‘suhu badanmu akan langsung naik.’

‘Tapi kau juga mendapatkan bisul-bisul besar berisi nanah ini,’ kata George, ‘dan kami belum menemukan cara menghilangkannya.’

‘Aku tidak bisa melihat bisul apapun,’ kata Ron, sambil menatap si kembar.

‘Tidak, well, kau tidak akan melihatnya,’ kata Fred dengan muram, ‘bisul-bisul itu tidak berada di tempat yang biasanya kami perlihatkan ke orang banyak.’

‘Tapi membuat duduk di atas sapu sakit di –‘

‘Baiklah, semuanya, dengarkan,’ kata Angelina keras-keras, sambil muncul dari kantor Kapten. ‘Aku tahu ini bukan cuaca ideal, tapi ada kemungkinan kita akan bermain melawan Slytherin dalam kondisi seperti ini jadi ide yang bagus untuk melatih cara kita mengatasi cuaca ini. Harry, bukankah kau melakukan sesuatu dengan kacamatamu untuk menghentikan hujan membuatnya berkabut ketika kita bermain melawan Hufflepuff dalam badai itu?’

‘Hermione yang melakukannya,’ kata Harry. Dia menarik keluar tongkatnya, mengetuk kacamatanya dan berkata, ‘Impervius!’

‘Kukira kita semua harus mencobanya,’ kata Angelina. ‘Kalau saja kita bisa mengenyahkan hujan dari wajah kita akan sangat membantu daya pandang — semuanya bersama-sama, ayolah –Impervius! OK. Ayo pergi.’

Mereka semua menyimpan tongkat mereka kembali ke saku bagian dalam jubah mereka, memanggul sapu mereka dan mengikuti Angelina keluar dari ruang ganti.

Mereka berkecipak melalui lumpur yang semakin dalam ke tengah lapangan; daya pandang masih sangat buruk bahkan dengan Mantera Impervius; cahaya memudar cepat dan tirai hujan menyapu tanah.

‘Baiklah, dengan aba-aba peluitku,’ teriak Angelina.

Harry menyentak dari tanah, sambil mencipratkan lumpur ke segala arah, dan meluncur naik, angin menariknya sehingga agak melenceng.

Dia tidak punya gambaran bagaimana dia akan melihat Snitch dalam cuaca ini, dia sudah mengalami cukup kesulitan melihat satu-satunya Bludger yang mereka gunakan untuk latihan, satu menit latihan Bludger itu hampir menjatuhkannya dan dia harus menggunakan Sloth Grip Roll untuk menghindarinya. Sayangnya, Angelina tidak melihat ini. Nyatanya, dia tidak tampak bisa melihat apapun; tak seorangpun dari mereka punya petunjuk apa yang sedang dilakukan yang lain. Angin semakin kencang; bahkan dari kejauhan Harry bisa mendengar deru, suara hantaman hujan yang mengenai permukaan danau.

Angelina menahan mereka selama hampir satu jam sebelum menyerah kalah. Dia memimpin timnya yang basah kuyup dan tidak puas kembali ke dalam ruang ganti, bersikeras bahwa latihan itu bukan buang-buang waktu, walaupun tanpa keyakinan nyata dalam suaranya. Fred dan George terlihat sangat jengkel; keduanya berkaki bengkok dan mengerenyit dengan setiap gerakan. Harry bisa mendengar mereka mengeluh dengan suara rendah ketika dia mengeringkan rambutnya dengan handuk.

‘Kukira beberapa punyaku sudah pecah,’ kata Fred dengan suara hampa.

‘Punyaku belum,’ kata George melalui gigi-gigi yang dikertakkan, ‘mereka berdenyut gila-gilaan … terasa lebih besar kalau ada.’

‘ADUH!’ kata Harry.

Dia menekankan handuk ke wajahnya, matanya dipejamkan keras karena sakit. Bekas luka di keningnya terbakar lagi, lebih sakit daripada berminggu-minggu ini.

‘Ada apa?’ kata beberapa suara.

Harry muncul dari balik handuknya; ruang ganti tampak buram karena dia sedang tidak mengenakan kacamatanya, tapi dia bisa tahu bahwa wajah semua orang sedang berpaling kepadanya.

‘Tidak apa-apa,’ gumamnya, ‘aku — menyodok mataku sendiri, itu saja.’

Tetapi dia memberi Ron pandangan penuh arti dan mereka berdua tinggal ketika sisa tim yang lain berbaris keluar, terlindungi dalam mantel mereka, topi mereka ditarik rendah menutupi telinga mereka.

‘Apa yang terjadi?’ kata Ron, saat Alicia telah menghilang melalui pintu. ‘Apakah bekas lukamu?’

Harry mengangguk.

‘Tapi …’ terlihat takut, Ron berjalan menyeberang ke jendela dan menatap keluar pada hujan, ‘dia — dia tidak mungkin berada di dekat kita sekarang, bisakah?’

‘Tidak,’ Harry bergumam, sambil merosot ke sebuah bangku dan menggosok keningnya. ‘Dia mungkin bermil-mil jauhnya. Sakit karena … dia … marah.’

Harry tidak bermaksud mengatakan itu sama sekali, dan mendengar kata-kata itu seakan-akan diucapkan oleh orang asing — walau begitu dia tahu seketika kata-kata itu benar. Dia tidak tahu bagaimana dia mengetahuinya, tapi dia tahu; Voldemort, di manapun dia berada, apapun yang sedang dilakukannya, sedang berada dalam amarah yang memuncak.

‘Apakah kamu melihatnya?’ kata Ron, terlihat ngeri. ‘Apakah kamu … mendapatkan penglihatan, atau sesuatu?’

Harry duduk diam, sambil menatap kakinya, membiarkan pikiran dan ingatannya santai setelah rasa sakit itu.

Bentuk-bentuk kacau yang membingungkan; deru suara-suara yang melolong …

‘Dia mau sesuatu dilakukan, dan tidak terjadi cukup cepat,’ katanya.

Lagi-lagi, dia merasa terkejut mendengar kata-kata keluar dari mulutnya, dan walau begitu sangat yakin kata-kata itu benar.

‘Tapi … bagaimana kau tahu?’ kata Ron.

Harry menggelengkan kepalanya dan menutupi matanya dengan tangan, sambil menekannya dengan telapak tangannya. Bintang-bintang kecil meledak dalam matanya. Dia merasakan Ron duduk di bangku itu di sampingnya dan tahu Ron sedang menatapnya.

‘Terakhir kali apakah mengenai ini?’ kata Ron dengan suara berbisik. ‘Ketika bekas lukamu sakit di kantor Umbridge? Kau-Tahu-Siapa marah?’

Harry menggeleng.

‘Kalau begitu, apa?’

Harry berpikir kembali. Dia sedang memandang wajah Umbridge … bekas lukanya sakit … dan dia punya perasaan aneh dalam perutnya … perasaan berjingkrak yang aneh … perasaan senang … tapi tentu saja, dia belum mengenali apa itu, karena dia sendiri sedang merasa begitu sengsara …

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.