Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

‘Well, lanjutkan!’ kata Profesor Trelawney denagn kuat, suaranya melengking tinggi dan agak histeris, ‘kalian tahu apa yang harus dilakukan! Atau apakah aku seorang guru yang begitu di bawah standar sehingga kalian belum pernah belajar bagaimana membuka

sebuah buku?’

Kelas itu menatapnya dengan bingung, lalu kepada satu sama lain. Namun, Harry mengira dia tahu apa masalahnya. Selagi Profesor Trelawney menyentak kembali ke kursi guru yang bersandaran tinggi, matanya yang diperbesar penuh air mata kemarahan, dia mencondongkan kepalanya mendekat pada kepala Ron dan bergumam, ‘Kukira dia sudah dapat hasil inspeksinya.’

‘Profesor?’ kata Parvati Patil dengan suara berbisik (dia dan Lavender selalu agak mengagumi Profesor Trelawney). ‘Profesor, apakah ada yang — er — salah?’

‘Salah!’ teriak Profesor Trelawney dengan suara yang bergetar penuh emosi. ‘Tentu saja tidak! Aku telah dihina, tentu saja … seseorang telah membuat sindiran kepadaku … tuduhan-tuduhan tak berdasar dilontarkan … tapi tidak, tidak ada yang salah, tentu saja!’

Dia mengambil napas panjang dengan ngeri dan mengalihkan pandangan dari Parvati, air mata kemarahan berjatuhan dari balik kacamatanya.

‘Aku tidak mengatakan apa-apa,’ dia tersedak, ‘tentang enam belas tahun pengabdian setia … sudah berlalu, tampaknya, tanpa diperhatikan … tapi aku tidak akan dihina, tidak, aku tidak akan!’

‘Tapi, Profesor, siapa yang menghina Anda?’ tanya Parvati takut-takut.

‘Orang yang berkuasa!’ kata Profesor Trelawney, dengan suara dalam, dramatis, yang bergetar. ‘Ya, mereka yang matanya terlalu diliputi hal-hal membosankan sehingga tidak bisa Melihat seperti yang ku-Lihat, Tahu seperti yang ku-Tahu … tentu saja, kami para Penglihat selalu ditakuti, selalu dianiaya … itu nasib kami.’

Dia menelan ludah, mengeringkan pipinya yang basah dengan ujung syalnya, lalu dia menarik sebuah sapu tangan bersulam kecil dari lengan bajunya, dan meniup hidungnya sangat keras dengan suara mirip Peeves meleletkan lidah.

Ron mencibir. Lavender memberinya pandangan jijik.

‘Profesor,’ kata Parvati, ‘apakah maksud Anda … apakah sesuatu yang Profesor Umbridge –?’

‘Jangan berbicara kepadaku mengenai wanita itu!’ teriak Profesor Trelawney, sambil melompat bangkit, manik-maniknya berderak dan kacamatanya berkilat. ‘Tolong lanjutkan pekerjaan kalian!’

Dan dia menghabiskan sisa pelajaran itu di antara mereka, dengan air mata masih bercucuran dari balik kacamatanya, sambil menggumamkan apa yang terdengar seperti ancaman dengan suara rendah.

‘… mungkin lebih baik memilih pergi … penghinaan itu … dalam masa percobaan … kita akan lihat … betapa beraninya dia …’

‘Kamu dan Umbridge punya kesamaan,’ Harry memberitahu Hermione diam-diam ketika mereka bertemu lagi di Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. ‘Dia jelas juga menganggap Trelawney penipu tua … tampaknya dia menempatkannya dalam masa percobaani.’

Umbridge memasuki ruangan selagi dia berbicara, sambil mengenakan pita beludru hitamnya dan ekspresi sangat puas diri.

‘Selamat sore, kelas.’

‘Selamat sore, Profesor Umbridge,’ mereka bernyanyi tanpa minat.

‘Tolong simpan tongkatnya.’

Tapi tidak ada jawaban berupa gerakan ribut kali ini; tak seorangpun repot-repot mengeluarkan tongkat mereka.

‘Tolong balik ke halaman tiga puluh empat Teori Sihir Pertahanan dan baca bab ketiga, yang berjudul “Kasus Tanggapan Tanpa Menyerang terhadap Serangan Sihir”. Tidak –‘

‘– perlu berbicara,’ Harry, Ron dan Hermione berkata bersama-sama, dengan suara rendah.

*

‘Tidak ada latihan Quidditch,’ kata Angelina dengan nada hampa ketika Harry, Ron dan Hermione memasuki ruang duduk setelah makan malam.

‘Tapi aku menjaga amarahku!’ kata Harry, terkejut. ‘Aku tidak mengatakan apa-apa kepadanya, Angelina, aku sumpah, aku –‘

‘Aku tahu, aku tahu,’ kata Angelina menderita. ‘Dia cuma bilang dia perlu sedikit waktu untuk mempertimbangkan.’

‘Mempertimbangkan apa?’ kata Ron dengan marah. ‘Dia memberi anak-anak Slytherin izin, kenapa kita tidak?’

Tapi Harry bisa membayangkan seberapa Umbridge menikmati memberi ancaman tidak ada tim Quidditch Gryffindor kepada mereka dan bisa dengan mudah mengerti kenapa dia tidak mau melepaskan senjata itu kepada mereka demikian cepat.

‘Well,’ kata Hermione, ‘lihat sisi baiknya — setidaknya sekarang kalian akan punya waktu untuk mengerjakan esai Snape!’

‘Itu sisi baik, bukan?’ sambar Harry, sementara Ron memandang Hermione dengan tidak percaya. ‘Tak ada latihan Quidditch, dan Ramuan ekstra?’

Harry merosot ke dalam sebuah kursi, menyeret esai Ramuannya dengan enggan dari tasnya dan mulai bekerja. Sangat sulit untuk berkonsentrasi; walaupun dia tahu Sirius belum akan muncul di dalam api sampai lama kemudian, dia tidak bisa tidak melihat ke dalam nyala api setiap beberapa menit sekali untuk berjaga-jaga. Juga ada suara yang luar biasa di dalam ruangan itu: Fred dan George kelihatannya telah menyempurnakan satu jenis Kotak Makanan Pembolos, yang mereka peragakan secara bergantian kepada kerumunan yang bersorak dan berteriak.

Pertama, Fred akan menggigit ujung jingga dari sebuah permen kunyah, yang menyebabkannya muntah hebat ke dalam sebuah ember yang telah mereka tempatkan di depan mereka. Lalu dia akan menelan paksa ujung ungu dari permen kunyah itu, yang menyebabkan muntah-muntah segera berhenti. Lee Jordan, yang sedang membantu peragaan, Menghilangkan muntahan dengan malas secara teratur dengan Mantera Penghilang yang sama dengan yang digunakan terus Snape pada ramuan-ramuan Harry.

Dengan suara muntah teratur, sorakan dan suara Fred dan George menerima pesanan pendahuluan dari kerumunan, Harry mendapati luar biasa sukar untuk fokus pada metode yang tepat untuk Larutan Penguat. Hermione tidak membantu; sorakan dan suara muntahan yang mengenai dasar ember Fred dan George diikuti dengan dengusannya yang keras dan tidak menyetujui, yang Harry rasa, kalau bisa, lebih mengalihkan perhatian.

‘Kalau begitu pergi saja dan hentikan mereka!’ katanya dengan jengkel, setelah mencoret berat cakar griffin bubuk yang salah untuk keempat kalinya.

‘Aku tidak bisa, secara teknis mereka tidak melakukan apapun yang salah,’ kata Hermione melalui gigi-gigi yang digertakkan. ‘Mereka berhak makan benda-benda aneh itu sendiri dan aku tidak bisa menemukan peraturan yang mengatakan orang-orang idiot lainnya tidak boleh membelinya, tidak kecuali benda-benda itu terbukti berbahaya dalam suatu cara dan kelihatannya tidak begitu.’

Dia, Harry dan Ron memperhatikan George melambungkan muntahan ke dalam ember, menelan sisa permen kunyahnya dan bangkit sambil tersenyum dengan lengan terentang lebar menghadapi tepuk tangan yang berkepanjangan.

‘Kau tahu, aku tidak mengerti kenapa Fred dan George cuma mendapat tiga OWL masing-masing,’ kata Harry sambil mengamati ketika Fred, George dan Lee mengumpulkan emas dari kerumunan yang berminat. ‘Mereka benar-benar mengerti bahan mereka.’

‘Oh, mereka hanya tahu hal-hal pamer yang tidak berguna nyata bagi siapapun,’ kata Hermione meremehkan.

Lama juga sebelum kerumunan di sekitar si kembar Weasley menyurut, lalu Fred, Lee dan George duduk sambil menghitung pendapatan mereka lebih lama lagi, sehingga lewat tengah malam ketika Harry, Ron dan Hermione akhirnya sendirian di ruang duduk. Akhirnya, Fred telah menutup pintu ke kamar anak laki-laki di belakangnya, sambil menggoyangkan kotak Galleonnya dengan berlagak sehingga Hermione cemberut. Harry, yang sedang membuat sedikit kemajuan dengan esai Ramuannya, memutuskan menyerah untuk malam itu. Ketika dia menyimpan buku-bukubya, Ron, yang sedang tidur ayam di kursi berlengannya, mengeluarkan dengkur teredam, terbangun, dan memandang muram ke dalam api.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.