Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

‘Ho ho,’ kata Hermione dengan suara bosan. ‘Dia bilang Harry tahu cara melakukan hal-hal yang bahkan tidak bisa dilakukannya, dan dia sudah berada di tahun terakhirnya di Durmstrang.’

Ron sedang menatap Hermione dengan curiga.

‘Kau tidak masih berhubungan dengannya, bukan?’

‘Jadi kenapa kalau iya?’ kata Hermione dengan dingin, walaupun wajahnya sedikit merah muda. ‘Aku boleh punya sahabat pena kalau aku –‘

‘Dia tidak mau hanya jadi sahabat penamu,’ kata Ron menuduh.

Hermione menggelengkan kepalanya dengan putus asa dan, sambil mengabaikan Ron, yang masih terus mengamati dia, berkata kepada Harry, ‘Well, bagaimana menurutmu? Maukah kau mengajari kami?’

‘Hanya kamu dan Ron, yeah?’

‘Well,’ kata Hermione, tampak agak cemas lagi. ‘Well … sekarang, jangan marah-marah lagi, Harry, tolong … tapi aku benar-benar berpikir kamu harus mengajari siapapun yang ingin belajar. Maksudku, kita sedang berbicara tentang mempertahankan diri kita dari Voldemort. Oh, jangan bersikap menyedihkan, Ron. Tampaknya tidak adil kalau kita tidak menawarkan kesempatan itu kepada orang lain.’

Harry mempertimbangkan ini sejenak, lalu berkata, ‘Yeah, tapi aku ragu siapapun selain kalian berdua akan mau diajari olehku. Aku sinting, ingat?’

‘Well, kukira kau mungkin terkejut berapa banyak orang yang akan tertarik untuk mendengar apa yang mau kaukatakan,’ kata Hermione dengan serius. ‘Lihat,’ dia mencondongkan badan ke arahnya — Ron, yang masih mengamatinya dengan muka merengut, mencondongkan badan juga untuk mendengarkan –‘kau tahu akhir pekan pertama di bulan Oktober adalah akhir pekan Hogsmeade? Bagaimana kalau kita memberitahu siapapun yang tertarik untuk menemui kita di desa dan kita bisa membicarakan hal ini?’

‘Kenapa kita harus melakukannya di luar sekolah?’ kata Ron.

‘Karena,’ kata Hermione sambil mengembalikan diagram Kubis Kunyah Cina yang sedang disalinnya, ‘kukira Umbridge tidak akan terlalu senang kalau dia tahu apa yang sedang kita rencanakan.’

*

Harry telah menantikan perjalanan akhir pekan ke Hogsmeade, tetapi ada satu hal yang dikhawatirkan olehnya. Sirius telah mempertahankan kebisuan membatu sejak dia muncul dalam api di permulaan September; Harry tahu mereka telah membuatnya marah dengan mengatakan mereka tidak ingin dia datang — tapi dia masih kuatir dari waktu ke waktu kalau Sirius mungkin tidak memperdulikan kewaspadaan dan muncul juga. Apa yang akan mereka lakukan kalau anjing hitam besar itu datang meloncat-loncat di jalan mendekati mereka di Hogsmeade, mungkin di bawah hidung Draco Malfoy?

‘Well, kau tidak bisa menyalahkan dia karena mau keluar dan berkeliaran,’ kata Ron, ketika Harry membahas ketakutannya dengan dia dan Hermione. ‘Maksudku, dia telah buron selama dua tahun, bukankah begitu, dan aku tahu itu bukan hal yang menyenangkan, tapi setidaknya dia bebas, benar ‘kan? Dan sekarang dia hanya terkurung sepanjang waktu dengan peri mengerikan itu.’

Hermione cemberut kepada Ron, tetapi selain itu mengabaikan hal kecil tentang Kreacher itu.

‘Masalahnya adalah,’ katanya kepada Harry, ‘sampai V-Voldemort — oh, demi Tuhan, Ron — keluar terang-terangan, Sirius akan harus tetap bersembunyi, benar bukan? Maksudku, Kementerian bodoh itu tidak akan menyadari kalau Sirius tidak bersalah sampai mereka menerima bahwa Dumbledore telah mengatakan hal yang sebenarnya sejak awal. Dan begitu orang-orang bodoh itu mulai menangkapi para Pelahap Maut yang asli lagi, akan jadi jelas kalau Sirius bukan seorang … maksudku, dia tidak punya Tanda, salah satunya.’

‘Kukira dia tidak akan cukup bodoh untuk muncul,’ kata Ron memperkuat. ‘Dumbledore akan marah besar kalau dia melakukannya dan Sirius mendengarkan Dumbledore walaupun kalau dia tidak suka apa yang didengarnya.’

Ketika Harry masih terus tampak khawatir, Hermione berkata, ‘Dengar, Ron dan aku telah berbicara dengan orang-orang yang kami kira akan mau belajar Pertahanan terhadap Ilmu Hitam yang pantas, dan ada sejumlah orang yang tampak tertarik. Kami telah menyuruh mereka untuk menemui kita di Hogsmeade.’

‘Benar,’ kata Harry dengan samar, pikirannya masih tentang Sirius.

‘Jangan cemas, Harry,’ Hermione berkata pelan. ‘Kau sudah punya cukup banyak yang dipikirkan tanpa Sirius juga.’

Dia sangat benar, tentu saja, Harry hampir tidak bisa menyelesaikan pekerjaan rumahnya, walaupun dia jauh lebih baik sekarang sewaktu dia tidak lagi menghabiskan sepanjang malam dalam detensi bersama Umbridge. Ron bahkan lebih ketinggalan pekerjaannya daripada Harry, karena sementara mereka berdua latihan Quidditch dua kali dalam seminggu, Ron juga punya tugas-tugas prefek. Namun, Hermione, yang mengambil lebih banyak mata pelajaran daripada mereka berdua, tidak hanya telah menyelesaikan semua pekerjaan rumahnya tetapi juga mempunyai waktu untuk merajut lebih banyak pakaian peri. Harry harus mengakui kalau dia semakin pandai; sekarang hampir selalu mungkin membedakan antara topi dengan kaus kaki.

Pagi kunjungan Hogsmeade timbul dengan cerah tetapi berangin. Setelah makan pagi, mereka aantri di depan Filch, yang mencocokkan nama-nama mereka dengan daftar panjang murid-murid yang telah memiliki izin dari orang tua atau wali mereka untuk mengunjungi desa itu. Dengan rasa pedih yang tiba-tiba, Harry teringat bahwa kalau bukan karena Sirius, dia tidak akan bisa pergi sama sekali.

Ketika Harry mencapai Filch, penjaga sekolah itu mengendusnya seakan-akan mencoba mendeteksi bau sesuatu dari Harry. Lalu dia memberi anggukan kasar yang membuat rahangnya bergetar lagi dan Harry berjalan terus, keluar ke undakan batu dan hari dingin yang disinari matahari.

‘Er — kenapa Filch mengendusi kamu?’ tanya Ron, ketika dia, Harry dan Hermione berjalan dengan langkah cepat di jalan kereta lebar menuju gerbang.

‘Kurasa dia sedang mencari bau Bom Kotoran,’ kata Harry dengan tawa kecil. ‘Aku lupa memberitahu kalian …’

Dan dia mengulangi cerita pengiriman suratnya ke Sirius dan Filch yang menerobos masuk beberapa detik kemudian, menuntut untuk melihat surat itu. Yang membuatnya sedikit terkejut, Hermione menganggap cerita ini sangat menarik, terlebih lagi, daripada dia sendiri.

‘Dia bilang dia diberi kisikan bahwa kau sedang memesan Bom Kotoran? Tapi siapa yang mengisikinya?’

‘Aku tak tahu,’ kata Harry sambil mengangkat bahu. ‘Mungkin Malfoy, dia kira itu lelucon.’

Mereka berjalan di antara pilar-pilar batu tinggi yang puncaknya babi hutan bersayap dan belok kiri ke jalan menuju desa, angin memecut rambut mereka ke dalam mata.

‘Malfoy?’ kata Hermione dengan skeptis. ‘Well … ya … mungkin …’

Dan dia tetap berpikir dalam-dalam sepanjang jalan menuju daerah pinggiran Hogsmeade.

‘Ngomong-ngomong, ke mana kita akan pergi?’ Harry bertanya. ‘The Three Broomsticks?’

‘Oh — bukan,’ kata Hermione, keluar dari renungannya, ‘bukan, tempat itu selalu penuh dan sangat ribut. Aku telah memberitahu yang lain untuk menemui kita di Hog’s Head, pub yang satunya lagi, kau tahu yang satu itu, bukan di jalan utama. Kukira itu agak … kau tahu … beresiko … tapi para murid biasanya tidak masuk ke sana, jadi kukira kita tidak akan terdengar oleh orang lain.’

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.