Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

‘Tongkat disimpan,’ dia memerintah mereka semua dengan senyum, dan orang-orang yang telah cukup berharap untuk mengeluarkan tongkat, menyimpannya kembali ke dalam tas mereka dengan sedih. ‘Karena kita telah menyelesaikan Bab Satu pada pelajaran lalu, saya ingin kalian semua membalik ke halaman sembilan belas hari ini dan memulai “Bab Dua, Teori-Teori Pertahanan Umum dan Turunannya”. Tidak perlu berbicara.’

Masih tersenyum lebar puas diri, dia duduk di mejanya. Kelas menghela napas keras ketika membalik, serentak, ke halaman sembilan belas. Harry bertanya-tanya dengan bosan apakah ada cukup banyak bab dalam buku itu untuk membuat mereka terus membaca sepanjang pelajaran tahun ini dan baru akan memeriksa halaman daftar isi ketika dia memperhatikan bahwa Hermione telah mengangkat tangannya lagi.

Profesor Umbridge juga telah memperhatikan, dan terlebih lagi, dia kelihatannya telah memikirkan strategi untuk kejadian seperti ini. Bukannya mencoba berpura-pura tidak memperhatikan Hermione dia bangkit dan berjalan mengitari meja-meja di barisan depan sampai mereka saling berhadapan, lalu dia membungkuk dan berbisik, sehingga sisa kelas itu tidak bisa mendengar, ‘Ada apa kali ini, Miss Granger?’

‘Saya sudah membaca Bab Dua,’ kata Hermione.

‘Well, kalau begitu, lanjut ke Bab Tiga.’

‘Saya juga telah membaca itu. Saya sudah membaca keseluruhan buku itu.’

Profesor Umbridge berkedip tetapi mendapatkan kembali sikap tenangnya hampir seketika.

‘Well, kalau begitu, kamu seharusnya bisa memberitahuku apa yang dikatakan Slinkhard tentang kontra-kutukan dalam Bab Lima Belas.’

‘Dia bilang bahwa kontra-kutukan tidak dinamai dengan tepat,’ kata Hermione cepat. ‘Dia bilang “kontra-kutukan” hanya nama yang diberikan orang-orang pada kutukan mereka ketika mereka ingin membuatnya terdengar lebih bisa diterima.’

Profesor Umbridge menaikkan alisnya dan Harry tahu dia terkesan, di luar kehendaknya.

‘Tetapi saya tidak setuju,’ Hermione melanjutkan.

Alis Profesor Umbridge naik sedikit lebih tinggi lagi dan pandangannya menjadi semakin dingin.

‘Kamu tidak setuju?’ ulangnya.

‘Ya,’ kata Hermione, yang, tidak seperti Umbridge, tidak sedang berbisik, melainkan berbicara dengan suara keras yang terdengar jelas yang sekarang telah menarik perhatian sisa kelas itu. ‘Mr Slinkhard tidak suka kutukan, bukan? Tapi, kukira kutukan bisa sangat berguna kalau digunakan untuk pertahanan.’

‘Oh, kaukira begitu, bukan?’ kata Profesor Umbridge, lupa berbisik dan sambil meluruskan diri. ‘Well, kutakut opini Mr Slinkhard, dan bukan opinimu, yang penting dalam ruang kelas ini, Miss Granger.’

‘Tapi –‘ Hermione mulai.

‘Sudah cukup,’ kata Profesor Umbridge. Dia berjalan kembali ke depan kelas dan berdiri menghadap mereka, semua rasa puas diri yang diperlihatkannya di awal pelajaran telah hilang. ‘Miss Granger, aku akan mengambil lima poin dari asrama Gryffindor.’

Ada gumaman riuh mendengar ini.

‘Untuk apa?’ kata Harry dengan marah.

‘Jangan melibatkan dirimu!’ Hermione berbisik mendesak kepadanya.

‘Karena mengacaukan kelasku dengan interupsi tanpa ujung,’ kata Profesor Umbridge dengan lancar. ‘Saya berada di sini untuk mengajar kalian dengan metode yang disetujui Kementerian yang tidak melibatkan mengajak murid-murid untuk memberikan opini mereka mengenai masalah-masalah yang hanya sedikit dimengerti mereka. Guru-guru kalian sebelumnya di mata pelajaran ini mungkin telah memberikan kalian lebih banyak kebebasan, tetapi karena tak satupun dari mereka — mungkin terkecuali Profesor Quirrel yang setidaknya tampak telah membatasi dirinya dengan mata pelajaran yang sesuai dengan tingkat umur kalian — akan lulus inspeksi Kementerian –‘

‘Yeah, Quirrel guru yang hebat,’ kata Harry keras-keras, ‘hanya ada kekurangan kecil bahwa dia punya Lord Voldemort yang muncul dari balik kepalanya.’

Pernyataan ini diikuti dengan salah satu keheningan terkuat yang pernah didengar Harry. Lalu –

‘Kukira detensi seminggu lagi akan bermanfaat untukmu, Mr Potter,’ kata Umbridge dengan halus.

*

Luka sayat di punggung tangan Harry belum lagi sembuh dan, pagi berikutnya, sudah berdarah lagi. Dia tidak mengeluh selama detensi malam itu; dia bertekad tidak akan memberi Umbridge kepuasan; lagi dan lagi dia menulis Saya tidak boleh berbohong dan tak satu suarapun keluar dari mulutnya, walaupun luka sayat itu semakin dalam dengan setiap hurufnya.

Bagian terburuk dari detensi minggu kedua adalah, seperti yang telah diramalkan George, reaksi Angelina. Dia menyudutkan Harry begitu dia tiba di meja Gryffindor untuk makan pagi pada hari Selasa dan berteriak demikian keras sehingga Profesor McGonagall datang kepada mereka berdua dari meja guru.

‘Miss Johnson, beraninya kamu membuat keributan seperti ini di Aula Besar! Lima poin dari Gryffindor!’

‘Tapi Profesor — dia membuat dirinya terkena detensi lagi –‘

‘Ada apa ini, Potter?’ kata Profesor McGonagall dengan tajam sambil memberondong Harry. ‘Detensi? Dari siapa?’

‘Dari Profesor Umbridge,’ gumam Harry, tanpa memandagn mata Profesor McGonagall yang berbingkai persegi.

‘Apakah kamu memberitahuku,’ katanya sambil merendahkan suaranya sehingga kelompok anak-anak Ravenclaw yang ingin tahu di belakang mereka tidak bisa mendengar,’ bahwa setelah peringatan yang kuberikan kepadamu Senin lalu kau kehilangan kendali di kelas Profesor Umbridge lagi?’

‘Ya,’ gumam Harry sambil berbicara kepada lantai.

‘Potter, kau harus mengendalikan dirimu sendiri! Kau menuju masalah besar! Lima poin lagi dari Gryffindor!’

‘Tapi — apa -? Profesor, jangan!’ Harry berkata, marah karena ketidakadilan ini, ‘saya telah dihukum olehnya, mengapa Anda juga harus mengambil poin?’

‘Karena detensi tampaknya tidak berpengaruh apapun terhadapmu!’ kata Profesor McGonagall dengan masam. ‘Tidak, tak sepatah kata keluhan pun, Potter! Dan untukmu, Miss Johnson, kamu akan membatasi adu teriakmu di lapangan Quidditch di kemudian hari atau mempertaruhkan kehilangan kedudukan kapten regu!’

Profesor McGonagall berjalan kembali ke meja guru. Angelina memberi Harry pandangan jijik dan pergi, lalu Harry duduk di bangku di samping Ron sambil marahmarah.

‘Dia mengambil poin dari Gryffindor karena aku membuat tanganku diiris terbuka setiap malam! Bagaimana itu bisa adil, bagaimana?’

‘Aku tahu, sobat,’ kata Ron penuh simpati, sambil menjatuhkan daging asin ke piring Harry, ‘dia melewati batas.’

Namun Hermione hanya menggersikkan halaman-halaman Daily Prophet-nya dan tidak berkata apapun.

‘Kau kira McGonagall benar, bukan?’ kata Harry dengan marah kepada gambar Cornelius Fudge yang menghalangi wajah Hermione.

‘Kuharap dia tidak mengambil poin darimu, tapi kukira dia benar memperingatkan kamu agar tidak kehilangan kendali dengan Umbridge,’ kata suara Hermione, sementara Fudge menggerak-gerakkan tangannya kuat-kuat dari halaman depan, jelas sedang memberikan pidato tertentu.

Harry tidak berbicara kepada Hermione sepanjang Jimat dan Guna-Guna, tetapi ketika mereka memasuki Transfigurasi dia lupa sedang jengkel kepadanya. Profesor Umbridge dan papan jepitnya sedang duduk di sudut dan melihatnya saja mengenyahkan ingatan tentang makan pagi dari kepalanya.

‘Bagus sekali,’ bisik Ron, ketika mereka duduk di tempat duduk mereka yang biasa. ‘Mari kita lihat Umbridge dapatkan apa yang pantas diterimanya.’

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.