Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

Pelanggaran keras dari Dekrit Pembatasan Masuk Akal untuk Penggunaan Sihir di Bawah Umur telah mengakibatkan pengeluaran Anda dari Sekolah Sihir Hogwarts. Perwakilan Kementerian akan berkunjung ketempat kediaman Anda dalam waktu dekat untuk memusnahkan tongkat Anda.

Karena Anda telah menerima peringatan resmi untuk pelanggaran sebelumnya di bawah Seksi 13 Undang-Undang Kerahasiaan Konfederasi Penyihir Internasional, kami menyesal harus memberitahu Anda bahwakehadiran Anda diperlukan pada sebuah sidang pemeriksaan kedisiplinan di Kementerian Sihir pada pukul 9 pagitanggal dua belas Agustus.

Kami harap Anda sehat,

Salam,

Mafalda Hopkirk Kantor Penggunaan Sihir Tidak Pada Tempatnya

Kementerian Sihir

Harry membaca surat itu dua kali. Dia hanya menyadari samar-samar Paman Vernon dan Bibi Petunia berbicara. Di dalam kepalanya, semua terasa sedingin es dan mati rasa. Satu fakta telah memasuki kesadarannya seperti anak panah yang melumpuhkan. Dia dikeluarkan dari Hogwarts. Semuanya sudah berakhir. Dia tidak akan kembali lagi.

Dia melihat ke atas kepada keluarga Dursley. Paman Vernon yang berwajah ungu sedang berteriak, kepalan tangannya masih terangkat; Bibi Petunia melingkarkan tangannya pada Dudley, yang muntah lagi.

Otak Harry yang terbius sementara seperti terbangun. Perwakilan Kementerian akan berkunjung ke tempat kediaman Anda dalam waktu dekat untuk memusnahkan tongkat Anda. Hanya ada satu jalan. Dia harus kabur — sekarang. Ke mana dia akan pergi, Harry tidak tahu, tetapi dia yakin akan saru hal: di Hogwarts atau di luarnya, dia perlu tongkatnya. Dalam keadaan seperti bermimpi, dia menarik tongkatnya keluar dan berbalik untuk meninggalkan dapur.

‘Kau pikir ke mana kau akan pergi?’ teriak Paman Vernon. Ketika Harry tidak menjawab, dia berlari menyeberangi dapur untuk menghalangi pintu ke aula. ‘Aku belum selesai denganmu, nak!’

‘Minggir,’ kata Harry dengan pelan.

‘Kamu akan tetap di sini dan menjelaskan bagaimana anakku –‘

‘Kalau Paman tidak minggir aku akan mengutukmu,’ kata Harry sambil mengangkat tongkat.

‘Kamu tidak bisa membodohiku dengan itu!’ geram Paman Vernon. ‘Aku tahu kamu tidak diizinkan menggunakannya di luar rumah gila yang kamu sebut sekolah!’

‘Rumah gila itu sudah mendepakku,’ kata Harry. ‘Jadi aku bisa berbuat sesuka hati. Kamu punya tiga detik. Satu — dua –‘

Suara CRACK yang menggema memenuhi dapur. Bibi Petunia menjerit, Paman Vernon memekik dan menunduk, tetapi untuk ketiga kalinya malam itu Harry mencaricari sumber gangguan yang tidak dibuatnya. Dia langsung melihatnya: seekor burung hantu yang tampak acak-acakan dan kebingungan sedang duduk di luar di ambang dapur, baru saja bertabrakan dengan jendela yang tertutup.

Sambil mengabaikan teriakan menderita Paman Vernon ‘BURUNG HANTU!’ Harry menyeberangi ruangan dengan sekali lari dan mengungkit jendela hingga terbuka.

Burung hantu itu menjulurkan kakinya, di mana terikat sebuah perkamen, mengguncangkan bulunya, dan terbang pergi begitu Harry telah mengambil suratnya. Dengan tangan bergetar, Harry membuka gulungan pesan kedua, yang ditulis dengan sangat terburu-buru dan penuh tetesan tinta hitam.

Harry –

Dumbleldore baru saja tiba di Kementerian dan dia sedang berusaha mengatasi semuanya. JANGAN MENINGGALKAN RUMAH BIBI DAN PAMANMU. JANGAN MELAKUKAN SIHIR LAGI.

JANGAN MENYERAHKAN TONGKATMU.

Arthur Weasley

Dumbledore sedang berusaha mengatasi semuanya … apa artinya itu? Seberapa besar kekuatan yang dimiliki Dumbledore untuk melawan Kementerian Sihir? Kalau begitu spakah ada peluang dia akan diperbolehkan kembali ke Hogwarts? Secercah harapan berkembang di dada Harry, hampir segera tertahan oleh rasa panik — bagaimana dia bisa menolak menyerahkan tongkatnya tanpa melakukan sihir? Dia harus berduel dengan perwakilan Kementerian, dan jika dia melakukan hal itu, dia harus beruntung untuk bisa lepas dari Azkaban, belum lagi pengeluaran dari sekolah.

Pikirannya berlomba … dia bisa kabur dan beresiko tertangkap oleh Kementerian, atau diam di tempat dan menunggu mereka menemukannya di sini. Dia jauh lebih tergoda oleh pilihan pertama, tetapi dia tahu Mr Weasley memikirkan yang terbaik baginya … dan lagipula, Dumbledore telah mengatasi hal-hal yang jauh lebih buruk dari ini sebelumnya.

‘Benar,’ Harry berkata, ‘Aku berubah pikiran. Aku akan tinggal.’

Dia melempar dirinya ke meja dapur dan menghadap Dudley dan Bibi Petunia. Keluarga Dursley kelihatan terkejut akan perubahan pikirannya yang mendadak. Bibi Petunia melirik Paman Vernon dengan putus asa. Nadi di pelipisnya yang ungu sedang berdenyut lebih parah dari yang pernah terjadi.

‘Dari siapa burung-burung hantu sialan itu berasal?’ dia menggeram.

‘Yang pertama dari Kementerian Sihir, mengeluarkan aku dari sekolah,’ kata Harry dengan tenang. Dia sedang menajamkan telinganya untuk menangkap bunyi-bunyi di luar, kalau-kalau perwakilan Kementerian sedang mendekat, dan lebih mudah dan lebih tenang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Paman Vernon daripada membuatnya mulai marah-marah dan berteriak lagi. ‘Yang kedua dari ayah temanku Ron, yang bekerja di Kementerian.’

‘Kementerian Sihir?’ teriak Paman Vernon. ‘Orang-orang sepertimu di pemerintahan? Oh, ini menjelaskan semuanya, semuanya, tidak heran negeri ini jatuh ke tangan anjinganjing.’

Ketika Harry tidak menanggapi, Paman Vernon membelalak kepadanya, lalu bertanya, ‘Dan kenapa kamu dikeluarkan?’

‘Karena aku melakukan sihir.’

‘AHA!’ raung Paman Vernon, sambil menghantamkan kepalannya ke puncak lemari es, yang terbuka; beberapa makanan ringan rendah lemak Dudley berjatuhan ke lantai. ‘Jadi kau mengakuinya! Apa yang kamu lakukan pada Dudley?’

‘Tidak ada,’ kata Harry, sedikit kehilangan ketenangannya. ‘Itu bukan aku –‘

‘Benar kau,’ gumam Dudley tanpa diduga, dan Paman Vernon dan Bibi Petunia segera membuat gerakan menggelepak pada Harry supaya dia diam sementara keduanya membungkuk rendah kepada Dudley.

‘Teruskan, nak,’ kata Paman Vernon, ‘apa yang dia lakukan?’

‘Beritahu kami, sayang,’ bisik Bibi Petunia.

‘Menunjukkan tongkatnya ke arahku,’ Dudley mengomel.

‘Yeah, memang, tapi aku tidak menggunakan –‘ Harry mulai dengan marah, tetapi –

‘DIAM!’ raung Paman Vernon dan Bibi Petunia serentak.

‘Teruskan, nak,’ ulang Paman Vernon, dengan kumis melambai-lambai dengan marah.

‘Semua jadi gelap,’ Dudley berkata dengan serak, sambil gemetar. ‘Semuanya gelap. Dan kemudian aku men-mendengar … hal-hal. Di dalam kepalaku.’

Paman Vernon dan Bibi Petunia saling berpandangan dengan tatapan kengerian yang teramat sangat. Jika hal yang paling tidak mereka sukai di dunia adalah sihir — segera diikuti dengan para tetangga yang lebih banyak menipu larangan pipa air daripada mereka — orang-orang yang mendengar suara-suara di kepala mereka pastilah berada di nomor sepuluh. Mereka jelas berpikir Dudley telah kehilangan akal.

‘Hal-hal seperti apa yang kamu dengar, Popkin?’ sebut Bibi Petunia, dengan wajah sangat putih dan air mata di matanya.

Tetapi Dudley kelihatannya tidak mampu berkata-kata. Dia gemetaran lagi dan menggelengkan kepala pirangnya yang besar, dan walaupun ada rasa takut dan mati rasa yang telah timbul pada diri Harry sejak kemunculan burung hantu pertama, dia merasakan keingintahuan tertentu. Apa yang terpaksa didengar oleh Dudley yang manja dan suka menggertak?

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.