Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

‘Yeah,’ kata Harry. ‘Tetap saja, ini juga penting, kita harus berlatih kalau kita mau tetap berada dalam tim Quidditch …’

‘Yeah, itu benar,’ kata Ron, dengan nada berbesar hati. ‘Dan kita punya banyak waktu untuk melakukan itu semua …’

Selagi mereka mendekati lapangan Quidditch, Harry memandang sekilas ke sebelah kanannya di mana pohon-pohon Hutan Terlarang berayun dengan suram. Tak ada yang terbang keluar dari pepohonan itu; langit kosong kecuali beberapa burung hantu di kejauhan yang sedang mengitari menara Kandang Burung Hantu. Dia sudah punya cukup yang dikhawatirkan; kuda terbang itu tidak akan membahayakannya; dia mendorongnya keluar dari pikirannya.

Mereka mengumpulkan bola-bola dari lemari di kamar ganti dan mulai bekerja, Ron menjaga ketiga gawang tinggi, Harry bermain sebagai Chaser dan mencoba membawa Quaffle melewati Ron. Harry berpikir Ron cukup bagus; dia menahan tiga perempat gol yang diusahakan Harry untuk melewatinya. dan bermain semakin bagus semakin lama mereka berlatih. Setelah beberapa jam mereka kembali ke kastil untuk makan siang — di mana Hermione memperjelas bahwa menurutnya mereka tidak bertanggung jawab — lalu kembali ke lapangan Quidditch untuk sesi latihan sebenarnya. Semua anggota tim mereka kecuali Angelina sudah berada di kamar ganti ketika mereka masuk.

‘Baik-baik saja, Ron?’ kata George sambil berkedip kepadanya.

‘Yeah,’ kata Ron, yang lebih pendiam dan semakin pendiam sepanjang jalan ke lapangan.

‘Siap pamer kepada kami semua, Prefek Ickle?’ kata Fred, muncul dengan rambut kusut dari bagian leher jubah Quidditchnya, dengan seringai agak licik di wajahnya.

‘Diamlah,’ kata Ron, dengan wajah kaku, sambil menarik jubah timnya sendiri untuk pertama kalinya. Jubah itu pas sekali untuknya mengingat dulu milik Oliver, yang bahunya agak lebar.

‘OK, semuanya,’ kata Angelina, masuk dari kantor Kapten, sudah berganti pakaian. ‘Ayo ke sana; Alicia dan Fred, kalau kalian bisa membawa peti bola untuk kami. Oh, dan ada sejumlah orang di luar sana yang mengamati tapi aku mau kalian mengabaikan mereka, oke?’

Sesuatu dalam suaranya yang seharusnya biasa membuat Harry mengira dia mungkin tahu siapa penonton tidak diundang itu, dan jelas saja, ketika mereka meninggalkan ruang ganti ke lapangan yang penuh sinar matahari cerah lapangan itu diliputi ejekan dan cemoohan dari tim Quidditch Slytherin dan beragam pengikut, yang berkelompok di tengah-tengah tribun yang kosong dan yang suaranya menggema dengan keras ke sekeliling stadium.

‘Apa yang sedang dinaiki Weasley?’ Malfoy berseru dengan suara mengejeknya yang dipanjang-panjangkan. ‘Kenapa ada orang yang mau menaruh mantera terbang ke kayu tua berjamur seperti itu?’

Crabbe, Goyle dan Pansy Parkinson tertawa terbahak-bahak dan menjerit dengan tawa. Ron menaiki sapunya dan naik dari tanah dan Harry mengikutinya sambil mengamati telinganya berubah menjadi merah dari belakang.

‘Abaikan mereka,’ katanya, sambil menambah kecepatan untuk mengejar Ron, ‘kita akan lihat siapa yang tertawa setelah kita bertanding dengan mereka …’

‘Persis sikap yang kumau, Harry,’ kata Angelina menyetujui, sambil membumbung di sekitar mereka dengan Quaffle di bawah lengannya dan melambat untuk melayang di tempat di depan tim udaranya. ‘OK, semuanya, kita akan mulai dengan beberapa pas hanya untuk pemanasan, seluruh tim tolong –‘

‘Hei, Johnson, ada apa dengan gaya rambut itu?’ teriak Pansy Parkinson dari bawah. ‘Kenapa ada orang yang mau terlihat seperti mereka punya cacing keluar dari kepala mereka?’

Angelina menyapukan rambut panjangnya yang dikepang kecil-kecil dari wajahnya dan meneruskan dengan tenang, ‘Kalau begitu berpencar, dan mari lihat apa yang bisa kita lakukan …’

Harry mundur menjauh dari yang lain ke sisi jauh dari lapangan itu. Ron mundur menuju gawang di seberang. Angelina mengangkat Quaffle dengan satu tangan dan melemparkannya keras-keras kepada Fred, yang memberikan kepada George, yang memberikan kepada Harry, yang memberikan kepada Ron, yang menjatuhkannya.

Anak-anak Slytherin, dipimpin oleh Malfoy, meraung dan memekik dengan tawa. Ron, yang telah meluncur ke tanah untuk menangkap Quaffle itu sebelu mendarat, menghentikan tukikannya dengan tidak teratur, sehingga dia selip ke samping di sapunya, dan kembali ke tinggi permainan sambil merona. Harry melihat Fred dan George saling berpandangan, tetapi tidak biasanya tak satupun dari mereka mengatakan apa-apa, sehingga dia bersyukur.

‘Berikan, Ron,’ seru Angelina, seakan-akan tidak ada yang terjadi.

Ron melemparkan Quaffle itu kepada Alicia, yang memberikan kembali kepada Harry, yang memberikan kepada George …

‘Hei, Potter, bagaimana rasanya bekas lukamu?’ seru Malfoy. ‘Yakin kau tidak perlu berbaring? Pastilah, apa, sudah seminggu penuh sejah kau berada di sayap rumah sakit, itu rekor bagimu, bukan?’

George memberikan bola kepada Angelina; dia memberikan balik kepada Harry, yang tidak menduga, tetapi menangkapnya dengan ujung-ujung jarinya dan memberikan dengan cepat kepada Ron, yang menyerbunya tetapi gagal karena beberapa inci.

‘Ayolah, Ron,’ kata Angelina dengan jengkel, ketika dia menukik ke tanah lagi, mengejar Quaffle itu. ‘Pusatkan perhatian.’

Sulit mengatakan apakah wajah Ron atau Quaffle itu lebih merah ketika dia kembali lagi ke tinggi permainan. Malfoy dan tim Slytherin lainnya sedang melolong tertawa.

Pada usaha ketiganya, Ron menangkap Quaffle itu; mungkin karena lega dia memberikannya dengan sangat antuasias sehingga bola itu membumbung lurus melalui tangan-tangan terentang Katie dan menghantamnya dengan keras di wajah.

‘Sori!’ Ron mengerang, sambil meluncur ke depan untuk melihat apakah dia telah mengakibatkan luka.

‘Kembali ke posisi, dia baik-baik saja!’ gertak Angelina. ‘Tapi karena kau memberikan kepada kawan satu tim, jangan mencoba menjatuhkannya dari sapunya, bisa ‘kan? Kita punya Bludger untuk itu!’

Hidung Katie berdarah. Di bawah, anak-anak Slytherin mengentakkan kaki mereka dan mengejek. Fred dan George mendatangi Katie.

‘Ini, makan ini,’ Fred menyuruhnya, sambil menyerahkan sesuatu yang kecil dan ungu dari kantongnya, ‘ini akan membersihkannya dalam waktu singkat.’

‘Baiklah,’ seru Angelina, ‘Fred, George, pergi dan ambil pemukul kalian dan sebuah Bludger. Ron, pergi ke gawang. Harry, lepaskan Snitch ketika kubilang. Kita akan membidik gawang Ron, tentu saja.’

Harry meluncur mengikuti si kembar untuk mengambil Snitch.

‘Ron membuat dirinya tampak seperti orang tolol, bukan?’ gumam George, ketika mereka bertiga mendarat di peti yang berisi bola-bola itu dan membukanya untuk mengeluarkan salah satu Bludger dan Snitch.

‘Dia cuma gugup,’ kata Harry, ‘dia baik-baik saja ketika aku berlatih dengannya pagi ini.’

‘Yeah, well, kuharap dia tidak mencapai puncak terlalu cepat,’ kata Fred dengan murung.

Mereka kembali ke udara. Ketika Angelina meniup peluitnya, Harry melepaskan Snitch dan Fred dan George membiarkan Bludger terbang. Semenjak itu, Harry hampir tidak sadar apa yang sedang dilakukan yang lainnya. Tugasnya adalah menangkap kembali bola keemasan kecil yang terbang ke sana kemari yang berharga seratus lima puluh poin bagi tim Seeker tersebut dan melakukan hal ini membutuhkan kecepatan dan keahlian yang tinggi. Dia menambah kecepatan, bergelung dan mengelak dari para Chaser, udara musim gugur yang hangat memecut wajahnya, dan teriakan-teriakan anakanak Slytherin di kejauhan meraung sama sekali tidak berarti di telinganya … tapi terlalu cepat, peluit membuatnya berhenti lagi.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.