Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

Matahari sudah tinggi di langit sekarang dan ketika Harry memasuki Kandang Burung Hantu jendela-jendela kaca menyilaukan matanya; sinar-sinar keperakan yang berkabut bersilangan di ruang melingkar tempat ratusan burung hantu membaringkan diri dalam kasau-kasau, agak tidak tenang dalam sinar pagi hari, beberapa jelas baru kembali dari berburu. Lantai yang tertutup jerami berderak sedikit ketika dia melangkah melewati tulang-tulang binatang kecil, sambil menjulurkan lehernya mencari-cari Hedwig.

‘Di sana kamu,’ katanya sambil melihat dia di suatu tempat dekat bagian paling puncak dari langit-langit yang berkubah. ‘Turun ke sini, aku punya surat untukmu.’

Dengan uhu rendah dia membentangkan sayap-sayap putih besarnya dan membumbung turun ke bahunya.

‘Benar, aku tahu di sini tertulis Snuffles di luarnya,’ katanya, sambil memberikan surat itu untuk dikatupkan di paruhnya dan, tanpa tahu persisnya mengapa, berbisik, ‘tapi itu untuk Sirius, OK?’

Dia mengedipkan matanya yang kuning sekali dan Harry menganggap itu berarti dia mengerti.

‘Kalau begitu, semoga terbang dengan selamat,’ kata Harry dan dia membawanya ke salah satu jendela; dengan tekanan sejenak di lengannya, Hedwig lepas landas ke langit cerah yang membutakan. Dia mengamati sambil menjadi titik hitam kecil dan menghilang, lalu mengalihkan pandangannya ke pondok Hagrid, yang tampak jelas dari jendela ini, dan sama jelasnya tidak terhuni, cerobongnya tidak berasap, tirainya tertutup.

Puncak pepohonan di Hutan Terlarang berayun-ayun dalam angin sepoi-sepoi. Harry mengamati mereka, sambil menikmati udara segar di wajahnya, memikirkan tentang Quidditch nanti … lalu dia melihatnya. Seekor kuda bersayap besar mirip reptil, persis seperti yang menarik kereta-kereta Hogwarts, dengan sayap-sayap hitam kasar terbentang lebar seperti sayap pterodactyl (burung purba), naik dari pepohonan seperti burung raksasa yang aneh. Kuda itu membumbung dalam lingkaran besar, lalu menukik kembali ke pepohonan. Seluruhnya terjadi sangat cepat, sehingga Harry hampir tidak bisa mempercayai apa yang telah dilihatnya, kecuali bahwa jantungnya berdebar gila-gilaan.

Pintu Kandang Burung Hantu membuka di belakangnya. Dia melompat terkejut dan, ketika berpaling dengan cepat, melihat Cho Chang yang sedang memegang sepucuk surat dan sebuah bingkisan di tangannya.

‘Hai,’ kata Harry dengan otomatis.

‘Oh … hai,’ katanya terengah-engah. ‘Aku tidak mengira ada orang yang sudah berada di atas sini sepagi ini … aku baru ingat lima menit yang lalu, ini hari ulang tahun ibuku.’

Dia mengangkat bingkisannya.

‘Benar,’ kata Harry. Otaknya seperti macet. Dia ingin mengatakan sesuatu yang lucu dan menarik, tetapi ingatan tentang kuda bersayap yang mengerikan itu masih segar dalam pikirannya.

‘Hari yang indah,’ katanya sambil memberi isyarat ke jendela. Isi tubuhnya sepertinya telah mengerut akibat rasa malu. Cuaca. Dia berbicara mengenai cuaca …

‘Yeah,’ kata Cho, sambil memandang berkeliling mencari burung hantu yang sesuai. ‘Kondisi Quidditch yang bagus. Aku belum keluar selama seminggu, kalau kamu?’

‘Belum,’ kata Harry.

Cho telah memilih salah satu burung hantu sekolah. Dia membujuknya turun ke lengannya di mana burung itu menjulurkan kaki dengan patuh sehingga dia bisa mengikatkan bingkisannya.

‘Hei, apakah Gryffindor sudah punya Keeper baru?’ tanyanya.

‘Yeah,’ kata Harry. ‘Temanku Ron Weasley, kau kenal dia?’

‘Si Pembenci-Tornado?’ kata Cho agak dingin. ‘Apakah mainnya bagus?’

‘Yeah,’ kata Harry. ‘Kukira begitu. Walau aku tidak melihat ujicobanya, aku sedang dalam detensi.’

Cho memandang ke atas, bingkisan itu baru setengah terikat ke kaki burung hantu.

‘Wanita Umbridge itu jahat,’ katanya dengan suara rendah. ‘Memberimu detensi hanya karena kamu mengatakan yang sebenarnya tentang bagaimana — bagaimana — bagaimana dia mati. Semua orang mendengar hal itu, sudah menyebar ke seluruh sekolah. Kamu benar-benar berani menghadapi dia seperti itu.’

Isi tubuh Harry mengembang kembali begitu cepat sehingga dia merasa seolah-olah dia bisa melayang beberapa inci dari lantai yang bertebaran kotoran itu. Siapa yang peduli tentang kuda terbang bodoh, Cho mengira dia benar-benar berani. Sejenak, dia mempertimbangkan untuk memperlihatkan kepadanya secara tidak sengaja (yang disengaja) tangannya yang terluka selagi dia membantunya mengikat bingkisannya ke burung hantu … tetapi tepat saat pikiran menggetarkan itu muncul pintu Kandang Burung Hantu terbuka lagi.

Filch si penjaga sekolah masuk sambil mendesah ke dalam ruangan itu. Ada rona ungu di pipinya yang cekung dan penuh urat halus, daging di bawah dagunya bergetar dan rambut kelabunya yang tipis acak-acakan; dia jelas berlari ke sini. Mrs Norris berderap di belakangnya, sambil menatap ke atas kepada burung-burung hantu di atas kepala dan mengeong lapar. Ada gerakan-gerakan sayap yang tidak tenang dari atas dan seekor burung hantu cokelat besar mengatupkan paruhnya dengan gaya mengancam.

‘Aha!’ kata Filch, sambil mengambil langkah menuju Harry, pipinya yang berkantung bergetar karena marah. ‘Aku dapat kisikan bahwa kamu bermaksud memesan Bom Kotoran dalam jumlah besar.’

Harry melipat lengannya dan menatap penjaga sekolah itu.

‘Siapa yang memberitahumu aku sedang memesan Bom Kotoran?’

Cho memandang dari Harry kepada Filch, juga merengut, burung hantu di lengannya, capek berdiri dengan satu kaki, memberi uhu menegur, tetapi dia mengabaikannya.

‘Aku punya sumber-sumberku,’ kata Filch dalam desis puas diri. ‘Sekarang serahkan apapun yang sedang kau kirim.’

Sambil merasa sangat bersyukur dia tidak berlama-lama mengeposkan suara itu, Harry

berkata, ‘Aku tidak bisa, sudah pergi.’

‘Pergi?’ kata Filch, air mukanya berubah karena marah.

‘Pergi,’ kata Harry dengan tenang.

Filch membuka mulutnya dengan marah, menggerak-gerakkan mulut tanpa suara

selama beberapa detik, lalu menyisiri jubah Harry dengan matanya.

‘Bagaimana aku tahu kau tidak menyimpannya di kantongmu?’

‘Karena –‘

‘Aku melihatnya mengirimkan surat itu,’ kata Cho dengan marah.

Filch memberondong dia.

‘Kau melihatnya –?’

‘Itu benar, aku melihatnya,’ katanya dengan garang.

Ada jeda sejenak di mana Filch melotot kepada Cho dan Cho melotot balik, lalu si

penjaga sekolah membalikkan badannya dan berjalan dengan kaki terseret menuju pintu. Dia berhenti dengan tangan di pegangan pintu dan memandang balik kepada Harry.

‘Kalau kutemukan seendus saja Bom Kotoran –‘

Dia terseok-seok menuruni tangga. Mrs Norris memandang penuh keinginan pada burung-burung hantu dan mengikuti dia.

Harry dan Cho saling berpandangan.

‘Trims,’ Harry berkata.

‘Tidak masalah,’ kata Cho, akhirnya mengikatkan bingkisan ke kaki burung hantu itu yang sebuah lagi, wajahnya sedikit merona merah muda. ‘Kau tidak sedang memesan Bom Kotoran, bukan?’

‘Tidak,’ kata Harry.

‘Aku ingin tahu mengapa dia mengira begitu?’ katanya selagi dia membawa burung hantu itu ke jendela.

Harry mengangkat bahu. Dia sama bingungnya dengan Cho, walaupun anehnya hal itu tidak terlalu mengganggunya saat ini.

Mereka meninggalkan Kandang Burung Hantu bersama-sama. Di pintu masuk koridor yang menuju sayap barat kastil itu, Cho berkata, ‘Aku akan ke arah sini. Well, aku … jumpa lagi, Harry.’

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.