Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

‘Dia jahat,’ kata Harry datar. ‘Sinting.’

‘Dia mengerikan, ya, tapi … Harry, kukira kau harus memberitahu Dumbledore bekas lukamu sakit.’

Itu kedua kalinya dalam dua hari dia dinasehati untuk menjumpai Dumbledore dan jawabannya kepada Hermione sama persis dengan jawabannya kepada Ron.

‘Aku tidak akan mengganggunya dengan ini. Seperti yang baru kau katakan, bukan masalah besar. Sudah sakit silih berganti sepanjang musim panas — hanya agak lebih buruk malam ini, itu saja –‘

‘Harry, aku yakin Dumbledore akan mau diganggu oleh ini –‘

‘Yeah,’ kata Harry, sebelum dia bisa menghentikan dirinya sendiri, ‘itu satu-satunya bagian dariku yang dipedulikan Dumbledore, bukan, bekas lukaku?’

‘Jangan bilang begitu, itu tidak benar!’

‘Kukira aku akan menulis surat dan memberitahu Sirius mengenainya, lihat apa yang dipikirkannya –‘

‘Harry, kau tidak bisa memasukkan hal seperti itu dalam surat!’ kata Hermione, tampak gelisah. ‘Tidakkah kau ingat, Moody menyuruh kita berhati-hati akan apa yang kita tulis!

Kita cuma tidak bisa menjamin burung hantu tidak dicegat lagi!’

‘Baiklah, baiklah, kalau begitu, aku tidak akan memberitahu dia!’ kata Harry kesal. Dia bangkit. ‘Aku akan pergi tidur. Beritahu Ron, bisa ‘kan?’

‘Oh tidak,’ kata Hermione, terlihat lega, ‘kalau kau akan pergi itu berarti aku boleh pergi juga, tanpa terlihat kasar. Aku benar-benar capek dan aku mau membuat beberapa topi lagi besok. Dengar, kau bisa membantuku kalau kau mau, cukup menyenangkan, aku semakin mahir, aku bisa membuat pola dan bola dan semua jenis itu sekarang.’

Harry memandang wajahnya, yang bersinar gembira, dan mencoba terlihat seolah-olah dia agak tergoda dengan tawaran ini.

‘Er … tidak, kukira aku tidak bisa, trims,’ katanya. ‘Er — tidak besok. Aku punya banyak peer untuk dikerjakan.’

Dan dia berjalan ke tangga anak laki-laki, meninggalkannya tampak sedikit kecewa.

 

Bab 14:

Percy dan Padfoot

Harry yang pertama terbangun di kamar asramanya keesokan harinya. Dia berbaring sejenak sambil mengamati debu beterbangan dalam cahaya matahari yang masuk melalui celah di kelambu tempat tidur bertiang empatnya, dan menikmati pikiran bahwa hari itu Sabtu. Minggu pertama semester itu tampaknya telah berlangsung selamanya, seperti suatu pelajaran Sejarah Sihir besar-besaran.

Dinilai dari keheningan tidur nyenyak dan tampang segar sinar matahari itu, fajar baru saja tiba. Dia menarik tirai di sekitar tempat tidurnya hingga terbuka, bangkit dan mulai berpakaian. Satu-satunya suara selain kicauan burung di kejauhan adalah napas pelan dan dalam teman-teman Gryffindornya. Dia membuka tas sekolahnya dengan hati-hati, menarik keluar perkamen dan pena bulu dan keluar dari kamar menuju ruang duduk.

Berjalan lurus ke kursi berlengan tua yang empuk kesukaannya di samping api yang sekarang sudah padam, Harry duduk dengan nyaman dan membuka gulungan perkamennya sementara memandang berkeliling ruangan itu. Sisa-sisa potongan perkamen yang kusut, Gobstone-Gobstone tua, toples-toples bahan yang kosong dan pembungkus-pembungkus permen yang biasanya meliputi ruang duduk di akhir hari setiap harinya telah hilang, begitu juga topi-topi peri Hermione. Sambil bertanya-tanya dengan samar berapa banyak peri yang sekarang telah dibebaskan apakah mereka ingin ataupun tidak, Harry membuka penutup botol tintanya, mencelupkan pena bulunya ke dalamnya, lalu memegangnya satu inci di atas permukaan kekuningan perkamennya, sambil berpikir keras … tetapi setelak sekitar satu menit dia menemukan dirinya menatap ke kisi perapian yang kosong, benar-benar tidak tahu apa yang ingin dikatakan.

Dia sekarang bisa menghargai betapa sulitnya bagi Ron dan Hermione untuk menulis surat kepadanya sepanjang musim panas. Bagaimana dia bisa memberitahu Sirius semua yang telah terjadi selama minggu belakangan ini dan memasukkan semua pertanyaan yang sangat ingin dia tanyakan tanpa memberi para pencuri surat potensial banyak informasi yang dia tidak ingin mereka dapatkan?

Dia duduk tak bergerak sejenak, sambil menatap ke perapian; lalu, akhirnya mengambil keputusan, dia mencelupkan pena bulunya ke dalam botol tinta sekali lagi dan menempatkannya dengan penuh ketetapan hati ke atas perkamen.

Dear Snuffles,

Kuharap kau OK, minggu pertama kembali ke sini mengerikan, aku benar-benar senang sudah akhir pekan.

Kami dapat guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang baru, Profesor Umbridge. Dia hampir sama

menyenangkannya dengan ibumu. Aku menulis karena hal yang kuceritakan kepadamu musim panas lalu terjadi

lagi tadi malam ketika aku sedang dalam detensi dengan Umbridge.

Kami semua merindukan teman terbesar kami, kami harap dia akan segera kembali.

Tolong tulis surat balasan secepatnya.

Salam,

Harry

Harry membaca ulang surat itu beberapa kali, mencoba melihat dari sudut pandang orang luar. Dia tidak bisa melihat bagaimana mereka akan bisa tahu apa yang sedang dia bicarakan –atau dengan siapa dia berbicara — hanya dari membaca surat ini. Dia memang berharap Sirius akan mengetahui petunjuk mengenai Hagrid dan memberitahu mereka kapan dia mungkin kembali. Harry tidak ingin bertanya langsung kalau-kalau hal itu menarik terlalu banyak perhatian atas apa yang mungkin sedang direncanakan Hagrid selagi dia tidak ada di Hogwarts.

Mengingat itu adalah surat yang sangat singkat, surat itu makan waktu lama untuk ditulis; sinar matahari telah memasuki setengah dari ruangan itu selagi dia mengerjakan surat itu dan dia sekarang bisa mendengar suara-suara pergerakan di kejauhan dari kamar-kamar asrama di atas. Sambil menyegel perkamennya dengan hati-hati, dia memanjat melalui lubang potret dan menuju Kandang Burung Hantu.

‘Aku tidak akan pergi ke arah sana kalau aku jadi kamu,’ kata Nick si Kepala-Nyaris-Putus, sambil melayang bingung melalui dinding tepat di depan Harry ketika dia berjalan menyusuri gang. ‘Peeves sedang merencanakan lelucon lucu pada orang berikutnya yang melewati patung dada Paracelsus di tengah koridor.’

‘Apakah melibatkan Paracelsus yang jatuh ke puncak kepala orang itu?’ tanya Harry.

‘Lucunya, memang,’ kata Nick si Kepala-Nyaris-Putus dengan suara bosan. ‘Kerumitan memang tidak pernah menjadi kekuatan Peeves. Aku akan pergi untuk mencoba mencari Baron Berdarah … dia mungkin bisa menghentikannya … sampai jumpa, Harry.’

‘Yeah, bye,’ kata Harry dan bukannya belok kanan, dia membelok ke kiri, mengambil rute yang lebih panjang tetapi lebih aman ke Kandang Burung Hantu. Semangatnya naik ketika dia berjalan melewati jendela demi jendela yang memperlihatkan langit biru cerah, dia akan mengikuti latihan nanti, akhirnya dia akan kembali ke lapangan Quidditch.

Sesuatu menyenggol mata kakinya. Dia memandang ke bawah dan melihat kucing kelabu kurus milik penjaga sekolah, Mrs Norris, sedang menyelinap melewatinya. Dia memalingkan mata kuningnya yang seperti lampu padanya sejenak sebelum menghilang ke balik patung Wilfred si Penuh-Harap.

‘Aku tidak melakukan sesuatu yang salah,’ Harry berseru kepadanya. Dia punya hawa yang tak salah lagi milik kucing yang pergi melapor ke majikannya, walau Harry tidak mengerti mengapa; dia sepenuhnya punya hak untuk berjalan ke Kandang Burung Hantu pada hari Sabtu pagi.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.