Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

Akan tetapi, situasi pekerjaan rumahnya, sekarang sangat menyedihkan, dan ketika dia kembali ke ruang duduk Gryffindor, walaupun capek sekali, dia tidak pergi tidur, tetapi membuka buku-bukunya dan memulai esai batu bulan Snape. Sudah setengah tiga ketiak dia menyelesaikannya. Dia tahu pekerjaannya buruk, tetapi tidak bisa ditolong lagi; kecuali dia punya sesuatu untuk diserahkan dia akan kena detensi dengan Snape berikutnya. Dia lalu bergegas menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah diberikan Profesor McGonagall kepada mereka, mengumpulkan sesuatu mengenai penanganan Bowtruckle yang tepat untuk Profesor Grubbly-Plank, dan terhuyung-huyung ke tempat tidur, di mana dia terjatuh dengan pakaian lengkap ke atas seprainya dan langsung tertidur.

*

Hari Kamis lewat dengan melelahkan. Ron juga tampak sangat mengantuk, walaupun Harry tidak mengerti kenapa dia harus begitu. Detensi ketiga Harry lewat dengan cara yang sama dengan dua yang sebelumnya, kecuali bahwa setelah dua jam kata-kata ‘Saya tidak boleh berbohong’ tidak memudar dari punggung tangan Harry, tetapi tetap tergores di sana, mengeluarkan tetesan-tetesan darah. Jeda gesekan pena bulu tajam itu membuat Profesor Umbridge melihat ke atas.

‘Ah,’ katanya dengan lembut, sambil bergeser mengitari meja tulisnya untuk memeriksa tangannya sendiri. ‘Bagus. Itu seharusnya menjadi pengingat bagimu, bukan? Kau boleh pergi untuk malam ini.’

‘Apakah saya masih harus kembali besok?’ kata Harry, sambil memungut tas sekolahnya dengan tangan kirinya bukannya tangan kanan yang masih sakit.

‘Oh, ya,’ kata Profesor Umbridge, sambil tersenyum lebar seperti sebelumnya. ‘Ya, kukira kita bisa menorehkan pesan sedikit lebih dalam dengan kerja satu malam lagi.’

Harry belum pernah mempertimbangkan kemungkinan bahwa mungkin ada guru lain di dunia yang dibencinya lebih daripada Snape, tetapi ketika dia berjalan kembali ke Menara Gryffindor dia harus mengakui dia telah menemukan calon kuat. Wanita itu jahat, pikirnya, ketka dia menaiki tangga ke lantai tujuh, dia jahat, sinting, si tua yang gila

‘Ron?’

Dia telah mencapai puncak tangga, membelok ke kanan dan hampir membentur Ron, yang sedang mengendap-ngendap di belakang patung Lachlan di Kurus, sambil menggenggam sapunya. Ron melompat terkejut ketika dia melihat Harry dan mencoba menyembunyikan Sapu Bersih Sebelasnya yang baru di belakang punggungnya.

‘Apa yang sedang kau lakukan?’

‘Er — tidak ada. Apa yang kau lakukan?’

Harry merengut kepadanya.

‘Ayolah, kau bisa bilang padaku! Mengapa kau sembunyi di sini?’

‘Aku — aku sedang bersembunyi dari Fred dan George, kalau kau mau tahu,’ kata Ron. ‘Mereka baru saja lewat dengan sekelompok anak kelas satu, aku bertaruh mereka pasti sedang menguji benda-benda itu pada anak-anak itu lagi. Maksudku, mereka tidak bisa melakukannya di ruang duduk sekarang, benar ‘kan, tidak dengan Hermione di sana.’

Dia berbicara sangat cepat dan tergesa-gesa.

‘Tapi kenapa kau bawa sapumu, kau tidak habis terbang, ‘kan?’ Harry bertanya.

‘Aku — well — well, OK, aku akan memberitahumu, tapi jangan tertawa, oke?’ Ron berkata dengan defensif, menjadi semakin merah setiap detiknya. ‘Aku — kukira aku akan ikut ujicoba Keeper Gryffindor sekarang setelah aku punya sapu yang pantas. Begitu. Ayo. Tertawalah.’

‘Aku tidak akan tertawa,’ kata Harry. Ron berkedip. ‘Itu ide yang brilian! Akan sangat bagus kalau kau bergabung dengan tim! Aku belum pernah melihatmu bermain sebagai Keeper, apakah kau bagus?’

‘Aku tidak buruk,’ kata Ron, yang terlihat sangat lega melihat reaksi Harry. ‘Charlie, Fred dan George selalu menjadikanku Keeper bagi mereka ketika mereka berlatih selama liburan.’

‘Jadi kau habis latihan malam ini?’

‘Setiap malam sejak Selasa … walaupun cuma diriku sendiri. Aku sudah mencoba menyihir Quaffle terbang ke arahku, tapi tidak mudah dan aku tidak tahu seberapa bergunanya itu.’ Ron terlihat gugup dan cemas. ‘Fred dan George akan tertawa habishabisan sewaktu aku muncul untuk ujicoba itu. Mereka belum berhenti mengejekku sejak aku dijadikan prefek.’

‘Kuharap aku bisa ada di sana,’ kata Harry dengan getir, ketika mereka pergi bersama menuju ruang duduk.

‘Yeah, aku juga — Harry, apa itu di punggung tanganmu?’

Harry, yang baru saja menggaruk hidungnya dengan tangan kanannya yang bebas, mencoba menyembunyikannya, tetapi keberhasilannya serupa dengan Ron dan Sapu Bersihnya.

‘Cuma goresan — tidak ada apa-apa — hanya –‘

Tetapi Ron sudah mencengkeram lengan bawah Harry dan menarik punggung tangan Harry setingkat dengan matanya. Ada jeda, sementara dia menatap kata-kata yang terukir di kulit itu, lalu, terlihat muak, dia melepaskan Harry.

‘Kukira kau bilang dia hanya menyuruhmu menulis?’

Harry bimbang, tapi lagipula, Ron sudah jujur kepadanya, jadi dia memberitahu Ron yang sebenarnya mengenai jam-jam yang dihabiskannya di dalam kantor Umbridge.

‘Nenek sihir tua itu!’ Ron berkata dengan bisikan jijik ketika mereka berhenti di depan Nyonya Gemuk, yang sedang tertidur dengan tenang dengan kepalanya disangga bingkainya. ‘Dia sakit! Pergi ke McGonagall, bilang sesuatu!’

‘Tidak,’ kata Harry seketika. ‘Aku tidak akan memberinya kepuasan mengetahui dia menaklukkanku.’

‘Menaklukkan kamu? Kau tidak bisa membiarkannya lepas dengan ini!’

‘Aku tidak tahu seberapa besar kekuasaan yang dimiliki McGonagall terhadapnya,’ kata Harry.

‘Kalau begitu, Dumbledore, beritahu Dumbledore!’

‘Tidak,’ kata Harry datar.

‘Kenapa tidak?’

‘Dia sudah punya cukup yang dipikirkan,’ kata Harry, tapi itu bukan alasan sebenarnya. Dia tidak akan mencari bantuan kepada Dumbledore saat Dumbledore belum berbicara kepadanya sekalipun sejak Juni.

‘Well, menurutku kau harus –‘ Ron mulai, tetapi dia disela oleh Nyonya Gemuk, yang telah mengamati mereka sambil mengantuk dan sekarang meledak, ‘Apakah kalian akan memberiku kata kunci atau aku harus terjaga sepanjang malam menunggu kalian menyelesaikan percakapan kalian?’

*

Hari Jumat datang dengan suram dan basah seperti hari-hari lain dalam minggu itu. Walaupun Harry secara otomatis memandang sekilas ke meja guru ketika dia memasuki Aula Besar, dia tidak memiliki harapan nyata akan melihat Hagrid, dan dia segera mengalihkan pikirannya ke masalah-masalahnya yang lebih mendesak, seperti tumpukan menggunung pekerjaan rumah yang harus dikerjakannya dan prospek detensi lain lagi dengan Umbridge.

Dua hal mendukung Harry melewati hari itu. Salah satunya adalah pikiran bahwa sudah hampir akhir minggu; yang lain adalah bahwa, walaupun detensi terakhirnya dengan Umbridge pasti mengerikan, dia mendapat pandangan dari kejauhan ke lapangan Quidditch dari jendelanya dan mungkin, dengan sedikit keberuntungan, bisa melihat sesuatu pada ujicoba Ron. Memang benar ini adalah berkas cahaya yang agak lemah, tetapi Harry bersyukur atas apapun yang mungkin mencerahkan kegelapan yang dihadapinya sekarang; dia belum pernah mengalami minggu semester pertama yang lebih buruk di Hogwarts.

Pada pukul lima sore itu dia mengetuk pintu kantor Profesor Umbridge untuk yang diharapkannya dengan tulus terakhir kalinya, dan disuruh masuk. Perkamen kosong sudah tergeletak siap untuknya di atas meja bertutup renda, pena bulu hitam tajam di sebelahnya.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.