Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

‘Well, kita belum pernah dapat guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang hebat, bukan?’ kata Harry. ‘Kau tahu seperti apa, Hagrid memberitahu kita, tak seorangpun mau pekerjaan itu; mereka bilang membawa sial.’

‘Ya, tapi mempekerjakan seseorang yang sebenarnya menolak membiarkan kita melakukan sihir! Apa yang sedang dipermainkan Dumbledore?’

‘Dan dia sedang mencoba membuat orang-orang menjadi mata-mata untuknya,’ kata Ron dengan muram. ‘Ingat ketika dia bilang dia mau kita datang dan memberitahunya kalau kita mendengar siapapun berkata Kau-Tahu-Siapa sudah kembali?’

‘Tentu saja dia di sini untuk memata-matai kita semua, itu jelas, kenapa lagi Fudge ingin dia datang?’ sambar Hermione.

‘Jangan mulai berdebat lagi,’ kata Harry dengan letih, ketika Ron membuka mulut untuk membalas. ‘Tak bisakah kita … ayo buat peer saja, hilangkan beban …’

Mereka mengumpulkan tas-tas sekolah mereka dari sebuah sudut dan kembali ke kursi-kursi di sisi perapian. Orang-orang telah berdatangan dari makan malam sekarang. Harry memalingkan wajahnya dari lubang potret, tetapi masih bisa merasakan tatapan ke arahnya.

‘Apakah kita akan mengerjakan tugas Snape dulu?’ kata Ron, sambil mencelupkan pena bulunya ke dalam tintanya. ‘”Sifat-sifat … batu bulan … dan kegunaannya … dalam pembuatan ramuan …”‘ dia bergumam, sambil menuliskan kata-kata itu di puncak perkamennya sewaktu mengucapkannya. ‘Begitu.’ Dia menggarisbawahi judul itu, lalu memandang penuh harap kepada Hermione.

‘Jadi, apa sifata batu bulan dan kegunaannya dalam pembuatan ramuan?’

Tetapi Hermione tidak mendengarkan; dia sedang memicingkan mata ke sudut jauh dari ruangan itu, di mana Fred, George dan Lee Jordan sekarang sedang duduk di tengah sekumpulan anak kelas satu yang tampak lugu, yang semuanya sedang mengunyah sesuatu yang tampaknya telah keluar dari kantong kertas besar yang sedang dipegang Fred.

‘Tidak, maafkan aku, mereka sudah terlalu jauh,’ katanya sambil berdiri dan terlihat benar-benar marah. ‘Ayo, Ron.’

‘Aku — apa?’ kata Ron, jelas sedang mengulur waktu. ‘Tidak — ayolah, Hermione -kita tidak bisa melarang mereka membagikan permen.’

‘Kau tahu persis itu adalah Gula-Gula Mimisan atau –atau Pastiles Muntah atau –‘

‘Manisan Pingsan?’ Harry menyarankan dengan pelan.

Satu persatu, seakan-akan dipukul kepalanya dengan palu yang tak tampak, anak-anak kelas satu itu merosot tidak sadarkan diri di tempat duduk mereka; beberapa tergelincir langsung ke lantai, yang lain hanya tergantung pada lengan kursi mereka, lidah merka terjulur. Kebanyakan orang yang sedang menonton tertawa; namun Hermione menaikkan bahunya dan berbaris langsung ke tempat Fred dan George sekarang berdiri sambil memegang papan penjepit kertas, mengamati dengan seksama para murid kelas satu yang tidak sadar. Ron bangkit setengah berdiri dari kursinya, menunggu tidak yakin selama satu-dua saat, lalu bergumam kepada Harry. ‘Dia sudah bisa mengendalikannya,’ sebelum membenamkan diri ke kursinya serendah yang diizinkan tubuh jangkungnya.

‘Itu cukup!’ Hermione berkata penuh tenaga kepada Fred dan George, keduanya melihat ke atas dengan terkejut.

‘Yeah, kau benar,’ kata George sambil mengangguk, ‘dosis ini tampaknya cukup kuat, bukan?’

‘Kuberitahu kalin pagi ini, kalian tidak bisa menguji sampah kalian pada murid!’

‘Kami membayar mereka!’ kata Fred dengan marah.

‘Aku tidak peduli, bisa saja berbahaya!’

‘Sampah,’ kata Fred.

‘Tenanglah, Hermione, mereka baik-baik saja!’ kata Lee menenangkan ketika dia

berjalan dari satu anak kelas satu ke anak lainnya, sambil memasukkan permen ungu ke dalam mulut terbuka mereka.

‘Yeah, lihat, mereka sudah sadar sekarang,’ kata George.

Beberapa anak kelas satu memang bergerak. Beberapa terlihat begitu terguncang menemukan diri mereka terbaring di lantai, atau bergantung di kursi mereka, sehingga Harry yakin Fred dan George belum memperingatkan mereka apa yang dilakukan permen-permen itu.

‘Merasa baik-baik saja?’ tanya George dengan baik hati kepada seorang anak perempuan kecil berambut gelap yang berbaring di kakinya.

‘Aku — kukira begitu,’ katanya gemetaran.

‘Sempurna,’ kata Fred dengan gembira, tetapi detik berikutnya Hermione telah merebut papan penjepit kertasnya serta kantong kertas Manisan Pingsan dari tangannya.

‘TIDAK sempurna!’

‘Tentu saja, mereka masih hidup ‘kan?’ kata Fred dengan marah.

‘Kalian tidak bisa melakukan ini, bagaimana kalau kalian membuat salah satu dari mereka benar-benar sakit?’

‘Kami tidak akan membuat mereka sakit, kami sudah menguji semuanya sendiri, ini hanya untuk melihat apakah semua orang akan bereaksi sama -‘

‘Kalau kalian tidak berhenti melakukannya, aku akan -‘

‘Memberi kami detensi?’ kata Fred, dengan suara aku-ingin-lihat-kau-coba.

‘Menyuruh kami menulis?’ kata George sambil tersenyum menyeringai.

Para penonton di seluruh ruangan tertawa. Hermione meluruskan diri setingginya; matanya disipitkan dan rambutnya yang lebat tampak baru kena listrik.

‘Tidak,’ katanya, suaranya bergetar karena marah, ‘tetapi aku akan menulis kepada ibu

kalian.’

‘Kau tidak akan berbuat itu,’ kata George, terkejut, sambil mundur selangkah darinya.

‘Oh, ya, akan kulakukan,’ kata Hermione dengan suram. ‘Aku tak bisa menghentikan kalian makan benda-benda bodoh itu sendiri, tapi kau tidak akan memberikannya kepada para murid kelas satu.’

Fred dan George terlihat seperti disambar petir. Jelaslah sejauh menyangkut mereka, ancaman Hermione melewati batas keberanian mereka. Dengan pandangan mengancam terakhir kepada mereka, dia menyodorkan papan penjepit kertas Fred dan kantong Manisan kembali ke lengannya, dan berjalan kembali ke kursinya di sisi perapian.

Ron sekarang begitu rendah dalam kursinya sehingga hidungnya hampir sama rendahnya dengan lututnya.

‘Terima kasih atas dukunganmu, Ron,’ Hermione berkata dengan masam.

‘Kau menanganinya dengan baik sendiri,’ Ron bergumam.

Hermione menatap ke potongan perkamennya yang kosong selama beberapa detik, lalu berkata dengan tidak tenang, ‘Oh, tidak bisa, aku tidak bisa berkonsentrasi sekarang. Aku akan pergi tidur.’

Dia merenggut buka tasnya; Harry mengira dia akan menyimpan buku-bukunya, tetapi dia malah menarik keluar dua benda dari wol yang bentuknya tidak beraturan, menempatkan mereka dengan hati-hati di atas sebuah meja di sisi perapian, menutupinya dengan beberapa potongan perkamen yang digumpalkan dan sebuah pena bulu rusak dan berdiri untuk mengagumi akibatnya.

‘Demi nama Merlin apa yang sedang kau lakukan?’ kata Ron sambil mengamatinya seolah-olah mengkhawatirkan kewarasannya.

‘Itu adalah topi untuk para peri-rumah,’ katanya cepat, sekarang dia sedang menjejalkan buku-bukunya kembali ke dalam tasnya. ‘Aku mengerjakannya musim panas lalu. Aku benar-benar perajut yang lamban tanpa sihir tetapi sekarang setelah aku kembali ke sekolah seharusnya aku bisa membuat lebih banyak lagi.’

‘Kau meninggalkan topi untuk para peri-rumah?’ kat Ron lambat-lambat. ‘Dan kau menutupinya dengan sampah dulu?’

‘Ya,’ kata Hermione menantang, sambil mengayunkan tasnya ke punggungnya.

‘Itu tidak adil,’ kata Ron dengan marah. ‘Kau mencoba memperdaya mereka untuk memungut topi-topi itu. Kau membebaskan mereka padahal mereka mungkin tidak ingin

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.