Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

Pandangannya kali ini melekat kepada Neville, yang menelan ludah.

‘Setelah tahun ini, tentu saja, banyak dari kalian yang akan berhenti berguru kepadaku,’ Snape melanjutkan. ‘Aku hanya mengambil yang terbaik ke dalam kelas Ramuan NEWTku, yang berarti bahwa beberapa dari kita pasti akan mengucapkan selamat tinggal.’

Matanya beralih kepada Harry dan bibirnya melengkung. Harry melotot balik, sambil merasa kesenangan suram atas gagasan bahwa dia akan bisa melepaskan Ramuan setelah tahun kelima.

‘Tapi kita punya satu tahun lagi untuk dilalui sebelum masa perpisahan yang membahagiakan,’ kata Snape dengan pelan, ‘jadi, apakah kalian bermaksud mencoba NEWT ataupun tidak, aku sarankan kalian semua untuk mengkonsentrasikan usaha kalian untuk mempertahankan tingkat kelulusan tinggi yang telah kuharapkan dari muridmurid OWLku.

‘Hari ini kita akan mencampur ramuan yang sering muncul di Ordinary Wizarding Level; Ramuan Ketenangan, sebuah ramuan untuk meredakan kecemasan dan menenangkan kegelisahan. Peringatan bagi kalian: kalau kalian terlalu berlebihan dengan bahan-bahannya kalian akan menempatkan peminumnya ke dalam tidur yang panjang dan terkadang tidak bisa dibangunkan lagi, jadi kalian harus memperhatikan dengan seksama apa yang sedang kalian lakukan.’ Di sebelah kiri Harry, Hermione duduk sedikit lebih tegak, ekspresinya penuh perhatian. ‘Bahan-bahan dan metodenya -‘ Snape melambaikan tongkatnya ‘-ada di papan tulis -‘ (tulisannya muncul di sana) ‘- kalian akan menemukan semua yang kalian butuhkan -‘ dia melambaikan tongkatnya lagi ‘- di lemari penyimpanan -‘ (pintu lemari yang dimaksud terbuka) ‘- kalian punya satu setengah jam … mulai.’

Seperti yang telah diramalkan Harry, Ron dan Hermione, Snape hampir tidak bisa menyuruh mereka membuat ramuan yang lebih sulit dan rumit. Bahan-bahannya harus ditambahkan ke dalam kuali dengan urutan dan jumlah yang tepat; campurannya harus diaduk beberapa kali dalam jumlah yang tepat, pertama searah jarum jam, lalu melawan arah jarum jam; panas apinya harus diturunkan ke tingkat yang persis tepat selama sejumlah menit sebelum bahan akhir ditambahkan.

‘Seberkas uap tipis perak seharusnya sekarang telah menguar dari ramuan kalian,’ seru Snape, ketika waktu tinggal sepuluh menit lagi.

Harry, yang sedang berkeringat hebat, melihat dengan putus asa ke sekeliling ruang bawah tanah. Kualinya sendiri sedang mengeluarkan sejumlah besar uap kelabu gelap; kuali Ron memuncratkan bunga api hijau. Seamus sedang tergesa-gesa menjolok api di dasar kualinya dengan ujung tongkatnya, karena tampaknya akan padam. Namun, permukaan ramuan Hermione merupakan kabut berkilauan yang terbuat dari uap perak, dan ketika Snape lewat dia melihat melewati hidung bengkoknya ke kuali itu tanpa komentar, yang berarti dia tidak bisa menemukan apa-apa untuk dikritik. Namun di kuali Harry, Snape berhenti, dan melihat ke kualinya dengan senyum menyeringai yang mengerikan di wajahnya.

‘Potter, seharusnya ini apa?’

Anak-anak Slytherin di bagian depan kelas semuanya memandang dengan penuh hasrat; mereka sangat suka mendengar Snape mengejek Harry.

‘Ramuan Ketenangan,’ kata Harry dengan tegang.

‘Beritahu aku, Potter,’ kata Snape dengan pelan, ‘bisakah kamu membaca?’

Draco Malfoy tertawa.

‘Ya, saya bisa,’ kata Harry, jari-jarinya mencengkeram tongkatnya erat-erat.

‘Baca baris ketiga dari instruksi itu untukku, Potter.’

Harry memicingkan mata ke papan tulis; tidaklah mudah melihat instruksi itu melalui uap berbagai warna yang mengaburkan yang sekarang mengisi ruang bawah tanah itu.

‘”Tambahkan bubuk batu bulan, aduk tiga kali searah jarum jam, biarkan membara selama tujuh menit lalu tambahkan dua tetes sirup hellebore.”‘

Hatinya merosot. Dia tidak menambahkan sirup hellebore, tetapi langsung meneruskan kebaris keempat instruksi itu setelah membiarkan ramuannya membara selama tujuh menit.

‘Apakah kamu melakukan semua hal di baris ketiga, Potter?’

‘Tidak,’ kata Harry dengan sangat pelan.

‘Maaf?’

‘Tidak,’ kata Harry, lebih keras. ‘Saya lupa hellebore.’

‘Aku tahu kau lupa, Potter, yang artinya kekacauan ini sama sekali tidak berharga. Evanesco.’

Isi ramuan Harry menghilang; dia berdiri dengan bodoh di samping sebuah kuali kosong.

‘Kalian yang sudah berhasil membaca instruksi, isi satu tabung dengan sampel ramuan kalian, beri label yang jelas dengan nama kalian dan bawa ke mejaku untuk diuji,’ kata Snape. ‘Tugas rumah: dua belas inci perkamen tentang sifat-sifat batu bulan dan kegunaannya dalam pembuatan ramuan, diserahkan pada hari Kamis.’

Sementara semua orang di sekitarnya mengisi tabung-tabung mereka, Harry membereskan barang-barangnya, hatinya menggelegak. Ramuannya tidak lebih buruk daripada ramuan Ron, yang sekarang mengeluarkan bau busuk telur yang sudah membusuk; atau ramuan Neville, yang telah mencapai kekentalan semen yang baru dicampur dan yang sekarang harus dikerok Neville dari kualinya; tapi masih saja dia, Harry, yang akan menerima nilai nol untuk pekerjaan hari itu. Dia menjejalkan tongkatnya kembali ke dalam tasnya dan merosot ke tempat duduknya, sambil mengamati semua orang lain yang berbaris ke meja Snape dengan tabung-tabung terisi dan tertutup gabus. Ketika akhirnya bel berdering, Harry yang pertama keluar dari ruang bawah tanah dan sudah mulai makan siang ketika Ron dan Hermione bergabung dengannya di Aula Besar. Langit-langit telah berubah menjadi warna kelabu yang bahkan lebih suram selama pagi itu. Hujan memecut jendela-jendela yang tinggi.

‘Itiu benar-benar tidak adil,’ kata Hermione menghibur, sambil duduk di sebelah Harry dan makan pai. ‘Ramuanmu tidak seburuk ramuan Goyle, sewaktu dia memasukkannya ke dalam tabung benda itu hancur dan membakar jubahnya.’

‘Yeah, well,’ kata Harry sambil menatap tajam ke piringnya, ‘sejak kapan Snape pernah adil terhadapku?’

Tidak satupun dari mereka menjawab; mereka bertiga semuanya tahu bahwa permusuhan Snape dan Harry telah mutlak dari saat Harry menjejakkan kaki ke Hogwarts.

‘Aku kira dia mungkin sedikit lebih baik tahun ini,’ kata Hermione dengan suara kecewa. ‘Maksudku … kau tahu …’ dia melihat sekeliling dengan waspada; ada setengah lusin tempat duduk kosong di kedua sisi mereka dan tak seorangpun sedang melewati meja itu ‘… sekarang dia ada dalam Order dan segalanya itu.’

‘Katak beracun tidak mengubah bintiknya,’ kata Ron dengan bijaksana. ‘Lagipula, aku selalu mengira Dumbledore sinting mempercayai Snape. Di mana buktinya dia pernah benar-benar berhenti bekerja bagi Kau-Tahu-Siapa?’

‘Kukira Dumbledore mungkin punya banyak bukti, bahkan kalau dia tidak membaginya denganmu, Ron,’ sambar Hermione.

‘Oh, diamlah, kalian berdua,’ kata Harry dengan kasar, ketika Ron membuka mulut untuk beradu pendapat lagi. Hermione dan Ron sama-sama membeku, terlihat marah dan tersinggung. ‘Tidak bisakah kalian tenang?’ kata Harry. ‘Kalian selalu bertengkar, membuatku gila.’ Dan mengabaikan painya, dia mengayunkan tas sekolahnya ke bahunya dan meninggalkan mereka duduk di sana.

Dia berjalan menaiki tangga pualam dua-dua anak tangga, melewati banyak murid yang sedang bergegas menuju makan siang. Kemarahan yang baru saja menyala tanpa terduga masih berkobar dalam dirinya, dan bayangan wajah Ron dan Hermione yang terguncang memberinya rasa puas mendalam. Rasakan mereka, pikirnya, kenapa mereka tidak bisa tenang … bertengkar sepanjang waktu … cukup untuk membuat siapapun jadi gila …

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.