Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

Bulan, bintang-bintang dan lampu-lampu jalan muncul kembali. Angin sepoi-sepoi yang hangat menyapu gang itu. Pohon-pohon berdesir di kebun-kebun sekitar dan suara mobil-mobil yang biasa di Magnolia Crescent memenuhi udara lagi. Harry berdiri diam, semua inderanya masih bergetar, merasakan kembalinya normalitas yang mendadak. Setelah beberapa saat, dia menjadi sadar bahwa baju kaosnya melekat ke tubuhnya; dia basah kuyup oleh keringat.

Dia tidak dapat mempercayai apa yang baru saja terjadi. Dementor di sini, di Little Whinging.

Dudley berbaring menggulung di atas tanah, gemetar dan merengek-rengek. Harry membungkuk untuk melihat apakah dia mampu berdiri, tetapi kemudian dia mendengar langkah-langkah kaki keras yang sedang berlari di belakangnya. Menuruti nalurinya sambil menaikkan tongkatnya lagi, dia berbalik untuk menghadapi si pendatang baru.

Mrs Figg, tetangga mereka yang agak sinting, datang terengah-engah. Rambutnya yang kelabu beruban berlepasan dari jala rambut, sebuah tas belanjaan yang berkelontang berayun-ayun dari pergelangan tangannya dan kaki-kakinya hampir setengah keluar dari selop karpet tartannya. Harry mencoba menyimpan tongkatnya dengan terburu-buru ke luar pandangan, tetapi –

‘Jangan simpan itu, anak idiot!’ lengkingnya. ‘Bagaimana jika masih ada lagi di sekitar sini? Oh, akan kubunuh si Mundungus Fletcher!’

 

BAB 2:

Pasukan Burung Hantu

‘Apa?’ kata Harry dengan bingung.

‘Dia pergi!’ kata Mrs Figg, meremas-remas tangannya. ‘Pergi untuk menemui seseorang mengenai sejumlah kuali yang jatuh dari belakang sapu! Kuberitahu dia akan kukuliti dia hidup-hidup jika dia pergi, dan sekarang lihat! Dementor! Untung saja kusuruh Mr Tibbles berjaga-jaga! Tapi kita tidak punya waktu untuk berdiri saja! Cepat, sekarang, kita harus memulangkan kalian! Oh, masalah yang akan ditimbulkan hal ini! Aku akan membunuhnya!’

‘Tapi –‘ Pengungkapan bahwa tetangganya yang agak sinting dan terobsesi dengan kucing mengetahui apa itu Dementor hampir sebesar rasa shock Harry ketika bertemu dengan dua di antaranya di gang itu. ‘Anda — Anda penyihir?’

‘Aku Squib, seperti yang diketahui Mundungus dengan baik, jadi bagaimana mungkin aku dapat menolongmu menghadapi Dementor? Dia meninggalkanmu sama sekali tanpa perlindungan padahal sudah kuperingatkan dia –‘

‘Mundungus ini sudah mengikutiku? Tunggu dulu — dia orangnya! Dia ber-Disapparate dari depan rumah!’

‘Ya, ya, ya, tapi untunglah aku menempatkan Mr Tibbles di bawah sebuah mobil untuk jaga-jaga, dan Mr Tibbles datang dan memperingatkan aku, tapi pada saat aku sampai ke rumahmu kau telah pergi — dan sekarang — oh, apa yang akan dikatakan Dumbledore? Kau!’ dia berteriak pada Dudley, yang masih telentang di lantai gang. ‘Pindahkan pantatmu yang besar dari tanah, cepat!’

‘Anda kenal Dumbledore?’ kata Harry, menatapnya.

‘Tentu saja aku kenal Dumbledore, siapa yang tidak mengenal Dumbledore? Tapi ayolah –aku tidak akan bisa membantu kalau mereka kembali, aku bahkan belum pernah men-Transfigurasi kantong teh.’

Dia membungkuk, meraih salah satu lengan Dudley yang besar ke dalam tangannya yang keriput dan menyentak.

‘Bangun, kau onggokan tak berguna, bangun!’

Tetapi Dudley tidak bisa atau tidak mau bergerak. Dia diam di atas tanah, gemetar dan wajahnya kelabu, mulutnya tertutup sangat rapat.

‘Akan kulakukan.’ Harry memegang lengan Dudley dan mengangkatnya. Dengan usaha kera dia mampu mengangkatnya berdiri. Dudley kelihatannya hampir pingsan. Matanya yang kecil berputar-putar di rongga matanya dan keringat mengucur di wajahnya; saat Harry melepaskannya dia berayun-ayun berbahaya.

‘Cepatlah!’ kata Mrs Figg dengan histeris.

Harry menarik salah satu lengan Dudley yang besar melingkari bahunya dan menyeret dia menuju jalan, sedikit terbungkuk akibat beratnya. Mrs Figg berjalan terhuyunghuyung di depan mereka, sambil mengintai dengan cemas di sudut.

‘Tetap keluarkan tongkatmu,’ dia menyuruh Harry, ketika mereka memasuki Wisteria Walk. ‘Tidak usah pedulikan Undang-Undang Kerahasiaan sekarang, lagipula resikonya sangat besar, sekalian saja kita digantung karena naga daripada karena telur. Bicara mengenai Pembatasan Masuk Akal Penggunaan Sihir Di Bawah Umur … ini persis yang ditakutkan Dumbledore — Apa itu di ujung jalan? Oh, itu cuma Mr Prentice … jangan simpan tongkatmu, nak, bukankah aku terus memberitahumu aku tidak berguna?’

Tidaklah mudah memegang tongkat dengan mantap di satu tangan dan menarik Dudley pada saat yang sama. Harry memberi sepupunya sebuah sikutan tidak sabar pada tulang iga, tetapi Dudley tampaknya telah kehilangan semua hasrat untuk pergerakan independen. Dia merosot ke bahu Harry, kaki-kakinya yang besar terseret sepanjang jalan.

‘Mengapa Anda tidak memberitahuku bahwa Anda seorang Squib, Mrs Figg? tanya Harry, terengah-engah karena usaha untuk terus berjalan. ‘Setiap kali saya berkunjung ke rumah Anda — mengapa Anda tidak mengatakan apa-apa?’

‘Perintah Dumbledore. Aku harus mengawasimu tetapi tidak mengatakan apa-apa, kamu terlalu muda. Maaf karena aku telah memberimu waktu yang tidak menyenangkan, Harry, tetapi keluarga Dursley tidak akan pernah membiarkanmu datang bila mereka mengira kamu menikmatinya. Tidak mudah, kau tahu … tapi oh kataku,’ dia berkata dengan tragis, sambil meremas-remas tangannya sekali lagi, ‘ketika Dumbledore mendengar hal ini — bagaimana bisa Mundungus pergi, dia seharusnya berjaga sampai tengah malam — di mana dia? Bagaimana aku akan memberitahu Dumbledore apa yang terjadi? Aku tidak bisa ber-Apparate.’

‘Aku punya burung hantu, Anda bisa meminjamnya.’ Harry mengerang, bertanya-tanya apakah tulang belakangnya akan patah akibat berat Dudley.

‘Harry, kamu tidak mengerti! Dumbledore perlu bertindak secepat mungkin, Kementerian punya cara-cara mereka sendiri untuk mendeteksi sihir di bawah umur, mereka pasti sudah tahu, camkan kata-kataku.’

‘Tapi aku tadi mengenyahkan Dementor, aku harus menggunakan sihir — mereka pasti lebih khawatir tentang apa yang dilakukan Dementor melayang-layang di sekitar Wisteria Walk?’

‘Oh, sayang, kuharap begitu, tapi aku takut — MUNDUNGUS FLETCHER, AKAN KUBUNUH KAMU!’

Ada letusan keras dan bau menyengat minuman yang bercampur dengan tembakau apak memenuhi udara ketika seorang lelaki gemuk pendek dan tidak bercukur dalam mantel luar yang compang-camping muncul tepat di depan mereka. Dia memiliki kaki yang pendek dan bengkok, rambut merah kekuningan yang panjang terurai dan mata merah berkantung yang memberinya tampang muram seperti seekor anjing pemburu. Dia juga sedang mencengkeram sebuah buntalan keperakan yang langsung dikenali Harry sebagai Jubah Gaib.

”Da pa, Figgy?’ katanya, menatap dari Mrs Figg ke Harry dan Dudley. ‘Kenapa tidak tetap menyamar?’

‘Kuberi kau samaran!’ teriak Mrs Figg. ‘Dementor, kau pencuri pengecut tukang bolos tidak berguna!’

‘Dementor?’ ulang Mundungus, terperanjat. ‘Dementor? Di sini?’

‘Ya, di sini, kau kotoran kelelawar tidak berharga, di sini!’ pekik Mrs Figg. ‘Dementor menyerang bocah itu pada waktu jagamu!’

‘Ya ampun,’ kata Mundungus dengan lemah, melihat dari Mrs Figg ke Harry, dan balik lagi. ‘Ya ampun, aku –‘

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.