Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

Dean Thomas dan Seamus Finnigan telah mencapai kamar terlebih dahulu dan sedang dalam proses menutupi dinding-dinding di sebelah tempat tidur mereka dengan poster-poster dan foto-foto. Mereka sedang berbicara ketika Harry mendorong pintu terbuka tetapi berhenti mendadak saat mereka melihatnya. Harry bertanya-tanya apakah mereka sedang membicarakan dia, lalu apakah dia menjadi paranoid.

‘Hai,’ katanya sambil bergerak menyeberang ke kopernya sendiri dan membukanya.

‘Hei, Harry,’ kata Dean, yang sedang mengenakan piyama dalam warna-warna West Ham. ‘Liburmu menyenangkan?’

‘Tidak buruk,’ gumam Harry, karena cerita sebenarnya dari liburannya akan makan waktu hampir semalaman dan dia tidak dapat menghadapinya. ‘Kau?’

‘Yeah, cukup OK,’ Dean tertawa kecil. ‘Lagipula, lebih baik daripada Seamus, dia baru saja memberitahuku.’

‘Kenapa, apa yang terjadi, Seamus?’ Neville bertanya selagi dia menempatkan Mimbulus mimbletonia-nya dengan lembut ke atas lemari sisi tempat tidurnya.

Seamus tidak segera menjawab; dia makan waktu lama untuk memastikan bahwa poster tim Quidditchnya Kenmare Kestrels cukup tegak. Lalu dia berkata, dengan punggung masih berpaling dari Harry, ‘Ibuku tak mau aku balik.’

‘Apa?’ kata Harry sambil menghentikan sejenak tindakan melepaskan jubahnya.

‘Dia tidak mau aku balik ke Hogwarts.’

Seamus berpaling dari posternya dan menarik piyamanya sendiri keluar dari koopernya, masih tidak memandang Harry.

‘Tapi — kenapa?’ kata Harry, heran. Dia tahu ibu Seamus seorang penyihir dan karena itu, tidak bisa mengerti mengapa dia menjadi begitu mirip keluarga Dursley.

Seamus tidak menjawab sampai dia selesai mengancingkan piyamanya.

‘Well,’ katanya dengan suara yang diatur, ‘kukira … karena kau.’

‘Apa maksudmu?’ kata Harry dengan cepat.

Jantungnya berdetak agak cepat. Samar-samar dia merasa seakan-akan sesuatu menyelubunginya.

‘Well,’ kata Seamus lagi, masih menghindari mata Harry, ‘dia … er … well, bukan cuma kamu, Dumbledore juga …’

‘Dia percaya pada Daily Prophet?’ kata Harry. ‘Dia mengira aku seorang pembohonga dan Dumbledore seorang tua yang bodoh?’

Seamus memandang kepadanya.

‘Yeah, kira-kira seperti itu.’

Harry tidak berkata apa-apa. Dia melemparkan tongkatnya ke meja sisi tempat tidurnya, melepaskan jubahnya, memasukkannya dengan marah ke dalam kopernya dan menarik keluar piyamanya. Dia muak akan hal itu; muak dijadikan orang yang dipandangi dan dibicarakan sepanjang waktu. Kalau di antara mereka ada yang tahu, kalau di antara mereka ada yang punya gambaran sedikit saja bagaimana rasanya menjadi orang yang tertimpa semua kejadian ini … Mrs Finnigan tidak punya gambaran, wanita bodoh itu, pikirnya dengan buas.

Dia naik ke tempat tidur dan bergerak untuk menarik kelambunya menutupi sekitarnya, tetapi sebelum dia bisa melakukannya, Seamus berkata, ‘Lihat … apa yang terjadi malam itu ketika … kau tahu, ketika … dengan Cedric Diggory dan semuanya?’

Seamus terdengar gugup dan bersemangat pada saat yang sama. Dean, yang telah membungkuk di atas kopernya sambil mencoba mengambil sebuah sandal, anehnya menjadi tidak bergerak dan Harry tahu dia mendengarkan lekat-lekat.

‘Kenapa kau tanya aku?’ Harry menjawab dengan pedas. ‘Baca saja Daily Prophet seperti ibumu, mengapa tak kaulakukan? Itu akan memberitahumu semua yang perlu kau ketahui.’

‘Jangan bawa-bawa ibuku,’ sambar Seamus.

‘Aku akan bawa siapapun yang menyebutku pembohong,’ kata Harry.

‘Jangan berbicara kepadaku seperti itu!’

‘Aku akan bicara kepadamu seperti yang kumau,’ kata Harry, amarahnya naik begitu cepat sehingga dia menyambar tongkatnya kembali dari meja sisi tempat tidurnya. ‘Kalau kau punya masalah berbagi kamar denganku, pergi dan minta McGonagall kalau kau bisa dipindahkah … menghentikan kekhawatiran ibumu –‘

‘Tinggalkan ibuku dari hal ini, Potter!’

‘Apa yang sedang terjadi?’

Ron telah muncul di ambang pintu. Matanya yang lebar bergerak dari Harry, yang sedang berlutut di atas ranjangnya dengan tongkat menunjuk kepada Seamus, kepada Seamus, yang sedang berdiri di sana dengan tinju terangkat.

‘Dia membawa-bawa ibuku!’ teriak Seamus.

‘Apa?’ kata Ron. ‘Harry tidak akan melakukan itu — kami pernah bertemu ibumu, kami menyukainya …’

‘Itu sebelum dia mulai mempercayai semua kata yang ditulis Daily Prophet sialan itu mengenai aku!’ kata Harry pada puncak suaranya.

‘Oh,’ kata Ron, pengertian timbul ke wajahnya yang berbintik-bintik. ‘Oh … benar.’

‘Kau tahu apa?’ kata Seamus panas, sambil memberi Harry pandangan berbisa. ‘Dia benar, aku tidak mau berbagi kamar dengannya lagi, dia gila.’

‘Itu di luar batas, Seamus,’ kata Ron, yang telinganya mulai berkilau merah — selalu merupakan tanda bahaya.

‘Di luar batas, aku?’ teriak Seamus, yang sebaliknya dari Ron menjadi pucat. ‘Kau percaya semua sampah yang dikarangnya mengenai Kau-Tahu-Siapa, benar bukan, kau pikir dia menceritakan hal yang sebenarnya?’

‘Yeah, memang!’ kata Ron dengan marah.

‘Kalau begitu kau juga gila,’ kata Seamus jijik.

‘Yeah? Well, sayang bagimu, teman, aku juga seorang prefek!’ kata Ron sambil menusuk dirinya sendiri di dada dengan sebuahjari. ‘Jadi kecuali kau mau dapat detensi, jaga ucapanmu!’

Selama beberapa detik Seamus terlihat seakan-akan menganggap detensi adalah harga yang pantas untuk dibayarkan untuk mengatakan apa yang sedang berada dalam pikirannya; tetapi dengan suara jijik dia memutar tumitnya dan menarik kelambunya tertutup dengan kasar sekali sehingga kelambu itu terkoyak dari ranjangnya dan jatuh menjadi tumpukan berdebu ke lantai. Ron melotot kepada Seamus, lalu melihat kepada Dean dan Neville.

‘Ada lagi yang orang tuanya bermasalah dengan Harry?’ katanya dengan agresif.

‘Orang tuaku Muggle, sobat,’ kata Dean sambil mengangkat bahu. ‘Mereka tidak tahu apapun tentang kematian di Hogwarts, karena aku tidak cukup bodoh untuk memberitahu mereka.’

‘Kau tidak tahu ibuku, dia akan bersusah payah mengeluarkan apapun dari siapapun!’ Seamus berkata tajam kepadanya. ‘Lagipula, orang tuamu tidak baca Daily Prophet. Mereka tidak tahu Kepala Sekolah kita telah dipecat dari Wizengamot dan Konfederasi Penyihir Internasional karena dia mulai kehilangan akal sehatnya –‘

‘Nenekku bilang itu sampah,’ timpal Neville. ‘Katanya Daily Prophet yang semakin tidak beres, bukan Dumbledore. Dia sudah membatalkan langganan kami. Kami percaya pada Harry,’ kata Neville singkat. Dia memanjat ke ranjangnya dan menarik selimutnya hingga ke dagu, sambil melihat dengan serius kepada Seamus. ‘Nenekku selalu bilang Kau-Tahu-Siapa akan kembali suatu hari. Katanya kalau Dumbledore bilang dia sudah kembali, berarti dia sudah kembali.’

Harry merasakan desakan rasa terima kasih terhadap Neville. Yang lain tak seorangpun berkata apa-apa. Seamus mengeluarkan tongkatnya, memperbaiki kelambu tempat tidurnya dan menghilang di baliknya. Dean naik ke tempat tidur, berguling dan terdiam. Neville, yang tampaknya juga tidak punya hal lain untuk dikatakan lagi, memandang dengan sayang kepada kaktusnya yang terkena cahaya bulan.

Harry berbaring kembali pada bantalnya sementara Ron sibuk di ranjang berikutnya, menyimpan barang-barangnya. Dia merasa terguncang oleh argumen dengan Seamus, yang selalu disukainya. Berapa banyak orang lagi yang akan mengatakan kalau dia berbohong, atau kurang waras?

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.