Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

‘Oh, yeah …’

Harry dan Ginny menjadi terpisah ketika mereka bergerak sepanjang peron dan keluar dari stasiun. Terdesak oleh kerumunan, Harry mengedip melalui kegelapan untuk mencari kilasan Hagrid; dia pasti ada di sini, Harry telah mengandalkan hal itu — melihat Hagrid lagi adalah salah satu hal yang paling dinantikannya. Tapi tidak ada tandatandanya.

Dia tidak mungkin pergi, Harry memberitahu dirinya sendiri selagi dia bergerak dengan pelan ke jalan di luar bersama sisa kerumunan. Dia hanya masuk angin atau apapun …

Dia melihat sekitar untuk mencari Ron atau Hermione, ingin tahu apa pikiran mereka tentang pemunculan kembali Profesor Grubby-Plank, tetapi keduanya tidak ada di dekatnya, jadi dia membiarkan dirinya sendiri didorong maju ke jalan gelap yang dibasahi hujan di luar Stasiun Hogsmeade.

Di sini berdiri sekitar seratus kereta tanpa kuda yang selalu membawa murid-murid di atas kelas satu ke kastil. Harry melihat sekilas pada kereta-kereta itu, berpaling untuk mencari-cari Ron dan Hermione, kemudian berpaling untuk melihat sekali lagi.

Kereta-kereta itu tidak lagi tak berkuda. Ada makhluk-makhlun yang berdiri di antara pasak kereta. Kalau dia harus memberi mereka nama, dia merasa dia akan harus memanggil mereka kuda, walaupun juga ada sesuatu yang seperti reptil pada mereka. Mereka sepenuhnya tidak berdaging, mantel hitam mereka bergantung pada kerangka mereka, yang setiap tulangnya tampak. Kepala mereka seperti naga, dan mata mereka yang tidak memiliki pupil berwarna putih dan membelalak. Berdiri diam dan tenang dalam kumpulan yang suram, makhluk-makhluk itu tampak mengerikan dan mengancam. Harry tidak mengerti mengapa kereta-kereta itu ditarik oleh kuda-kuda mengerikan ini kalau cukup mampu bergerak sendiri.

‘Di mana Pig?’ kata suara Ron, di belakang Harry.

‘Cewek Luna itu membawanya,’ kata Harry, berpaling dengan cepat, sangat ingin menanyakan pendapat Ron mengenai Hagrid. ‘Di mana menurutmu –‘

‘– Hagrid berada? Aku tak tahu,’ kata Ron, terdengar khawatir. ‘Dia sebaiknya tidak apa-apa …’

Tidak jauh dari mereka, Draco Malfoy, diikuti oleh kelompok kecil kroni-kroninya termasuk Crabbe, Goyle dan Pansy Parkinson, sedang mendorong beberapa anak kelas dua yang terlihat takut-takut dari jalannya sehingga dia dan teman-temannya bisa mendapatkan kereta untuk diri mereka. Beberapa detik kemudian, Hermione muncul terengah-engah dari kerumunan.

‘Malfoy bersikap sangat jahat kepada seorang anak kelas satu di belakang sana. Aku sumpah aku akan melaporkan dia, dia baru memiliki lencananya tiga menit dan dia sudah

menggunakannya untuk mengganggu orang-orang lebih buruk dari yang pernah terjadi … di mana Crookshanks?’

‘Ginny membawanya,’ kata Harry. ‘Itu dia …’

Ginny baru saja muncul dari kerumunan, sambil mencengkeram Crookshanks yang menggeliat.

‘Trims,’ kata Hermine, sambil membebaskan Ginny dari kucing itu. ‘Ayo, mari mengambil sebuah kereta bersama sebelum semuanya terisi penuh …’

‘Aku belum dapat Pig!’ Ron berkata, tetapi Hermione telah menuju kereta terdekat yang belum terisi. Harry tetap di belakang dengan Ron.

‘Menurutmu, benda-benda apa itu?’ dia bertanya kepada Ron, sambil mengangguk kepada kuda-kuda mengerikan itu selagi murid-murid lain bergerak melewati mereka.

‘Benda apa?’

‘Kuda itu –‘

Luna muncul sambil memegang sangkar Pigwidgeon di lengannya; burung hantu mungil itu sedang mencicit-cicit dengan bergairah seperti biasa.

‘Ini dia,’ katanya. ‘Dia burung hantu yang manis, benar ‘kan?’

‘Er … yeah … dia lumayan,’ kata Ron dengan keras. ‘Well, kalau begitu ayo, mari masuk … apa yang tadi kau katakan, Harry?’

‘Aku tadi bilang, makhluk kuda itu apa?’ Harry berkata ketika dia, Ron dan Luna memasuki kereta di mana Hermione dan Ginny telah duduk.

‘Makhluk kuda apa?’

‘Makhluk kuda yang sedang menarik kereta-kereta!’ kata Harry dengan tidak sabar. Bagaimanapun, mereka berada sekitar tiga kaki dari yang terdekat; makhluk itu sedang mengawasi mereka dengan mata putih yang kosong. Namun Ron memberi Harry pandangan bingung.

‘Apa yang sedang kau bicarakan?’

‘Aku sedang membicarakan tentang — lihat!’

Harry menyambar lengan Ron dan menariknya sehingga dia tepat berhadapan dengan kuda bersayap itu. Ron menatap langsung ke arahnya selama sedetik, lalu melihat balik kepada Harry.

‘Apa yang seharusnya sedang kulihat?’

‘Di — sana, antara pasak-pasak! Terkekang ke kereta! Ada persis di sana di depan –‘

Tetapi Ron terus tampak melongo, sebuah pikiran aneh timbul pada diri Harry.

‘Tidakkah … tidakkah kamu bisa melihat mereka?’

‘Melihat apa?’

‘Tidakkah kamu melihat apa yang sedang menarik kereta-kereta?’

Ron terlihat benar-benar khawatir sekarang.

‘Apakah kamu merasa baik-baik saja, Harry?’

‘Aku … yeah …’

Harry merasa sangat bingung. Kuda itu ada di depannya, berseri-seri dengan kuat dalam cahaya suram yang berasal dari jendela-jendela stasiun di belakang mereka, uap membumbung dari lubang hidungnya dalam usara malam yang dingin. Walau begitu, kecuali Ron berpura-pura — dan jika benar itu adalah lelucon yang garing — Ron sama sekali tidak bisa melihatnya.

‘Kalau begitu, apakah kita akan naik?’ kata Ron tidak pasti, sambil melihat kepada Harry seakan-akan mengkhawatirkan dirinya.

‘Yeah,’ kata Harry. ‘Yeah, teruskan …’

‘Tidak apa-apa,’ kata sebuah suara melamum dari samping Harry ketika Ron menghilang ke dalam interior kereta yang gelap. ‘Kamu tidak gila atau apapun. Aku juga bisa melihat mereka.’

‘Bisakah kamu?’ kata Harry dengan putus asa, berpaling kepada Luna. Dia bisa melihat kuda-kuda bersayap kelelawar itu terpantul pada matanya yang lebar keperakan.

‘Oh, ya,’ kata Luna, ‘aku sudah bisa melihat mereka sejak hari pertamaku di sini. Mereka selalu menarik kereta. Jangan khawatir. Kamu sama warasnya denganku.’

Sambil tersenyum samar, dia memanjat ke dalam interior kereta yang pengap setelah Ron. Tidak tenang sepenuhnya, Harry mengikuti dia.

Bab 11:

Lagu Baru Topi Seleksi

Harry tidak mau memberitahu yang lain bahwa dia dan Luna mendapatkan halusinasi yang sama, kalau memang begitu, jadi dia tidak mengatakan apa-apa lagi mengenai kudakida itu ketika dia duduk di dalam kereta dan membanting pintu di belakangnya. Walaupun begitu, dia tidak bisa tidak memperhatikan siluet kuda-kuda itu bergerak di balik jendela.

‘Apakah semua orang melihat wanita Grubbly-Plank itu?’ tanya Ginny. ‘Apa yang dilakukannya di belakang sini? Hagrid tidak mungkin pergi, benar ‘kan?’

‘Aku akan senang kalau dia pergi,’ kata Luna, ‘dia bukan guru yang sangat baik, bukankah begitu?’

‘Dia guru yang baik!’ kata Harry, Ron dan Ginny dengan marah.

Harry melolot kepada Hermione. Dia berdehem dan cepat-cepat berkata, ‘Erm … ya … dia sangat bagus.’

‘Well, kami di Ravenclaw menganggap dia seperti lelucon,’ kata Luna tak bergeming.

‘Kalau begitu kalian punya selera humor sampah,’ sambar Ron, ketika roda-roda di bawah mereka berkeriut mulai bergerak.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.