Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

‘… pegangannya terbuat dari kayu ek Spanyol dengan pernis anti kutukan dan kendali getar terpasang –‘ Ron sedang berkata kepada Tonks.

Mrs Weasley menguap lebar-lebar.

‘Well, kukira aku akan mengatasi Boggart itu sebelum tidur … Arthur, aku tidak mau mereka terjaga terlalu malam, oke? Malam, Harry, sayang.’

‘Kau baik-baik saja, Potter?’ gerutu Moody.

‘Yeah, baik,’ dusta Harry.

Moody meneguk dari botol labunya, mata biru elektriknya menatap ke samping kepada Harry.

‘Kemarilah, aku punya sesuatu yang mungkin menarik bagimu,’ katanya.

Dari salah satu kantong dalam di jubahnya Moody menarik sebuah foto sihir tua yang sangat compang-camping.

‘Order of the Phoenix yang asli,’ geram Moody. ‘Akhirnya kutemukan tadi malam sewaktu aku sedang mencari Jubah Gaib cadanganku, karena Podmore tidak punya sopan santun untuk mengembalikan jubah terbaikku … kukira orang-orang mungkin ingin melihatnya.’

Harry mengambil foto itu. Kerumunan kecil orang, beberapa melambai kepadanya, yang lain mengangkat kaca mata mereka, memandang balik kepadanya.

‘Itu aku,’ kata Moody sambil menunjuk kepada dirinya sendiri. Moody di gambar itu tidak bisa salah dikenali, walaupun rambutnya tidak begitu kelabu dan hidungnya utuh. ‘Dan itu Dumbledore di sampingku, Dedalus Diggle di sisi lain … itu Marlene McKinnon, dia terbunuh dua minggu setelah ini diambil, mereka membunuh semua keluarganya. Itu Frank dan Alice Longbottom –‘

Perut Harry, yang telah tidak enak, mengejang ketika dia melihat kepada Alice Longbottom; dia mengenali wajah bulatnya yang bersahabat dengan baik, walaupun mereka belum pernah berjumpa, karena dia sangat mirip dengan anaknya, Neville.

‘– orang-orang malang,’ geram Moody. ‘Lebih baik mati daripada apa yang terjadi dengan mereka … dan itu Emmeline Vance, kau sudah bertemu dengannya, dan di sana Lupin, tentu saja … Benjy Fenwick, dia kena juga, kami hanya pernah menemukan potongan-potongan tubuhnya … geser ke samping yang di sana,’ tambahnya sambil menyodok gambar itu, dan orang-orang kecil di foto menepi ke samping, sehingga yang tertutup sebagian bisa pindah ke depan.

‘Itu Edgar Bones … kakak Amelia Bones, mereka bunuh dia dan keluarganya juga, dia adalah penyihir hebat … Sturgis Podmore, astaga, dia tampak muda … Caradoc Dearborn, menghilang enam bulan setelah ini, kami tidak pernah menemukan mayatnya … Hagrid, tentu saja, terlihat persis sama … Elphias Doge, kau sudah bertemu dengannya, aku lupa dia dulu suka memakai topi bodoh itu … Gideon Prewett, butuh lima Pelahap Maut untuk membunuhnya dan saudaranya Fabian, mereka bertarung seperti pahlawan … geser, geser …’

Orang-orang kecil di foto itu saling mendesak satu sama lain dan yang tersembunyi tepat di belakang muncul di bagian depan gambar.

‘Itu saudara lelaki Dumbledore, Aberfotrh, satu-satunya pertemuanku dengannya, lelaki aneh … itu Dorcas Meadows, Voldemort membunuhnya sendiri … Sirius, waktu dia masih berambut pendek … dan … itu dia, kukira itu akan membuatmu tertarik!’

Jantung Harry berbalik. Ibu dan ayahnya sedang tersenyum kepadanya, duduk di kedua sisi seorang lelaki kecil yang matanya berair yang dikenali Harry dengan seketika sebagai Wormtail, orang yang telah mengkhianati keberadaan orang tuanya kepada Voldemort dan dengan begitu membantu mendatangkan kematian mereka.

‘Eh?’ kata Moody.

Harry memandang wajah Moody yang penuh luka dan lubang. Jelas Moody mendapat kesan bahwa dia baru saja memberi Harry sesuatu yang menyenangkan.

‘Yeah,’ kata Harry, mencoba menyeringai sekali lagi. ‘Er … dengar, aku baru saja ingat, aku belum mengepak …’

Dia bebas dari keharusan menciptakan benda yang belum dikemasnya. Sirius baru saja berkata, ‘Apa yang kau punya di sana, Mad-Eye?’ dan Moody berpaling kepadanya. Harry menyeberangi dapur, menyelinap melalui pintu dan naik tangga sebelum siapapun bisa memanggilnya kembali.

Dia tidak tahu mengapa jadi terguncang begitu; dia sudah pernah melihat gambargambar orang tuanya … tapi mendapatkan mereka diberikan kepadanya seperti itu, ketika dia sama sekali tidak menduga … tak ada yang suka itu, pikirnya dengan marah …

Dan lalu, melihat mereka dikelilingi oleh semua wajah gembira lain … Benjy Fenwick, yang telah ditemukan dalam bentuk potongan-potongan tubuh, dan Gideon Prewett, yang telah mati seperti pahlawan, dan keluarga Longbottom, yang telah disiksa hingga gila … semua melambai dengan gembira dari foto itu untuk selamanya, tanpa tahu bahwa mereka sudah dikutuk … well, Moody mungkin menganggap itu menarik … dia, Harry, menganggapnya mengganggu …

Harry berjingkat menaiki tangga di aula melewati kepala peri yang disumpal, senang berada sendirian lagi, tetapi ketika dia mendekati puncak tangga pertama dia mendengar suara-suara. Seseorang sedang tersedu-sedan di ruang duduk.

‘Halo?’ Harry berkata.

Tidak ada jawaban tetapi sedu sedan itu berlanjut terus. Dia menaiki sisa anak tangga dua-dua, berjalan menyeberangi puncak tangga dan membuka pintu ruang duduk.

Seseorang sedang gemetar ketakutan pada dinding yang gelap, dengan tongkat di tangannya, seluruh tubuhnya bergetar akibat tangisannya. Tergeletak di karpet tua berdebu dalam seberkas cahaya bulan, jelas-jelas sudah mati, adalah Ron.

Semua udara seakan menghilang dari paru-paru Harry; dia merasa seolah-olah dia sedang jatuh melalui lantai; otaknya menjadi sedingin es — Ron mati, tidak, tidak mungkin –

Tapi tunggu sebentar, itu tidak mungkin — Ron ada di bawah –

‘Mrs Weasley?’ Harry berkata dengan parau.

‘R –r –riddikulus!’ Mrs Weasley tersedu-sedu, sambil menunjukkan tongkatnya ke tubuh Ron.

Crack.

Tubuh Ron berubah menjadi tubuh Bill, telentang dengan tangan dan kaki terentang lebar, matanya terbuka lebar dan kosong. Mrs Weasley tersedu lebih keras dari sebelumnya.

‘R –riddikulus!’ dia terisak lagi.

Crack.

Tubuh Mr Weasley menggantikan tubuh Bill, kacamatanya miring, aliran darah kecil mengalir menuruni wajahnya.

‘Tidak!’ Mrs Weasley mengerang. ‘Tidak … riddikulus! Riddikulus! RIDDIKULUS!’

Crack. Si kembar yang sudah mati. Crack. Percy yang sudah mati. Crack.. Harry yang sudah mati …

‘Mrs Weasley, keluarlah dari sini!’ teriak Harry sambil menatap ke mayatnya sendiri di lantai. ‘Biarkan orang lain –‘

‘Apa yang sedang terjadi?’

Lupin telah datang sambil berlari ke dalam ruangan itu, diikuti segera oleh Sirius, dengan Moody terseok-seok di belakang mereka. Lupin melihat dari Mrs Weasley ke mayat Harry di lantai dan terlihat mengerti dalam sekejap. Sambil menarik keluar tongkatnya sendiri, dia berkata dengan sangat tegas dan jelas:

‘Riddikulus!’

Tubuh Harry menghilang. Sebuah bola keperakan tergantung di udara di atas titik di mana tubuh itu tadi terbaring. Lupin mengayunkan tongkatnya sekali lagi dan bola itu menghilang menjadi segumpal asap.

‘Oh — oh — oh!’ Mrs Weasley bernapas tertahan-tahan dan tangisannya pecah, dengan wajah tertutup tangannya.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.