Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

‘Trims,’ kata Hermione. ‘Erm — Harry — bolehkah aku pinjam Hedwig agar aku bisa memberitahu Mum dan Dad? Mereka akan sangat senang — maksudku prefek adalah sesuatu yang bisa mereka mengerti.’

‘Yeah, tak masalah,’ kata Harry, masih dalam suara setengah hati yang mengerikan itu yang bukan suaranya. ‘Ambil dia!’

Dia membungkuk ke kopernya, meletakkan jubah-jubah itu ke dasarnya dan berpurapura menggeledah sesuatu sementara Hermione menyeberang ke lemari pakaian dan memanggil Hedwig turun. Beberapa saat lewat; Harry mendengar pintu menutup tetapi tetap membungkuk, sambil mendengarkan; satu-satunya suara yang dapat didengarnya adalah lukisan kosong di dinding yang mencibir lagi dan keranjang sampah di sudut yang memuncratkan kotoran burung hantu.

Dia meluruskan badan dan melihat ke belakangnya. Hermione dan Hedwig telah pergi. Harry bergegas menyeberangi kamar, menutup pintu, lalu kembali pelan-pelan ke ranjangnya dan merosot ke atasnya, sambil menatap kosong kaki lemari pakaian.

Dia telah sepenuhnya lupa tentang pemilihan para prefek di tahun kelima. Dia terlalu cemas akan kemungkinan dikeluarkan sehingga tidak menyisakan pikiran tentang fakta bahwa lencana-lencana itu pasti sedang dalam perjalanan menuju orang-orang tertentu. Tapi kalau dia ingat … kalau dia memikirkan tentang hal itu … apa yang akan diharapkannya?

Bukan ini, kata sebuah suara kecil yang jujur di dalam kepalanya.

Harry mengernyitkan wajahnya dan menutupnya dengan tangan. Dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri; kalau dia tahu lencana prefek sedang dalam perjalanan, dia akan mengahrapkannya datang kepada dirinya, bukan Ron. Apakah ini membuatnya searogan Draco Malfoy? Apakah dia mengira dirinya lebih hebat daripada orang lain? Apakah dia benar-benar percaya bahwa dia lebih baik daripada Ron?

Tidak, kata suara kecil itu dengan menantang.

Benarkah itu? Harry bertanya-tanya sambil menyelidiki perasaannya dengan cemas.

Aku lebih pandai dalam Quidditch, kata suara itu. Tapi aku tidak lebih baik dalam hal lain.

Itu sangat benar, Harry berpikir; dia tidak lebih baik daripada Ron dalam hal pelajaran. Tapi bagaimana dengan di luar pelajaran? Bagaimana dengan petualangan-petualangan yang dia, Ron dan Hermione alami bersama sejak masuk Hogwarts, seringkali mempertaruhkan hal yang jauh lebih buruk daripada pengeluaran dari sekolah?

Well, Ron dan Hermione ada bersamaku kebanyakan waktu, kata suara di kepala Harry.

Namun tidak sepanjang waktu, Harry membantah dirinya sendiri. Mereka tidak bertarung dengan Quirrel bersamaku. Mereka tidak melawan Riddle dan Basilisk. Mereka tidak mengenyahkan para Dementor itu di malam Sirius kabur. Mereka tidak ada di pekuburan itu bersamaku, di malam Voldemort kembali …

Dan perasaan disalahgunakan yang dulu telah meliputi dirinya di malam dia tiba bangkit lagi. Aku jelas telah melakukan lebih banyak, pikir Harry marah. Aku telah melakukan lebih banyak daripada mereka!

Tapi mungkin, kata suara kecil itu dengan adil, mungkin Dumbledore tidak memilih prefek karena mereka melibatkan diri ke banyak situasi berbahaya … mungkin dia memilih prefek karena alasan-alasan lain … Ron pasti punya sesuatu yang tidak kau punya …

Harry membuka matanya dan menatap melalui jari-jarinya ke kaki bercakar lemari pakaian, sambil mengingat apa yang telah dikatakan Fred: ‘Tak seorangpun yang waras akan menjadikan Ron seorang prefek …’

Harry mengeluarkan dengusan tawa. Sedetik kemudian dia merasa muak dengan dirinya sendiri.

Ron tidak meminta Dumbledore memberinya lencana prefek. Ini bukan salah Ron. Apakah dia, Harry, sahabat terbaik Ron di seluruh dunia, akan merajuk karena dia tidak memiliki lencana, tertawa bersama si kembar di belakang Ron, mengacaukan ini bagi Ron ketika, untuk pertama kalinya, dia telah mengalahkan Harry dalam sesuatu?

Sampai sini Harry mendengar langkah-langkah kaki Ron di tangga lagi. Dia berdiri, meluruskan kacamatanya, dan menyeringai ketika Ron masuk lewat pintu.

‘Baru saja mengejarnya!’ dia berkata dengan gembira. ‘Dia bilang dia akan membelikan Sapu Bersih kalau dia bisa.’

‘Keren,’ Harry berkata, dan dia lega mendengar suaranya telah tidak terdengar setengah hati lagi. ‘Dengar — Ron — selamat, sobat.’

Senyum memudar dari wajah Ron.

‘Aku tak pernah mengira aku yang akan terpilih!’ katanya sambil menggelengkan kepalanya. ‘Kukira kau!’

‘Tidak, aku sudah menyebabkan terlalu banyak masalah,’ kata Harry meniru Fred.

‘Yeah,’ kata Ron, ‘yeah, kurasa … well, kita sebaiknya mengepak koper-koper kita, bukan begitu?’

Tampaknya ganjil bagaimana barang-barang milik mereka seolah berceceran sendiri sejak mereka tiba. Mereka butuh hampir sesorean untuk mengambil kembali buku-buku dan barang-barang dari segala tempat di rumah dan memuatkannya kembali ke dalam koper sekolah mereka. Harry memperhatikan bahwa Ron terus memindahkan lencana prefeknya ke sekitar, pertama menempatkannya di meja samping tempat tidur, lalu meletakkannya ke dalam kantong celana jinsnya, lalu mengeluarkannya dan meletakkannya di atas jubahnya yang terlipat, seolah-olah ingin melihat pengaruh warna merah pada warna hitam. Hanya setelah Fred dan George mampir dan menawarkan untuk melekatkannya ke dahinya dengan Mantera Lekat Permanen barulah dia membungkusnya dengan hati-hati dalam kaus kaki merah marunnya dan menguncinya di dalam kopernya.

Mrs Weasley kembali dari Diagon Alley sekitar jam enam, diberati oleh buku-buku dan membawa sebuah paket panjang yang dibungkus dengan kertas coklat tebal yang diambil Ron dengan erangan rasa ingin.

‘Tidak usah membuka bungkusnya sekarang, orang-orang akan tiba untuk makan malam, aku mau kalian semua turun,’ katanya, tapi saat dia menghilang dari pandangan Ron merobek kertas itu dengan gila-gilaan dan memeriksa setiap inci sapu barunya dengan ekspresi kegirangan di wajahnya.

Di ruang bawah tanah Mrs Weasley telah menggantungkan sebuah spanduk merah tua di atas meja yang penuh, yang bertuliskan:

SELAMAT

RON DAN HERMIONE

PREFEK – PREFEK BARU

Dia terlihat dalam keadaan jiwa yang lebih baik daripada yang pernah dilihat Harry selama liburan.

‘Kukira kita akan mengadakan pesta kecil, bukan makan malam di meja,’ dia memberitahu Harry, Ron, Hermione, Fred, George dan Ginny ketika mereka memasuki ruangan. ‘Ayahmu dan Bill sedang dalam perjalanan, Ron. Aku sudah mengirim burung hantu kepada mereka berdua dan mereka sangat senang,’ dia menambahkan sambil tersenyum.

Fred menggulirkan matanya.

Sirius, Lupin, Tonks dan Kingsley Shacklebolt telah berada di sana dan Mad-Eye Moody melangkah masuk segera setelah Harry memperoleh Butterbeer untuk dirinya sendiri.

‘Oh, Alastor, aku senang kamu ada di sini,’ kata Mrs Weasley dengan ceria, selagi Mad-Eye melepaskan mantel bepergiannya. ‘Kami sudah lama ingin menanyaimu -bisakah kamu melihat ke meja tulis di ruang duduk dan memberitahu kami apa yang ada di dalamnya? Kami belum mau membukanya kalau-kalau isinya sesuatu yang mengerikan.’

‘Tidak masalah, Molly …’

Mata biru elektrik Moody berputar ke atas dan menatap melalui langit-langit dapur.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.