Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

Jika teman-teman Dudley melihatnya duduk di sini, mereka pasti akan berjalan lurus ke arahnya, dan apa yang akan dilakukan Dudley nanti? Dia tidak akan mau kehilangan muka di depan gengnya, tetapi dia pasti takut mengganggu Harry … pastilah menyenangkan menyaksikan dilema Dudley, mengejeknya, memperhatikannya, dengan dirinya tidak berdaya menanggapi … dan jika yang lain ada yang berani memukul Harry, dia sudah siap — dia punya tongkatnya. Biar mereka coba … dia akan senang menyalurkan sedikit rasa frustrasinya kepada anak-anak yang dulu pernah membuat hidupnya seperti neraka.

Tetapi mereka tidak menoleh, mereka tidak melihatnya, mereka sudah hampir sampai di jeruji. Harry menguasai desakan untuk memanggil mereka … mencari perkelahian bukanlah langkah pintar … dia tidak boleh menggunakan sihir … dia akan terancam dikeluarkan lagi.

Suara-suara geng Dudley mulai menghilang; mereka sudah hilang dari pandangan, berjalan di sepanjang Magnolia Road.

Begitulah, Sirius, pikir Harry dengan jemu. Tidak ada yang gegabah. Jaga tingkah lakuku. Benar-benar berlawanan dengan yang telah kamu lakukan.

Dia berdiri dan merenggangkan tubuhnya. Bibi Petunia dan Paman Vernon sepertinya merasa bahwa kapanpun Dudley muncul adalah waktu yang tepat untuk tiba di rumah, dan kapanpun setelahnya sudah sangat terlambat. Paman Vernon telah mengancam untuk mengunci Harry di gudang jika dia pernah pulang ke rumah setelah Dudley lagi, jadi, sambil menahan kuap, dan masih cemberut, Harry berjalan menuju gerbang taman.

Magnolia Road, seperti Privet Drive, dipenuhi rumah-rumah besar berbentuk bujursangkar dengan halaman-halaman yang terawat rapi, semuanya dimiliki oleh orang-orang bertubuh besar dan ketinggalan zaman yang mengendarai mobil-mobil bersih seperti milik Paman Vernon. Harry lebih menyukai Little Whinging pada malam hari, ketika jendela-jendela bergorden membentuk potongan-potongan warna seterang permata dalam kegelapan dan dia tidak takut mendengar gumaman-gumaman mencela mengenai penampilannya yang ‘menyalah’ ketika dia berpapasan dengan para penghuni. Dia berjalan dengan cepat, sehingga setengah jalan di sepanjang Magnolia Road geng Dudley tampak lagi; mereka sedang berpamitan di jalan masuk ke Magnolia Crescent. Harry melangkah ke dalam bayang-bayang sebuah pohon lilac besar dan menunggu.

‘… mendengking seperti seekor babi, benar kan?’ Malcolm sedang berbicara, ditimpali tawa terbahak-bahak dari yang lainnya.

‘Pukulan hook kanan yang bagus, Big D,’ kata Piers.

‘Waktu yang sama besok?’ kata Dudley.

‘Di tempatku, orang tuaku akan keluar,’ kata Gordon.

‘Sampai jumpa,’ kata Dudley.

‘Bye, Dud!’

‘Jumpa lagi, Big D!’

Harry menanti anggota geng yang lainnya berjalan terus sebelum mulai melangkah lagi. Ketika suara-suara mereka sekali lagi telah berangsur hilang dia menuju belokan di sudut ke Magnolia Crescent dan dengan berjalan sangat cepat dia segera sampai ke jarak teriakan dengan Dudley, yang sedang berjalan santai sekena hatinya sambil bersenandung tanpa nada.

‘Hei, Big D!’

Dudley menoleh.

‘Oh,’ dia menggerutu. ‘Ternyata kamu.’

‘Sudah berapa lama kau jadi “Big D”?’ kata Harry.

‘Diamlah,’ gertak Dudley, menoleh ke arah lain.

‘Nama yang keren,’ kata Harry, menyeringai dan tertinggal di belakang sepupunya.

‘Tapi bagiku kau akan selalu jadi “Ickle Diddykins”.’

‘Kataku, DIAM!’ kata Dudley, tangan-tangannya yang seperti ham telah mengepal.

‘Apa anak-anak itu tidak tahu itu begitulah ibumu memanggilmu?’

‘Tutup mulutmu.’

‘Kau tidak menyuruh ibumu untuk menutup mulutnya. Bagaimana dengan “Popkin” dan “Dinky Diddydums”, bolehkah aku menggunakannya?’

Dudley tidak mengatakan apa-apa. Usaha untuk mencegah dirinya memukul Harry tampaknya menuntut semua pengendalian dirinya.

‘Jadi, siapa yang telah kalian pukuli malam ini?’ Harry bertanya, seringainya memudar. ‘Anak umur sepuluh tahun lagi? Aku tahu kalian memukuli Mark Evans dua malam lalu-‘

‘Dia yang minta,’ gertak Dudley.

‘O ya?’

‘Dia mengejekku.’

‘Yeah? Apakah dia bilang kau tampak seperti babi yang diajari berjalan dengan kaki belakangnya? Kar’na itu bukan ejekan, Dud, itu benar.’

Sebuahl otot berdenyut di rahang Dudley. Mengetahui seberapa marah dia telah membuat Dudey memberi Harry kepuasan yang sangat besar; dia merasa seakan dia sedang mengalirkan rasa frustrasinya sendiri kepada sepupunya, satu-satunya pengeluaran yang dimilikinya.

Mereka berbelok ke kanan ke gang sempit di mana Harry pertama kali berjumpa dengan Sirius dan yang membentuk jalan pintas antara Magnolia Crescent dan Wisteria Walk. Gang itu sepi dan jauh lebih gelap daripada jalan-jalan yang dihubungkannya karena tidak ada lampu jalan. Langkah-langkah kaki mereka teredam antara dindingdinding garasi di satu sisi dan sebuah pagar tinggi di sisi lainnya.

‘Pikirmu kau orang kuat membawa benda itu,’kan?’ Dudley berkata setelah beberapa detik.

‘Benda apa?’

‘Itu — benda itu yang kau sembunyikan.’

Harry nyengir lagi.

‘Tidak sebodoh tampangmu, ya, Dud? Tapi kurasa, jika memang begitu, kau tak bakal bisa jalan dan ngomong pada saat yang sama.’

Harry menarik tongkatnya. Dia melihat Dudley mengerlingnya.

‘Kau tidak diizinkan,’ Dudley berkata dengan segera. ‘Aku tahu kau tidak boleh. Kau akan dikeluarkan dari sekolah anehmu itu.’

‘Bagaimana kau tahu mereka belum mengubah peraturannya, Big D?’

‘Belum,’ kata Dudley, walaupun dia tidak terdengar sepenuhnya yakin.

Harry tertawa pelan.

‘Kau tak punya nyali untuk menghadapiku tanpa benda itu, ya ‘kan?’ Dudley menggertak.

‘Sementara kau hanya butuh empat teman di belakangmu sebelum bisa memukuli seorang anak umur sepuluh tahun. Kau tahu gelar tinju yang terus kau banggakan? Berapa umur lawanmu? Tujuh? Delapan?’

‘Dia berumur enam belas, supaya kamu tahu,’ gertak Dudley, ‘dan dia pingsan selama dua puluh menit setelah aku selesai dengannya dan dia dua kali beratmu. Kau tunggu saja sampai kuberitahu Ayah kau membawa benda itu keluar –‘

‘Berlari kepada Ayah sekarang? Apakah juara tinju jempolan takut pada tongkat Harry yang mengerikan?’

‘Tidak seberani ini pada malam hari, ‘kan?’ cemooh Dudley.

‘Ini memang malam, Diddykins. Itulah sebutan kami ketika semuanya jadi gelap seperti ini.’

‘Maksudku ketika kau sedang tidur!’ gertak Dudley.

Dia telah berhenti berjalan. Harry berhenti juga, menatap sepupunya. Dari sedikit wajah Dudley yang dapat dilihatnya, dia sedang menunjukkan wajah kemenangan yang aneh.

‘Apa maksudmu, aku tidak berani ketika sedang tidur?’ kata Harry, sama sekali tercengang. ‘Apa yang harus kutakutkan, bantal atau apa?’

‘Aku dengar kau kemarin malam,’ kata Dudley terengah-engah. ‘Berbicara dalam tidur. Mengerang.’

‘Apa maksudmu?’ Harry berkata lagi, tetapi ada sensasi dingin yang timbul di perutnya.

Dia telah mengunjungi pemakaman itu lagi kemarin malam dalam mimpinya.

Dudley mengeluarkan salak tawa yang parau, lalu menirukan suara rengekan melengking.

‘”Jangan bunuh Cedric! Jangan bunuh Cedric!” Siapa Cedric — temanmu?’

‘Aku — kau bohong,’ kata Harry secara otomatis. Tetapi mulutnya telah menjadi kering. Dia tahu Dudley tidak sedang berbohong — bagaimana lagi dia bisa tahu mengenai Cedric?

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.