Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

Dia berpikir wanita itu tampak seperti seekor katak besar yang pucat. Dia agak gemukpendek dengan wajah lebar dan kendur, lehernya sama sedikitnya dengan Paman Vernon dan mulut yang sangat lebar dan kendur. Matanya besar, bundar dan agak menonjol. Bahkan pita beludru hitam kecil yang bertengger di bagian atas rambutnya yang keriting pendek mengingatkan pada seekor lalat besar yang baru akan ditangkapnya dengan lidah panjang yang lengket.

‘Ketua mengenali Dolores Jane Umbridge, Menteri Muda Senior terhadap Menteri,’ kata Fudge.

Penyihir wanita itu berbicara dengan suara gugup bernada tinggi seperti anak perempuan yang membuat Harry terkesima; dia telah mengharapkan bunyi kuak.

‘Aku yakin aku telah salah mengerti Anda, Profesor Dumbledore,’ katanya, dengan sebuah senyum simpul tapi matanya yang besar dan bundar masih sedingin sebelumnya. ‘Bodohnya aku. Tapi sejenak kedengarannya seolah-olah Anda menuduh Kementerian Sihir telah memerintahkan penyerangan terhadap anak ini!’

Dia mengeluarkan tawa merdu yang membuat bulu roma Harry bangkit. Beberapa anggota Wizengamot lainnya ikut tertawa. Tidak bisa lebih jelas lagi bahwa tak seorangpun dari mereka benar-benar merasa lucu.

‘Kalau benar bahwa Dementor hanya menuruti perintah dari Kementerian Sihir, dan juga benar bahwa dua Dementor menyerang Harry dan sepupunya seminggu yang lalu, maka secara logis seseorang di dalam Kementerian telah memerintahkan penyerangan itu,’ kata Dumbledore dengan sopan. ‘Tentu saja, Dementor yang dimaksud bisa saja berada di luar kendali Kementerian –‘

‘Tidak ada Dementir di luar kendali Kementerian!’ sambar Fudge, yang telah menjadi semerah bata.

Dumbledore mencondongkan kepalanya sedikit tertunduk.

‘Maka tidak diragukan lagi Kementerian akan melakukan penyelidikan menyeluruh mengapa dua Dementor berada sangat jauh dari Azkaban dan mengapa mereka menyerang tanpa disuruh.’

‘Bukan kamu yang harus menentukan apa yang dilakukan atau tidak dilakukan Kementerian, Dumbledore!’ sambar Fudge, sekarang berwarna magenta yang pasti membuat Paman Vernon bangga.

‘Tentu saja bukan,’ kata Dumbledore dengan enteng. ‘Aku hanya menyatakan keyakinanku bahwa masalah ini tidak akan berlanjut tanpa diselidiki.’

Dia melirik Madam Bones, yang menyesuaikan letak kacamatanya dan menatap balik kepadanya sambil sedikit merengut.

‘Aku akan mengingatkan semua orang bahwa perilaku para Dementor ini, kalau bukan potongan imajinasi anak ini, bukanlah subyek sidang dengar pendapat ini!’ kata Fudge. ‘Kita berada di sini untuk memeriksa pelanggaran Harry Potter terhadap Dekrit Pembatasan Masuk Akal bagi Penggunaan Sihir di Bawah Umur!’

‘Tentu saja,’ kata Dumbledore, ‘tetapi kehadiran Dementor di gang itu sangat relevan. Pasal Tujuh dari Dekrit menyatakan bahwa sihir boleh digunakan di hadapan Muggle pada keadaan-keadaan luar biasa, dan karena keadaaan-keadaan luar biasa itu termasuk situasi yang mengancam nyama penyihir pria atau wanita itu sendiri, atau penyihir atau Muggle manapun juga yang ada pada saat –‘

‘Kami tahu betul isi Pasal Tujuh, terima kasih banyak!’ geram Fudge.

‘Tentu saja,’ kata Dumbledore penuh sopan santun. ‘Kalau begitu kita sepakat bahwa penggunaan Mantera Patronus oleh Harry dalam keadaan-keadaan ini jatuh persis ke dalam kategori keadaan-keadaan luar biasa yang digambarkan pasal tersebut?’

‘Jika memang ada Dementor, yang kusangsikan.’

‘Anda telah mendengarnya dari seorang saksi mata,’ Dumbledore menyela. ‘Kalau Anda masih meragukan kejujurannya, panggil dia kembali, tanyai dia lagi, aku yakin dia tidak akan keberatan.’

‘Aku — itu — tidak –‘ gertak Fudge, sambil memainkan kertas-kertas di hadapannya. ‘Itu — aku ingin ini semua selesai hari ini, Dumbledore!’

‘Tapi tentunya, Anda tidak akan peduli berapa kali Anda mendengar dari saksi mata, kalau alternatifnya adalah kegagalan menjalankan hukum yang serius,’ kata Dumbledore.

‘Kegagalan serius, topiku!’ kata Fudge pada puncak suaranya. ‘Pernahkah kamu bersusah-payah menjumlahkan semua cerita omong kosong yang telah dikeluarkan anak ini, Dumbledore, selagi mencoba menutup-nutupi penyalahgunaan sihir di luar sekolah yang menyolok olehnya? Kukira kau telah lupa Mantera Melayang yang digunakannya tiga tahun yang lalu –‘

‘Itu bukan aku, pelakunya peri-rumah!’ kata Harry.

‘KAU LIHAT?’ raung Fudge, sambil memberi isyarat dengan semarak ke arah Harry. ‘Peri-rumah! Dalam rumah Muggle! Kutanya kau.’

‘Peri-rumah yang dimaksud sekarang dipekerjakan di Sekolah Hogwarts,’ kata Dumbledore. ‘Aku bisa memanggilnya ke sini dalam sekejap untuk memberi kesaksian kalau Anda mau.’

‘Aku — bukan — aku tidak punya waktu untuk mendengarkan para peri-rumah! Lagipula, itu bukan satu-satunya — dia menggelembungkan bibinya, demi Tuhan!’ Fudge berteriak, sambil menghantamkan kepalannya ke bangku hakin dan membalikkan sebotol tinta.

‘Dan Anda telah dengan sangat baik hati tidak mengajukan tuntutan pada saat itu, kuanggap, sambil menerima bahwa bahkan penyihir-penyihir terbaik sekalipun tidak dapat selalu mengendalikan emosi mereka.’ kata Dumbledore dengan tenang, sementara Fudge berusaha mengosok tinta dari catatannya.

‘Dan aku belum mulai lagi dengan apa yang dilakukannya di sekolah.’

‘Tetapi, karena Kementerian tidak memiliki kuasa untuk menghukum murid-murid Hogwarts atas tingkah laku yang salah di sekolah, perilaku Harry di sana tidaklah relevan dengan dengar pendapat ini,’ kata Dumbledore, masih sesopan tadi, tetapi sekarang ada rasa dingin di balik kata-katanya.

‘Oho!’ kata Fudge. ‘Bukan urusan kami apa yang dia perbuat di sekolah, eh? Menurutmu begitu?’

‘Kementerian tidak punya kekuasaan untuk mengeluarkan siswa-siswa Hogwarts, Cornelius, seperti yang kuingatkan kepadamu pada malam dua Agustus,’ kata Dumbledore. ‘Juga tidak mempunyai hak untuk menyita tongkat sihir hingga tuntutan telah dibuktikan dengan suksees; sekali lagi, seperti yang kuingatkan kepadamu pada malam dua Agustus. Dalam ketergesaanmu yang pantas dikagumi untuk memastikan hukum dijunjung tinggi, tampaknya kamu, kuyakin akibat kurang hati-hati, telah melupakan beberapa hukum itu sendiri.’

‘Hukum bisa diganti,’ kata Fudge dengan buas.

‘Tentu bisa,’ kata Dumbledore sambil mencondongkan kepalanya.’Dan jelas kamu telah banyak membuat perubahan, Cornelius. Mengapa, dalam beberapa minggu singkat sejak aku diminta meninggalkan Wizengamot saja, sudah menjadi prakteknya untuk mengadakan sidang kriminal penuh untuk mengatasi masalah simpel seperti sihir di bawah umur!’

Beberapa penyihir di atas mereka bergerak dengan tidak nyaman di tempat duduk mereka. Fudge sedikit berubah ke warna ungu kecoklatan yang lebih dalam. Namun penyihir wanita mirip katak di sebelah kanannya hanya menatap Dumbledore, wajahnya tidak berekspresi.

‘Sejauh yang kutahu,’ Dumbledore melanjutkan, ‘belum ada hukum yang mengatakan menjadi pekerjaan sidang ini untuk menghukum Harry demi setiap sihir yang pernah dilakukannya. Dia telah dituntut untuk pelanggaran tertentu dan dia telah memberikan pembelaannya. Semua yang bisa dilakukannya dan aku hanyalah menanti keputusan kalian.’

Dumbledore menyatukan ujung-ujung jarinya lagi dan tidak berkata apa-apa lagi. Flure melotot kepadanya, jelas sangat marah. Harry melirik ke samping kepada Dumbledore, mencari penentraman; dia sama sekali tidak yakin bahwa Dumbledore bertindak benar dalam memberitahu Wizengamot bahwa sudah waktunya mereka mengambil keputusan. Namun, sekali lagi Dumbledore tampak tidak menyadari usaha Harry melihat ke matanya. Dia terus melihat ke bangku-bangku di mana keseluruhan Wizengamot telah mengadakan percakapan penting sambil berbisik-bisik.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.