Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

‘Para penginterogasi: Cornelius Oswald Fudge, Menteri Sihir; Amelia Susan Bones, Kepala Departemen Penegakan Hukum Sihir; Dolores Jane Umbridge, Menteri Muda Senior terhadap Menteri. Notulen sidang, Percy Ignatius Weasley –‘

‘Saksi untuk pembelaan, Albus Percival Wulfric Brian Dumbledore,’ kata sebuah suara tenang dari belakang Harry, yang memalingkan kepalanya begitu cepat sehingga lehernya jadi kaku.

Dumbledore sedang melangkah dengan tenang menyeberangi ruangan mengenakan jubah biru-tengah malam yang panjang dan ekspresi benar-benar tenang. Janggut dan rambut peraknya yang panjang berkilau dalam cahaya obor ketika dia berada sejajar dengan Harry dan melihat kepada Fudge melalui kacamata setengah-bulan yang terjepit di tengah hidungnya yang sangat bengkok.

Para anggota Wizengamot saling bergumam. Semua mata sekarang tertuju pada Dumbledore. Beberapa terlihat jengkel, yang lain sedikit ketakutan; namun dua penyihir wanita tua di baris belakang mengangkat tangan mereka dan melambai menyambut.

Sebuah emosi yang kuat telah timbul di dada Harry saat melihat Dumbledore, sebuah perasaan terlindung dan penuh harapan yang mirip dengan yang diberikan nyanyian phoenix kepadanya. Dia ingin melihat ke mata Dumbledore, tetapi Dumbledore tidak melihat ke arahnya; dia terus melihat ke atas pada Fudge yang jelas terganggu.

‘Ah,’ kata Fudge, yang terlihat sangat bingung. ‘Dumbledore. Ya. Kalau begitu, Anda -mendapat –er — pesan kami bahwa waktu dan –er — tempat sidang telah diubah?’

‘Aku pasti ketinggalan pesan itu,’ kata Dumbledore dengan ceria. ‘Namun karena kesalahan yang menguntungkan aku tiba di Kementerian tiga jam lebih cepat, jadi tidak ada yang rugi.’

‘Ya — well — kurasa kita akan butuh satu kursi lagi — aku — Weasley, bisakah kamu –?

‘Tidak usah khawatir, tidak usah khawatir,’ kata Dumbledore dengan menyenangkan; dia mengeluarkan tongkatnya, melambaikannya sedikit, dan sebuah kursi berlengan empuk dari kain muncul entah darimana di samping Harry. Dumbledore duduk, menggabungkan ujung-ujung jarinya yang panjang dan mengamati Fudge melewati jarinjarinya dengan ekspresi tertarik yang sopan. Wizengamot masih bergumam dan bertingkah gelisah; hanya ketika Fudge berbicara lagi barulah mereka tenang.

‘Ya,’ kata Fudge lagi, sambil mengocok catatan-catatannya. ‘Well, kalau begitu. Jadi. Tuntutannya. Ya.’

Dia mengeluarkan sepotong perkamen dari tumpukan di hadapannya, mengambil napad dalam-dalam, membacakan, ‘Tuntutan melawan tertuduh adalah sebagai berikut:

‘Bahwa dia dengan sengaja dan sadar dan sepenuhnya menyadari tindakannya bertentangan dengan hukum, setelah menerima peringatan tertulis sebelumnya dari Kementerian Sihir atas tuduhan serupa, menghasilkan Mantera Patronus di daerah tempat tinggal Muggle, dengan kehadiran seorang Muggle, pada tanggal dua Agustus pukul sembilan lewat dua puluh tiga, yang melanggar Paragraf C dari Dekrit Pembatasan Masuk Akal bagi Penggunaan Sihir di Bawah Umur, 1875, dan juga Seksi 13 dari Undang-Undang Kerahasiaan Konfederasi Penyihir Internasional.

‘Kamu adalah Harry James Potter, dari nomor empat, Privet Drive, Little Whinging, Surrey?’ Fudge berkata sambil melotot pada Harry dari puncak perkamennya.

‘Ya,’ kata Harry.

‘Kamu menerima sebuah peringatan resmi dari Kementerian karena menggunakan sihir ilegal tiga tahun yang lalu, bukankah begitu?’

‘Ya, tapi –‘

‘Dan kamu masih menghasilkan sebuah Patronus pada malam dua Agustus?’ kata Fudge.

‘Ya,’ kata Harry, ‘tapi –‘

‘Tahu bahwa kamu tidak dibolehkan menggunakan sihir di luar sekolah selagi kamu di bawah umur tujuh belas?’

‘Ya, tapi –‘

‘Tahu bahwa kamu berada di daerah penuh Muggle?’

‘Ya, tapi –‘

‘Sadar sepenuhnya bahwa kamu berada sangat dekat dengan seorang Muggle pada saat itu?’

‘Ya,’ kata Harry dengan marah, ‘tapi aku hanya menggunakannya karena kami –‘

Panyihir wanita berkacamata lensa satu menyelanya dengan suara menggelegar.

‘Kamu menghasilkan Patronus terlatih?’

‘Ya,’ kata Harry, ‘karena –‘

‘Sebuah Patronus korporeal?’

‘Sebuah — apa?’ kata Harry.

‘Patronusmu punya bentuk yang tampak jelas? Maksudku, lebih dari sekedar uap atau asap?’

‘Ya,’ kata Harry, merasa tidak sabar sekaligus sedikit putus asa, ‘bentuknya kijang jantan, selalu kijang jantan.’

‘Selalu?’ gelegar Madam Bones. ‘Kamu sudah pernah menghasilkan Patronus sebelum sekarang?’

‘Ya,’ kata Harry, ‘aku sudah melakukannya selama lebih dari setahun.’

‘Dan kamu berumur lima belas tahun?’

‘Ya, dan –‘

‘Kamu mempelajari hal ini di sekolah?’

‘Ya, Profesor Lupin mengajari saya di tahun ketiga saya, karena –‘

‘Mengesankan,’ kata Madam Bones, sambil menatapnya, ‘Patronus sejati pada usianya

… sangat mengesankan.’

Beberapa penyihir di sekitarnya bergumam lagi; sedikit mengangguk, tetapi yang lain merengut dan menggelengkan kepala-kepala mereka.

‘Bukan soal seberapa mengesankannya sihir itu,’ kata Fudge dengan suara tidak sabar. ‘Bahkan menurutku semakin mengesankan semakin buruk jadinya, mengingat bocah itu melakukannya dalam pandangan jelas seorang Muggle.’

‘Aku melakukannya karena Dementor!’ dia berkata dengan keras, sebelum orang lain bisa menyelanya lagi.

Dia telah mengharapkan gumaman lagi, tetapi keheningan yang timbul kelihatan jauh lebih pekat dari sebelumnya.

‘Dementor?’ kata Madam Bones setelah beberapa saat, alisnya yang tebal menaik

hingga kacamata berlensa satunya terlihat akan jatuh. ‘Apa maksudmu, nak?’

‘Maksudku ada dua Dementor di gang dan mereka menyerang aku dan sepupuku!’

‘Aha!’ kata Fudge lagi, sambil menyeringai tidak menyenangkan ketika dia

memandang berkeliling pada Wizengamot, seakan-akan mengajak mereka berbagi lelucon. ‘Ya. Ya. Sudah kukira kita akan mendengar sesuatu seperti ini.’

‘Dementor di Little Whinging?’ Madam Bones berkata, dengan nada terkejut sekali. ‘Aku tidak mengerti –‘

‘Tidakkah kau, Amelia?’ kata Fudge, masih menyeringai. ‘Mari kujelaskan. Dia telah memikirkannya terus dan memutuskan Dumbledore akan membuat cerita pengantar yang sangat bagus, memang sangat bagus. Para Muggle tidak bisa melihat Dementor, benar kan, nak? Sangat sesuai, sangat sesuai … jadi itu cuma perkataanmu dan tidak ada saksi …’

‘Aku tidak bohong!’ kata Harry dengan keras, melawan pecahnya gumaman lagi dari sidang. ‘Ada dua, datangnya dari ujung-ujung gang yang berlawanan, semua jadi gelap dan dingin dan sepupuku merasakan mereka dan lari –‘

‘Cukup, cukup!’ kata Fudge dengan tampang sangat congkak di wajahnya. ‘Aku menyesal harus menyela apa yang kuyakin pasti sebuah cerita yang terlatih dengan baik -‘

Dumbledore mengencerkan tenggorokannya. Wizengamot terdiam lagi.

‘Kenyataannya, kami memang punya seorang saksi akan kehadiran Dementor di gang itu,’ dia berkata, ‘selain Dudley Dursley, maksudku.’

Wajah gemuk Fludge terlihat mengendur, seakan-akan seseorang telah mengeluarkan udara darinya. Dia memandang ke Dumbledore sejenak atau dua, dengan penampilan seorang lelaki yang menguatkan dirinya kembali, berkata, ‘Kutakutkan kita tidak punya waktu untuk mendengarkan kebohongan lagi, Dumbledore, aku mau ini diatasi dengan cepat –‘

‘Aku mungkin salah,’ kata Dumbledore dengan menyenangkan, ‘tapi aku yakin bahwa di bawah Piagam Hak-Hak Wizengamot, tertuduh mempunyai hak untuk menghadirkan saksi-saksi bagi kasusnya? Bukankah itu kebijakan Departemen Penegakan Hukum Sihir, Madam Bones?’ dia meneruskan sambil berbicara kepada penyihir wanita yang memakai kacamata berlensa satu.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.