Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

baik di Kementerian daripada berkeliaran di sini.’

‘OK,’ kata Harry dengan otomatis, sambil meletakkan roti panggangnya dan bangkit.

‘Kau akan baik-baik saja, Harry,’ kata Tonks, sambil menepuk lengannya.

‘Semoga berhasil,’ kata Lupin. ‘Aku yakin semuanya akan baik-baik saja.’

‘Dan kalau tidak,’ kata Sirius dengan suram, ‘akan kutemui Amelia Bones untukmu …’

Harry tersenyum lemah. Mrs Weasley memeluknya.

‘Kami semua menyilangkan jari kami,’ katanya.

‘Benar,’ kata Harry. ‘Well … kalau begitu sampai jumpa nanti.’

Dia mengikuti Mr Weasley ke atas dan menyusuri aula. Dia bisa mendengar dengkuran

ibu Sirius dalam tidurnya di belakang tirainya. Mr Weasley membuka pintu dan mereka melangkah ke fajar yang dingin dan kelabu.

‘Anda tidak biasanya berjalan ke tempat kerja, ‘kan?’ Harry menanyainya ketika mereka berjalan dengan cepat mengelilingi alun-alun.

‘Tidak, aku biasanya ber-Apparate,’ kata Mr Weasley, ‘tapi tentu saja kamu tidak bisa, dan kukira yang terbaik adalah kita tiba dengan cara yang benar-benar non-magis … memberi kesan yang lebih baik, mengingat untuk apa kau didisiplinkan …’

Mr Weasley menyimpan tangannya di dalam jaketnya selagi mereka berjalan. Harry tahu tangan itu menggenggam erat tongkatnya. Jalan-jalan yang sering dilalui itu hampir lengang, tapi ketika mereka tiba di stasiun bawah tanah yang menyedihkan mereka menemukannya sudah penuh akan orang-orang yang akan berangkat kerja di pagi hari. Seperti biasanya ketika dia berada dalam jarak dekat dengan para Muggle yang melaksanakan urusan sehari-hari mereka, Mr Weasley sulit mengekang rasa antusiasnya.

‘Benar-benar hebat,’ dia berbisik, sambil menunjuk mesin-mesin tiket otomatis. ‘Luar biasa cemerlang.’

‘Mesin-mesin itu rusak,’ kata Harry sambil menunjuk ke tandanya.

‘Ya, tapi walaupun begitu …’ kata Mr Weasley, sambil tersenyum kepada mereka dengan senang.

Mereka membeli tiket dari seorang penjaga yang tampak mengantuk (Harry menangani transaksi itu, karena Mr Weasley tidak begitu pandai dalam hal uang Muggle) dan lima menit kemudian mereka telah menaiki sebuah kereta bawah tanah yang berderak membawa mereka menuju pusat kota London. Mr Weasley terus memeriksa dan memeriksa ulang Peta Bawah Tanah di atas jendela dengan cemas.

‘Empat pemberhentian lagi, Harry … Tiga pemberhentian lagi sekarang … Tinggal dua pemberhentian, Harry …’

Mereka turun di sebuah stasiun di jantung kota London, dan tersapu dari kereta api itu dalam luapan pria dan wanita bersetelan jas yang membawa tas kantor. Mereka menaiki eskalator, melalui penghalang tiket (Mr Weasley senang melihat cara alat itu menelan tiketnya), dan muncul ke sebuah jalan lebar yang dibarisi gedung-gedung yang tampak sesak dan sudah penuh dengan lalu lintas.

‘Di mana kita?’ kata Mr Weasley dengan hampa, dan selama beberapa saat yang mendebarkan Harry mengira mereka turun di stasiun yang salah walaupun Mr Weasley terus memperhatikan peta; tapi sedetik kemudian dia berkata, ‘Ah ya … lewat sini, Harry,’ dan menuntunnya menyusuri satu sisi jalan.

‘Maaf,’ katanya, ‘tapi aku belum pernah datang lewat kereta api dan kelihatannya agak berbeda dari sudut pandang Mugglel. Bahkan kenyataannya, aku belum pernah menggunakan pintu masuk tamu sebelumnya.’

Semakin jauh mereka berjalan, semakin kecil dan kurang sesak gedung-gedungnya, sampai akhirnya mereka mencapai sebuah jalan yang mengandung beberapa kantor yang tampak agak kusam, sebuah pub dan sebuah tong sampah yang kepenuhan. Harry telah mengharapkan lokasi yang lebih mengesankan untuk Kementerian Sihir.

‘Di sinilah kita,’ kata Mr Weasley dengan ceria, sambil menunjuk ke sebuah kotak telepon tua berwarna merah yang kehilangan beberapa panel kaca dan berdiri di sebelah sebuah dinding yang penuh coretan. ‘Setelah kau, Harry.’

Dia membuka pintu kotak telepon itu.

Harry melangkah ke dalam, sambil bertanya-tanya apa maksudnya ini. Mr Weasley melipat dirinya ke samping Harry dan menutup pintu. Tempatnya sangat pas; Harry terdesak ke alat penelepon, yang bergantung miring dari dinding seakan-akan seorang perusak telah mencoba menariknya lepas. Mr Weasley menjangkau alat penerima melewati Harry.

‘Mr Weasley, kukira yang ini mungkin rusak juga,’ Harry berkata.

‘Tidak, tidak, aku yakin baik-baik saja,’ kata Mr Weasley sambil memegang alat penerima di atas kepalanya dan menatap pemutarnya. ‘Mari lihat … enam …’ dia memutar angka itu, ‘dua … empat … dan empat lagi … dan dua lagi …’

Ketika pemutar ini berdesing balik ke tempatnya, sebuah suara wanita yang tenang terdengar di dalam kotak telepon itu, bukan dari alat penerima di tangan Mr Weasley, tetapi keras dan jelas seakan-akan seorang wanita yang tidak tampak sedang berdiri tepat di samping mereka.

‘Selamat datang di Kementerian Sihir. Tolong sebutkan nama dan urusan Anda.’

‘Er …’ kata Mr Weasley, jelas tidak yakin apakah harus berbicara ke dalam alat penerima. Dia memutuskan dengan memegang corong ke telinganya, ‘Arthur Weasley, Kantor Penyalahgunaan Benda-Benda Muggle, ke sini untuk mengawal Harry Potter, yang telah diminta untuk menghadiri sidang dengar pendapat kedisiplinan …’

‘Terima kasih,’ kata suara wanita yang tenang itu. ‘Pengunjung, harap mengambil lencana dan menyematkannya ke bagian depan jubah Anda.’

Ada suara klik dan derak, dan Harry melihat sesuatu meluncur keluar dari luncuran logam tempat koin-koin kembalian biasanya muncul. Dia memungutnya: itu adalah sebuah lencana perak persegi dengan tulisan Harry Potter, Dengar Pendapat Kedisiplinan di atasnya. Dia menyematkannya ke bagian depan kaosnya ketika suara wanita itu berbicara lagi.

‘Pengunjung Kementerian, Anda diharuskan melalui pemeriksaan dan menyerahkan tongkat Anda untuk diregistrasi di meja keamanan, yang terletak di ujung jauh dari Atrium.’

Lantai kotak telepon bergetar. Mereka tenggelam pelan-pelan ke bawah tanah. Harry mengamati dengan gelisah selagi trotoar tampak naik melewati jendela-jendela kaca dari kotak telepon hingga kegelapan menutupi kepala mereka. Lalu dia tidak bisa melihat apaapa sama sekali; dia hanya bisa mendengar suara menggilas yang membosankan ketika kotak telepon itu semakin turun ke dalam bumi. Setelah sekitar satu menit, walaupun terasa jauh lebih lama bagi Harry, seberkas cahaya keemasan menerangi kakinya dan, semakin melebar, menaiki tubuhnya, sampai menghantamnya di wajah dan dia harus berkedip untuk menghentikan matanya berair.

‘Kementerian Sihir mengharapkan Anda melalui hari yang menyenangkan,’ kata suara wanita itu.

Pintu kotak telepon mendadak terbuka dan Mr Weasley melangkah keluar, diikuti oleh Harry, yang mulutnya telah terbuka.

Mereka sedang berdiri di salah satu ujung dari sebuah aula yang sangat panjang dan bagus dengan lantai kayu gelap yang digosok mengkilap. Langit-langit biru merak bertatahkan simbol-simbol keemasan yang berkilauan yang terus bergerak dan berubahubah seperti papan penujuk yang sangat besar. Dinding-dindig di kedua sisi diberi panel kayu gelap mengkilat dan memiliki banyak perapian berbingkai yang ditempatkan padanya. Tiap beberapa detik seorang penyihir wanita atau pria akan muncul dari salah satu perapian di sisi kiri dengan bunyi whoosh lembut. Di sisi kanan, antrian-antrian pendek terbentuk di depan masing-masing perapian, menunggu untuk berangkat.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.