Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

Selama beberapa menit ada keheningan kecuali dentingan piring-piring dan alat-alat makan dan suara pergeseran kursi selagi semua orang duduk menghadap makanan mereka. Lalu Mrs Weasley berpaling kepada Sirius.

‘Aku telah ingin memberitahumu, Sirius, ada sesuatu yang terperangkap di dalam meja tulis di ruang duduk, terus saja berderak dan bergetar. Tentu saja, mungkin cuma sebuah Boggart, tetapi kupikir kita harus meminta Alastor untuk mengeceknya sebelum kita mengeluarkan benda itu.’

‘Apapun yang kau mau,’ kata Sirius tanpa minat.

‘Gorden-gorden juga penuh dengan Doxy,’ Mrs Weasley meneruskan. ‘Kukira kita bisa mencoba dan menangkap mereka besok.’

‘Aku sangat menantikannya,’ kata Sirius. Harry mendengar sindiran tajam dalam suaranya, tetapi dia tidak yakin yang lain juga mendengarnya.

Di seberang Harry, Tonks sedang menghibur Hermione dan Ginny dengan mengubahubah hidungnya di antara suapan makanan. Sambil menegangkan matanya setiap kali dengan ekspresi sakit yang sama dengan yang telah dilakukannya di kamar tidur Harry dulu, hidungnya membengkak menjadi tonjolan seperti paruh yang menyerupai hidung Snape, mengerut ke ukuran sebuah jamur kancing dan lalu tumbuh banyak rambut dari masing-masing lubang hidung. Tampaknya ini adalah hiburan waktu makan yang biasa, karena Hermione dan Ginny segera meminta hidung-hidung favorit mereka.

‘Lakukan yang satu itu yang seperti moncong babi, Tonks.’

Tonks menurut, dan Harry, sewaktu melihat ke atas, mendapat kesan sekilas bahwa seorang Dudley wanita sedang menyeringai kepadanya dari seberang meja.

Mr Weasley, Bill dan Lupin sedang mebahas goblin dengan bersemangat.

‘Mereka belum akan menyerahkan apa-apa,’ kata Bill. ‘Aku masih belum bisa tahu apakah mereka percaya dia sudah kembali atau tidak. Tentu saja, mereka mungkin lebih suka tidak memihak sama sekali. Menjauh dari semuanya.’

‘Aku yakin mereka tidak akan pernah menyeberang ke Kau-Tahu-Siapa,’ kata Mr Weasley sambil menggelengkan kepalanya. ‘Mereka juga telah kehilangan banyak; ingat keluarga goblin yang dibunuhnya terakhir kali, di suatu tempat dekat Nottingham?’

‘Kukira tergantung apa yang ditawarkan kepada mereka,’ kata Lupin. ‘Dan aku tidak berbicara tentang emas. Kalau mereka ditawarkan kebebasan yang telah kita sangkalkan untuk mereka selama berabad-abad mereka akan tergoda. Apakah kamu masih belum beruntung dengan Ragnok, Bill?’

‘Saat ini dia merasa anti-penyihir,’ kata Bill, ‘dia masih belum berhenti marah-marah mengenai urusan Bagman, dia menganggap Kementerian menutup-nutupi, goblin-goblin itu tidak pernah menerima emas mereka darinya, kau tahu.’

Tawa terbahak-bahak dari tengah meja menenggelamkan kata-kata Bill yang lainnya. Fred, George, Ron dan Mundungus sedang berguling-guling di tempat duduk mereka.

‘… dan kemudian,’ Mundungus terbatuk-batuk, air mata mengalir menuruni wajahnya, ‘dan kemudian, kalau kalian percaya, dia berkata kepadaku, katanya, “Ini, Dung, dari mana kaudapat semua katak itu? Kar’na sejumlah anak Bludger datang dan mencuri semua milikku!” Dan aku berkata, “Curi semua katakmu, Will, berikutnya apa? Jadi kalau begitu kau mau beberapa lagi?” Dan kalau kalian percaya padaku, nak, gargoyle tolol itu beli semua kataknya sendiri dariku lebih mahal dari yang dibayarnya pertama kali –‘

‘Kukira kami tidak perlu mendengar urusan bisnismu lagi, terima kasih banyak, Mundungus,’ kata Mrs Weasley dengan tajam, ketika Ron merosot maju ke meja, sambil tertawa melolong.

‘Maaf, Molly,’ kata Mundungus seketika, sambil menyeka matanya dan berkedip kepada Harry. ‘Tapi, kau tahu, awalnya Will mencurinya dari Warty Harris jadi aku sebenarnya tidak melakukan apa-apa yang salah.’

‘Aku tidak tahu di mana kamu belajar mengenai benar dan salah, Mundungus, tapi kelihatannya kau tidak mengikuti beberapa pelajaran penting,’ kata Mrs Weasley dengan dingin.

Fred dan George menyembunyikan wajah mereka dalam piala Butterbeer mereka; George sambil berdeguk. Untuk alasan tertentu, Mrs Weasley melayangkan pandangan kejam kepada Sirius sebelum berdiri dan pergi mengambil onggokan besar puding. Harry memandang berkeliling kepada ayah angkatnya.

‘Molly tidak suka pada Mundungus,’ kata Sirius dengan suara rendah.

‘Kenapa dia ada dalam Order?’ Harry berkata dengan sangat pelan.

‘Dia berguna,’ Sirius bergumam. ‘Kenal semua bajingan — well, pastilah, dia ‘kan bajingan juga. Tapi dia juga sangat setia kepada Dumbledore, yang telah sekali membantunya keluar dari kesulitan. Berguna juga punya orang seperti Dung di sekitar kita, dia mendengar hal-hal yang tidak kita dengar. Tapi Molly berpikir mengundangnya makan malam sudah terlalu jauh. Dia belum memaafkan dia karena berkelit dari tugas ketika dia seharusnya mengekorimu.’

Tiga kali tambah puding setelah itu, ban pinggang pada celana jins Harry sudah terasa ketat dan tidak nyaman lagi (yang menyatakan sesuatu karena celana jins itu dulunya milik Dudley). Ketika dia meletakkan sendoknya ada ketenangan percakapan umum: Mr Weasley sedang bersandar di kursinya, terlihat kenyang dan santai; Tonks sedang menguap lebar-lebar, hidungnya sekarang sudah kembali ke normal; dan Ginny, yang telah memikat Crookshanks keluar dari bawah lemari, sedang duduk bersila di atas lantai, sambil menggulirkan gabus-gabus Butterbeer untuk dikejarnya.

‘Hampir waktunya tidur, kukira,’ kata Mrs Weasley sambil menguap.

‘Belum lagi, Molly,’ kata Sirius sambil mendorong piring kosongnya dan berpaling kepada Harry. ‘Kau tahu, aku terkejut padamu. Kukira hal pertama yang akan kau lakukan ketika kau sampai di sini adalah mulai menanyakan pertanyaan-pertanyaan tentang Voldemort.’

Suasana dalam ruangan itu berubah dengan kecepatan yang dipersamakan Harry dengan kedatangan Dementor. Beberapa detik sebelumnya, suasananya santai mengantuk, sekarang waspada, bahkan tegang. Ketegangan emosional mengelilingi meja dengan penyebutan nama Voldemort. Lupin, yang baru saja akan menyesap anggur, menurunkan pialanya dengan pelan dan terlihat waspada.

‘Aku melakukannya!’ kata Harry marah. ‘Aku bertanya kepada Ron dan Hermione tetapi mereka berkata bahwa kami tidak diperbolehkan berada dalam Order jadi –‘

‘Dan mereka benar juga,’ kata Mrs Weasley. ‘Kalian terlalu muda.’

Dia sedang duduk tegak dalam kursinya, kepalan tangannya tercengkeram pada lengan kursinya, semua jejak mengantuk telah hilang.

‘Sejak kapan seseorang harus berada dalam Order of Phoenix untuk bertanya?’ tanya Sirius. ‘Harry telah terkurung dalam rumah Muggle itu selama sebulan. Dia punya hak untuk tahu apa yang telah terjadi –‘

‘Tunggu dulu!’ kata George dengan keras.

‘Kenapa Harry mendapat jawaban atas pertanyaannya?’ kata Fred dengan marah.

‘Kami telah mencoba mengorek hal-hal darimu selama sebulan dan kami belum memberitahu kami satu hal menyebalkan sekalipun!’ kata George.

‘”Kalian terlalu muda, kalian tidak ada dalam Order,”‘ kata Fred, dengan suara melengking yang terdengar luar biasa mirip suara ibunya. ‘Harry bahkan belum cukup umur!’

‘Bukan salahku kalian belum diberitahu apa yang sedang dikerjakan Order!’ kata Sirius dengan tenang, ‘itu adalah keputusan orang tua kalian. Harry, di sisi lain –‘

‘Bukan kamu yang harus memutuskan apa yang baik untuk Harry!’ kata Mrs Weasley dengan tajam. ‘Kukira kamu belum lupa apa yang dikatakan Dumbledore?’

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.