Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

‘Sirius Black!’

Tak ada yang terjadi. Wajah frustrasi yang memandang balik dari cermin itu masih, jelas, wajahnya sendiri …

Sirius tidak membawa cerminya saat dia melewati atap melengkung itu, kata sebuah suara kecil di kepala Harry. Itulah sebabnya cermin itu tidak bekerja …

Harry terdiam sejenak, lalu melemparkan cermin itu kembali ke dalam koper tempat cermin itu pecah. Dia sudah yakin, selama satu menit penuh, bahwa dia akan bisa melihat Sirius, berbicara dengannya lagi …

Kekecewaan membara di tenggorokannya; dia bangkit dan mulai melemparkan barang-barangnya sembarangan menutupi cermin pecah itu –

Tapi sebuah ide timbul dalam dirinya … ide yang lebih baik daripada cermin … ide yang jauh lebih besar, jauh lebih penting … kenapa dia belum pernah memikirkannya sebelumnya — kenapa dia tidak pernah bertanya?

Dia berlari cepat keluar dari kamar asrama dan menuruni tangga spiral, menghantam dinding di sepanjang jalan dan hampir tidak memperhatikannya; dia menderu cepat menyeberangi ruang duduk yang kosong, melalui lubang potret dan menyusuri koridor, mengabaikan Nyonya Gemuk, yang memanggilnya: ‘Pesta sudah akan dimulai, kau tahu, kau hampir saja terlambat!’

Tetapi Harry tidak berniat menghadiri pesta …

Kenapa bisa tempat itu penuh hantu saat kau tidak perlu seorang, namun sekarang …

Dia berlari menuruni tangga-tangga dan menyusuri koridor-koridor dan tak bertemu siapapun yang hidup maupun mati. Mereka semua, jelas, berada di Aula Besar. Di luar ruang kelas Jimat dan Guna-Guna dia berhenti, sambil terengah-engah dan berpikir dengan sedih bahwa dia harus menunggu sampai kemudian, setelah akhir pesta …

Tetapi persis ketika dia telah menyerah, dia melihatnya — seseorang yang tembus pandang yang melayang menyusuri akhir koridor itu.

‘Hei — hei Nick! NICK!’

Hantu itu menjulurkan kepalanya dari dinding, memperlihatkan topi yang luar biasa dan kepala yang bergoyang berbahaya milik Sir Nicholas de Mimsy-Porpington.

‘Selamat malam,’ katanya, sambil menarik sisa tubuhnya dari batu padat dan tersenyum kepada Harry. ‘Kalau begitu, aku bukan satu-satunya yang terlambat? Walaupun,’ dia menghela napas, ‘dengan arti yang agak berbeda, tentu saja …’ (Late selain terlambat, juga bisa diartikan sebagai mendiang)

‘Nick, boleh aku tanya sesuatu kepadamu?’

Suatu ekspresi yang sangat aneh timbul di wajah Nick si Kepala-Nyaris-Putus ketika dia memasukkan sebuah jari ke kerut kaku di lehernya dan menariknya sedikit lebih tegak, tampaknya untuk memberi dirinya sedikit waktu berpikir. Dia hanya berhenti saat kepalanya yang terpotong sebagian kelihatannya akan jatuh.

‘Er — sekarang, Harry?’ kata Nick, tampak tidak nyaman. ‘Tak bisa tunggu sampai akhir pesta?’

‘Tidak — Nick — tolong,’ kata Harry, ‘aku benar-benar butuh berbicara kepadamu. Bisakah kita masuk ke dalam sini?’

Harry membuka pintu ke ruang kelas terdekat dan Nick si Kepala-Nyaris-Putus menghela napas.

‘Oh, baiklah,’ katanya, tampak menyerah. ‘Aku tidak bisa berpura-pura belum menduganya.’

Harry sedang memegang pintu terbuka baginya, tetapi alih-alih dia melayang melalui dinding.

‘Menduga apa?’ Harry bertanya, ketika dia menutup pintu.

‘Kamu akan datang menjumpaiku,’ kata Nick, sekarang meluncur ke jendela dan melihat keluar pada halaman sekolah yang semakin gelap. ‘Terjadi, kadang-kadang … saat seseorang menderita … kemalangan.’

‘Well,’ kata Harry, menolak dialihkan. ‘Kamu benar, aku — aku datang untuk menjumpaimu.’

Nick tidak berkata apa-apa.

‘Hanya –‘ kata Harry, yang mendapati ini lebih canggung daripada yang diharapkannya, ‘hanya saja — kamu sudah mati. Tapi kamu masih ada di sini, bukan?’

Nick menghela napas dan terus menatap keluar ke halaman.

‘Itu benar, bukan?’ Harry mendesaknya. ‘Kamu mati, tapi aku berbicara kepadamu …

kamu bisa berjalan di Hogwarts dan segalanya, bukan?’

‘Ya,’ kata Nick si Kepala-Nyaris-Putus dengan pelan, ‘Aku bisa jalan dan bicara, ya.’

‘Jadi, kamu kembali, bukan?’ kata Harry mendesak. ‘Orang-orang bisa kembali, bukan?

Sebagai hantu. Mereka tidak harus menghilang sepenuhnya. Well?’ dia menambahkan dengan tidak sabar, saat Nick terus tidak mengatakan apa-apa.

Nick si Kepala-Nyaris-Putus bimbang, lalu berkata, ‘Tidak semua orang bisa kembali sebagai hantu.’

‘Apa maksudmu?’ kata Harry cepat-cepat.

‘Cuma … cuma penyihir.’

‘Oh,’ kata Harry, dan dia hampir tertawa karena lega. ‘Well, kalau begitu OK, orang yang kutanyai adalah penyihir. Jadi dia bisa kembali, benar?’

Nick berpaling dari jendela dan memandang Harry dengan sedih.

‘Dia tidak akan kembali.’

‘Siapa?’

‘Sirius Black,’ kata Nick.

‘Tapi kau kembali!’ kata Harry dengan marah. ‘Kau kembali — kamu sudah mati dan kamu tidak menghilang –‘

‘Para penyihir bisa meninggalkan jejak mereka di atas bumi, untuk berjalan tempat diri mereka yang masih hidup dulu berjalan,’ kata Nick dengan sengsara. ‘Tapi sangat sedikit penyihir yang memilih jalan itu.’

‘Kenapa tidak?’ kata Harry. ‘Lagipula — tidak masalah — Sirius tidak akan peduli kalau itu tidak biasa, dia akan kembali, aku tahu itu!’

Dan begitu kuatnya keyakinannya, Harry bahkan memalingkan kepalanya untuk memeriksa pintu, yakin, selama sepersekian detik, bahwa dia akan melihat Sirius, seputih mutiara dan tembus pandang tetapi tersenyum, berjalan melalui pintu itu ke arahnya.

‘Dia tidak akan kembali,’ ulang Nick. ‘Dia pasti sudah … pergi.’

‘Apa maksudmu, “pergi”?’ kata Harry cepat. ‘Pergi ke mana? Dengar — apa yang terjadi waktu kamu mati? Ke mana kamu pergi? Kenapa tidak semua orang kembali? Kenapa tempat ini tidak penuh hantu? Kenapa –?’

‘Aku tidak bisa menjawab,’ kata Nick.

‘Kamu sudah mati, bukan?’ kata Harry dengan putus asa. ‘Siapa yang bisa menjawab lebih baik dari kamu?’

‘Aku takut pada kematian,’ kata Nick dengan lembut. ‘Aku memilih tetap tinggal. Aku kadang-kadang bertanya-tanya apakah seharusnya tidak kulakukan … well, tidak di sini maupun di sana … nyatanya, aku tidak di sini maupun di sana …’ Dia memberikan kekeh kecil yang sedih. ‘Aku tidak tahu apa-apa tentang rahasia kematian, Harry, karena aku memilih tiruan hidupku yang lemah sebagai gantinya. Aku percaya para penyihir yang berpendidikan mempelajari masalah itu di Departemen Misteri –‘

‘Jangan bicarakan tempat itu denganku!’ kata Harry dengan garang.

‘Aku minta maaf tidak bisa lebih membantu,’ kata Nick lembut. ‘Well … well, aku permisi dulu … pesta, kau tahu …’

Dan dia meninggalkan ruangan, meninggalkan Harry di sana sendirian, menatap hampa ke dinding tempat Nick baru menghilang.

Harry merasa hampir seolah-olah dia telah kehilangan ayah angkatnya sekali lagi karena kehilangan harapan bahwa dia mungkin akan bisa melihat atau berbicara kepadanya lagi. Dia berjalan lambat-lambat dan dengan merana kembali naik di kastil kosong itu, bertanya-tanya apakah dia akan pernah merasa ceria lagi.

Dia telah berbelok di sudut menuju koridor Nyonya Gemuk saat dia melihat seseorang di depan sedang memasang sebuah catatan ke papan di dinding. Pandangan kedua memperlihatkan kepadanya itu Luna. Tidak ada tempat persembunyian yang baik di dekat situ, dia pasti telah mendengar langkah-langkah kakinya, dan bagaimanapun, Harry hampir tidak bisa mengerahkan tenaga untuk menghindari siapapun saat itu.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.