Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

Hagrid menundukkan kepala berewokannya yang besar.

‘Tidak, kukira tidak,’ katanya dengan pelan. ‘Tetap saja, Harry … dia tidak akan pernah jadi seseorang yang duduk di rumah dan membiarkan orang lain bertarung. Dia tidak akan bisa menerima dirinya sendiri kalau dia tidak pergi membantu –‘

Harry melompat bangkit.

‘Aku harus pergi mengunjungi Ron dan Hermione di sayap rumah sakit,’ dia berkata seperti mesin.

‘Oh,’ kata Hagrid, tampak agak terganggu. ‘Oh … kalau begitu baiklah, Harry … jaga dirimu, dan kembalilah ke sini kalau kamu punya …’

‘Yeah … benar …’

Harry menyeberang ke pintu secepat yang dia bisa dan menariknya membuka; dia berada di luar di bawah sinar matahari lagi sebelum Hagrid selesai mengatakan selamat tinggal, dan berjalan pergi menyeberangi halaman. Sekali lagi, orang-orang memanggilnya ketika dia lewat. Dia menutup matanya sejenak, berharap mereka semua menghilang, sehingga dia bisa membuka matanya dan mendapati dirinya sendirian di halaman sekolah …

Beberapa hari yang lalu, sebelum ujiannya selesai dan dia melihat pandangan yang ditanamkan Voldemort ke dalam pikirannya, dia akan memberikan hampir semuanya agar dunia sihir tahu dia menceritakan yang sebenarnya, agar mereka percaya bahwa Voldemort sudah kembali, dan tahu bahwa dia bukan pembohong ataupun orang sinting. Namun, sekarang …

Dia berjalan sedikit mengitari danau, duduk di tepinya, terlindung dari tatapan orang yang lalu-lalang di belakang semak-semak, dan menatap ke air yang berkilauan, sambil berpikir …

Mungkin alasan dia ingin sendirian adalah karena dia merasa terisolasi dari semua orang sejak pembicaraannya dengan Dumbledore. Suatu penghalang yang tidak tampak telah memisahkan dirinya dari sisa dunia yang lain. Dia — selalu — menjadi orang yang ditandai. Hanya saja dia tidak pernah benar-benar mengerti apa artinya itu …

Dan duduk di sini di tepi danau, dengan kesedihan berat yang berlarut-larut, dengan kehilangan Sirius yang baru saja terjadi, dia tidak bisa mengerahkan rasa takut apapun. Hari itu cerah, dan halaman sekolah di sekelilingnya penuh orang-orang yang sedang tertawa, dan walaupun dia merasa jauh dari mereka seolah-olah dia berasal dari ras yang berbeda, masih sangat sulit percaya saat dia duduk di sini bahwa hidupnya harus melibatkan, atau berakhir dengan, pembunuhan …

Dia duduk di sana lama, sambil menatap air, mencoba tidak memikirkan ayah angkatnya atau mengingat bahwa tepat di seberang sinilah, di tepi seberang, Sirius pernah tumbang sambil mencoba menyingkirkan seratus Dementor …

Matahari telah terbenam sebelum dia sadar dia kedinginan. Dia bangkit dan kembali ke kastil, sambil menyeka wajahnya pada lengan bajunya.

Ron dan Hermione meninggalkan sayap rumah sakit sembuh sepenuhnya tiga hari sebelum akhir semester. Hermione terus menunjukkan tanda-tanda ingin berbicara tentang Sirius, tetapi Ron cenderung membuat suara mendiamkan setiap kali dia menyebut namanya. Harry masih tidak yakin apakah dia ingin berbicara mengenai ayah angkatnya atau tidak; keinginannya berganti-ganti sesuai dengan suasana hatinya. Namun, dia tahu satu hal: walaupun dia tidak senang pada saat ini, dia akan sangat merindukan Hogwarts dalam waktu beberapa hari saat dia kembali berada di Privet Drive nomor empat. Walaupun sekarang dia mengerti benar mengapa dia harus kembali ke sana setiap musim panas, dia tidak merasa lebih baik mengenainya. Bahkan, dia belum pernah lebih ketakutan atas kepulangannya.

Profesor Umbridge meninggalkan Hogwarts sehari sebelum akhir semester. Tampaknya dia keluar diam-diam dari sayap rumah sakit waktu makan siang, jelas berharap pergi tanpa terdeteksi, tetapi sayangnya bagi dia, dia bertemu Peeves di tengah jalan, yang meraih kesempatan terakhirnya untuk melakukan seperti yang diperintahkan Fred, dan mengejarnya dengan senang dari tempat itu sambil memukulnya bergantian dengan sebuah tongkat berjalan dan sebuah kaus kaki penuh kapur. Banyak murid berlarian ke Aula Depan untuk menonton dia berlari pergi di jalan setapak dan Kepala-Kepala Asrama mencoba dengan setengah hati untuk menahan mereka. Bahkan, Profesor McGonagall terbenam kembali ke kursinya di meja guru setelah sedikit celaan lemah dan jelas-jelas terdengar menyatakan penyesalan bahwa dia tidak bisa berlari menyoraki Umbridge sendiri, karena Peeves meminjam tongkat berjalannya.

Malam terakhir mereka di sekolah tiba; kebanyakan orang telah selesai berkemas dan sudah menuju pesta perpisahan akhir tahun ajaran, tetapi Harry bahkan belum mulai.

‘Lakukan saja besok!’ kata Ron, yang sedang menunggu di pintu kamar asrama mereka. ‘Ayolah, aku kelaparan.’

‘Aku tidak akan lama … begini, kamu pergi saja dulu …’

Tetapi ketika pintu kamar asrama menutup di belakang Ron, Harry tidak berusaha mempercepat berkemasnya. Hal terakhir yang ingin dilakukannya adalah menghadiri Pesta Perpisahan. Dia kuatir Dumbledore akan membuat acuan kepada dirinya dalam pidatonya. Dia pasti menyebut kembalinya Voldemort; lagipula, dia telah membicarakan hal itu kepada mereka tahun lalu …

Harry menarik beberapa jubah kusut keluar dari bagian paling dasar kopernya untuk memberi ruang bagi jubah-jubah yang terlipat dan, ketika dia berbuat demikian, memperhatikan sebuah paket yang terbungkus sembarangan tergeletak di salah satu sudut koper. Dia tidak bisa memikirkan untuk apa paket itu ada di sana. Dia membungkuk, menariknya keluar dair bawah celananya dan memeriksanya.

Dia menyadari apa itu dalam beberapa detik. Sirius telah memberikannya kepadanya persis di dalam pintu depan Grimmauld Place nomor dua belas. ‘Gunakan kalau kamu perlu aku, oke?’

Harry merosot ke atas tempat tidurnya dan membuka pembungkus paket itu. Jatuhlah sebuah cermin kecil persegi. Cermin itu tampak tua; jelas kotor. Harry memegangnya di depan wajahnya dan melihat bayangannya sendiri memandang balik kepadanya.

Dia membalikkan cermin itu. Di sisi sebaliknya tercoret catatan dari Sirius.

Ini cermin dua arah, aku punya pasangannya. Kalau kamu perlu

bicara denganku, sebut saja namaku kepada cermin; kamu akan muncul

dalam cerminku dan aku akan bisa berbicara ke dalam cerminmu. James

dan aku dulu menggunakannya waktu kami kena detensi di tempat terpisah.

Jantung Harry mulai berpacu. Dia teringat melihat orang tuanya yang sudah meninggal di dalam Cermin Tarsah empat tahun yang lalu. Dia akan bisa berbicara dengan Sirius lagi, sekarang juga, dia tahu itu –

Dia memandang berkeliling untuk memastikan tak ada seorangpun di sana; asrama itu

kosong. Dia memandang balik kepada cermin, mengangkatnya ke depan wajahnya dengan tangan gemetaran dan berkata, keras dan jelas, ‘Sirius.’

Napasnya berkabut di permukaan kaca. Dia memegang cermin itu lebih dekat lagi, rasa gembira membanjiri dirinya, tetapi mata yang berkedip balik kepadanya melalui kabut jelas matanya sendiri.

Dia menyeka cermin itu supaya jelas lagi dan berkata, sehingga setiap suku kata berdering dengan jelas di ruangan itu:

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.