Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

Malfoy tampak lebih marah daripada yang pernah dilihat Harry; dia merasakan semacam kepuasan melihat wajahnya yang pucat dan runcing berubah bentuk karena marah.

‘Kau akan bayar,’ kata Malfoy dengan suara yang hampir tidak lebih keras daripada bisikan. ‘Aku akan membuatmu membayar apa yang sudah kamu lakukan pada ayahku …’

‘Well, aku ngeri sekarang …’ kata Harry dengan kasar. ‘Kurasa Lord Voldemort hanya pemanasan dibandingkan dengan kalian bertiga –ada apa?’ dia menambahkan, karena Malfoy, Crabbe dan Goyle semuanya tampak terkejut mendengar nama itu. ‘Dia sobat ayahmu, bukan? Tidak takut padanya, kalian?’

‘Kau kira kau sangat hebat, Potter,’ kata Malfoy, maju sekarang, Crabbe dan Goyle mengapitnya. ‘Tunggu saja. Aku akan menghabisimu. Kau tidak bisa memasukkan ayahku ke dalam penjara –‘

‘Kukira baru saja kulakukan,’ kata Harry.

‘Para Dementor sudah meninggalkan Azkaban,’ kata Malfoy pelan. ‘Dad dan yang lainnya akan segera keluar …’

‘Yeah, kuduga begitu,’ kata Harry. ‘Tetap saja, setidaknya semua orang tahu sampah seperti apa mereka sekarang –‘

Tangan Malfoy melayang ke arah tongkatnya, tetapi Harry terlalu cepat baginya; dia telah mengambil tongkatnya sendiri sebelum jari-jari Malfoy bahkan memasuki kantong jubahnya.

‘Potter!’

Suara itu berdering menyeberangi Aula Depan. Snape telah muncul dari tangga yang mengarah ke kantornya dan ketika melihatnya Harry merasakan desakan kebencian melampaui apapun yang dirasakannya terhadap Malfoy … apapun yang Dumbledore katakan, dia tidak akan pernah memaafkan Snape … takkan pernah …

‘Apa yang sedang kamu lakukan, Potter?’ kata Snape, sedingin dulu, ketika dia berjalan kepada mereka berempat.

‘Aku sedang mencoba memutuskan kutukan apa yang akan kugunakan pada Malfoy, sir,’ kata Harry dengan garang.

Snape menatapnya.

‘Simpan tongkatmu seketika,’ dia berkata dengan kaku. ‘Sepuluh poin dari Gryff–‘

Snape memandang jam pasir raksasa di dinding dan tersenyum mengejek.

‘Ah, kulihat tidak ada lagi poin yang tersisa di jam pasir Gryffindor untuk dibuang. Kalau begitu, Potter, kita hanya harus –‘

‘Menambah lagi?’

Profesor McGonagall baru saja berjalan menaiki undakan batu ke dalam kastil; dia membawa tas kotak-kotak di satu tangan dan bersandar hebat ke sebuah tongkat berjalan dengan tangan lainnya, tetapi selain itu tampak sangat sehat.

‘Profesor McGonagall!’ kata Snape, sambil berjalan maju. ‘Keluar dari St Mungo, kulihat!’

‘Ya, Profesor Snape,’ kata Profesor McGonagall, sambil melepaskan mantel bepergiannya, ‘Aku sama sekali sudah sehat. Kalian berdua — Crabbe — Goyle –‘

Dia memberi isyarat dengan memerintah kepada mereka untuk maju dan mereka datang sambil menyeret kaki-kaki besar mereka dan tampak canggung.

‘Ini,’ kata Profesor McGonagall, sambil menyorongkan tasnya ke dada Crabbe dan mantelnya ke dada Goyle, ‘bawa ini ke kantorku.’

Mereka berpaling dan berjalan pergi menaiki tangga pualam.

‘Baik kalau begitu,’ kata Profesor McGonagall, sambil memandang ke atas kepada jam pasir di dinding. ‘Well, kukira Potter dan teman-temannya harus mendapatkan lima puluh poin seorang karena menyiagakan dunia atas kembalinya Kau-Tahu-Siapa. Bagaimana menurut Anda, Profesor Snape?’

‘Apa?’ kata Snape keras, walaupun Harry tahu dia mendengarnya dengan baik. ‘Oh -well — kurasa …’

‘Jadi masing-masing lima puluh untuk Potter, kedua Weasley, Longbottom dan Miss Granger,’ kata Profesor McGonagall, dan hujan batu rubi jatuh ke dasar jam pasir Gryffindor ketika dia berbicara. ‘Oh — dan lima puluh untuk Miss Lovegood, kurasa,’ dia menambahkan, dan sejumlah batu safir jatuh ke dalam jam pasir Ravenclaw. ‘Sekarang, Anda ingin mengambil sepuluh dari Potter, kukira, Profesor Snape — jadi ini dia …’

Beberapa rubi kembali ke bola bagian atas, walau begitu meninggalkan sejumlah besar di bagian bawah.

‘Well, Potter, Malfoy, kukira kalian seharusnya berada di luar di hari cerah seperti ini,’ Profesor McGonagall meneruskan dengan cepat.

Harry tidak perlu disuruh dua kali — dia memasukkan tongkatnya kembali ke bagian dalam jubahnya dan menuju langsung ke pintu-pintu depan tanpa memandang sekalipun kepada Snape dan Malfoy.

Sinar matahari yang panas mengenainya ketika dia berjalan menyeberangi halaman sekolah menuju kabin Hagrid. Murid-murid yang berbaring di atas rumput bermandikan sinar matahari, sambil berbincang-bincang, membaca Sunday Prophet dan makan permen, memandangnya ketika dia lewat; beberapa memanggilnya, atau melambai, jelas sangat ingin memperlihatkan bahwa mereka, seperti Prophet, sudah tahu apa yang terjadi tiga hari yang lalu, tetapi sejauh ini dia menghindari ditanya dan lebih suka menjaganya terus begitu.

Awalnya dia mengira saat dia mengetuk pintu kabin Hagrid bahwa Hagrid keluar, tetapi kemudian Fang menyerbu dari sudut dan hampir menggulingkannya karena antusiasme penyambutannya. Hagrid, ternyata, sedang memungut kacang bersulur di kebun belakangnya.

‘Baik-baik saja, Harry!’ katanya, sambil tersenyum, saat Harry mendekati pagar. ‘Masuk, masuk, kita akan minum secangkir jus dandelion …’

‘Bagaimana keadaannya?’ Hagrid bertanya kepadanya, ketika mereka duduk di meja kayunya dengan masing-masing segelap jus dingin. ‘Kau –er — baik-baik saja, bukan?’

Harry tahu dari tampang kuatir di wajah Hagrid bahwa dia tidak sedang mengacu pada kesehatan fisik Harry.

‘Aku baik,’ kata Harry cepat, karena dia tidak sanggung membahas hal yang dia tahu berada dalam pikiran Hagrid. ‘Jadi, ke mana saja kamu?’

‘Sembunyi di pegunungan,’ kata Hagrid. ‘Di gua, seperti Sirius waktu dia –‘

Hagrid berhenti, berdehem dengan kasar, memandang Harry, dan minum jusnya banyak-banyak.

‘Ngomong-ngomong, sudah balik sekarang,’ dia berkata dengan lemah.

‘Kamu — kamu tampak lebih baik,’ kata Harry, yang bertekad menjaga percakapan itu menjauh dari Sirius.

‘Apa?’ kata Hagrid, sambil mengangkat sebelah tangannya yang besar dan merasakan wajahnya. ‘Oh — Oh yeah. Well, Grawpy sudah jauh lebih baik kelakuannya sekarang, jauh. Tampaknya sangat senang melihatku waktu aku balik, sejujurnya. Dia anak yang baik, sebenarnya … Aku telah memikirkan untuk mencoba temukan teman wanita untuknya, sebenarnya …’

Harry biasanya akan mencoba membujuk Hagrid keluar dari gagasan ini seketika; prospek raksasa kedua yang berdiam di Hutan, mungkin lebih liar dan lebih brutal daripada Grawp, sangat mengkhawatirkan, tetapi entah bagaimana Harry tidak bisa mengerahkan tenaga yang diperlukan untuk mendebatkan poin itu. Dia mulai berharap dia sendirian lagi, dan dengan ide mempercepat kepergiannya dia meneguk jus dandelionnya banyak-banyak beberapa kali, setengah mengosongkan gelasnya.

‘Semua orang tahu kau katakan yang sebenarnya sekarang, Harry,’ kata Hagrid pelan dan tak terduga. Dia sedang mengamati Harry dengan seksama. ‘Itu pasti lebih baik, bukan?’

Harry mengangkat bahu.

‘Lihat …’ Hagrid mencondongkan badan ke arahnya dari seberang meja, ‘Aku kenal Sirius lebih lama dari kamu … dia mati dalam pertarunganm dan begitulah cara kepergian yang diinginkannya –‘

‘Dia tidak mau pergi sama sekali!’ kata Harry dengan marah.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.