Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

‘Harry — Harry Potter?’

Fudge berputar dan menatap Harry, yang masih berdiri di dinding di samping patung jatuh yang telah menjaganya selama duel Dumbledore dan Voldemort.

‘Dia — di sini?’ kata Fudge, sambil membelalak kepada Harry. ‘Kenapa — ada apa ini semua?’

‘Aku akan menjelaskan semuanya,’ ulang Dumbledore, ‘saat Harry sudah kembali ke sekolah.’

Dia berjalan menjauh dari kolam ke tempat kepala penyihir pria itu tergeletak di lantai. Dia menunjuk tongkatnya dan bergumam, ‘Portus.’ Kepala itu berkilau biru dan bergetar dengan bising di lantai kayu selama beberapa detik, lalu menjadi diam sekali lagi.

‘Sekarang pahami ini, Dumbledore!’ kata Fudge, ketika Dumbledore memungut kepala itu dan berjalan kembali kepada Harry sambil membawanya. ‘Kamu belum mendapat pengesahan untuk Portkey itu! Kau tak bisa melakukan hal seperti itu tepat di hadapan Menteri Sihir, kau — kau –‘

Suaranya terputus-putus ketika Dumbledore mengamatinya dengan berkuasa lewat kacamata setengah bulannya.

‘Anda akan memberikan perintah untuk memberhentikan Dolores Umbridge dari Hogwarts,’ kata Dumbledore. ‘Anda akan menyuruh para Auror Anda untuk berhenti mencari guru Pemeliharaan Satwa Gaibku supaya dia bisa kembali bekerja. Aku akan memberi Anda …’ Dumbledore menarik sebuah jam dengan dua belas jarum dari kantongnya dan mengamatinya ‘… setengah jam waktuku malam ini, di mana kukira kita akan lebih dari bisa mengungkap poin-poin penting tentang apa yang telah terjadi di sini. Setelah itu, aku perlu kembali ke sekolahku. Kalau Anda butuh bantuan lagi dariku Anda, tentu saja, akan diterima dengan senang hati untuk menghubungi ke Hogwarts. Suratsurat yang dialamatkan kepada Kepala Sekolah akan sampai ke tanganku.’

Fudge membelalak lebih parah dari sebelumnya, mulutnya terbuka dan wajahnya yang bundar semakin merah jambu di bawah rambut kelabunya yang kusut.

‘Aku — kamu –‘

Dumbledore memalingkan punggungnya kepadanya.

‘Ambil Portkey ini, Harry.’

Dia mengulurkan kepala patung keemasan itu dan Harry menempatkan tangannya di atasnya, tidak peduli apa yang dilakukannya setelah itu atau ke mana dia pergi.

‘Aku akan menemuimu dalam setengah jam,’ kata Dumbledore pelan. ‘Satu … dua … tiga …’

Harry merasakan sensasi yang sudah dikenalkan seperti sebuah kail disentakkan ke balik pusarnya. Lantai kayu berpelitur itu menghilang dari bawah kakinya; Atrium, Fudge dan Dumbledore semua telah hilang dan dia terbang maju dalam putaran cahaya dan suara …

 

Bab 37:

Ramalan yang Hilang

Kaki Harry mengenai tanah padat; lututnya melengkung sedikit dan kepala penyihir pria keemasan itu jatuh dengan bunyi bergema ke atas lantai. Dia memandang berkeliling dan melihat bahwa dia telah tiba di kantor Dumbledore.

Semuanya tampaknya telah memperbaiki diri sendiri selama ketidakhadiran Kepala Sekolah. Instrumen-instrumen perak yang halus itu berada sekali lagi di atas meja-meja berkaki kurus panjang, mengeluarkan asap dan menderu tenang. Potret-potret para kepala sekolah sedang tidur di bingkai mereka, kepala mereka tersandar ke belakang ke kursi berlengan atau terhadap tepi lukisan. Harry memandang melalui jendela. Ada garis hijau pucat yang mengagumkan di sepanjang cakrawala: fajar sedang menyingsing.

Keheningan dan ketiadaan gerakan, hanya dipecahkan sekali-kali oleh dengkur atau dengus terkadang potret yang sedang tidur, tidak mampu ditanggungnya. Kalau sekitarnya bisa mencerminkan perasaan di dalam dirinya, lukisan-lukisan itu akan menjerit kesakitan. Dia berjalan berkeliling kantor tenang dan indah itu, sambil bernapas dengan cepat, mencoba tidak berpikir. Tetapi dia harus berpikir … tidak ada jalan keluar …

Salahnya Sirius mati; semuanya salahnya. Kalau dia, Harry, tidak cukup bodoh untuk jatuh pada tipuan Voldemort, kalau dia tidak begitu yakin bahwa apa yang telah dilihatnya dalam mimpinya nyata, kalau saja dia membuka pikirannya pada kemungkinan bahwa Voldemort, seperti yang dikatakan Hermione, sedang bertumpu pada kesukaan Harry berperan jadi pahlawan …

Tak tertahankan, dia tidak akan memikirkannya, dia tidak bisa menerimanya … ada kehampaan mengerikan di dalam dirinya yang tidak ingin dirasakan atau diperiksanya, suatu lubang gelap tempat Sirius dulu berada, tempat Sirius menghilang; dia tidak ingin harus berada sendirian di ruang besar yang hening itu, dia tidak bisa menerimanya –

Sebuah lukisan di belakangnya mendengkur keras, dan sebuah suara tenang berkata, ‘Ah … Harry Potter …’

Phineas Nigellus menguap panjang, sambil merentangkan lengannya selagi dia mengamati Harry lewat matanya yang sipit dan licik.

‘Dan apa yang membawamu ke sini pagi-pagi begini?’ kata Phineas akhirnya. ‘Kantor ini seharusnya terlarang untuk semua orang kecuali Kepala Sekolah yang berhak. Atau apakah Dumbledore mengirimmu ke sini? Oh, jangan bilang padaku …’ Dia menguap lebar menggetarkan lagi. ‘Pesan lain untuk cucu buyutku yang tidak berharga?’

Harry tidak bisa berbicara. Phineas Nigellus tidak tahu bahwa Sirius sudah mati, tetapi Harry tidak bisa memberitahunya. Mengatakannya keras-keras akan membuatnya final, mutlak, tak bisa ditebus lagi.

Beberapa potret lagi telah bergerak sekarang. Ketakutan diinterogasi membuat Harry berjalan menyeberangi ruangan dan meraih kenop pintu.

Kenop itu tidak mau berputar. Dia terkunci.

‘Kuharap ini berarti,’ kata penyihir pria gemuk berhidung merah yang tergantung di dinding di belakang meja tulis Kepala Sekolah, ‘bahwa Dumbledore akan segera kembali di antara kita?’

Harry berpaling. Penyihir pria itu sedang mengamatinya dengan penuh minat. Harry mengangguk. Dia menarik kenop pintu di belakang punggungnya lagi, tetapi tetap tak bisa digerakkan.

‘Oh bagus,’ kata penyihir itu. ‘Sangat membosankan tanpa dia, benar-benar sangat membosankan.’

Dia duduk di atas kursi mirip tahta tempat dia dilukis dan tersenyum ramah kepada Harry.

‘Dumbledore sangat memujimu, seperti yang kuyakin kau ketahui,’ dia berkata dengan senang. ‘Oh ya. Sangat menghargaimu.’

Rasa bersalah mengisi seluruh dada Harry seperti parasit besar yang berat, yang sekarang menggeliat-geliut. Harry tidak bisa menerima ini, dia tidak tahan lagi menjadi dirinya sendiri … dia belum pernah merasa terperangkap di dalam kepala dan tubuhnya sendiri, tak pernah berharap begitu dalamnya bahwa dia bisa menjadi orang lain; siapapun, yang lain …

Perapian kosong itu meledak dengan nyala api hijau zamrud, membuat Harry melompat menjauh dari pintu, menatap lelaki yang berputar di bagian dalam kisi. Ketika bentuk Dumbledore yang tinggi membentang dari api, para penyihir pria dan wanita di dinding-dinding yang mengelilingi tersentak bangun, banyak dari mereka mengeluarkan jerit penyambutan.

‘Terima kasih,’ kata Dumbledore dengan lembut.

Mulanya dia tidak memandang Harry, melainkan berjalan ke tempat bertengger di samping pintu dan menarik, dari bagian dalam kantong jubahnya, Fawkes yang kecil, jelek, tak berbulu, yang ditempatkannya dengan lembut ke atas nampan abu halus di bawah tonggak keemasan tempat Fawkes yang telah dewasa biasanya berdiri.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.