Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

Pancaran sinar hijau lain melayang dari balik perisai perak itu. Kali ini centaur bertangan satu, yang berderap ke hadapan Dumbledore, yang menerima ledakan dan hancur menjadi seratus keping, tapi sebelum pecahan-pecahan itu bahkan mengenai lantai, Dumbledore telah menarik tongkatnya dan melambaikannya seolah-olah mengacungkan cemeti. Sebuah nyala api tipis panjang melayang dari ujungnya; membelitkan dirinya mengelilingi Voldemort, perisai dan semuanya. Sejenak, tampaknya Dumbledore telah menang, tetapi kemudian tali berapi itu berubah menjadi seekor ular, yang melepaskan pegangannya pada Voldemort seketika dan berpaling, sambil mendesis marah, untuk menghadapi Dumbledore.

Voldemort menghilan; ular itu bertumpu pada ekornya di lantai, siap menyerang.

Ada ledakan nyala api di udara di atas Dumbledore persis ketika Voldemort muncul kembali, berdiri di pedestal di tengah kolam tempat baru-baru ini lima patung berdiri.

‘Awas!’ Harry menjerit.

Tetapi bahkan saat dia menjerit, pancaran sinar hijau lain melayang kepada Dumbledore dari tongkat Voldemort dan ular itu menyerang.

Fawkes menukik turun ke hadapan Dumbledore, membuka paruhnya lebar-lebar dan menelan pancaran sinar hijau itu seluruhnya: dia meledak menjadi nyala api dan jatuh ke lantai, kecil, keriput dan tak bisa terbang. Pada saat yang sama, Dumbledore mengacungkan tongkatnya dalam suatu gerakan panjang dan luwes — ular itu, yang sesaat lagi akan membenamkan taringnya ke tubuhnya, melayang tinggi di udara dan menghilang menjadi segumpal asap gelap; dan air di kolam naik dan menutupi Voldemort seperti kepompong kaca yang mencair.

Selama beberapa detik Voldemort hanya tampak sebagai figur gelap, beriak, tanpa wajah, berkelap-kelip dan kabur di atas pedestal, jelas sedang berjuang mengenyahkan zat mencekik itu.

Lalu dia hilang dan air jatuh dengan bunyi keras kembalike kolamnya, tumpah dengan liar lewat sisi-sisinya, membanjiri lantai berpelitur.

‘TUAN!’ jerit Bellatrix.

Yakin sudah berakhir, yakin Voldemort sudah memutuskan untuk melarikan diri, Harry bergerak lari dari balik pengawal patungnya, tetapi Dumbledore berteriak: ‘Tetap di tempatmu, Harry!’

Untuk pertama kalinya, Dumbledore terdengar ketakutan. Harry tidak mengerti kenapa: aula itu kosong kecuali diri mereka sendiri, Bellatrix yang tersedu-sedu masih terperangkap di bawah patung penyihir wanita, dan Fawkes di bayi phoenix sedang berkaok dengan lemah di atas lantai.

Lalu bekas luka Harry meledak terbuka dan dia tahu dia sudah mati: rasa sakitnya di luar bayangan, rasa sakit tak tertahankan.

Dia menghilang dari aula itu, dia terkunci dalam belitan seekor makhluk bermata merah, begitu eratnya terikat sehingga Harry tidak tahu di mana tubuhnya berakhir dan tubuh makhluk itu dimulai: mereka melebur bersama, terikat oleh rasa sakit, dan tidak ada jalan keluar.

Dan saat makhluk itu berbicara, dia menggunakan mulut Harry, sehingga dalam penderitaannya dia merasakan rahangnya bergerak.

‘Bunuh aku sekarang, Dumbledore …’

Buta dan sekarat, setiap bagian tubuhnya menjerit minta dilepaskan, Harry merasakan makhluk itu menggunakannya lagi.

‘Kalau kematian bukan apa-apa, Dumbledore, bunuh bocah ini …’

Biarkan rasa sakitnya berhenti, pikir Harry … biarkan dia membunuh kami …

hentikanlah, Dumbledore … kematian bukan apa-apa dibandingkan dengan ini …

Dan aku akan melihat Sirius lagi …

Dan selagi hati Harry penuh dengan emosi, belitan makhluk itu mengendur, rasa sakitnya hilang; Harry sedang berbaring dengan muka di bawah di atas lantai, kacamatanya hilang, gemetaran seolah-olah dia berbaring di atas es, bukan kayu …

Dan ada suara-suara yang menggema di aula itu, lebih banyak suara daripada yang seharusnya … Harry membuka matanya, melihat kacamatanya tergeletak di tumit patung tak berkepala yang telah menjaganya, tetapai sekarang terbaring telentang, retak dan tak bergerak. Dia mengenakannya dan mengangkat kepalanya sedikit untuk mendapati hidung bengkok Dumbledore beberapa inci dari hidungnya sendiri.

Kau baik-baik saja, Harry?’

‘Ya,’ kata Harry, gemetaran begitu hebat sehingga dia tidak bisa menahan kepalanya dengan benar. ‘Yeah — di mana Voldemort, di mana — siapa semua — apa –‘

Atrium penuh dengan orang; lantai memantulkan lidah-lidah api hijau yang telah menyala di semua perapian di sepanjang dinding; dan aliran penyihir wanita dan pria yang muncul dari mereka. Ketika Dumbledore menariknya bangkit kembali, Harry melihat patung-patung emas kecil peri-rumah dan goblin itu, memimpin Cornelius Fudge yang tampak tercengang maju.

‘Dia ada di sini!’ teriak seorang lelaki berjubah merah tua dengan rambut diekor kuda, yang sedang menunjuk ke tumpukan puing keemasan di sisi lain aula itu, tempat Bellatrix terbaring terperangkap hanya beberapa saat sebelumnya. ‘Aku melihatnya, Mr Fudge, aku bersumpah itu Kau-Tahu-Siapa, dia menarik seorang wanita dan ber-Disapparate!’

‘Aku tahu, Williamson, aku tahu, aku melihatnya juga!’ repet Fudge, yang sedang mengenakan piyama di bawah mantel garis-garisnya dan terengah-engah seolah-olah dia baru saja lari bermil-mil. ‘Jenggot Merlin — di sini — di sini! — di Kementerian Sihir -surga agung di atas — tampaknya tidak mungkin — astaga — bagaimana mungkin –?’

‘Kalau Anda turun ke Departemen Misteri, Cornelius,’ kata Dumbledore — tampaknya puas bahwa Harry tidak apa-apa, dan berjalan maju sehingga para pendatang baru sadar dia ada di sana untuk pertama kalinya (beberapa di antara mereka mengangkat tongkat mereka; yang lainnya hanya tampak heran; patung-patung peri dan goblin bertepuk tangan dan Fudge terlompat sehingga kakinya yang mengenakan selop meninggalkan lantai) ‘– Anda akan menemukan beberapa Pelahap Maut yang lolos terkurung di Kamar Kematian, terikat oleh Kutukan Anti-Disapparate dan menanti keputusanmu atas apa yang harus dilakukan kepada mereka.

‘Dumbledore!’ Fudge terengah-engah, dari sampingnya dengan heran. ‘Kau — di sini -aku — aku –‘

Dia memandang dengan liar ke sekitar kepada para Auror yang telah dibawanya besertanya dan tidak mungkin lebih jelas lagi bahwa dia setengah berniat untuk berteriak, ‘Tangkap dia!’

‘Cornelius, aku siap bertarung dengan orang-orangmu — dan menang, lagi!’ kata Dumbledore dengan suara menggelegar. ‘Tapi beberapa menit yang lalu Anda melihat bukti, dengan matamu sendiri, bahwa aku telah menceritakan yang sebenarnya kepadamu selama setahun. Lord Voldemort telah kembali, Anda telah mengejar orang yang salah selama dua belas bulan, dan sudah waktunya — Anda mendengarkan akal sehat!’

‘Aku — tidak –well –‘ gertak Fudge sambil memandang berkeliling seolah-olah berharap seseorang akan memberitahunya apa yang harus dilakukan. Ketika tak seorangpun melakukannya, dia berkata, ‘Baiklah — Dawlish! Turun ke Departemen Misteri dan lihat … Dumbledore, kau — kau harus memberitahuku persisnya — Air Mancur Persaudaraan Sihir — apa yang terjadi?’ dia menambahkan dengan semacam rengekan, sambil memandang sekeliling ke lantai, di mana sisa-sisa patung penyihir wanita, penyihir pria dan centaur itu sekarang tergeletak terpencar.

‘Kita bisa membahas itu setelah aku mengirim Harry kembali ke Hogwarts,’ kata Dumbledore.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.