Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

Lupin menyeret Harry menjauh dari mimbar itu. Harry, yang masih menatap ke atap melengkung itu, merasa marah kepada Sirius sekarang karena membuatnya menunggu.

Tetapi beberapa bagian dari dirinya sadar, bahkan saat dia berjuang untuk lepas dari Lupin, bahwa Sirius belum pernah membuatnya menunggu sebelumnya … Sirius telah mempertaruhkan semuanya, selalu begitu, untuk melihat Harry, untuk membantunya … kalau Sirius tidak muncul kembali dari atap melengkung itu saat Harry berteriak memanggilnya seolah-olah hidupnya tergantung pada itu, satu-satunya penjelasan yang mungkin adalah bahwa dia tidak bisa kembali … bahwa dia memang benar-benar …

Dumbledore telah mengumpulkan sebagian besar Pelahap Maut yang tersisa di tengah ruangan, kelihatannya tak dapat bergerak karena tali-tali yang tak kasat mata; Mad-Eye Moody telah merangkak menyeberangi ruangan ke tempat Tonks terbaring, dan sedang berusaha membangunkannya, di belakang mimbar masih ada kilatan-kilatan cahaya, gerutuan dan teriakan-teriakan — Kingsley telah lari ke depan untuk meneruskan duel Sirius dengan Bellatrix.

‘Harry?’

Neville telah meluncur menuruni bangku-bangku batu satu per satu ke tempat di mana Harry berdiri. Harry tidak lagi berjuang melawan Lupin, yang meskipun begitu tetap mempertahankan cengkeraman pencegahan di lengannya.

‘Harry … adu idut sedih …’ kata Neville. Kaki-kakinya masih menari-nari tak terkendali. ‘Abakah ladi-ladi itu — abakah Sirius Black — temanmu?’

Harry mengangguk.

‘Ini,’ kata Lupin pelan, dan sambil menunjuk tongkatnya ke kaki Neville dia berkata, ‘Finite.’ Mantera itu terangkat: kaki Neville terjatuh kembali ke lantai dan tetap diam. Wajah Lupin pucat. ‘Ayo — ayo cari yang lainnya. Di mana mereka semua, Neville?’

Lupin berpaling dari atap melengkung itu ketika dia berbicara. Kedengarannya seakanakan setiap kata membuatnya kesakitan.

‘Bereka sebua ada di beladang sana,’ kata Neville. ‘Sebuah otak serang Ron tabi adu rasa dia baid-baid saja –dan Herbione bingsan, tabi dami bisa rasakan denyud nadi –‘

Ada bunyi letusan keras dan jeritan dari belakang mimbar. Harry melihat Kingsley menghantam tanah sambil berteriak kesakitan. Bellatrix Lestrange telah berbalik dan lari selagi Dumbledore melambai-lambai ke sekeliling. Dia mengarahkan sebuah mantera kepadanya tetapi Bellatrix menangkisnya; dia setengah jalan menaiki anak-anak tangga itu sekarang.

‘Harry — jangan!’ teriak Lupin, tetapi Harry sudah merenggut lengannya dari pegangan Lupin yang mengendor.

‘DIA MEMBUNUH SIRIUS!’ teriak Harry. ‘DIA MEMBUNUHNYA. AKAN KUBUNUH DIA!’

Dan Harry pergi, berjuang menaiki bangku-bangku batu itu; orang-orang berteriak di belakangnya tetapi dia tidak peguli. Tepi jubah Bellatrix melambai-lambai keluar dari pandangan di depannya dan mereka kembali ke ruangan tempat otak-otak itu berenangrenang …

Bellatrix mengarahkan sebuah kutukan lewat bahunya. Tangki itu naik ke udara dan roboh. Harry dibanjiri ramuan berbau busuk di dalamnya: otak-otak itu tergelincir dan meluncur ke atasnya dan mulai memutar tentakel-tantakel panjang berwarna mereka, tapi dia berteriak, ‘Wingardium Leviosa!’ dan mereka terbang menjauh darinya ke udara. Sambil tergelincir dan meluncur, dia berlari menuju pintu; dia melompati Luna, yang sedang mengerang di lantai, melewati Ginny, yang berkata, ‘Harry –apa –?’, melewati Ron, yang terkikik-kikik dengan lemah, dan Hermione, yang masih pingsan. Dia merenggut pintu hingga terbuka ke dalam aula hitam melingkar dan melihat Bellatrix menghilang melalui sebuah pintu di sisi lain ruangan itu; di belakangnya adalah koridor yang mengarah kembali ke lift.

Harry berlari, tetapi Bellatrix telah membanting pintu di belakangnya dan dindingdinding sudah berputar. Sekali lagi, dia dikelilingi oleh kilatan-kilatan cahaya biru dari tempat lilin yang sedang berputar.

‘Di mana pintu keluarnya?’ dia berteriak dengan putus asa, ketika dinding itu berhenti lagi. ‘Di mana jalan keluarnya?’

Ruangan itu tampaknya telah menunggu dia bertanya. Pintu yang tepat di belakangnya membuka dan koridor menuju lift membentang di hadapannya, diterangi obor dan kosong. Dia berlari …

Dia bisa mendengar lift bergemerincing di depan; dia berlari cepat menyusuri lorong, berayun membelok di sudut dan menghantamkan tinjunya ke tombol untuk memanggil lift kedua. Lift itu berkerincing dan berbunyi keras semakin rendah; jeruji-jerujinya bergeser membuka dan Harry berlari ke dalam, sekarang memukul tombol yang bertandakan ‘Atrium’. Pintu-pintu bergeser menutup dan dia naik …

Dia memaksa keluar dari lift sebelum jeruji-jeruji terbuka penuh dan memandang berkeliling. Bellatrix hampir di lift telepon di ujung lain aula itu, tetapi dia memandang ke belakang ketika Harry berlari cepat ke arahnya dan mengarahkan mantera lain kepadanya. Harry mengelak di belakang Air Mancur Persaudaraan Sihir: mantera itu meluncur melewatinya dan mengenai gerbang-gerbang emas tempa di ujung lain Atrium sehingga gerbang-gerbang itu berdering seperti bel. Tidak ada bunyi langkah kaki lagi. Bellatrix telah berhenti berlari. Harry meringkuk di belakang patung-patung, sambil mendengarkan.

‘Keluarlah, keluarlah, Harry kecil!’ dia memanggilnya dengan suara bayi ejekan, yang menggema di lantai kayu terpelitur. ‘Kalau begitu, untuk apa kamu mengejarku? Kukira kamu ada di sini untuk membalaskan dendam sepupuku tersayang!’

‘Memang!’ teriak Harry, dan sejumlah hantu Harry tampaknya ikut berseru Memang! Memang! Memang ke seluruh ruangan itu.

‘Aaaaaah … apakah kamu sayang kepadanya, bayi Potter kecil?’

Kebencian naik di dalam diri Harry seperti yang belum pernah dikenalnya; dia mengayunkan dirinya sendiri keluar dari balik air mancur dan berteriak, ‘Crucio!’

Bellatrix menjerit: mantera itu telah membuatnya terjatuh, tetapi dia tidak menggeliat dan berteriak kesakitan seperti Neville — dia sudah bangkit kembali, terengah-engah, tak lagi tertawa. Harry menghindar ke belakang air mancur keemasan itu lagi. Mantera balasannya mengenai kepala penyihir pria tampan itu, yang meledak dan mendarat dua puluh kaki jauhnya, mengukirkan goresan-goresan panjang di lantai kayu.

‘Belum pernah menggunakan Kutukan Tak Termaafkan sebelumnya, bukan, nak?’ dia berteriak. Dia telah meninggalkan suara bayinya sekarang. ‘Kau harus bersungguhsungguh, Potter! Kau harus benar-benar mau menyebabkan rasa sakit — menikmatinya -kemarahan pada tempatnya tidak akan melukaiku untuk waktu yang lama — akan kuperlihatkan kepadamu bagaimana caranya. Aku akan memberimu pelajaran –‘

Harry sedang berjalan miring mengitari air mancur ini ke sisi lain ketika Bellatrix berteriak, ‘Crucio!’ dan dia terpaksa menunduk lagi ketika lengan centaur, yang memegang busurnya, lepas dan mendarat dengan bunyi keras di atas lantai dekat dengan kepala penyihir keemasan itu.

‘Potter, kau tak bisa menang melawanku!’ dia berteriak.

Harry bisa mendengarnya bergerak ke kanan, mencoba mendapatkan bidikan jelas. Dia mundur mengitari patung menjauh darinya, meringkuk di belakang kaki centaur, kepalanya sama tinggi dengan kepala peri-rumah.

‘Aku dulu dan masih pelayan Pangeran Kegelapan yang paling setia. Aku belajar Ilmu Hitam darinya, dan aku tahu mantera-mantera dengan kekuatan yang kau, bocah kecil menyedihakan, takkan pernah bisa berharap untuk menyaingi –‘

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.