Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

Sepotong benang tipis berwarna daging turun di depan mata Harry. Ketika memandang ke atas, dia melihat Fred dan Geoge di puncak tangga di atasnya, dengan waspada menurunkan Telinga Yang-Dapat-Dipanjangkan menuju kumpulan gelap orang-orang di bawah. Akan tetapi, sejenak kemudian mereka semua mulai bergerak menuju pintu depan dan menghilang dari pandangan.

‘Sialan,’ Harry mendengar Fred berbisik, selagi dia menaikkan Telinga Yang-Dapat-Dipanjangkan ke atas lagi.

Mereka mendengar pintu depan terbuka, lalu menutup.

‘Snape tidak pernah makan di sini,’ Ron memberitahu Harry dengan pelan. ‘Syukurlah. Ayo.’

‘Dan jangan lupa jaga suaramu tetap rendah di aula, Harry,’ Hermione berbisik.

Ketika mereka melewati barisan kepala peri-rumah di dinding, mereka melihat Lupin, Mrs Weasley dan Tonks di pintu depan, sedang mengunci banyak kunci dan gemboknya dengan sihir di belakang orang-orang yang baru saja pergi.

‘Kita makan di dapur,’ Mrs Weasley berbisik, sambil menyambut mereka di bawah tangga. ‘Harry sayang, kalau kau bisa berjingkat menyeberangi aula melalui pintu di sini -‘

CRASH.

‘Tonks!’ teriak Mrs Weasley dengan putus asa, sambil berbalik untuk melihat ke belakangnya.

‘Maafkan aku!’ ratap Tonks, yang sedang berbaring rata di lantai. ‘Gara-gara tempat payung bodoh itu, kedua kalinya aku tersandung –‘

Tapi kata-katanya yang lain ditenggelamkan oleh sebuah pekikan mengerikan yang memekakan telinga dan membekukan darah.

Tirai-tirai beludru yang termakan ngengat yang telah dilewati Harry telah terbuka, tapi tidak ada pintu di belakang mereka. Selama sepersekian detik, Harry mengira dia sedang melihat ke sebuah jendela, jendela yang dibelakangnya ada seorang wanita tua bertopi hitam sedang menjerit dan menjerit seakan-akan dia sedang disiksa — lalu dia menyadari bahwa dia hanya potret seukuran badan, tapi yang paling realistis, dan paling tidak menyenangkan, yang pernah dilihatnya seumur hidup.

Wanita tua itu berliur, matanya bergulir, kulit wajahnya yang mulai menguning teregang ketika dia menjerit; dan sepanjang aula di mereka, potret-potret lain terbangun dan mulai berteriak-teriak juga, sehingga Harry benar-benar menegangkan matanya akibat keributan itu dan menutup telinganya dengan tangan.

Lupin dan Mrs Weasley berlari maju dan mencoba menarik tirai menutupi wanita tua itu, tapi tirai-tirai itu tidak mau menutup dan dia memekik lebih keras lagi, sambil mengacungkan tangan-tangan yang mencakar-cakar seakan-akan mencoba merobek muka mereka.

‘Kotoran! Sampah! Hasil sampingan debu dan kejelekan! Keturunan campuran, mutan, orang aneh, pergi dari tempat ini! Berani-beraninya kalian mengotori rumah leluhurku –‘

Tonks meminta maaf terus menerus, sambil menyeret kaki troll yang besar dan berat itu kembali ke lantai; Mrs Weasley menyerah atas usaha menutup tirai dan bergegas ke sana ke mari di aula, Membius semua potret lain dengan tongkatnya; dan seorang lelaki dengan rambut hitam panjang datang menyerbu dari sebuah pintu yang menghadap Harry.

‘Diamlah, kau wanita tua jelek yang mengerikan, DIAM!’ dia meraung, sambil meraih tirai yang telah ditinggalkan Mrs Weasley.

Wajah wanita tua itu memucat.

‘Kaaaau!’ dia melolong, matanya melolot ketika melihat lelaki itu. ‘Pengkhianat keluarga, yang paling dibenci, darah dagingku yang membuat malu!’

‘Kubilang — DIAM!’ raung lelaki itu, dan dengan usaha menakjubkan dia dan Lupin berhasil memaksa tirai itu tertutup lagi.

Pekikan wanita tua itu menghilang dan timbul keheningan yang menggema.

Sambil sedikit terengah-engah dan mengusapkan rambut gelap panjangnya keluar dari mata, ayah angkat Harry Sirius berpaling menatapnya.

‘Halo, Harry,’ dia berkata dengan muram, ‘kulihat kau sudah bertemu ibuku.’

 

BAB 5:

Order of the Phoenix

‘Kau –?’

‘Ibuku tua tersayang, yeah,’ kata Sirius. ‘Kami telah mencoba menurunkannya selama sebulan tapi kami mengira dia menempatkan Mantera Lekat Permanen di bagian belakang kanvas. Ayo turun kek bawah, cepatlah, sebelum mereka semua terbangun lagi.’

‘Tapi apa yang dilakukan potret ibumu di sini?’ Harry bertanya, bingung, ketika mereka melalui pintu ke aula dan memimpin jalan menuruni tangga batu sempit, yang lain persis di belakang mereka.

‘Belum adakah yang memberitahumu? Ini rumah orang tuaku,’ kata Sirius. ‘Tapi aku Black terakhir yang tersisa, jadi milikku sekarang. Aku menawarkannya kepada Dumbledore untuk dijadikan Markas Besar — kira-kira satu-satunya hal berguna yang telah dapat kulakukan.’

Harry, yang telah mengharapkan penyambutan yang lebih baik, mencatat betapa getir kedengarannya suara Sirius. Dia mengikuti ayah angkatnya ke dasar tangga dan melalui sebuah pintu yang menuju ke dapur bawah tanah.

Dapur itu hampir sama suramnya dengan aula di atas, sebuah ruangan besar dengan dinding-dinding batu yang kasar. Sebagian besar cahaya datang dari api besar di sisi jauh ruangan itu. Seberkas asap pipa menggantung di udara seperti asap-asap pertempuran, melalui asap itu tampak bentuk-bentuk menakutkan pot dan panci besi berat yang bergantungan dari langit-langit yang gelap. Banyak kursi telah dijejalkan ke dalam ruangan untuk rapat dan sebuah meja kayu berdiri di tengah-tengah mereka, diseraki dengan gulungan-gulungan perkamen, piala-piala, botol-botol anggur kosong, dan sebuah tumpukan yang tampak seperti kain rombengan. Mr Weasley dan putra tertuanya Bill sedang berbicara dengan pelan dengan kepala mereka berdekatan di ujung meja.

Mrs Weasley berdehem.Suaminya, seorang lelaki kurus berambut merah yang mulai botak yang mengenakan kacamata bertanduk, melihat sekeliling dan melompat berdiri.

‘Harry!’ Mr Weasley berkata, sambil bergegas maju menyalaminya, dan menjabat tangannya dengan bersemangat. ‘Senang berjumpa denganmu!’

Melalui bahunya Harry melihat Bill, yang masih berambut gondrong diikat, buru-buru menggulung perkamen panjang yang tertinggal di meja.

‘Perjalananmu menyenangkan, Harry?’ Bill berseru, sambil mencoba mengumpulkan dua belas perkamen seketika. ‘Kalau begitu Mad-Eye tidak membuatmu datang melalui Greenland?’

‘Dia mencoba,’ kata Tonks sambil berjalan ke arahnya untuk membantu Bill dan segera menjatuhkan sebuah lilin ke potongan perkamen terakhir. ‘Oh tidak — sori –‘

‘Ini, sayang,’ kata Mrs Weasley, terdengar putus asa, dan dia memperbaiki perkamen itu dengan sebuah lambaian tongkat. Dalam kilatan cahaya yang disebabkan oleh mantera Mrs Weasley Harry menangkap sekilas apa yang tampak seperti denah bangunan.

Mrs Weasley telah melihatnya memperhatikan. Dia merenggut denah itu dari meja dan menjejalkannyay ke lengan Bill yang telah penuh beban.

‘Benda-benda seperti ini seharusnya langsung dibersihkan pada akhir rapat,’ dia berkata dengan pedas, sebelum berjalan menuju sebuah lemari kuno tempat dia mengeluarkan piring-piring makan malam.

Bill mengeluarkan tongkatnya, bergumam, ‘Evanesco!’ dan gulungan-gulungan itu menghilang.

‘Duduklah, Harry,’ kata Sirius. ‘Kau sudah pernah bertemu Mundungus, ‘kan?’

Benda yang dikira Harry tumpukan kain rombeng mengeluarkan dengkuran panjang

lalu tersentak bangun.

‘Ses’orang panggil namaku?’ Mundungus bergumam dengan mengantuk. ‘Aku s’tuju dengan Sirius …’ Dia mengangkat sebuah tangan yang sangat berbonggol ke udara seolah-olah sedang memberi suara, matanya yang terkulai dan merah tidak terfokus.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.