Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

Dolohov menyeringai. Dengan tangannya yang bebas, dia menunjuk dari ramalan yang masih tergenggam di tangan Harry, kepada dirinya sendiri, lalu kepada Hermione. Walaupun dia tidak lagi bisa berbicara, maksudnya tidak mungkin lebih jelas lagi. Berikan ramalannya kepadaku, atau kamu akan mengalami yang sama ,sepertinya …

‘Seperti kamu tidak akan membunuh kami semua, begitu aku menyerahkannya!’ kata Harry.

Deru kepanikan di dalam dirinya menghalanginya berpikir dengan benar: dia meletakkan satu tangan ke bahu Hermione, yang masih hangat, walaupun tidak berani memandangnya dengan sepantasnya. Jangan biarkan dia mati, jangan biarkan dia mati, salahku kalau dia mati…

‘Ababun yang kau lakukan, Harry,’ kata Neville dengan sengit dari bawah meja, sambil menurunkan tangannya untuk memperlihatkan hidung yang jelas patah dan darah bercucuran ke mulut dan dagunya, ‘jagan berikan kepadanya!’

Lalu ada bunyi benturan di luar pintu dan Dolohov melihat lewat bahunya — Pelahap Maut berkepala bayi itu muncul di ambang pintu, kepalanya menangis, tinjunya yang besar masih memukul-mukul tak terkendali pada semua hal di sekitarnya. Harry meraih peluangnya:

‘PETRIFICUS TOTALUS!’

Mantera itu mengenai Dolohov sebelum dia bisa menghadangnya dan dia roboh ke depan melintang di atas temannya, mereka berdua kaku seperti papan dan tidak bisa bergerak seincipun.

‘Hermione,’ Harry berkata seketika, sambil mengguncangkannya selagi Pelahap Maut berkepala bayi menghilang dari pandangan lagi. ‘Hermione, bangun …’

‘Aba yang dilakukannya kebadanya?’ kata Neville, sambil merangkak keluar dari bawah meja untuk berlutut ke sisinya yang lain, darah mengucur dari hidungnya yang membengkak cepat.

‘Aku tak tahu …’

Neville meraba-raba pergelangan tangan Hermione.

‘Idu ada deyut, Harry, adu yakin itu.’

Gelombang kelegaan yang begitu kuat menyapu diri Harry sehingga sejenak dia

merasa kepalanya ringan.

‘Dia masih hidup?’

‘Yeah, dudira begitu.’

Ada jeda sementara Harry mendengarkan lekat-lekat mencari suara langkah kaki lagi, tetapi yang bisa didengarnya hanya rengekan Pelahap Maut berkepala bayi itu di ruangan berikutnya.

‘Neville, kita tidak jauh dari pintu keluar,’ Harry berbisik, ‘kita persis di sebelah ruangan melingkar itu … kalau saja kita bisa menyeberangkan kalian dan menemukan pintu yang benar sebelum para Pelahap Maut lain datang, aku yakin kamu bisa membawa Hermione ke koridor dan ke dalam lift … lalu kalian bisa menemukan seseorang … menghidupkan tanda bahaya …’

‘Dan aba yang akan kabu lakukan?’ kata Neville, sambil menyeka hidungnya yang berdarah dengan lengan bajunya dan merengut kepada Harry.

‘Aku harus menemukan yang lainnya,’ kata Harry.

‘Well, adu akan menjari mereka besamamu,’ kata Neville dengan tegas.

‘Tapi Hermione –‘

‘Kida akan bawa dia besama kida,’ kata Neville tegas. ‘Adu akan bawa dia — kabu lebih pandai betarung degan bereka daripada adu –‘

Dia berdiri dan menyambar salah satu lengan Hermione, sambil melotot kepada Harry, yang ragu-ragu, lalu meraih lengan yang lain dan membantu mengangkat Hermione yang lemah dari bahu Neville.

‘Tunggu,’ kata Harry, sambil merenggut tongkat Hermione dari lantai dan mendorongnya ke tangan Neville, ‘kamu sebaiknya mengambil ini.’

Neville menendang ke samping pecahan-pecahan tongkatnya sendiri selagi mereka berjalan lambat-lambat ke pintu.

‘Nenekku akan membunuhku,’ kata Neville dengan parau, darah memercik dari hidungnya selagi dia berbicara, ‘idu dongkad laba ayahku.’

Harry menjulurkan kepalanya keluar dari pintu dan memandang ke sekitar dengan hatihati. Si Pelahap Maut berkepala bayi sedang menjerit-jerit dan memukul-mukul bendabenda, menjatuhkan jam-jam besar dan membalikkan meja-meja, sambil menangis dan kebingungan, sementara lemari berpintu kaca yang Harry curigai sekarang mengandung Pembalik Waktu terus jatuh, pecah dan memperbaiki sendiri di dinding di belakang mereka.

‘Dia tidak akan pernah memperhatikan kita,’ bisiknya. ‘Ayolah … tetapdekat ke belakangku …’

Mereka berjalan pelan-pelan keluar dari kantor itu dan kembali menuju pintu ke lorong hitam itu, yang sekarang tampaknya sepenuhnya ditinggalkan. Mereka berjalan beberapa langkah ke depan, Neville terhuyung-huyung sedikit karena berat Hermione; pintu Ruang Waktu berayun menutup di belakang mereka dan dinding-dinding mulai berputar sekali lagi. Hantaman baru-baru ini pada belakang kepala Harry tampaknya menggoyahkannya; dia menyipitkan matanya, sambil berayun sedikit, sampai dinding-dinding berhenti bergerak lagi. Dengan hati mencelos, Harry melihat bahwa tanda-tanda silang menyala yang dibuat Hermione telah menghilang dari pintu-pintu.

‘Jadi ke arah mana menurutmu–?’

Tetapi sebelum mereka bisa membuat keputusan ke arah mana harus dicoba, sebuah pintu di kanan mereka membuka dan tiga orang jatuh keluar darinya.

‘Ron!’ teriak Harry dengan parau, sambil berlari ke arah mereka. ‘Ginny — apakah kalian baik –?’

‘Harry,’ kata Ron, sambil terkikik lemah, tiba-tiba maju, sambil menyambar bagian depan jubah Harry dan menatap kepadanya dengan mata tidak fokus, ‘di sana kamu … ha ha ha … kamu tampak lucu, Harry … kamu berantakan sekali …’

Wajah Ron sangat putih dan sesuatu yang gelap mengucur dari sudut mulutnya. Saat berikutnya lututnya roboh, tetapi dia masih mencengkeram bagian depan jubah Harry, sehingga Harry tertarik menjadi bungkuk.

‘Ginny?’ Harry berkata dengan takut. ‘Apa yang terjadi?’

Tetapi Ginny menggelengkan kepalanya dan meluncur dari tembok ke posisi duduk, sambil terengah-engah dan memegang mata kakinya.

‘Kukira mata kakinya retak, aku mendengar bunyi patah,’ bisik Luna, yang sedang membungkuk ke atasnya dan dia sendiri tampak tidak terluka. ‘Empat dari mereka mengejar kami ke sebuah ruangan gelap yang penuh planet; tempat itu sangat aneh, kadang-kadang kami hanya melayang di kegelapan –‘

‘Harry, kami melihat Uranus dari dekat!’ kata Ron, masih terkikik lemah. ‘Ngerti, Harry? Kami melihat Uranus — ha ha ha –‘

Sebuah gelembung darah timbul di sudut mulut Ron dan pecah.

‘– bagaimanapun, salah satu dari mereka menyambar kaki Ginny, aku menggunakan Kutukan Pengecil dan meledakkan Pluto di hadapannya, tetapi …’

Luna memberi isyarat tanpa harapan kepada Ginny, yang sedang bernapas dengan lemah, matanya masih tertutup.

‘Dan bagaimana dengan Ron?’ kata Harry dengan takut, ketika Ron terus terkikik, masih bergantungan di bagian depan jubah Harry.

‘Aku tidak tahu dengan apa mereka menyerang dia,’ kata Luna dengan sedih, ‘tapi dia jadi agak aneh, aku hampir tidak bisa membawanya sama sekali.’

‘Harry,’ kata Ron, sambil menarik telinga Harry ke mulutnya dan masih terkikik-kikik dengan lemah, ‘kau tahu siapa anak perempuan ini, Harry? Dia Loony … Loony Lovegood … ha ha ha.’

‘Kita harus keluar dari sini,’ kata Harry dengan tegas. ‘Luna, bisakah kamu bantu Ginny?’

‘Ya,’ kata Luna, sambil menusukkan tongkatnya ke balik telinganya untuk disimpan, lalu meletakkan satu lengan melingkari pinggul Ginny dan menariknya bangkit.

‘Cuma mata kakiku, aku bisa melakukannya sendiri!’ kata Ginny dengan tidak sabar, tetapi saat berikutnya dia tumbang ke samping dan meraih Luna untuk mendapat dukungan. Harry menarik lengan Ron melewati bahunya seperti, berbulan-bulan yang lalu, dia menarik lengan Dudley. Dia memandang berkeliling: mereka punya peluang satu banding dua belas untuk mendapatkan pintu keluar yang tepat pada kali pertama –

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.