Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

‘… dan tak satupun akan datang setelah …’ kata figur seorang wanita muda.

Kedua figur yang muncul dari bola-bola yang pecah telah melebur ke udara kosong. Tak ada yang tersisa dari mereka atau rumah mereka terdahulu kecuali pecahan-pecahan kaca di atas lantai. Namun, mereka telah memberi Harry gagasan. Masalahnya adalah menyampaikannya kepada yang lainnya.

‘Kalian belum memberitahuku apa yang begitu istimewa tentang ramalan yang seharusnya kuserahkan ini,’ dia berkata, mengulur waktu. Dia menggerakkan kakinya lambat-lambat ke samping, mencari-cari kaki orang lain.

‘Jangan main-main dengan kami, Potter,’ kata Malfoy.

‘Aku tidak sedang main-main,’ kata Harry, setengah pikirannya pada percakapan itu, setengah lagi pada kakinya yang berkeliaran. Dan kemudian dia menemukan jari kaki orang lain dan menginjaknya. Tarikan napas tajam di belakangnya memberitahunya bahwa jari-jari itu milik Hermione.

‘Apa?’ Hermione berbisik.

‘Dumbledore tak pernah memberitahumu alasan kamu memiliki bekas luka itu tersembunyi di dalam Departemen Misteri?’ Malfoy mencemooh.

‘Aku — apa?’ kata Harry. Dan sejenak dia lupa akan rencananya. ‘Kenapa dengan bekas lukaku?’

‘Apa?’ bisik Hermione lebih mendesak di belakangnya.

‘Mungkinkah ini?’ terdengar senang penuh kedengkian; beberapa Pelahap Maut tertawa lagi, dan di balik tawa mereka, Harry berdesis kepada Hermione, menggerakkan bibirnya sesedikit mungkin, ‘Banting rak –‘

‘Dumbledore tak pernah bilang kepadamu?’ Malfoy mengulangi. ‘Well, ini menjelaskan mengapa kamu tidak datang lebih awal, Potter, Pangeran Kegelapan bertanya-tanya mengapa –‘

‘– waktu aku bilang sekarang –‘

‘– kamu tidak datang sambil berlari ketika beliau memperlihatkan tempat persembunyiannya kepadamu di dalam mimpi-mimpimu. Beliau mengira keingintahuan alamiah akan membuatmu mau mendengar perkataan setepat-tepatnya …’

‘Begitukah?’ kata Harry. Di belakangnya dia merasakan bukannya mendengar Hermione menyampaikan pesannya kepada yang lainnya dan dia terus berbicara, untuk mengalihkan perhatian para Pelahap Maut. ‘Jadi dia mau aku datang mengambilnya, bukan begitu? Kenapa’

‘Kenapa?’ Malfoy terdengar sangat senang. ‘Karena satu-satunya orang yang diizinkan mengambil ramalan dari Departemen Misteri, Potter, adalah mereka yang ditulis dalam ramalan itu, seperti yang Pangeran Kegelapan temukan saat beliau mencoba menggunakan orang-orang lainnya untuk mencurinya bagi beliau.’

‘Dan mengapa dia mau mencuri ramalan mengenai aku?’

‘Mengenai kalian berdua, Potter, mengenai kalian berdua … tidakkah kamu pernah bertanya-tanya mengapa Pangeran Kegelapan mencoba membunuhmu saat bayi?’

Harry menatap ke lubang mata tempat mata kelabu Malfoy mengkilat. Apakah ramalan ini alasan orang tua Harry mati, alasan dia membawa bekas luka berbentuk sambaran kilat? Apakah jawaban ini semua tergenggam di dalam tangannya?’

‘Seseorang membuat ramalan tentang Voldemort dan aku?’ dia berkata pelan, sambil menatap kepada Lucius Malfoy, jari-jarinya mengetat pada bola kaca hangat di dalam tangannya. Benda itu hampir tidak lebih besar daripada sebuah Snitch dan masih kasar karena debu. ‘Dan dia membuatku datang dan mengambilnya? Kenapa dia tidak bisa datang dan mengambilnya sendiri?’

‘Mengambilnya sendiri?’ jerit Bellatrix, melampaui tawa sinting.

‘Pangeran Kegelapan, berjalan ke dalam Kementerian Sihir, saat mereka semua begitu manisnya mengabaikan kembalinya beliau? Pangeran Kegelapan, menampakkan diri kepada para Auror, padahal saat itu mereka sedang membuang waktu mereka pada sepupuku tersayang?’

‘Jadi, dia menyuruh kalian melakukan pekerjaan kotor baginya, bukan?’ kata Harry. ‘Seperti dia mencoba membuat Sturgis mencurinya — dan Bode?’

‘Sangat bagus, Potter, sangat bagus …’ kata Malfoy lambat-lambat. ‘Tapi Pangeran Kegelapan tahu kamu tidak bod–‘

‘SEKARANG!’ jerit Harry.

Lima suara berbeda di belakangnya berteriak, ‘REDUCIO!’ Lima kutukan melayang ke lima arah berbeda dan rak-rak di seberang mereka meledak saat kutukan itu mengenainya; susunan menjulang itu berayun ketika seratus bola kaca meletus pecah, figur-figur seputih mutiara membentang ke udara dan melayang di sana, suara mereka menggema dari siapa yang tahu masa lalu mana yang sudah lama mati dari antara hujan kaca yang terbanting dan serpih-serpih kayu yang sekarang menghujani lantai –

‘LARI!’ Harry berteriak, sementara rak-rak itu berayun berbahaya dan lebih banyak bola kaca lagi mulai berjatuhan dari atas. Dia meraih segenggam jubah Hermione dan menyeretnya maju, sambil menempatkan satu lengan di atas kepalanya selagi potonganpotongan rak dan pecahan-pecahan kaca menghujani mereka. Seorang Pelahap Maut menerjang maju melalui awan debu dan Harry menyikutnya keras-keras di wajah yang bertopeng; mereka semuanya menjerit, ada teriakan kesakitan, dan bunyi hantaman bergemuruh ketika rak-rak itu saling menjatuhi, secara aneh menggemakan potonganpotongan para Penglihat yang dilepaskan dari bola-bola mereka –

Harry mendapati jalan di depan bebas dan melihat Ron, Ginny dan Luna berlari cepat melewatinya, lengan-lengan mereka di atas kepala; sesuatu yang berat membentur sisi wajahnya tetapi dia hanya menundukkan kepalanya dan berlari cepat ke depan; sebuah tangan menangkapnya di bahu; dia mendengar Hermione berteriak, ‘Stupefy!’ Tangan itu melepaskannya seketika –

Mereka berada di ujung baris sembilan puluh tujuh; Harry berbelok ke kanan dan mulai berlari cepat dengan bersemangat; dia bisa mendengar langkah-langkah kaki tepat di belakang mereka dan suara Hermione yang mendesak Neville untuk terus; tepat di depan, pintu tempat mereka masuk terbuka; Harry bisa melihat cahaya berkelap-kelip toples itu; dia melalui ambang pintu dengan cepat, ramalan itu masih tergenggam erat dan aman di tangannya, dan menunggu yang lainnya menderu cepat melalui ambang pintu sebelum membanting pintu di belakang mereka –

‘Colloportus!’ Hermione terengah-engah dan pintu itu menyegel sendiri dengan bunyi yang aneh.

‘Di mana — di mana yang lainnya?’ Harry terkesiap.

Dia mengira Ron, Luna dan Ginny ada di depan mereka, bahwa mereka akan menunggu di dalam ruangan ini, tetapi tak seorangpun di sana.

‘Mereka pasti salah jalan!’ bisik Hermione, dengan rasa ngeri di wajahnya.

‘Dengar!’ bisik Neville.

Langkah-langkah kaki dan teriakan-teriakan menggema dari balik pintu yang baru saja mereka segel; Harry meletakkan telinganya dekat ke pintu untuk mendengarkan dan mendengar Lucius Malfoy meraung, ‘Tinggalkan Nott, tinggalkan dia, kataku — lukalukanya tidak ada apa-apanya bagi Pangeran Kegelapan dibandingkan dengan kehilangan ramalan itu. Jugson, kembali ke sini, kita perlu pengaturan! Kita akan dibagi ke dalam pasangan-pasangan dan mencari, dan jangan lupa, bersikap lembut pada Potter sampai kita dapat ramalan itu, kalian bisa membunuh yang lainnya kalau perlu –Bellatrix, Rodolphus, kalian ambil yang kiri; Crabbe, Rabastan, pergi ke kanan — Jugson, Dolohov, pintu tepat di depan — Macnair dan Avery, lewat sini — Rookwood, sebelah sana –Mulciber, ikut aku!’

‘Apa yang harus kita lakukan?’ Hermione bertanya kepada Harry, gemetaran dari kepala hingga kaki.

‘Well, sebagai permulaan, kita tidak berdiri di sini menunggu mereka menemukan kita,’ kata Harry. ‘Ayo pergi dari pintu ini.’ Mereka berlari sepelan yang mereka bisa, melewati toples berkilau tempat telur kecil itu menetas dan utuh kembali, menuju pintu keluar ke lorong melingkar di ujung jauh ruangan itu. Mereka hampir sampai di sana saat Harry mendengar sesuatu yang besar dan berat menubruk pintu yang telah Hermione sihir tertutup.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.