Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

Mereka terus terbang melalui kegelapan yang semakin pekat; wajah Harry terasa kaku dan dingin, kakinya mati rasa akibat mencengkeram sisi tubuh Thestral itu begitu erat, tetapi dia tidak berani menggeser posisinya kalau-kalau dia tergelincir … dia tuli akibat deru bergemuruh udara di telinganya, dan mulutnya kering dan beku akibat udara malam yang dingin. Dia telah kehilangan rasa berapa jauh mereka pergi; semua keyakinannya ada pada binatang di bawahnya, yang masih melintas dengan tujuan tertentu melalui malam, hampir tidak mengepakkan selagi dia ngebut ke depan terus.

Kalau mereka terlambat …

Dia masih hidup, dia masih melawan, aku bisa merasakannya …

Kalau Voldemort memutuskan Sirius tidak akan menyerah …

Aku akan tahu …

Perut Harry tersentak; kepala Thestral itu mendadak mengarah ke tanah dan dia bahkan meluncur ke depan beberapa inci di sepanjang lehernya. Mereka turun akhirnya … dia mengira mendengar sebuah pekik di belakangnya dan berputar dengan berbahaya, tetapi tidak bisa melihat tanda-tanda tubuh jatuh … mungkin mereka semua mengalami guncangan dari pergantian arah itu, seperti dirinya.

Dan sekarang sinar-sinar jingga cemerlang semakin besar dan bulat di segala sisi; mereka bisa melihat puncak gedung-gedung, aliran lampu-lampu seperti mata serangga yang berkilauan, petak-petak kuning pucat yang merupakan jendela-jendela. Dengan sangat mendadak, kelihatannya, mereka meluncur dengan cepat menuju trotoar; Harry mencengkeram Thestral dengan setiap tenaganya, menguatkan diri untuk hantaman mendadak, tetapi kuda itu menyentuh tanah yang gelap seringan bayangan dan Harry meluncur dari punggungnya, memandang sekeliling ke jalan tempat tong sampah yang kepenuhan itu masih berdiri dekat kotak telepon rusak, keduanya kehilangan warnan dalam cahaya jingga terang dari lampu-lampu jalan.

Ron mendarat di dekat situ dan segera turun dari Thestralnya ke atas trotoar.

‘Takkan pernah lagi,’ dia berkata, sambil berjuang untuk bangkit. Dia bergerak akan menjauh dari Thestralnya, tetapi, karena tidak bisa melihatnya, bertubrukan dengan kaki belakangnya dan hampir terjatuh lagi. ‘Takkan pernah, takkan pernah lagi … itu yang terburuk –‘

Hermione dan Ginny mendarat di kedua sisinya: keduanya meluncur turun dari tunggangan mereka sedikit lebih anggun daripada Ron, walaupun dengan ekspresi lega yang sama karena kembali ke tanah yang kokoh; Neville melompat turun, gemetaran; dan Luna turun dengan tenang.

‘Kalau begitu, ke mana kita pergi dari sini?’ dia bertanya kepada Harry dengan suara berminat yang sopan, seolah-olah ini semua hanyalah tamasya yang menarik.

‘Ke sana,’ dia berkata. Dia memberikan Thestralnya tepukan cepat berterima kasih, lalu memimpin jalan cepat-cepat ke kotak telepon rusak itu dan membuka pintunya. ‘Masuklah!’ dia mendesak yang lainnya, ketika mereka bimbang.

Ron dan Ginny berjalan cepat ke dalam dengan patuh; Hermione, Neville dan Luna menyelinap masuk setelah mereka; Harry memandang sekilas sekali lagi kepada Thestral-Thestral itu, yang sekarang mengais-ngais mencari sisa-sisa makanan busuk di dalam tong sampah, lalu memaksakan dirinya ke dalam kotak mengikuti Luna.

‘Siapapun yang paling dekat dengan alat penerima, putar enam dua empat empat dua!’ dia berkata.

Ron melakukannya, lengannya bengkok dengan aneh untuk meraih pemutarnya; ketika alat itu berputar kembali ke tempat suara wanita yang tenang terdengar di dalam kotak itu.

‘Selamat datang ke Kementerian Sihir. Mohon sebutkan nama dan urusan Anda.’

‘Harry Potter, Ron Weasley, Hermione Granger,’ Harry berkata dengan sangat cepat, ‘Ginny Weasley, Neville Longbottom, Luna Lovegood … kami ke sini untuk menyelamatkan seseorang, kecuali Menterimu bisa melakukannya terlebih dahulu!’

‘Terima kasih,’ kata suara wanita tenang itu. ‘Para pengunjung, harap ambil lencanalencana itu dan sematkan ke bagian depan jubah kalian.’

Setengah lusin lencana meluncur keluar dari luncuran logam tempat koin-koin kembalian biasanya muncul. Hermione mengambilnya dan menyerahkan tanpa suara kepada Harry lewat kepala Ginnya; dia memandang sekilas ke yang teratas, Harry Potter, Misi Penyelamatan.

‘Para pengunjung Kementerian, Anda sekalian diharuskan melalui pemeriksaan dan menyerahkan tongkat Anda untuk diregistrasi di meja keamanan, yang terletak di ujung jauh dari Atrium.’

‘Baik!’ kata Harry keras-keras, ketika bekas lukanya berdenyut lagi. ‘Sekarang bisakah kita bergerak?’

Lantai kotak telepon bergetar dan trotoar naik melewati jendela-jendela kacanya; Thestral yang sedang mengais-ngais sampah bergeser ke luar dari penglihatan; kegelapan menutupi kepala mereka dan dengan suara menggerinda yang menjemukan mereka merosot ke kedalamanan Kementerian Sihir.

Secuil cahaya keemasan mengenai kaki mereka dan, semakin lebar, naik ke badan mereka. Harry membengkokkan lututnya dan memegang tongkatnya sesiaga mungkin dalam kondisi terjejal seperti itu ketika dia mengintip lewat kaca untuk melihat apakah ada yang sedang menunggu mereka di Atrium, tetapi tampaknya tempat itu benar-benar kosong. Cahayanya lebih suram daripada saat siang hari, tidak ada api menyala di perapian yang terpasang di dinding, tetapi ketika lift itu berhenti dengan lancar dia melihat bahwa simbol-simbol keemasan terus berputar berkelok-kelok di langit-langit biru gelap.

‘Kementerian Sihir mengharapkan Anda melalui hari yang menyenangkan,’ kata suara wanita itu.

Pintu kotak telepon terbuka; Harry jatuh keluar, diikuti segera oleh Neville dan Luna. Satu-satunya suara di Atrium adalah deru air yang mantap dari air mancur keemasan, di mana pancaran-pancaran dari tongkat penyihir wanita dan pria, ujung anak panah centaur, puncak topi goblin dan telinga-telinga peri rumah terus menyembur ke kolam yang mengelilinginya.

‘Ayo,’ kata Harry pelan dan mereka berenam berlari cepat menyusuri aula, Harry memimpin, melewati air mancur menuju meja tulis tempat penyihir penjaga yang menimbang tongkat Harry dulu duduk, dan yang sekarang kosong.

Harry merasa yakin seharusnya ada penjaga keamanan di sana, yakin bahwa ketidakhadiran mereka adalah tanda tak mengenakkan, dan firasat tidak enaknya semakin meningkat ketika mereka melewati gerbang-gerbang keemasan ke lift. Dia menekan tombol ‘turun’ terdekat dan sebuah lift hampir segera berdentang masuk ke dalam penglihatan, jeruji-jeruji keemasannya bergeser memisah dengan bunyi kelontang hebat yang menggema dan mereka bergegas masuk. Harry menusuk tombol angka sembilan; jeruji-jeruji itu menutup dengan bunyi hantaman dan lift mulai menurun, sambil bergemerincing dan berderak. Harry tidak sadar betapa ributnya lift di hari kedatangannya bersama Mr Weasley; dia yakin hiruk-pikuk itu akan menyiagakan semua penjaga keamanan di dalam gedung itu, tetapi ketika lift berhenti, suara wanita tenang itu berkata, ‘Departemen Misteri,’ dan jeruji-jeruji bergeser membuka. Mereka melangkah keluar ke koridor di mana tak ada yang bergerak kecuali obor-obor terdekat, yang berkelap-kelip akibat aliran udara dari lift.

Harry berpaling ke pintu hitam polos itu. Setelah berbulan-bulan memimpikannya, dia ada di sini akhirnya.

‘Ayo pergi,’ dia berbisik, dan memimpin jalan menyusuri koridor itu, Luna tepat di belakangnya, memandang sekeliling dengan mulut sedikit terbuka.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.