Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

Dia menutup pintu di belakangnya dengan bantingan, meninggalkan Harry dalam penderitaan yang lebih parah daripada sebelumnya: Snape adalah harapan terakhirnya. Dia memandang kepada Umbridge, yang tampaknya merasakan hal yang sama, dadanya naik-turun dengan kemarahan dan frustrasi.

‘Baiklah,’ katanya, dan dia menarik tongkatnya keluar. ‘Sangat baik … aku tidak punya pilihan lain … ini lebih dari masalah disiplin sekolah … ini masalah keamanan Kementerian … ya … ya …’

Dia kelihatannya sedang meyakinkan dirinya sendiri untuk melakukan sesuatu. Dia sedang memindahkan berat tubuhnya dengan gugup dari satu kaki ke kaki lain, sambil menatap Harry, memukul-mukulkan tongkatnya pada telapak tangannya yang kosong dan bernapas dengan berat. Selagi Harry memperhatikannya, dia merasa tidak berdaya tanpa tongkatnya sendiri.

‘Kamu memaksaku, Potter … aku tidak mau,’ kata Umbridge, masih bergerak tidak tenang di tempat, ‘tapi kadang-kadang keadaan membenarkan penggunannya … aku yakin Menteri akan mengerti bahwa aku tidak punya pilihan.’

Malfoy mengamatinya dengan ekspresi lapar di wajahnya.

‘Kutukan Cruciatus seharusnya bisa mengendurkan lidahmu,’ kata Umbridge pelan.

‘Tidak!’ jerit Hermione. ‘Profesor Umbridge — itu ilegal!’

Tetapi Umbridge tidak memperhatikan. Ada tampang kejam, bersemangat, tidak sabar di wajahnya yang belum pernah dilihat Harry sebelumnya. Dia mengangkat tongkatnya.

‘Menteri tidak akan mau Anda melanggar hukum, Profesor Umbridge!’ jerit Hermione.

‘Apa yang tidak diketahui Cornelius tidak akan melukainya,’ kata Umbridge, yang sekarang sedikit terengah-engah selagi dia menunjuk tongkatnya ke bagian-bagian tubuh Harry yang berbeda-beda secara bergantian, tampaknya mencoba memutuskan di mana akan memberikan rasa sakit terbesar. ‘Dia tidak pernah tahu aku memerintahkan Dementor mengejar Potter musim panas lalu, tapi tetap saja dia senang diberikan kesempatan untuk mengeluarkannya dari sekolah.’

‘Anda yang melakukannya?’ Harry terkesiap. ‘Anda mengirim Dementor mengejarku?’

‘Seseorang harus bertindak,’ bisik Umbridge, selagi tongkatnya diam sambil menunjuk tepat ke kening Harry. ‘Mereka semua mengoceh tentang mendiamkan kamu dengan suatu cara — mendiskreditkan kamu — tapi aku satu-satunya yang benar-benar melakukan sesuatu … hanya saja kamu berkelit dari yang satu itu, bukan, Potter? Namun tidak hari ini, tidak sekarang –‘ Dan sambil mengambil napas dalam, dia menjerit, ‘Cruc–‘

‘TIDAK!’ teriak Hermione dengan suara pecah dari belakang Millicent Bulstrode. ‘Tidak — Harry — kita harus memberitahunya!’

‘Tidak mau!’ jerit Harry sambli menatap bagian kecil Hermione yang bisa dilihatnya.

‘Kita harus, Harry, atau dia akan tetap memaksanya keluar darimu, apa … apa gunanya?’

Dan Hermione mulai menangis dengan lemah ke punggung jubah Millicent Bulstrode. Millicent segera berhenti mencoba menggencetnya ke dinding dan mengelak darinya sambil terlihat jijik.

‘Well, well, well!’ kata Umbridge, tampak penuh kemenangan. ‘Nona Kecil Tanya-Semua akan memberi kita beberapa jawaban. Ayolah kalau begitu, nak, ayo!’

‘Er — my — nee — jangan!’ teriak Ron melalui sumbat mulutnya.

Ginny sedang menatap Hermione seolah-olah dia belum pernah melihatnya sebelumnya. Neville, masih bernapas dengan tercekik, juga sedang menatapnya. Tetapi Harry baru saja memperhatikan sesuatu. Walaupun Hermione sedang terisak-isak dengan putus asa ke dalam tangannya, tidak ada bekas air mata.

‘Aku — aku minta maaf, semuanya,’ kata Hermione. ‘Tapi –aku tidak bisa menahannya –‘

‘Itu benar, itu benar, nak!’ kata Umbridge sambil meraih pundak Hermione, mendorongnya ke kursi kain yang ditinggalkan dan mencondongkan badan ke atasnya. ‘Kalau begitu sekarang … dengan siapa Potter berkomunikasi baru saja?’

‘Well,’ Hermione menelan ludah, ‘well, dia sedang mencoba berbicara kepada Profesor Dumbledore.’

Ron membeku, matanya lebar; Ginny berhenti mencoba menginjak jari kaki penangkapnya yang dari Slytherin; dan bahkan Luna tampak agak terkejut. Untung saja, perhatian Umbridge dan antek-anteknya terfokus terlalu khusus pada Hermione untuk memperhatikan tanda-tanda mencurigakan ini.

‘Dumbledore?’ kata Umbridge dengan bersemangat. ‘Kalau begitu, kamu tahu di mana Dumbledore?’

‘Well … tidak!’ Hermione tersedu sedan. ‘Kami sudah mencoba Leaky Cauldron di Diagon Alley dan Three Broomsticks dan bahkan Hog’s Head –‘

‘Gadis idiot — Dumbledore tidak akan duduk di sebuah bar saat seluruh Kementerian sedang mencarinya!’ teriak Umbridge, kekecewaan terukir di setiap garis kendur wajahnya.

‘Tapi — tapi kami perlu memberitahunya sesuatu yang penting!’ rengek Hermione, sambil memegang tangannya lebih erat lagi ke wajahnya, yang Harry tahu, bukan karena sedih, tetapi untuk menyamarkan tidak adanya air mata.

‘Ya?’ kata Umbridge dengan serbuan kembali semangat yang mendadak. ‘Apa yang ingin kalian beritahukan kepadanya?’

‘Kami … kami ingin memberitahunya itu sudah s-siap!’ Hermione tercekik.

‘Apa yang siap?’ tuntut Umbridge, dan sekarang dia mencengkeram bahu Hermione lagi dan mengguncangnya sedikit. ‘Apa yang siap, nak?’

‘Sen … senjata itu,’ kata Hermione.

‘Senjata? Senjata?’ kata Umbridge, dan matanya tampaknya meletus karena bersemangat. ‘Kalian telah mengembangkan semacam metode perlawanan? Sebuah senjata yang bisa kalian gunakan untuk melawan Kementerian? Atas perintah Profesor Dumbledore, tentu saja?’

‘Y-y-ya,’ Hermione terengah-engah, ‘tetapi dia harus pergi sebelum siap dan se-sesekarang kami sudah menyelesaikannya untuknya, dan kami tidak b-b-bisa menemukannya u-u-untuk memberitahunya!’

‘Senjata seperti apa?’ kata Umbridge dengan kasar, tangannya yang gemuk pendek masih erat di bahu Hermione.

‘Kami tidak b-b-benar-benar mengerti,’ kata Hermione, sambil terisak keras. ‘Kami h-hhanya melakukan apa yang P-P-Profesor Dumbledore suruh l-l-lakukan.’

Umbridge meluruskan diri, tampak gembira.

‘Bawa aku ke senjata itu,’ katanya.

‘Aku tidak mau memperlihatkan kepada … mereka,’ kata Hermione dengan nyaring, sambil memandang berkeliling kepada anak-anak Slytherin melalui jari-jarinya.

‘Kamu tidak boleh membuat persyaratan,’ kata Profesor Umbridge dengan kasar.

‘Baik,’ kata Hermione, sekarang tersedu-sedu ke dalam tangannya lagi. ‘Baik … biarkan mereka melihatnya, kuharap mereka menggunakannya kepadamu! Nyatanya, aku berharap kamu mengundang banyak orang untuk datang melihat! It — itu akan pantas kamu dapatkan — oj, aku akan senang kalau se — seluruh sekolah tahu di mana letaknya, dan bagaimana m-menggunakannya, dan kemudian kalau kamu membuat salah satu dari mereka marah mereka akan bisa m-mengatasimu!’

Kata-kata ini punya pengaruh kuat pada Umbridge: dia memandang sekilas dan penuh curiga kepada Regu Penyelidiknya, matanya yang menonjol diam sebentar pada Malfoy, yang terlalu lambat menyamarkan tampang bersemangat dan rakus yang muncul di wajahnya.

Umbridge menatap Hermione lagi agak lama, lalu berkata dengan apa yang jelas dipikirnya suara keibuan.

‘Baiklah, sayang, cuma kau dan aku … dan kita akan bawa Potter juga, baik? Bangkitlah, sekarang.’

‘Profesor,’ kata Malfoy dengan bersemangat, ‘Profesor Umbridge, kukira beberapa dari Regu harus ikut bersama Anda untuk menjaga –‘

‘Aku seorang pejabat Kementerian yang berijazah penuh, Malfoy, apakah kamu benarbenar mengira aku tidak bisa menangani dua remaja tak bertongkat sendirian?’ tanya Umbridge dengan tajam. ‘Bagaimanapun, kedengarannya senjata ini bukan sesuatu yang harus dilihat anak-anak sekolah. Kamu akan tetap di sini sampai aku kembali dan memastikan tak seorangpun dari yang ini –‘ dia memberi isyarat kepada Ron, Ginny, Neville dan Luna ‘– lolos.’

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.