Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

‘Aku baik,’ dia berkata singkat, sambil menarik Jubah Gaib keluar dari tasnya. Sejujurnya, bekas lukanya sakit, tetapi begitu parah sehingga dia berpikir Voldemort belum memberi Sirius pukulan mematikan; jauh lebih sakit dari ini waktu Voldemort menghukum Avery …

‘Ini,’ katanya; dia melemparkan Jubah Gaib menutupi mereka berdua dan mereka berdiri sambil mendengarkan dengan hati-hati pada gumaman Latin patung di depan mereka.

‘Kalian tidak boleh datang ke sini!’ Ginny sedang berseru kepada kerumunan. ‘Tidak, maaf, kalian harus berputar ke tangga putar, seseorang melepaskan Gas Pencekik di sekitar sini –‘

Mereka bisa mendengar orang-orang mengeluh; satu suara masam berkata, ‘aku tidak melihat ada gas.’

‘Itu karena tidak berwarna,’ kata Ginny dengan suara putus asa yang meyakinkan, ‘tapi kalau kamu mau berjalan melewatinya, teruskan, dengan begitu kami akan punya tubuhmu sebagai bukti untuk idiot berikutnya yang tidak percaya pada kami.’

Lambat laun, kerumunan menipis. Berita tentang Gas Pencekik tampaknya telah menyebar; orang-orang tidak berdatangan ke arah sini lagi. Saat akhirnya daerah sekitar kosong, Hermione berkata pelan, ‘Kukira hanya sebaik itulah yang bisa kita dapat, Harry — ayolah, mari lakukan.’

Mereka bergerak maju, diselubungi Jubah. Luna sedang berdiri memunggungi mereka di ujung jauh koridor. Ketika mereka melewati Ginny, Hermione berbisik, ‘Bagus … jangan lupa tandanya.’

‘Tanda apa?’ gumam Harry, ketika mereka mendekati pintu Umbridge.

‘Nyanyian keras “Weasley adalah Raja kami” kalau mereka melihat Umbridge datang,’ jawab Hermione, ketika Harry memasukkan bilah pisau Sirius ke celah antara pintu dan dinding. Kunci berbunyi membuka dan mereka memasuki kantor itu.

Anak-anak kucing yang mengilat sedang mandi sinar matahari petang yang menghangatkan plakat mereka, tetapi selain itu kantor itu hening dan tidak berpenghuni seperti kali terakhir. Hermione menghela napas lega.

‘Kukira dia mungkin telah menambahkan pengamanan tambahan setelah Niffler kedua itu.’

Mereka menarik lepas Jubah itu; Hermione bergegas ke jendela dan berdiri di luar pandangan, sambil mengintip ke bawah ke halaman sekolah dengan tongkatnya dikeluarkan. Harry berlari ke perapian, menyambar pot bubuk Floo dan melemparkan sejumput ke dalam kisi, menyebabkan nyala api zamrud timbul di sana. Dia berlutut cepat-cepat, memasukkan kepalanya ke dalam api yang menari-nari dan berteriak, ‘Grimmauld Place nomor dua belas!’

Kepalanya mulai berputar seolah-olah dia baru saja turun permainan di udara walaupun lututnya terus tertahan di lantai kantor yang dingin. Dia terus memicingkan matanya melawan abu yang berputar dan saat putarannya berhenti dia membuka mata dan mendapati dirinya memandang ke dapur panjang yang dingin dari Grimmauld Place.

Tak seorangpun ada di sana. Dia sudah menduga ini, namun belum siap menghadapi gelombang campuran rasa ngeri dan panik yang tampaknya meledak di perutnya saat melihat ruangan yang sepi itu.

‘Sirius?’ dia berteriak. ‘Sirius, apakah kamu di sana?’

Suaranya menggema di ruangan itu, tetapi tidak ada jawaban kecuali bunyi decit kecil di sebelah kanan api.

‘Siapa di sana?’ dia berseru, sambil bertanya-tanya apakah itu cuma seekor tikus.

Kreacher si peri-rumah bergerak pelan ke dalam pandangan. Dia terlihat sangat senang tentang sesuatu, walaupun dia tampaknya baru saja mengalami luka mengerikan di kedua tangannya, yang diperban berat.

‘Kepala bocah Potter itu ada di dalam api,’ Kreacher memberitahu dapur yang kosong itu, sambil mencuri pandang aneh penuh kemenangan sembunyi-sembunyi kepada Harry. ‘Untuk apa dia datang, Kreacher ingin tahu?’

‘Di mana Sirius, Kreacher?’ Harry menuntut.

Peri-rumah itu tertawa kecil menciut-ciut.

‘Tuan sudah keluar, Harry Potter.’

‘Ke mana dia pergi? Ke mana dia pergi, Kreacher?’

Kreacher hanya terkekeh.

‘Kuperingatkan kamu!’ kata Harry, sepenuhnya sadar bahwa jangkauannya untuk memberikan hukuman kepada Kreacher hampir tidak ada dalam kedudukan ini. ‘Bagaimana dengan Lupin? Mad-Eye? Salah satu dari mereka, apakah ada yang di sana?’

‘Tak seorangpun di sini kecuali Kreacher!’ kata peri itu dengan senang, dan sambil berpaling dari Harry dia mulai berjalan lambat-lambat menuju pintu di ujung dapur. ‘Kreacher pikir dia akan bincang-bincang sedikit dengan nyonyanya sekarang, ya, dia lama tidak punya kesempatan, tuan Kreacher telah menjauhkannya darinya –‘

‘Ke mana Sirius pergi?’ Harry berteriak kepada peri itu. ‘Kreacher, apakah dia pergi ke Departemen Misteri?’

Kreacher berhenti di tengah jalan. Harry hanya bisa melihat belakang kepala botaknya melalui lautan kaki kursi di hadapannya.

‘Tuan tidak memberitahu Kreacher malang ke mana dia pergi,’ kata peri itu pelan.

‘Tapi kamu tahu!’ teriak Harry. ‘Bukankah begitu? Kamu tahu di mana dia!’

Ada keheningan sejenak, lalu peri itu mengeluarkan kekeh terkerasnya.

‘Tuan tidak akan kembali dari Departemen Misteri!’ dia berkata dengan senang. ‘Kreacher dan nyonyanya akan sendirian lagi!’

Dan dia bergegas maju dan menghilang melalui pintu ke aula.

‘Kau –!’

Tetapi sebelum dia bisa mengutarakan kutukan atau hinaan tunggal, Harry merasakan rasa sakit hebat di puncak kepalanya; dia menghirup banyak abu dan, sambil tercekik, mendapati dirinya diseret ke belakang melalui nyala api, sampai mendadak dengan mengerikan dia sedang menatap ke wajah pucat lebwa Profesor Umbridge yang telah menyeretnya ke belakang keluar dari api dan sekarang sedang membengkokkan lehernya sejauh yang bisa dilakukan, seolah-olah dia akan merobek tenggorokan Harry.

‘Kau kira,’ dia berbisik, sambil membengkokkan leher Harry ke belakang lebih jauh lagi, sehingga dia sekarang memandang ke atas ke langit-langit, ‘bahwa setelah dua Niffler aku akan membiarkan satu lagi makhluk busuk pencari sampah memasuki kantorku tanpa sepengetahuanku? Aku punya Mantera Pendeteksi Tersembunyi ditempatkan di sekeliling ambang pintuku setelah yang terakhir masuk, kau bocah bodoh. Ambil tongkatnya,’ dia menghardik seseorang yang tidak bisa dilihat, dan Harry merasa sebuah tangan meraba-raba di bagian dalam kantong dada jubahnya dan mengeluarkan tongkat itu. ‘Miliknya juga.’

Harry mendengar bunyi decit di dekat pintu dan tahu bahwa tongkat Hermione juga baru saja diambil paksa darinya.

‘Aku mau tahu kenapa kalian ada di dalam kantorku,’ kata Umbridge, sambil menggoyangkan kepalan yang mencengkeram rambut Harry sehingga dia sempoyongan.

‘Aku sedang — mencoba mengambil Fireboltku!’ Harry berkata dengan parau.

‘Pembohong.’ Dia mengguncangkan kepalanya lagi. ‘Fireboltmu ada di bawah penjagaan ketat di ruang bawah tanah, seperti yang kau tahu benar, Potter. Kamu memasukkan kepalamu ke dalam apiku. Dengan siapa kamu berkomunikasi?’

‘Tak seorangpun –‘ kata Harry, sambil mencoba menarik lepas darinya. Dia merasakan beberapa rambutnya berpisah dari kepalanya.

‘Pembohong!’ teriak Umbridge. Dia melemparkannya menjauh dan Harry terbanting ke meja tulis. Sekarang dia bisa melihat Hermione ditahan pada dinding oleh Millicent Bulstrode. Malfoy sedang bersandar di ambang jendela, sambil tersenyum menyeringai selagi dia melemparkan tongkat Harry ke udara dengan satu tangan dan menangkapnya kembali.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.