Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

Dia menutup matanya lagi, mencoba melihat mereka, mencoba mengingat … Konfederasi telah bertemu untuk pertama kalinya di Prancis, ya, dia sudah menulis itu …

Para goblin telah berusaha hadir dan diusir … dia juga sudah menulis itu …

Dan tak seorangpun dari Liechtenstein mau datang …

Pikir, dia menyuruh dirinya sendiri, wajahnya di dalam tangannya, sementara di sekelilingnya pena bulu menggoreskan jawaban tanpa henti dan pasir mengucur melalui jam pasir di depan …

Dia sedang berjalan menyusuri koridor gelap yang sejuk ke Departemen Misteri lagi, berjalan dengan langkah tegas dan penuh tujuan, terkadang berlari, bertekad untuk mencapai tujuannya pada akhirnya … pintu hitam itu berayun membuka untuknya seperti biasa, dan di sinilah dia di dalam ruangan melingkar dengan banyak pintu …

Lurus menyeberangi lantai batu dan melewati pintu kedua … petak-petak cahaya menari-nari di dinding dan lantai dan bunyi detik mekanis aneh itu, tetapi tak ada waktu untuk menjelajah, dia harus bergegas …

Dia berlari kecil beberapai kaki terakhir ke pintu ketiga, yang terayun membuka persis seperti yang lainnya …

Sekali lagi dia berada di dalam sebuah ruangan seukuran katedral yang penuh dengan rak-rak dan bola-bola kaca … jantungnya sekarang berdebar sangat cepat … dia akan sampai ke sana kali ini … saat dia mencapai nomor sembilan puluh tujuh dia berbelok ke kiri dan bergegas menyusuri lorong di antara dua baris …

Tetapi ada sebuah bentuk di atas lantai di bagian terujung, sebuah bentuk hitam yang sedang bergerak di atas lantai seperti seekor binatang yang terluka … perut Harry mengerut karena takut … karena bersemangat …

Sebuah suara keluar dari mulutnya sendiri, suara tinggi, dingin yang tak memiliki kebaikan manusia …

‘Ambilkan untukku … turunkan, sekarang … aku tidak bisa menyentuhnya … tapi kamu bisa.’

Bentuk hitam di atas lantai bergerak sedikit. Harry melihat sebuah tangan putih berjari panjang yang mengenggam sebuah tongkat naik di ujung lengannya sendiri … mendengar suara tinggi, dingin yang berkata ‘Crucio!’

Lelaki di atas lantai itu mengeluarkan jerit kesakitan, mencoba berdiri tetapi terjatuh kembali, sambil merintih. Harry sedang tertawa. Dia mengangkat tongkatnya, kutukan terangkat dan figur itu mengerang dan menjadi tak bergerak.

‘Lord Voldemort sedang menunggu.’

Dengan sangat lambat, lengannya bergetar, lelaki di atas tanah mengangkat bahunya beberapa inci dan menaikkan kepalanya. Wajahnya berlumuran darah dan cekung, mengerenyit kesakitan tetapi kaku menantang.

‘Kau akan harus membunuhku,’ bisik Sirius.

‘Tak diragukan lagi pada akhirnya akan kulakukan,’ kata suara dingin itu. ‘Tapi mulanya kamu akan mengambilnya untukku, Black … kamu kira kamu sudah merasakah sakit sejauh ini? Pikir lagi … kira punya waktu berjam-jam dan tak seorangpun yang akan mendengarmu berteriak …’

Tetapi seseorang menjerit saat Voldemort menurunkan tongkatnya lagi; seseorang berteriak dan jatuh ke samping dari sebuah meja tulis yang panas ke atas lantai batu yang dingin; Harry bangun ketika dia mengenai tanah, masih berteriak, bekas lukanya terbakar, ketika Aula Besar riuh-rendah di sekitarnya.

 

Bab 32

Keluar dari Api

‘Aku tidak akan pergi … aku tidak butuh sayap rumah sakit … aku tidak mau’

Dia sedang meracau selagi mencoba melepaskan diri dari Profesor Tofty, yang sedang memandang Harry dengan penuh kekuatiran setelah membantunya keluar ke Aula Depan dengan tatapan murid-murid di sekeliling mereka.

‘Aku — aku baik-baik saja, sir,’ Harry tergagap, sambil menyeka keringat dari wajahnya. ‘Benar … aku cuma tertidur … dapat mimpi buruk …’

‘Tekanan ujian!’ kata penyihir pria tua itu dengan bersimpati, sambil menepuk bahu Harry dengan gemetaran. ‘Hal itu terjadi, anak muda, terjadi! Seakrang, minum air yang menyejukkan, dan mungkin kamu akan siap kembali ke Aula Besar? Ujian hampir usai, tapi kamu mungkin bisa menyelesaikan jawaban terakhirmu dengan baik?’

‘Ya,’ kata Harry dengan liar. ‘Maksudku … tidak … aku sudah melakukan — melakukan sejauh yang kubisa, kukira …’

‘Sangat bagus, sangat bagus,’ kata penyihir tua itu. ‘Aku akan pergi mengumpulkan kertas ujianmu dan kusarankan kamu pergi dan berbaring.’

‘Saya akan melakukannya,’ kata Harry sambil mengangguk penuh semangat. ‘Terima kasih banyak.’

Begitu tumit orang tua itu menghilang dari ambang pintu ke dalam Aula Besar, Harry berlari menaiki tangga pualam, menderu cepat menyusuri koridor-koridor begitu cepatnya sehingga potret-potret yang dia lalui menggumamkan celaan, menaiki lebih banyak tangga lagi, dan akhirnya masuk seperti topan melalui pintu-pintu ganda sayap rumah sakit, mengakibatkan Madam Pomfrey –yang sedang menyendokkan sedikit cairan biru terang ke dalam mulut Montague yang terbuka — menjerit takut.

‘Potter, kamu pikir apa yang sedang kamu lakukan?’

‘Saya perlu bertemu Profesor McGonagall,’ Harry terengah-engah, napasnya merobekrobek paru-parunya. ‘Sekarang … penting!’

‘Beliau tidak ada di sini, Potter,’ kata Madam Pomfrey dengan sedih. ‘Beliau ditransfer ke St Mungo pagi ini. Empat Mantera Pembeku langsung ke dada pada usianya? Ajaib mereka tidak membunuhnya.’

‘Dia … pergi?’ kata Harry, terguncang.

Bel berdering tepat di luar kamar asrama dan dia mendengar kegaduhan biasa dari murid-murid di kejauhan yang mulai membanjir keluar ke koridor-koridor di atas dan di bawahnya. Dia tetap tidak bergerak, sambil memandang Madam Pomfrey. Teror tumbuh di dalam dirinya.

Tak seorangpun tertinggal untuk diberitahu. Dumbledore telah pergi, Hagrid telah pergi, tetapi dia selalu mengharapkan Profesor McGonagall akan berada di sana, lekas marah dan tidak luwes, mungkin, tetapi selalu dapat diandalkan kehadirannya …

‘Aku tidak terkejut kamu terguncang, Potter,’ kata Madam Pomfrey, dengan semacam persetujuan dashyat di wajahnya. ‘Seolah-olah salah satu dari mereka akan bisa Membekukan Minerva McGonagall saat berhadapan langsung di bawah sinar matahari!

Kepengecutan, itulah namanya … kepengecutan yang patut dibenci … kalau aku tidak kuatir apa yang akan terjadi dengan kalian para murid tanpa diriku, aku akan mengundurkan diri sebagai protes.’

‘Ya,’ kata Harry dengan hampa.

Dia berputar dan berjalan tak tentu arah dari sayap rumah sakit ke koridor yang penuh sesak di mana dia berdiri, dikelilingi kerumunan, rasa panik mengembang di dalam dirinya seperti gas beracun sehingga kepalanya berputar dan dia tidak bisa memikirkan apa yang harus dilakukan …

Ron dan Hermione, kata sebuah suara di dalam kepalanya.

Dia berlari lagi, sambil mendorong murid-murid menyingkir dari jalannya, tak memperhatikan protes marah mereka. Dia berlari cepat kembali menuruni dua lantai dan berada di puncak tangga pualam ketika dia melihat mereka bergegas ke arahnya.

‘Harry!’ kata Hermione seketika, sambil terlihat sangat ketakutan. ‘Apa yang terjadi? Apakah kamu baik-baik saja? Apakah kamu sakit?’

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.