Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

‘Aku tidak percaya padanya,’ kata Hermione dengan suara yang sangat tidak mantap, saat mereka di luar jangkauan pendengaran Hagrid. ‘Aku tidak percaya padanya. Aku benar-benar tidak percaya padanya.’

‘Tenang,’ kata Harry.

‘Tenang!’ dia berkata lekas-lekas. ‘Seorang raksasa! Seorang raksasa di dalam Hutan! Dan kita harus memberinya pelajaran bahasa Inggris! Selalu mengasumsikan, tentu saja, kita bisa melewati kawanan centaur pembunuh sewaktu masuk dan keluar! Aku — tidak -percaya — padanya!’

‘Kita belum harus melakukan apapun!’ Harry mencoba meyakinkannya dengan suara pelan, selagi mereka bergabung dengan sekelompok anak-anak Hufflepuff yang sedang mengoceh stream yang menuju balik ke kastil. ‘Dia tidak meminta kita melakukan apapun kecuali dia dipecat dan itu mungkin bahkan tidak terjadi.’

‘Oh, ayolah, Harry!’ kata Hermione dengan marah, diam di tempat sehingga orang-orang di belakangnya harus berbelok untuk menghindarinya. ‘Tentu saja dia akan dipecat dan, sejujurnya, setelah apa yang baru saja kita lihat, siapa yang bisa menyalahkan Umbridge?’

Ada jeda sementara Harry melotot kepadanya, dan matanya terisi pelan-pelan dengan air mata.

‘Kamu tidak bersungguh-sungguh,’ kata Harry pelan.

‘Tidak … well … baiklah … memang tidak,’ dia berkata, sambil menyeka matanya dengan marah. ‘Tetapi kenapa dia harus membuat hidup begitu sulit bagi dirinya sendiri

– bagi kita?’

‘Aku tak tahu –‘

‘Weasley adalah Raja kami, Weasley adalah Raja kami, Dia tidak membiarkan Quaffle masuk, Weasley adalah Raja kami …’

‘Dan aku berharap mereka berhenti menyanyikan lagu bodoh itu,’ kata Hermione dengan sengsara, ‘Apa mereka belum cukup senang?’

Serombongan besar murid sedang bergerak menaiki halaman yang miring dari lapangan..

‘Oh, ayo masuk sebelum kita harus bertemu dengan anak-anak Slytherin,’ kata Hermione.

‘Weasley bisa selamatkan apapun, Dia tak pernah tinggalakn satu gawangpun, Itulah sebabnya anak-anak Gryffindor semua bernyanyi: Weasley adalah Raja kami.’

‘Hermione …’ kata Harry lambat-lambat.

Lagu itu semakin keras, tetapi asalnya bukan dari kerumunan anak-anak Slytherin yang memakai warna hija dan perak, melainkan dari kumpulan berwarna merah dan emas yang bergerak lambat-lambat menuju kastil, sambil mengangkat sebuah figur tunggal di atas banyak bahunya.

‘Weasley adalah Raja kami, Weasley adalah Raja kami, Dia tidak membiarkan Quaffle masuk, Weasley adalah Raja kami …’

‘Tidak?’ kata Hermione dengan suara berbisik.

‘YA!’ kata Harry keras-keras.

‘HARRY! HERMIONE!’ jerit Ron, sambil melambaikan Piala Quidditch perak itu di udara dan terlihat hampir tidak bisa mengendalikan diri. ‘KITA MELAKUKANNYA! KITA MENANG!’

Mereka tersenyum kepadanya ketika dia lewat. Ada hiruk-pikuk kacau di pintu depan kastil dan kepala Ron terbentur agak parah ke rangka pintu, tetapi tak seorangpun tampaknya mau menurunkannya. Masih bernyanyi, kerumunan itu menyelinap masuk ke dalam Aula Besar dan keluar dari pandangan. Harry dan Hermione memandangi mereka pergi, sambil tersenyum, sampai untaian terakhir yang menggema dari ‘Weasley adalah Raja kami’ menghilang. Lalu mereka berpaling kepada satu sama lain, senyum mereka memudar.

‘Kita simpan berita kita sampai besok, oke?’ kata Harry.

‘Ya, baiklah,’ kata Hermione dengan letih. ‘Aku tidak terburu-buru.’

Mereka menaiki undakan-undakan itu bersama-sama. Di pintu depan keduanya memandang ke belakang secara naluriah ke Hutan Terlarang. Harry tidak yakin apakah itu khayalannya, tetapi dia agak berpikir bahwa dia melihat sekumpulan kecil burungburung naik ke udara di atas puncak pohon di kejauhan, hampir seolah-olah pohon tempat mereka membuat sarang baru saja ditarik dari akarnya.

 

Bab 31:

O.W.L.

Perasaan gembira Ron karena membantu Gryffindor memperoleh Piala Quidditch sedemikian rupa sehingga dia tidak bisa tenang keesokan harinya. Yang ingin dilakukannya hanyalah membicarakan pertandingan itu, jadi Harry dan Hermione mendapati sangat sulit menemukan pembukaan untuk menyebut tentang Grawp. Bukannya mereka mencoba sangat keras; tak seorangpun benar-benar ingin menjadi orang yang membawa Ron kembali ke kenyataan dengan cara yang cukup brutal ini. Karena itu adalah hari yang cerah dan hangat, mereka membujuknya untuk bergabung dengan mereka mengulangi pelajaran di bawah pohon beech di tepi danau, di mana mereka memiliki lebih sedikit kemungkinan terdengar orang lain daripada di ruang duduk. Awalnya Ron tidak benar-benar menyetujui gagasan ini — dia sungguh-sungguh menikmati ditepuk punggungnya oleh semua anak Gryffindor yang berjalan melewati kursinya, tanpa menyebut riuh-rendah terkadang-kadang dari ‘Weasley adalah Raja kami’ — tapi setelah beberapa saat dia setuju bahwa sedikit udara segar mungkin baik untuknya.

Mereka membentangkan buku-buku mereka di naungan pohon itu dan duduk sementara Ron membicarakan penyelamatan pertamanya di pertandingan untuk yang rasanya berlusin kalinya.

‘Well, maksudmu, aku sudah membiarkan satu kali dari Davies, jadi aku sama sekali tidak merasa percaya diri, tapi aku tak tahu, saat Bradley datang ke arahku, entah dari mana, kupikir — kamu bisa melakukan ini! Dan aku punya sekitar satu detik untuk memutuskan ke mana harus terbang, kalian tahu, karena dia kelihatannya sedang membidik gawang kanan — sebelah kananku, tentu saja, sebelah kiri dia –tapi aku punya perasaan aneh bahwa dia sedang melakukan gerak tipu, dan jadi aku mengambil resiko dan terbang ke kiri — sebelah kanan dia, maksudku — dan — well — kalian lihat apa yang terjadi,’ dia mengakhiri dengan rendah hati, sambil menyapukan rambutnya ke belakang tanpa perlu sehingga rambutnya tampak tersapu angin dan sambil memandang berkeliling untuk melihat apakah orang-orang yang terdekat dengan mereka — sekelompok anakanak kelas tiga Hufflepuff yang sedang bergosip — telah mendengarnya. ‘Dan kemudian, saat Chambers datang ke arahku sekitar lima menit kemudian — Apa?’ Ron bertanya, berhenti di tengah kalimat saat melihat tampang Harry. ‘Kenapa kau nyengir?’

‘Tidak,’ kata Harry cepat, dan melihat ke bawah ke catatan Transfigurasinya, mencoba mengatur wajahnya. Sejujurnya Ron baru saja mengingatkan Harry pada seorang pemain Quidditch Gryffindor lain yang pernah duduk sambil mengusutkan rambutnya di bawah pohon yang sama ini. ‘Aku cuma senang kita menang, itu saja.’

‘Yeah,’ kata Ron lambat-lambat, menerima kata-kata itu dengan senang, ‘kita menang. Apakah kamu lihat tampang Cho saat Ginny dapat Snitch tepat di bawah hidungnya?’

‘Kukira dia menangis, bukan?’ kata Harry dengan getir.

‘Well, yeah — walaupun lebih karena marah daripada apapun …’ Ron merengut sedikit. ‘Tapi kamu melihat dia melemparkan sapunya waktu dia kembali ke tanah, bukan?’

‘Er –‘ kata Harry.

‘Well, sebenarnya … tidak, Ron,’ kata Hermione dengan helaan napas berat, sambil meletakkan bukunya dan memandangnya dengan pandangan minta maaf. ‘Sebenarnya, bagian pertandingan yang Harry dan aku tonton hanyalah gol pertama Davies.’

Rambut Ron yang dikusutkan dengan hati-hati tampaknya layu karena kecewa. ‘Kalian tidak nonton?’ dia berkata dengan lemah, sambil memandang dari yang satu ke yang lain. ‘Kalian tidak melihatku membuat penyelamatan-penyelamatan itu?’

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.