Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

Dia berpaling kepada kelompok penyihir di belakangnya dan berbisik mendesak, ‘Dia baru saja tiba, rapat sudah mulai.’

Para penyihir di belakang Harry semua membuat suara tertarik dan bersemangat dan mulai melewatinya menuju pintu tempat Mrs Weasley datang tadi. Harry akan mengikuti Lupin, tetapi Mrs Weasley menahannya.

‘Tidak, Harry, rapatnya hanya untuk anggota Order. Ron dan Hermione ada di atas, kau bisa menunggu bersama mereka sampai rapat usai, lalu kita akan makan malam. Dan rendahkan suaramu di aula,’ dia menambahkan dalam bisikan mendesak.

‘Kenapa?’

‘Aku tidak ingin ada yang terbangun.’

‘Apa yang Anda –?’

‘Akan kujelaskan nanti, aku harus bergegas, aku seharusnya ada di rapat — akan kuperlihatkan di mana kau akan tidur.’

Sambil menekankan jarinya ke bibir, dia menuntunnya berjingkat melewati sepasang gorden yang panjang dan termakan ngengat, di belakangnya Harry yakin pastilah ada pintu lain, dan setelah melewati sebuah tempat payung yang tampak seolah-olah terbuat dari kaki troll yang dipotong mereka menaiki tangga gelap, melewati sebaris kepala mengerut yang dipajang pada piagam di dinding. Pemeriksaan lebih dekat menunjukkan kepada Harry bahwa kepala-kepala itu milik peri-peri rumah. Semuanya memiliki hidung yang agak mirip moncong.

Kebingungan Harry semakin dalam dengan setiap langkah yang diambilnya. Apa yang sedang mereka lakukan di dalam sebuah rumah yang terlihat seakan-akan dimiliki oleh penyihir Tergelap?

‘Mrs Weasley, mengapa –?’

‘Ron dan Hermione akan menjelaskan semuanya, sayang, aku benar-benar harus pergi,’ Mrs Weasley berbisik dengan kacau. ‘Di sana –‘ mereka telah mencapai lantai kedua, ‘-kau ke pintu di sebelah kanan. Akan kupanggil kalian ketika sudah usai.’

Dan dia bergegas turun ke bawah lagi.

Harry menyeberangi lantai yang kumal itu, memutar kenop pintu kamar tidur, yang berbentuk kepala ular, dan membuka pintu.

Dia menangkap sekilas langit-langit tinggi yang suram, kamar bertempat tidur ganda; lalu ada bunyi cicit keras, yang diikuti dengan jeritan yang bahkan lebih keras, dan pandangannya terhalang oleh sejumlah besar rambut yang sangat tebal. Hermione telah melemparkan diri kepadanya ke dalam pelukan yang hampir menjatuhkannya, sementara burung hantu mungil Ron, Pigwidgeon, meluncur dengan bersemangat mengitari kepala mereka.

‘HARRY! Ron, dia di sini, Harry ada di sini! Kami tidak mendengarmu tiba! Oh, bagaimana kabarmu? Apakah kau baik-baik saja? Apakah kau marah kepada kami? Kuyakin benar, aku tahu surat-surat kami tidak berguna — tapi kami tidak bisa memberitahumu apa-apa, Dumbledore menyuruh kami bersumpah kami tidak akan, oh, kami punya begitu banyak hal untuk diceritakan kepadamu, dan kau punya hal-hal untuk diceritakan kepada kami — para Dementor! Sewaktu kami dengar — dan dengar pendapat Kementerian itu — benar-benar keterlaluan, aku sudah memeriksanya, mereka tidak bisa mengeluarkanmu, mereka tidak bisa saja, ada ketentuan dalam Dekrit Pembatasan Masuk Akal bagi Penggunaan Sihir di Bawah Umur untuk penggunaan sihir dalam situasi yang mengancam nyawa –‘

‘Biarkan dia bernapas, Hermione,’ kata Ron sambil menyeringai ketika dia menutup pintu di belakang Harry. Dia tampak telah tumbuh beberapa inci lagi selama satu bulan mereka berpisah, membuatnya lebih tinggi dan tampak lebih menakutkan dari dulu, walaupun hidung panjang, rambut merah terang dan bintik-bintiknya masih sama.

Masih tersenyum, Hermione melepaskan Harry, tetapi sebelum dia bisa berkata lagi ada suara kibasan lembut dan sesuatu yang putih membumbung dari puncak lemari gelap dan mendarat dengan lemah lembut di bahu Harry.

‘Hedwig!’

Burung hantu seputih salju itu mengatupkan paruhnya dan menggigit telinganya dengan penuh sayang ketika Harry membelai bulunya.

‘Dia dalam keadaan aneh,’ kata Ron. ‘Mematuk kami hingga setengah mati ketika dia membawakan suratmu yang terakhir, lihat ini –‘

Dia memperlihatkan kepada Harry jari telunjuk tangan kanannya, yang memiliki luka potong hampir sembuh tetapi jelas dalam.

‘Oh, yeah,’ Harry berkata. ‘Maaf tentang itu, tapi aku mau jawaban, kalian tahu –‘

‘Kami ingin memberimu jawaban, sobat,’ kata Ron. ‘Hermione mulai melunak, dia terus berkata kamu akan melakukansesuatu yang bodoh kalau kamu terperangkap sendirian tanpa berita, tapi Dumbledore menyuruh kami –‘

‘– bersumpah tidak akan memberitahu aku,’ kata Harry. ‘Yeah, Hermione sudah bilang.’

Pijar hangat yang telah menyala di dalam dirinya ketika melihat dua orang sahabat terbaiknya padam ketika sesuatu sedingin es membanjiri dasar perutnya. Mendadak -setelah sangat ingin bertemu mereka selama satu bulan penuh — dia merasa dia lebih suka Ron dan Hermione meninggalkannya sendirian.

Ada keheningan tegang selama Harry membelai Hedwig secara otomatis, tanpa melihat kepada yang lain.

‘Dia tampaknya berpikir itu yang terbaik,’ kata Hermione agak terengah-engah. ‘Dumbledore, maksudku.’

‘Benar,’ kata Harry. Dia memperhatikan bahwa tangannya juga memiliki tanda dari paruh Hedwig dan merasa bahwa dia sama sekali tidak menyesal.

‘Kukira dia berpikir kau paling aman bersama para Muggle –‘ Ron memulai.

‘Yeah?’ kata Harry sambil menaikkan alisnya. ‘Apakah salah satu dari kalian telah diserang Dementor musim panas ini?’

‘Well — tidak — tapi itulah mengapa dia menyuruh orang-orang dari Order of Phoenix untuk mengikutimu sepanjang waktu –‘

Harry merasakan hentakan dalam isi perutnya seakan-akan dia telah kelupaan satu anak tangga sewaktu menuruni tangga. Jadi semua orang tahu dia sedang diikuti, kecuali dirinya.

‘Tak berjalan sebaik itu, bukan?’ kata Harry, berusaha sekeras mungkin untuk menjaga suaranya tetap tenang. ‘Harus menjaga diriku sendiri, bukan?’

‘Dia sangat marah,’ kata Hermione, dalam suara yang hampir terpesona, ‘Dumbledore. Kami melihatnya. Ketika dia mengetahui Mundungus pergi sebelum waktu jaganya berakhir. Dia menakutkan.’

‘Well, aku senang dia pergi,’ Harry berkata dengan dingin. ‘Kalau tidak, aku tidak akan menyihir dan Dumbledore mungkin meninggalkanku di Privet Drive sepanjang musim panas.’

‘Tidakkah kau … tidakkah kau cemas akan dengar pendapat Kementerian?’ kata Hermione dengan pelan.

‘Tidak,’ Harry berbohong dengan menantang. Dia berjalan menjauh dari mereka, sambil melihat sekeliling, dengan Hedwig yang puas di bahunya, tapi kamar ini tidak tampak menaikkan semangatnya. Kamar itu lembab dan gelap. Bidang kanvas yang kosong adalah satu-satunya yang menghilangkan kekosongan dinding yang mulai mengelupas, dan ketika Harry melewatinya dia mengira dia mendengar seseorang, yang sedang bersembunyi di luar pandangan, terkikik.

‘Jadi, mengapa Dumbledore sangat ingin membiarkanku dalam kegelapan?’ Harry bertanya, masih mencoba keras untuk menjaga suaranya tetap biasa. ‘Apakah kalian — er — repot-repot bertanya kepadanya?’

Dia melirik sekilas tepat waktu untuk melihat mereka saling memandang dengan tatapan yang memberitahu dia bahwa dia bertingkah laku persis seperti yang mereka takutkan. Itu tidak memiliki andil apapun dalam perbaikan perasaan marahnya.

‘Kami memberitahu Dumbledore bahwa kami ingin memberitahumu apa yang sedang terjadi,’ kata Ron. ‘Benar, sobat. Tapi dia sangat sibuk sekarang, kami baru berjumpa dengannya dua kali sejak kami datang ke sini dan dia tidak punya banyak waktu, dia hanya menyuruh kami bersumpah tidak akan memberitahumu hal-hal yang penting ketika kami menulis surat, katanya burung hantu bisa dicegat.’

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.