Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

‘Oh, tidak,’ kata Cho buru-buru. ‘Tidak, hanya saja … well, aku cuma mau bilang … Harry, aku tak pernah mimpi Marietta akan mengadu …’

‘Yeah, well,’ kata Harry dengan suasana hati tidak tentu. Dia memang merasa Cho bisa saja memilih teman-temannya dengan sedikit lebih berhati-hati; merupakan penghiburan kecil bahwa yang terakhir didengarnya, Marietta masih di sayap rumah sakit dan Madam Pomfrey belum bisa membuat perbaikan sedikitpun pada jerawatnya.

‘Dia sebenarnya orang yang menyenangkan,’ kata Cho. ‘Dia cuma membuat kesalahan -‘

Harry memandangnya dengan tidak percaya.

‘Seorang yang menyenangkan yang membuat kesalahan? Dia mengkhianati kita semua, termasuk kamu!’

‘Well … kita semua lolos, bukan?’ kata Cho memohon. ‘Kau tahu, ibunya bekerja di Kementerian, benar-benar sulit baginya –‘

‘Ayah Ron bekerja di Kementerian juga!’ Harry berkata dengan marah. ‘Dan kalaukalau kau belum memperhatikan, dia tidak punya kata pengadu tertulis di wajahnya –‘

‘Itu tipuan Hermione Granger yang benar-benar mengerikan,’ kata Cho dengan garang. ‘Dia seharusnya memberitahu kami dia sudah memberi kutukan pada daftar itu –‘

‘Kukira itu ide yang sangat cemerlang,’ kata Harry dengan dingin. Cho merona dan matanya semakin terang.

‘Oh ya, aku lupa — tentu saja, itu ide Hermione tersayang –‘

‘Jangan mulai menangis lagi,’ kata Harry memperingatkan.

‘Aku tidak akan!’ dia berteriak.

‘Yeah … well … bagus,’ dia berkata. ‘Aku sudah punya cukup masalah saat ini.’

‘Pergi urus masalahmu kalau begitu!’ Cho berkata dengan marah sambil berbalik dan pergi.

Sambil mengomel, Harry menuruni tangga ke ruang bawah tanah Snape dan, walaupun dia tahu dari pengalaman betapa jauh lebih mudahnya bagi Snape untuk memasuki pikirannya kalau dia tiba dengan marah dan benci, dia tidak berhasil tidak memikirkan beberapa hal lagi yang seharusnya dikatakannya kepada Cho tentang temannya Marietta sebelum mencapai pintu ruang bawah tanah itu.

‘Kamu terlambat, Potter,’ kata Snape dengan dingin, ketika Harry menutup pintu di belakangnya.

Snape sedang berdiri memunggungi Harry, memindahkan, seperti biasa, pikiranpikiran tertentunya dan menempatkan dengan hati-hati di dalam Pensieve Dumbledore. Dia menjatuhkan untaian perak terakhir ke dalam baskom batu itu dan berpaling menghadap Harry.

‘Jadi,’ dia berkata. ‘Apakah kau sudah berlatih?’

‘Ya,’ Harry berbohong, sambil memandang dengan waspada ke salah satu kaki meja tulis Snape.

‘Well, kita akan segera tahu, bukan?’ kata Snape dengan licin. ‘Keluarkan tongkat, Potter.’

Harry pindah ke posisi biasanya, menghadap Snape dengan meja tulis di antara mereka. Jantungnya berdebar cepat dengan kemarahan kepada Cho dan kecemasan

seberapa banyak yang akan didapatkan Snape dari pikirannya.

‘Pada hitungan ketiga, kalau begitu,’ kata Snape dengan malas ‘Satu — dua –‘

Pintu kantor Snape terbanting membuka dan Draco Malfoy bergegas masuk.

‘Profesor Snape, sir –oh — sori –‘

Malfoy sedang melihat pada Snape dan Harry dengan terkejut.

‘Tidak apa-apa, Draco,’ kata Snape sambil menurunkan tongkatnya. ‘Potter ada di sini

untuk pelajaran perbaikan Ramuan.’

Harry belum melihat Malfoy begitu berseri-seri sejak Umbridge muncul untuk menginspeksi Hagrid.

‘Aku tidak tahu,’ dia berkata sambil mengerling kepada Harry, yang tahu wajahnya membara. Dia akan memberikan banyak hal untuk bisa meneriakkan yang sebenarnya kepada Malfoy –atau, lebih baik lagi, untuk menghantamnya dengan sebuah kutukan

yang bagus.

‘Well, Draco, ada apa?’ tanya Snape.

‘Profesor Umbridge, sir — beliau butuh bantuan Anda,’ kata Malfoy.

‘Mereka menemukan Montague, sir, dia muncul terjejal ke dalam sebuah toilet di lantai

empat.’

‘Bagaimana dia masuk ke sana?’ tuntut Snape.

‘Saya tidak tahu, sir, dia agak bingung.’

‘Baiklah, baiklah. Potter,’ kata Snape, ‘kita akan melanjutkan pelajaran ini besok

malam.’

Dia berpaling dan berjalan pergi dari kantornya, Malfoy berkata tanpa bersuara, ‘Pelajaran perbaikan Ramuan?’ kepada Harry di balik punggung Snape sebelum mengikutinya.

Dengan menggelegak, Harry menyimpan kembali tongkatnya ke bagian dalam jubahnya dan bergerak akan meninggalkan ruangan. Setidaknya dia punya dua puluh empat jam lagi untuk berlatih; dia tahu dia seharusnya merasa berterima kasih untuk kelolosan yang nyaris itu, walaupun sulit bahwa datangnya dengan pengorbanan yaitu Malfoy menceritakan ke seluruh sekolah bahwa dia perlu pelajaran perbaikan Ramuan.

Dia sampai ke pintu kantor ketika dia melihatnya: seberkas cahaya bergetar yang menari-nari di ambang pintu. Dia berhenti, dan berdiri menatapnya, teringat akan sesuatu … lalu dia ingat: cahaya yang agak mirip dengan inilah yang dilihatnya dalam mimpinya kemarin malam, cahaya di ruangan kedua yang dilewatinya dalam perjalanannya di Departemen Misteri.

Dia berpaling. Cahaya itu berasal dari Pensieve yang terletak di atas meja tulis Snape. Isi seputih mutiaranya surut dan berputar di dalam. Pikiran-pikiran Snape … hal-hal yang tak diinginkannya dilihat Harry kalau dia mendobrak pertahanan Snape secara tidak sengaaja …

Harry memandangi Pensieve itu, keingintahuan menggembung di dalam dirinya … apa yang begitu ingin disembunyikan Snape dari Harry?

Cahaya keperakan itu bergetar di dinding … Harry maju dua langkah ke meja, sambil berpikir keras. Mungkinkah informasi tentang Departemen Misteri yang diputuskan Snape untuk ditahan darinya?

Harry memandang lewat bahunya, jantungnya sekarang berdebar lebih keras dan lebih cepat dari sebelumnya. Berapa lama yang dibutuhkan Snape untuk melepaskan Montague dari toilet itu? Apakah dia akan datang langsung ke kantornya setelah itu, atau menemani Montague ke sayap rumah sakit? Tentunya yang terakhir … Montague adalah Kapten tim Quidditch Slytherin, Snape akan mau memastikan dia baik-baik saja.

Harry berjalan beberapa kaki lagi ke Pensieve dan berdiri di atasnya, memandang ke dalamnya. Dia bimbang, mendengarkan, lalu mengeluarkan tongkatnya lagi. Kantor dan koridor di belakangnya sepenuhnya hening. Dia memberi isi Pensieve tusukan kecil dengan ujung tongkatnya.

Benda keperakan di dalamnya mulai berputar sangat cepat. Harry mencondongkan badan ke depan ke atasnya dan melihat benda itu sudah menjadi bening. Dia, sekali lagi, sedang melihat ke dalam sebuah ruangan seolah-olah melalui sebuah jendela melingkar di langit-langit … nyatanya, kecuali dia sangat salah, dia sedang memandang ke dalam Aula Besar.

Napasnya bahkan berkabut di permukaan pikiran Snape … otaknya sepertinya berada di ruang terlupakan … gila kalau dia melakukan hal yang dia sangat tergoda melakukannya … dia gemetaran … Snape bisa kembali setiap saat … tetapi Harry memikirkan kemarahan Cho, atau wajah mengejek Malfoy, dan keberanian sembrono menyambarnya.

Dia menarik napas dalam, dan mencemplungkan wajahnya ke permukaan pikiran Snape. Seketika, lantai itu bergerak mendadak, menjatuhkan Harry kepala duluan ke dalam Pensieve …

Dia jatuh melalui kegelapan dingin, berputar-putar dengan hebat ketika berlangsung, dan kemudian –

Dia sedang berdiri di tengah Aula Besar, tetapi keempat meja asrama hilang. Alih-alih, ada lebih dari seratus meja yang lebih kecil, semuanya menghadap ke arah yang sama, di masing-masing meja duduk seorang murid, kepala terbungkuk rendah, menulis di atas sebuah gulungan perkamen. Satu-satunya suaran adalah gesekan pena bulu dan gemerisik kadang-kadang saat seseorang menyesuaikan perkamennya. Jelas itu saat ujian.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.