Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

Ron menarik keluar tongkatnya, tetapi Hermione mendorongnya sambil berbisik, ‘Jangan!’

‘Gerakan bijaksana, Granger,’ bisik Malfoy. ‘Kepala Sekolah Baru, masa-masa baru … baik-baiklah sekarang, Potty … Raja Weasel …’

Sambil tertawa sepenuh hati, dia berjalan pergi bersama Crabbe dan Goyle.

‘Dia menggertak,’ kata Ernie, tampak terkejut. ‘Dia tidak bisa diizinkan mengurangi poin … itu menggelikan … akan sepenuhnya merusak sistem prefek.’

Tetapi Harry, Ron dan Hermione telah berpaling dengan otomatis ke jam-jam pasir raksasa yang ditempatkan di relung dinding di belakang mereka, yang mencatat poin-poin asrama. Gryffindor dan Ravenclaw saling kejar-kejaran memimpin pada pagi hari itu. Bahkan selagi mereka mengamati, batu-batu terbang ke atas, mengurangi jumlah di bagian yang lebih rendah. Kenyataannya, satu-satunya jam pasir yang tampaknya tidak berubah adalah milik Slytherin yang berisi zamrud.

‘Sudah memperhatikannya, bukan?’ kata suara Fred.

Dia dan George baru saja menuruni tangga pualam dan bergabung dengan Harry, Ron, Hermione dan Ernie di depan jam-jam pasir.

‘Malfoy baru mengurangi kami semua sekitar lima puluh poin,’ kata Harry dengan marah, ketika mereka melihat beberapa batu lagi terbang ke atas dari jam pasir Gryffindor.

‘Yeah, Montague mencoba mengerjai kami waktu istirahat,’ kata George.

‘Apa maksudmu “mencoba”?’ kata Ron dengan cepat.

‘Dia tak pernah bisa mengeluarkan semua perkataanya,’ kata Fred, ‘ karena fakta bahwa kami memaksanya dengan kepala duluan ke dalam Lemari Penghilang di lantai satu.’

Hermione tampak sangat terguncang.

‘Tapi kalian akan dapat masalah besar!’

‘Tidak sampai Montague muncul kembali, dan itu mungkin butuh waktu berminggu

minggu, aku tak tahu ke mana kami mengirimnya,’ kata Fred dengan tenang. ‘Lagipula … kami sudah memutuskan kami tak peduli lagi kena masalah.’

‘Pernahkah kalian peduli?’ tanya Hermione.

‘Tentu saja,’ kata George. ‘Belum pernah dikeluarkan, bukan?’

‘Kami selalu tahu di mana menarik batasnya,’ kata Fred.

‘Kami mungkin lewat sedikit kadang-kadang,’ kata George.

‘Tapi kami selalu berhenti saat hampir menyebabkan kekacauan benar-benar,’ kata Fred.

‘Tapi sekarang?’ kata Ron coba-coba.

‘Well, sekarang –‘ kata George.

‘– dengan perginya Dumbledore –‘ kata Fred.

‘– menurut kami sedikit kekacauan –‘ kata George.

‘– persis yang patut diterima Kepala Sekolah baru kita tersayang,’ kata Fred.

‘Kalian tidak boleh!’ bisik Hermione. ‘Kalian benar-benar tidak boleh! Dia akan senang punya alasan untuk mengeluarkan kalian!’

‘Kau tidak mengerti, bukan, Hermione?’ kata Fred sambil tersenyum kepadanya. ‘Kami tidak peduli lagi tentang tetap di sekolah. Kami akan berjalan keluar sekarang juga kalau kami tidak bertekad melakukan bagian kami untuk Dumbledore terlebih dahulu. Jadi, ngomong-ngomong,’ dia memeriksa jam tangannya, ‘tahap satu baru akan dimulai. Aku akan masuk ke Aula Besar untuk makan siang, kalau aku jadi kalian, dengan begitu, para guru akan melihat bahwa kalian tidak mungkin ada kaitannya dengan itu.’

‘Ada kaitan dengan apa?’ kata Hermione dengan cemas.

‘Kau akan lihat,’ kata George. ‘Bergegaslah sekarang.’

Fred dan George berpaling pergi dan menghilang ke kerumunan besar yang sedang menuruni tangga menuju makan siang. Tampak sangat bingung, Ernie menggumamkan sesuatu tentang pekerjaan rumah Transfigurasi yang belum selesai dan bergegas pergi.

‘Kukira kita harus pergi dari sini, kalian tahu,’ kata Hermione dengan gugup. ‘Untuk jaga-jaga.’

‘Yeah, baiklah,’ kata Ron, dan mereka bertiga bergerak menuju pintu-pintu Aula Besar, tetapi Harry belum lagi melihat langit-langit siang itu yang dilintasi awan-awan putih ketika seseorang menepuk bahunya dan, sambil berpaling, dia mendapati dirinya hampir bersentuhan hidung dengan Filch, si penjaga sekolah. Dia buru-buru mundur beberapa langkah; Filch paling baik dipandang dari kejauhan.

‘Kepala Sekolah ingin menemuimu, Potter,’ dia mengerling.

‘Aku tidak melakukannya,’ kata Harry dengan bodoh, sambil memikirkan apapun yang sedang direncanakan Fred dan George. Rahang Filch bergoyang karena tawa diam-diam.

‘Kesadaran berbuat salah, eh?’ dia mendesah. ‘Ikut aku.’

Harry memandang balik kepada Ron dan Hermione, yang keduanya tampak kuatir. Dia mengangkat bahu, dan mengikuti Filch kembali ke Aula Depan, melawan arus masuk murid-murid yang lapar.

Filch kelihatannya berada dalam suasana hati yang sangat baik; dia bersenandung dengan suara rendah selagi mereka menaiki tangga pualam. Ketika mereka mencapai puncak tangga pertama dia berkata, ‘Keadaan sedang berubah di sekitar sini, Potter.’

‘Sudah kuperhatikan,’ kata Harry dengan dingin.

‘Benar … aku sudah memberitahu Dumbledore selama bertahun-tahun dia terlalu lunak dengan kalian semua,’ kata Filch, sambil terkekeh keji. ‘Kalian mahkluk buas kecil yang kotor takkan pernah menjatuhkan Peluru Bau kalau kalian tahu aku punya kekuasaan untuk mencambuk kalian sampai lecet, bukan begitu? Tak seorangpun akan berpikir tentang melemparkan Frisbee Bertaring di koridor kalau aku bisa menggantung kalian pada mata kaki di kantorku, bukan? Tapi saat Dekrit Pendidikan Nomor Dua Puluh Sembilan masuk, Potter, aku akan diizinkan melakukan semua itu … dan dia sudah meminta Menteri menandatangani perintah pengusiran Peeves … oh, keadaan akan sangat berbeda di sekitar sini dengan dia yang memimpin.

Umbridge tampaknya telah berbuat apa saja untuk menarik Filch ke sisinya, Harry berpikir, dan yang terburuk adalah bahwa dia mungkin akan terbukti sebagai senjata penting; pengetahuannya tentang jalan-jalan rahasia sekolah itu dan tempat-tempat persembunyian mungkin hanya kalah oleh si kembar Weasley.

‘Di sinilah kita,’ dia berkata, sambil melirik kepada Harry ketika dia mengetuk tiga kali ke pintu Profesor Umbridge dan mendorongnya membuka. ‘Bocah Potter menemui Anda,

Ma’am.’

Kantor Umbridge, begitu akrab bagi Harry dari banyak detensinya, sama seperti biasa kecuali balok kayu besar yang tergeletak di depan meja tulisnya di mana huruf-huruf keemasan mengeja kata : KEPALA SEKOLAH. Juga, Fireboltnya dan Sapu Bersih Fred dan George, yang dilihatnya dengan perih, dirantai dan digembok ke sebuah pasak besi kokoh di dinding di belakang meja tulis.

Umbridge sedang duduk di belakang meja, sibuk mencorat-coret pada beberapa perkamen merah jambunya, tetapi dia memandang ke atas dan tersenyum lebar saat mereka masuk.

‘Terima kasih, Argus,’ dia berkata dengan manis.

‘Tidak sama sekali, Ma’am, tidak sama sekali,’ kata Filch sambil membungkuk serendah yang diperbolehkan rematiknya, dan keluar dengan berjalan mundur.

‘Duduk,’ kata Umbridge dengan kasar, sambil menunjuk ke sebuah kursi. Harry duduk. Dia terus mencorat-coret beberapa saat. Harry mengamati beberapa anak kucing jelek itu melompat-lompat mengitari plakat-plakat di atas kepalanya, bertanya-tanya kengerian apa yang disimpannya untuk dirinya.

‘Well, sekarang,’ dia berkata akhirnya, sambil meletakkan pena bulunya dan mengamatinya dengan puas diri, seperti seekor katak yang baru akan menelan seekor lalat yang mengandung banyak air. ‘Apa yang ingin kamu minum?’

‘Apa?’ kata Harry, sangat yakin dia salah dengar.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.