Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

‘Ya!’ kata Profesor McGonagall, sambil bangkit dan menyeret Harry dan Marietta bersamanya.

Debu sudah mulai menghilang. Kehancuran di kantor itu timbul ke dalam pandangan: meja Dumbledore telah terbalik, semua meja berkaki panjang telah terguling ke lantai; instrumen-instrumen peraknya berkeping-keping. Fudge, Umbridge, Kingsley dan Dawlish terbaring tidak bergerak di lantai. Fawkes si phoenix membumbung membentuk lingkaran lebar di atas mereka, sambil menyanyi dengan lembut.

‘Sayangnya, aku harus mengguna-gunai Kingsley juga, atau akan terlihat sangat mencurigakan,’ kata Dumbledore dengan suara rendah.’Dia luar biasa cepat mengerti, mengubah ingatan Miss Edgecombe seperti itu ketika semua orang sedang melihat ke arah yang lain — sampaikan terima kasih kepadanya, bisakah kamu, Minerva?’

‘Sekarang, mereka semua akan terbangun sangat segera dan paling baik kalau mereka tidak tahu bahwa kita punya waktu untuk berkomunikasi — kalian harus bertindak seolaholah belum ada waktu yang berlalu, seolah-olah mereka hanya terhantam ke lantai, mereka tidak akan ingat –‘

‘Ke mana kau akan pergi, Dumbledore?’ bisik Profesor McGonagall. ‘Grimmauld Place?’

‘Oh tidak,’ kata Dumbledore dengan senyum muram, ‘Aku tidak akan pergi bersembunyi. Fudge segera akan berharap dia tidak pernah mengeluarkanku dari Hogwarts, aku berjanji kepadamu.’

‘Profesor Dumbledore …’ Harry mulai.

Dia tidak tahu apa yang harus dikatakan terlebih dahulu: betapa menyesalnya dia bahwa dia memulai DA sejak awal dan menyebabkan semua masalah ini, atau betapa buruknya perasaannya karena Dumbledore akan pergi untuk menyelamatkannya dari pengeluaran? Tetapi Dumbledore menyelanya sebelum dia bisa mengatakan sepatah katapun lagi.

‘Dengarkan aku, Harry,’ dia berkata dengan mendesak. ‘Kamu harus mempelajari Occlumency sekeras yang kamu bisa, apakah kamu mengerti? Lakukan semua yang disuruh Profesor Snape dan berlatihlah secara khusus setiap malam sebelum tidur sehingga kamu bisa menutup pikiranmu dari mimpi-mimpi buruk — kamu akan mengerti sebabnya segera, tapi kamu harus berjanji kepadaku –‘

Lelaki yang dipanggil Dawlish bergerak. Dumbledore meraih pergelangan tangann Harry.

‘Ingat — tutup pikiranmu –‘

Tetapi selagi jari-jari Dumbledore menutup pada kulit Harry, rasa sakit menusuk ke bekas luka di keningnya dan dia merasakan kembali keinginan mengerikan seperti ular untuk menyerang Dumbledore, untuk menggigitnya, untuk melukainya –

‘– kamu akan mengerti,’ bisik Dumbledore.

Fawkes mengitari kantor itu dan menukik rendah ke atasnya. Dumbledore melepaskan Harry, mengangkat tangannya dan mencengkeram ekor keemasan panjang phoenix itu. Ada kilatan api dan mereka berdua sudah hilang.

‘Di mana dia?’ teriak Fudge, sambil mendorong dirinya sendiri bangkit dari lantai. ‘Di mana dia?’

‘Aku tidak tahu!’ teriak Kingsley, juga melompat bangkit.

‘Well, dia tidak mungkin ber-Disapparate!’ jerit Umbridge. ‘Kau tidak bisa melakukannya dari dalam sekolah ini –‘

‘Tangga!’ jerit Dawlish, dan dia menghempaskan dirinya ke pintu, merenggutnya hingga terbuka dan menghilang, diikuti dari dekat oleh Kingsley dan Umbridge. Fudge bimbang, lalu bangkit pelan-pelan, sambil menyeka debu dari bagian depan tubuhnya. Ada keheningan panjang dan menyakitkan.

‘Well, Minerva,’ kata Fudge dengan kejam, sambil meluruskan lengan bajunya yang robek, ‘aku takut ini akhir dari temanmu Dumbledore.’

‘Kau kira begitu, bukan?’ kata Profesor McGonagall dengan menghina.

Fudge tampaknya tidak mendengarnya. Dia sedang memandang berkeliling pada kantor yang pecah belah itu. Beberapa potret mendesis kepadanya; satu aatu dua bahkan membuat isyarat tangan tidak sopan.

‘Kau sebaiknya membawa yang dua itu ke tempat tidur,’ kata Fudge sambil memandang kembali ke Profesor McGonagall dengan anggukan membubarkan kepada Harry dan Marietta.

Profesor McGonagall tidak berkata apa-apa, tetapi membawa Harry dan Marietta ke pintu. Selagi pintu itu berayun menutup di belakang mereka, Harry mendengar suara Phineas Nigellus.

‘Anda tahu, Menteri, aku tidak sependapat dengan Dumbledore dalam banyak hal … tapi Anda tidak bisa menyangkal dia memiliki gaya …’

 

Bab 28

Memori Terburuk Snape

ATAS PERINTAH MENTERI SIHIR

Dolores Jane Umbridge (Penyelidik Tinggi) telah menggantikan

Albus Dumbledore sebagai Kepala Sekolah Sihir Hogwarts.

Yang di atas sesuai edngan Dekrti Pendidikan Nomor Dua Puluh Delapan.

Tertanda: Cornelius Oswald Fudge, Menteri Sihir

Pengumuman itu telah dipasang di seluruh sekolah dalam semalam, tetapi tidak menjelaskan bagaimana setiap orang di sekolah tampaknya tahu bahwa Dumbledore telah mengatasi dua Auror, Penyelidik Tinggi, Menteri Sihir dan Asisten Juniornya untuk meloloskan diri. Tak peduli ke manapun Harry pergi di dalam kastil, topik pembicaraan tunggal adalah pelarian Dumbledore, dan walaupun beberapa detil mungkin telah menjadi miring dalam penceritaan ulang (Harry tidak sengaja mendengar seorang anak perempuan kelas dua meyakinkan yang lain bahwa Fudge sekarang sedang terbaring di St Mungo dengan labu sebagai kepalanya) mengejutkan betapa akuratnya sisa informasi mereka. Semua orang tahu, contohnya, bahwa Harry dan Marietta adalah satu-satunya murid yang menyaksikan adegan di kantor Dumbledore dan, karena Marietta sekarang ada di sayap rumah sakit, Harry mendapati dirinya diserbu dengan permintaan untuk memberi keterangan langsung.

‘Dumbledore akan kembali sebelum waktu yang lama,’ kata Ernie Macmillan dengan yakin pada perjalanan kembali dari Herbologi, setelah mendengarkan dengan seksama pada cerita Harry. ‘Mereka tidak bisa menyingkirkannya di tahun kedua kita dan mereka tidak akan bisa melakukannya kali ini. Rahib Gemuk memberitahuku –‘ dia merendahkan suaranya seperti bersekongkol, sehingga Harry, Ron dan Hermione harus mencondongkan badan lebih dekat untuk mendengarnya ‘– bahwa Umbridge mencoba kembali ke kantornya kemarin malam setelah mereka menggeledah kastil dan halaman sekolah mencarinya. Tak bisa melewati gargoyle. Kantor Kepala sudah menyegel sendiri melawannya.’ Ernie tersenyum menyeringai. ‘Tampaknya, dia marah besar.’

‘Oh, kuduga dia benar-benar mengkhayalkan dirinya duduk di atas sana di kantor Kepala,’ kata Hermione dengan keji, ketika mereka berjalan menaiki undakan-undakan batu ke dalam Aula Depan. ‘Berkuasa atas semua guru yang lain, si bodoh yang sombong, gila kekuasaan –‘

‘Sekarang, apakah kau benar-benar mau menyelesaikan kalimat itu, Granger?’

Draco malfoy telah menyelinap dari balik pintu, diikuti dari dekat oleh Crabbe dan Goyle. Wajahnya yang pucat dan runcing berseri-seri dengan kedengkian.

‘Kutakut aku harus mengurangi beberapa poin dari Gryffindor dan Hufflepuff,’ dia berkata dengan suara dipanjang-panjangkan.

‘Cuma para guru yang bisa mengurangi poin dari asrama, Malfoy,’ kata Ernie seketika.

‘Yeah, kami prefek juga, ingat?’ bentak Ron.

‘Aku tahu prefek tidak bisa mengurangi poin, Raja Weasel (Musang),’ ejek Malfoy. Crabbe dan Goyle terkikik-kikik. ‘Tapi anggota-anggota Regu Penyelidik –‘

‘Apa?’ kata Hermione dengan tajam.

‘Regu Penyelidik, Granger,’ kata Malfoy sambil menunjuk ke sebuah ‘I’ perak kecil di jubahnya persis di bawah lencana prefeknya. ‘Sekumpulan murid-murid terpilih yang bersikap mendukung Menteri Sihir, dipilih sendiri oleh Profesor Umbridge. Ngomongngomong, anggota-anggota Regu Penyelidik punya kekuasaan untuk mengurangi poin … jadi, Granger, aku akan ambil lima darimu karena bersikap kasar tentang Kepala Sekolah kita yang baru. Macmillan, lima karena membantahku. Lima karena aku tidak suka kamu, Potter. Weasley, kemejamu tidak dimasukkan, jadi aku akan ambil lima lagi untuk itu. Oh yeah, aku lupa, kau seorang Darah-Lumpur, Granger, jadi potong sepuluh karena itu.’

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.