Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

Fred dan George berjalan ke sini.

‘Aku tidak sampai hati mengoloknya,’ kata Fred sambil memandang ke figur Ron yang kisut. ‘Camkan … ketika dia tidak menangkap yang keempat belas –‘

Dia membuat gerakan-gerakan liar dengan lengannya seolah-olah melakukan kayuhan anjing tegak lurus.

‘– well, aku akan simpan untuk pesta-pesta, eh?’

Ron menyeret dirinya ke tempat tidur tidak lama setelah ini. Demi menghargai perasaannya, Harry menunggu sebentar sebelum naik ke kamar asrama sendiri, sehingga Ron bisa pura-pura tidur kalau dia mau. Memang benar, ketika Harry akhirnya memasuki kamar Ron sedang mendengkur sedikit terlalu keras untuk masuk akal.

Harry naik ke ranjang sambil memikirkan pertandingan itu. Sangat memfrustrasikan menonton dari pinggir. Dia sangat terkesan pada penampilan Ginny tetapi dia tahu kalau dia bermain dia akan bisa menangkap Snitch lebih cepat … ada saat di mana Snitch berkibaran di dekat mata kaki Kirke; kalau Ginny tidak bimbang, dia mungkin bisa menghasilkan kemenangan bagi Gryffindor.

Umbridge telah duduk beberapa baris di bawah Harry dan Hermione. Sekali atau dua kali dia berpaling sambil berjongkok di tempat duduknya untuk memandangnya, mulut kataknya yang lebar merentang membentuk apa yang Harry pikir senyum gembira. Ingatan itu membuatnya merasa panas karena marah sementara dia berbaring di sana dalam kegelapan. Namun, setelah beberapa menit, dia ingat bahwa dia seharusnya mengosongkan pikirannya dari semua emosi sebelum dia tidur, seperti yang terus diperintahkan Snape pada akhir setiap pelajaran Occlumencynya.

Dia mencoba selama satu atau dua saat, tetapi memikirkan Snape di atas ingatannya pada Umbridge hanya meningkatkan rasa ketidaksenangannya dan dia mendapati dirinya sendiri malah berfokus pada seberapa besar dia membenci mereka berdua. Lambat laun, dengkuran Ron menghilang, digantikan dengan suara napas dalam dan lambat. Butuh Harry waktu lebih lama untuk tertidur; tubuhnya letih, tetapi butuh otaknya waktu yang lama untuk beristirahat.

Dia bermimpi bahwa Neville dan Profesor Sprout sedang berdansa waltz mengitari Ruang Kebutuhan sementara Profesor McGonagall memainkan alat musik bagpipe. Dia mengamati mereka dengan gembira selama beberapa saat, lalu memutuskan untuk pergi mencari anggota-anggota DA yang lain.

Tetapi ketika dia meninggalkan ruangan itu dia mendapati dirinya menghadapi, bukan permadani dinding Barnabas si Bodoh, melainkan sebuah obor yang menyala dalam penopangnya di tembok batu. Dia memalingkan kepalanya lambat-lambat ke kiri. Di sana, di ujung jauh dari lorong tak berjendela itu, ada sebuah pintu hitam polos.

Dia berjalan ke arahnya dengan perasaan bersemangat yang semakin memuncak. Dia mendapatkan perasaan teraneh bahwa kali ini dia akhirnya akan beruntung, dan menemukan cara membukanya … dia berjarak beberapa kaki darinya, dan melihat dengan lompatan kegembiraan bahwa ada celah berkilauan cahaya biru redup di sisi kanan … pintu itu terbuka sedikit … dia merentangkan tangannya untuk mendorongnya lebar-lebar dan –

Ron mengeluarkan dengkur asli yang keras dan parau dan Harry terbangun mendadak dengan tangan kanan terulur di depannya dalam kegelapan, untuk membuka pintu yang ratusan mil jauhnya. Dia membiarkannya jatuh dengan perasaan campuran kecewa dan merasa bersalah. Dia tahu dia seharusnya tidak melihat pintu itu, tetapi pada saat yang sama begitu termakan rasa ingin tahu tentang apa yang ada di baliknya sehingga dia tidak bisa tidak merasa jengkel pada Ron … kalau saja dia bisa menyimpan dengkurannya satu menit lagi.

*

Mereka memasuki Aula Besar untuk sarapan pada saat yang persis sama dengan pos burung hantu pada Senin pagi. Hermione bukan satu-satunya orang yang bersemangat menunggu Daily Prophet-nya untuk mendapatkan lebih banyak berita mengenai para Pelahap Maut yang lepas, yang, walaupun banyak laporan penampakan, masih belum tertangkap. Dia memberikan burung hantu pengantar sebuah Knut dan membuka lipatan surat kabar itu dengan bersemangat sementara Harry minum jus jeruk; karena dia hanya menerima sebuah catatan selama satu tahun penuh, dia yakin, ketika burung hantu pertama mendarat dengan bunyi gedebuk di hadapannya, bahwa burung itu membuat kesalahan.

‘Siapa yang kaucari?’ dia bertanya kepada burung itu, sambil memindahkan jus jeruknya dengan lesu dari bawah paruhnya dan mencondongkan badan ke depan untuk melihat nama dan alamat penerima:

Harry Potter Aula Besar Sekolah Hogwarts

Sambil merengut, dia bergerak akan mengambil surat itu dari burung hantu itu, tetapi sebelum dia bisa melakukannya, tiga, empat, lima burung hantu lagi berkibaran turun ke sampingnya dan sedang berebut posisi, menginjak mentega dan menjatuhkan garam selagi masing-masing mencoba memberinya surat mereka duluan.

‘Apa yang sedang terjadi?” Ron bertanya dengan heran, sementara seluruh meja Gryffindor mencondongkan badan ke depan untuk menonton dan tujuh burung hantu lagi mendarat di antara yang pertama, sambil memekik, beruhu dan mengepakkan sayap mereka.

‘Harry!’ kata Hermione terengah-engah, sambil membenamkan tangannya ke kumpulan bulu itu dan menarik keluar seekor burung hantu pekik yang membawa sebuah paket panjang berbentuk tabung. ‘Kukira aku tahu apa artinya ini — buka yang satu ini terlebih dahulu!’

Harry merobek pembungkuk cokelatnya. Bergelung keluar sebuah salinan edisi Maret The Quibbler yang tergulung erat. Dia membuka gulungannya untuk melihat wajahnya sendiri menyeringai malu-malu kepadanya dari halaman depan. Dalam huruf-huruf besar merah membentang di gambar ini adalah kata-kata:

BERBICARA TERUS-TERANG AKHIRNYA

KEBENARAN MENGENAI DIA-YANG-NAMANYA-TIDAK-BOLEH-DISEBUT

DAN MALAM AKU MELIHATNYA KEMBALI

‘Bagus, bukan?’ kata Luna yang telah datang ke meja Gryffindor dan sekarang memaksakan dirinya ke bangku di antara Fred dan Ron. ‘Keluarnya kemarin, aku minta Dad mengirimkanmu sebuah salinan gratis. Kuduga semua ini,’ dia melambaikan sebelah tangan ke kumpulan burung hantu yang masih meraba-raba di meja di hadapan Harry, ‘adalah surat-surat dari para pembaca.’

‘Itulah yang kupikir,’ kata Hermione dengan bersemangat. ‘Harry, apakah kau keberatan kalau kami –?’

‘Silakan saja,’ kata Harry, merasa agak geli.

Ron dan Hermione mulai merobek amplop-amplop.

‘Yang satu ini dari seorang cowok yang mengira kau sinting,’ kata Ron sambil memandang sekilas ke suratnya. ‘Ah well …’

‘Wanita ini merekomendasikanmu mencoba kursus bagus Mantera Guncangan di St Mungo,’ kata Hermione, terlihat kecewa dan lesu dalam sedetik.

‘Yang satu ini tampak OK,’ kata Harry lambat-lambat, sambil membaca sekilas sepucuk surat panjang dari seorang penyihir wanita di Paisley. ‘Hei, dia bilang dia percaya padaku!’

‘Yang satu ini tak bisa memutuskan,’ kata Fred, yang telah bergabung dalam pembukaan surat dengan antusias. ‘Bilang kau tidak terlihat sebagai orang gila, tapi dia sebenarnya tidak mau percaya Kau-Tahu-Siapa sudah kembali jadi dia tidak tahu harus berpikir apa sekarang. Astaga, betapa pemborosan perkamen.’

‘Di sini satu lagi yang berhasil kau yakinkan, Harry!’ kata Hermione dengan bersemangat. ‘Setelah membaca versi ceritamu, aku terpaksa mengambil kesimpulan bahwa Daily Prophet telah memperlakukanmu dengan sangat tidak adil … walaupun aku tidak ingin berpikir bahwa Dia-Yang-Namanya-Tidak-Boleh-Disebut telah kembali, aku terpaksa menerima bahwa kau sedang mengatakan yang sebenarnya … Oh, ini bagus sekali!’

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.