Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

‘Aku datang ke sini bersama Cedric tahun lalu,’ kata Cho.

Dalam waktu sekitar satu detik yang dibutuhkannya untuk memahami apa yang telah dikatakannya, isi tubuh Harry telah menjadi sedingin es. Dia tidak bisa percaya Cho mau membicarakan tentang Cedric sekarang, sementara pasangan-pasangan yang sedang berciuman mengelilingi mereka dan sebuah anak kecil bersayap melayang di atas kepala mereka.

Suara Cho agak lebih tinggi ketika dia berbicara lagi.

‘Aku sudah ingin bertanya kepadamu sejak lama sekali … apakah Cedric — apakah dia

– menyebutku sama sekali sebelum dia mati?’

Ini adalah subyek paling akhir di dunia ini yang ingin dibahas Harry, dan dia paling tidak ingin membahasnya dengan Cho.

‘Well — tidak –,’ dia berkata pelan. ‘Tidak — tidak ada waktu baginya untuk mengatakan apapun. Erm … jadi … apakah kau … apakah kau menonton banyak Quidditch sewaktu liburan? Kau mendukung Tornado, benar ‘kan?’

Suaranya terdengar pura-pura ceria dan riang. Yang membuatnya ngeri, dia melihat bahwa mata Cho penuh air mata lagi, seperti saat setelah pertemuan terakhir DA sebelum Natal.

‘Lihat,’ dia berkata dengan putus asa, sambil mencondongkan badan sehingga orang lain tidak ada yang bisa mencuri dengar, ‘mari kita tidak membicarakan tentang Cedric sekarang … mari bicara tentang sesuatu yang lain.’

Tetapi ini, tampaknya, adalah hal yang salah untuk dikatakan.

‘Kukira,’ dia berkata, air mata bercucuran ke meja, ‘kukira kau akan m-m-mengerti! Aku perlu bicara tentang itu! Tentunya kau p-perlu bicara tentang itu j-juga! Maksudku, kau melihatnya terjadi, b-bukan?’

Semua hal menjadi salah seperti mimpi buruk, pacar Roger Davies bahkan sudah melepaskan dirinya untuk memandang Cho yang sedang menangis.

‘Well — aku sudah membicarakannya,’ Harry berkata dalam bisikan, ‘kepada Ron dan Hermione, tapi –‘

‘Oh, kau mau bicara dengan Hermione Granger!’ dia berkata dengan nyaring, wajahnya sekarang berkilau karena air mata. Beberapa pasangan lain yang sedang berciuman berpisah untuk memandangi mereka. ‘Tapi kau tidak mau bicara denganku! M-mungkin paling baik kalau kita … bayar saja dan kau pergi menemui Hermione G-Granger, seperti yang jelas sekali kau mau!’

Harry menatapnya, benar-benar bingung, selagi dia meraih sebuah serbet berjumbaijumbai dan menyeka wajahnya dengan itu.

‘Cho?’ dia berkata dengan lemah, sambil berharap Roger mau menyambar pacarnya dan mulai menciuminya lagi untuk menghentikan gadis itu membelalak kepadanya dan Cho.

‘Ayolah, pergi!’ dia berkata, sekarang menangis ke dalam serbet. ‘Aku tidak tahu kenapa kau mengajakku keluar sejak awal kalau kau akan membuat janji bertemu gadisgadis lain persis setelah aku … berapa banyak yang akan kau temui setelah Hermione?’

‘Bukan seperti itu!’ kata Harry, dan dia begitu lega akhirnya mengerti mengapa Cho marah sehingga dia tertawa, yang disadarinya sepersekian detik terlambat juga sebuah kesalahan.

Cho bangkit. Seluruh kedai teh itu diam dan semua orang sedang mengamati mereka sekarang.

‘Sampai jumpa lagi, Harry,’ dia berkata dengan dramatis, dan sambil tersedu sedikit dia berlari ke pintu, merenggutnya terbuka dan bergegas pergi di dalam hujan lebat.

‘Cho!’ Harry memanggilnya, tetapi pintu sudah berayun tertutup di belakangnya dengan gemerincing merdu.

Ada keheningan total di dalam kedai teh itu. Semua mata menatap Harry. Dia melemparkan sebuah Galleon ke meja, menggoyangkan konfeti merah jambu dari rambutnya, dan mengikuti Cho keluar pintu.

Sekarang sedang turun hujan lebar dan Cho tidak terlihat di manapun. Dia hanya tidak mengerti apa yang telah terjadi; setengah jam yang lalu mereka baik-baik saja.

‘Wanita!’ dia bergumam dengan marah, berjalan sambil memercikkan air di jalan yang tersiram hujan itu dengan tangannya berada di kantongnya. ‘Lagipula, untuk apa dia mau berbincang-bincang tentang Cedric? Kenapa dia selalu mau menyeret sebuah subyek yang membuatnya bertingkah seperti pipa air manusia?’

Dia berbelok ke kanan dan mulai berlari, dan dalam beberapa menit dia sedang berbelok ke ambang pintu Three Broomsticks. Dia tahu dia terlalu awal untuk menemui Hermione, tetapi dia berpikir mungkin sekali akan ada seseorang di sini dengan siapa dia bisa menghabiskan waktu antaranya. Dia menggoyangkan rambut basahnya keluar dari matanya dan memandang berkeliling. Hagrid sedang duduk sendirian di sebuah sudut, terlihat murung.

‘Hai, Hagrid!’ dia berkata, ketika dia telah menyelinap melalui meja-meja yang berjejalan dan menarik sebuah kursi ke sampingnya.

Hagrid terlompat dan memandang ke bawah kepada Harry seolah-olah dia hampir tidak mengenalinya. Harry melihat bahwa dia sekarang punya dua luka potong baru di wajahnya dan beberapa memar baru.

‘Oh, kau, Harry,’ kata Hagrid. ‘Kau baik-baik saja?’

‘Yeah, aku baik,’ bohong Harry; tetapi, di sebelah Hagrid yang babak-belur dan tampak muram ini, dia merasa dia tidak punya banyak yang dikeluhkan. ‘Er –apakah kau baikbaik saja?’

‘Aku?’ kata Hagrid. ‘Oh yeah, aku hebat, Harry, hebat.’

Dia memandang ke dalam cangkir besarnya yang terbuat dari timah campuran, yang seukuran sebuah ember besar, dan menghela napas. Harry tidak tahu harus berkata apa kepadanya. Mereka duduk bersebelahan dalam diam selama beberapa saat. Lalu Hagrid

berkata dengan tiba-tiba, ‘Dalam kapal yang sama, kau dan aku, bukan, ‘Arry?’

‘Er –‘ kata Harry.

‘Yeah … aku sudah bilang sebelumnya … sama-sama orang luar, serupa,’ kata Hagrid

sambil mengangguk dengan bijaksana. ‘Dan sama-sama yatim piatu. Yeah … sama-sama yatim piatu.’

Dia minum seteguk besar dari cangkir besarnya.

‘Buat perubahan, punya keluarga yang pantas,’ dia berkata. ‘Ayahku pantas. Dan ibu dan ayahmu pantas. Kalau mereka masih hidup, hidup akan berbeda, eh?’

‘Yeah … kurasa,’ kata Harry dengan berhati-hati. Hagrid tampaknya berada dalam suasana hati yang sangat aneh.

‘Keluarga,’ kata Hagrid dengan murung. ‘Apapun yang kau katakan, darah itu penting …’

Dan dia menyeka aliran kecil yang keluar dari matanya.

‘Hagrid,’ kata Harry, tak mampu menghentikan dirinya sendiri, ‘di mana kamu mendapatkan semua luka ini?’

‘Eh?’ kata Hagrid, tampak terkejut. ‘Luka apa?’

‘Semua itu!’ kata Harry sambil menunjuk pada wajah Hagrid.

‘Oh … itu cuma benjol dan memar biasa, Harry,’ kata Hagrid mengelak, ‘aku punya pekerjaan kasar.’

Dia menghabiskan isi cangkir besarnya, meletakkannya kembali dan bangkit.

‘Sampai jumpa, Harry … jaga dirimu.’

Dan dia berjalan dengan susah payah keluar dari bar itu tampak sedih, dan menghilang ke hujan yang sangat deras. Harry mengamatinya pergi, merasa sengsara. Hagrid tidak

gembira dan dia sedang menyembunyikan sesuatu, tetapi dia kelihatannya bertekad untuk tidak menerima bantuan. Apa yang sedang terjadi? Tetapi sebelum Harry bisa memikirkannya lebih lanjut, dia mendengar sebuah suara memanggil namanya.

‘Harry! Harry, sebelah sini!’

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.