Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

‘Mungkin sedikit mirip penyakit,’ kata Hermione, terlihat kuatir ketika Harry curhat kepadanya dan Ron. ‘Demam atau sesuatu. Harus memburuk dulu sebelum membaik.’

‘Pelajaran dengan Snape membuatnya semakin buruk,’ kata Harry dengan datar. ‘Aku mulai muak dengan bekas lukaku yang sakit dan aku mulai bosan dengan berjalan menyusuri koridor itu setiap malam.’ Dia menggosok keningnya dengan marah. ‘Aku hanya berharap pintu itu akan terbuka, aku muak berdiri menatapnya –‘

‘Itu tidak lucu,’ kata Hermione dengan tajam. ‘Dumbledore tidak ingin kau mendapatkan mimpi-mimpi tentang koridor itu sama sekali, atau dia tidak akan meminta Snape mengajarimu Occlumency. Kau hanya harus bekerja sedikit lebih keras dalam pelajaranmu.’

‘Aku sedang melakukannya!’ kata Harry terluka hatinya. ‘Kau coba suatu waktu –Snape mencoba masuk ke dalam kepalamu — bukan hal yang patut ditertawakan, kau tahu!’

‘Mungkin …’ kata Ron lambat-lambat.

‘Mungkin apa?’ kata Hermione, agak membentak.

‘Mungkin bukan salah Harry dia tidak bisa menutup pikirannya,’ kata Ron dengan suram.

‘Apa maksudmu?’ kata Hermione.

‘Well, mungkin Snape tidak benar-benar mencoba membantu Harry …’

Harry dan Hermione menatapnya. Ron memandang dengan suram dan penuh arti dari yang satu ke yang lain.

‘Mungkin,’ dia berkata lagi, dengan suara yang lebih rendah, ‘dia sebenarnya sedang berusaha membuka pikiran Harry sedikit lebih lebar … membuatnya lebih mudah untuk Kau-Tahu-Siapa –‘

‘Diam, Ron,’ katak Hermione dengan marah. ‘Berapa kali kau sudah mencurigai Snape, dan kapan kau pernah benar? Dumbledore mempercayai dia, dia bekerja untuk Order, itu seharusnya sudah cukup.’

‘Dia dulu seorang Pelahap Maut,’ kata Ron dengan keras kepala. ‘Dan kita belum pernah melihat bukti bahwa dia benar-benar berpindah sisi.’

‘Dumbledore mempercayai dia,’ Hermione mengulangi. ‘Dan kalau kita tidak bisa mempercayai Dumbledore, kita tidak bisa percaya siapapun.’

*

Dengan begitu banyak untuk dikhawatirkan dan begitu banyak untuk dilakukan -sejumlah mengejutkan pekerjaan rumah yang sering menahan anak-anak kelas lima tetap bekerja sampai lewat tenagh malam, sesi-sesi DA rahasia dan kelas-kelas teratur dengan Snape — Januari tampaknya berlalu begitu cepat. Sebelum Harry sadar, Februari sudah tiba, membawa bersamanya cuaca yang lebih basah dan lebih hangat dan prospek kunjungan Hogsmeade kedua tahun itu. Harry punya sangat sedikit waktu senggang untuk bercakap-cakap dengan Cho sejak mereka setuju mengunjungi desa itu bersamasama, tetapi mendadak mendapati dirinya menghadapi satu Hari Valentine penuh untuk dihabiskan bersamanya.

Di pagi tanggal empat belas itu dia berpakaian dengan hati-hati. Dia dan Ron tiba di makan pagi tepat waktu untuk kedatangan pos burung hantu. Hedwig tidak ada di sana -bukannya Harry mengharapkan dia — tetapi Hermione sedang menyentak sebuah surat dari paruh seekor burung hantu cokelat yang tidak dikenal ketika mereka duduk.

‘Dan sudah waktunya! Kalau tidak datang hari ini …’ dia berkata, merobek amplop dengan bersemangat dan menarik keluar sepotong kecil perkamen. Matanya bergegas dari kiri ke kanan selagi dia membaca pesan itu dan ekspresi senang membentang di wajahnya.

‘Dengar, Harry,’ dia berkata sambil memandangnya, ‘ini benar-benar penting. Apakah kaupikir kau bisa menemuiku di Three Broomsticks sekitar tengah hari?’

‘Well … aku tak tahu,’ kata Harry tidak yakin. ‘Cho mungkin mengharapkan aku menghabiskan satu hari penuh bersamanya. Kami tidak pernah membicarakan apa yang akan kami lakukan.’

‘Well, bawa dia bersamamu kalau harus,’ kata Hermione mendesak. ‘Tapi maukah kau datang?’

‘Well … baiklah, tapi mengapa?’

‘Aku tidak punya waktu untuk memberitahu kalian, aku harus menjawab ini cepatcepat.’

Dan dia bergegas keluar dari Aula Besar, surat itu tergenggam di satu tangan dan sepotong roti panggang di tangan lainnya.

‘Kau ikut?’ Harry bertanya kepada Ron, tetapi dia menggelengkan kepalanya, tampak muram.

‘Aku tidak bisa pergi ke Hogsmeade sama sekali; Angelina mau latihan sehari penuh. Kayak itu bisa membantu; kami tim terburuk yang pernah kulihat. Kau harus melihat Sloper dan Kirke, mereka menyedihkan, bahkan lebih buruk daripada aku.’ Dia menghela napas dalam-dalam. ‘Aku tak tahu kenapa Angelina tidak mau membiarkan aku mengundurkan diri saja.’

‘Itu karena kau bagus ketika kondisimu baik, itulah sebabnya,’ kata Harry dengan kesal.

Dia merasa sangat sulit bersimpati pada penderitaan Ron, sementara dirinya sendiri akan memberikan hampir apapun untuk bermain di pertandingan mendatang melawan Hufflepuff. Ron tampaknya memperhatikan nada suara Harry, karena dia tidak menyebut Quidditch lagi selama makan siang, dan ada sedikit kebekuan dalam cara mereka berpamitan kepada satu sama lain beberapa saat kemudian. Ron pergi ke lapangan Quidditch dan Harry, setelah mencoba meratakan rambutnya sementara menatap bayangannya di punggung sebuah sendok teh, berjalan sendirian ke Aula Depan untuk menemui Cho, merasa sangat gelisah dan bertanya-tanya apa yang akan mereka perbincangkan.

Dia sedang menunggunya agak ke samping dari pintu-pintu depan dari kayu ek, terlihat sangat cantik dengan rambutnya diikat ke belakang membentuk ekor kuda. Kaki Harry tampaknya terlalu besar bagi badannya selagi dia berjalan ke arahnya dan dia mendadak teringat akan lengannya dan bagaimana bodohnya lengan-lengan itu terlihat berayun-ayun di sisi tubuhnya.

‘Hai,’ kata Cho agak terengah-engah.

‘Hai,’ kata Harry.

Mereka saling bertatapan selama beberapa saat, lalu Harry berkata, ‘Well — er — kalau begitu, kita pergi?’

‘Oh –ya …’

Mereka bergabung dengan antrian orang-orang yang sedang ditandai oleh Filch, terkadang saling bertatapan satu sama lain dan menyengir dengan segan, tetapi tidak berbicara kepada satu sama lain. Harry lega ketika mereka mencapai udara segar, mendapati lebih mudah untuk berjalan bersama dalam keheningan daripada cuma berdiri di tempat terlihat canggung. Hari itu segar, berangin sepoi-sepoi dan ketika mereka melewati stadiun Quidditch Harry melihat Ron dan Ginny sekilas sedang meluncur di atas tribun dan merasakan kepedihan mengerikan bahwa dia tidak ada di atas sana bersama mereka.

‘Kau benar-benar merindukannya, bukan?’ kata Cho.

Dia memandang berkeliling dan melihatnya sedang mengamatinya.

‘Yeah,’ kata Harry sambil menghela napas. ‘Memang.’

‘Ingat pertama kali kita bermain melawan satu sama lain, di tahun ketiga?’ dia bertanya kepadanya.

‘Yeah,’ kata Harry sambil nyengir. ‘Kau terus menghadangku.’

‘Dan Wood menyuruhmu tidak usah jadi pria sejati dan jatuhkan aku dari sapuku kalau kau harus,’ kata Cho sambil tersenyum mengenang. ‘Kudengar dia diterima oleh Pride of Portree, benarkah itu?’

‘Bukan, Puddlemere United; aku melihatnya di Piala Quidditch tahun lalu.’

‘Oh, aku melihatmu di sana juga, ingat? Kita ada di tempat berkemah yang sama. Benar-benar bagus, bukan?’

Subyek Piala Dunia Quidditch membawa mereka sepanjang jalan kereta dan keluar melalui gerbang. Harry hampir tidak bisa percaya betapa mudahnya berbicara dengannya — tidak lebih sulit, kenyataannya, daripada berbicara dengan Ron dan Hermione — dan dia baru saja mulai merasa percaya diri dan riang ketika sekelompok besar anak-anak perempuan Slytherion melewati mereka, termasuk Pansy Parkinson.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.