Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

Apapun yang dikatakan Snape, Legilimency terdengar seperti membaca pikiran kepada Harry, dan dia tidak suka yang didengarnya sama sekali.

‘Jadi, dia bisa tahu apa yang sedang kita pikirkan sekarang? Sir?’

‘Pangeran Kegelapan berada dalam jarak yang cukup jauh dan dinding-dinding serta halaman Hogwarts dijaga oleh banyak mantera dan jimat kuno untuk menjamin keselamatan fisik dan mental mereka yang tinggal di dalamnya,’ kata Snape. ‘Waktu dan ruang penting dalam sihir, Potter. Kontak mata sering diperlukan sekali untuk Legilimency.’

‘Well, kalau begitu, kenapa aku harus mempelajari Occlumency?’

Snape memandangi Harry, sambil menelusuri mulutnya dengan satu jari yang panjang dan kurus.

‘Peraturan biasa tampaknya tidak berlaku bagimu, Potter. Kutukan yang gagal membunuhmu tampaknya telah menempa semacam hubungan antara kamu dengan Pangeran Kegelapan. Bukti menyatakan bahwa pada saat-saat, ketika pikirannya paling santai dan mudah diserang — saat kau tertidur, contohnya — kau berbagi pikiran dan emosi Pangeran Kegelapan. Kepala Sekolah berpikir tidak bijaksana untuk diteruskan. Beliau ingin aku mengajarimu bagaimana menutup pikiranmu pada Pangeran Kegelapan.’

Jantung Harry berdebar cepat lagi. Tak satupun dari ini masuk akal.

‘Tetapi kenapa Profesor Dumbledore mau menghentikannya?’ dia bertanya mendadak. ‘Aku tidak begitu suka, tapi berguna, bukan? Maksudku … aku melihat ular itu menyerang Mr Weasley dan kalau tidak, Profesor Dumbledore tidak akan bisa menyelamatkannya, bukan? Sir?’

Snape menatap Harry beberapa saat, masih menelusuri mulutnya dengan jarinya. Ketika dia berbicara lagi, dilakukannya lambat-lambat dan berhati-hati, seolah-olah dia menimbang setiap kata.

‘Tampaknya Pangeran Kegelapan belum menyadari hubungan antara dirimu dan dirinya sampai akhir-akhir ini. Sampai sekarang tampaknya bahwa kau telah mengalami emosinya, dan berbagi pikirannya, tanpa dia tahu. Namun, penglihatan yang kau dapatkan tak lama sebelum Natal –‘

‘Tentang ular dan Mr Weasley?’

‘Jangan sela aku, Potter,’ kata Snape dengan suara berbahaya. ‘Seperti yang sedang kukatakan, penglihatan yang kau dapatkan tak lama sebelum Natal menggambarkan serangan yang begitu kuat pada pikiran-pikiran Pangeran Kegelapan –‘

‘Aku melihat ke dalam kepala ular itu, bukan dia!’

‘Kupikir aku baru saja menyuruhmu untuk tidak menyelaku, Potter?’

Tetapi Harry tidak peduli kalau Snape marah; setidaknya dia tampaknya mulai mencapai dasar masalah ini; dia telah maju di kursinya sehingga, tanpa sadar, dia sedang bertengger di bagian paling tepi, tegang seolah-olah sedang bersiap untuk lari.

‘Bagaimana bisa aku melihat melalui mata ular itu kalau pikiran Voldemort yang kumasuki?’

‘Jangan sebut nama Pangeran Kegelapan!’ ludah Snape.

Ada keheningan tidak menyenangkan. Mereka melotot kepada satu samal lain melewati Pensieve.

‘Profesor Dumbledore menyebut namanya,’ kata Harry pelan.

‘Dumbledore adalah seorang penyihir yang sangat kuat,’ Snape bergumam. ‘Walaupun beliau mungkin merasa cukup aman untuk menggunakan nama itu … kita-kita yang lain …’ Dia menggosok lengan bawah kirinya, tampaknya dengan tidak sadar, di titik di mana Harry tahu Tanda Kegelapan terbakar ke kulitnya.

‘Aku hanya ingin tahu,’ Harry mulai lagi, memaksa suaranya kembali ke nada sopan, ‘kenapa –‘

‘Kau sepertinya telah mengunjungi pikiran ular itu karena di sanalah Pangeran Kegelapan berada pada saat tertentu itu,’ geram Snape. ‘Dia sedang merasuki ular itu pada saat itu dan dengan begitu kau bermimpi kau ada di dalamnya juga.’

‘Dan Vol — dia — sadar aku ada di sana?’

‘Tampaknya begitu,’ kata Snape dengan dingin.

‘Bagaimana Anda tahu?’ kata Harry mendesak. ‘Apakah ini cuma dugaan Profesor Dumbledore, atau –?’

‘Kusuruh kau,’ kata Snape, kaku di kursinya, matanya menyipit,’ untuk memanggilku “sir”.’

‘Ya, sir,’ kata Harry tidak sabaran, ‘tapi bagaimana Anda tahu –?’

‘Cukup bahwa kami tahu,’ kata Snape menekan. ‘Poin pentingnya adalah bahwa Pangeran Kegelapan sekarang sadar bahwa kau mendapatkan akses kepada pikiran dan perasaannya. Dia juga menarik kesimpulan bahwa proses itu mungkin sekali bekerja berlawanan arah; yakni, dia sadar bahwa dia mungkin bisa memasuki pikiran dan perasaanmu sebagai balasannya –‘

‘Dan dia mungkin mencoba membuatku melakukan hal-hal?’ tanya Harry. ‘Sir?’ dia menambahkan dengan buru-buru.

‘Mungkin,’ kata Snape, terdengar dingin dan tidak peduli. ‘Yang membawa kita kembali ke Occlumency.’

Snape menarik keluar tongkatnya dari sebuah kantong di bagian dalam jubahnya dan Harry tegang di kursinya, tetapi Snape hanya mengangkat tongkat itu ke pelipisnya dan menempatkan ujungnya ke akar-akar berminyak rambutnya. Saat dia melepaskannya, beberapa zat keperakan keluar, merentang dari pelipisnya seperti benang halus yang tebal, yang putus ketika dia menarik tongkat itu menjauh dan jatuh dengan anggun ke dalam Pensieve, di mana benda itu berputar putih keperakan, bukan gas maupun cairan. Dua kali lagi, Snape mengangkat tongkatnya ke pelipisnya dan menempatkan zat keperakan itu ke dalam baskom batu itu, lalu, tanpa menawarkan penjelasan apapun tentang perilakunay, dia mengangkat Pensieve itu dengan hati-hati, menyimpannya ke sebuah rak menyingkir dari hadapan mereka dan kembali menghadapi Harry dengan tongkatnya dipegang siap sedia.

‘Berdiri dan keluarkan tongkatmu, Potter.’

Harry bangkit, merasa gugup. Mereka saling berhadapan dengan meja tulis itu di antara mereka.

‘Kau boleh menggunakan tongkatmu untuk berusaha melucuti senjataku, atau mempertahankan dirimu dengan cara apapun yang bisa kau pikirkan,’ kata Snape.

‘Apa yang akan Anda lakukan?’ Harry bertanya, sambil memandang tongkat Snape dengan gelisah.

‘Aku akan mencoba masuk ke dalam pikiranmu,’ kata Snape dengan lembut. ‘Kita akan melihat seberapa baik kau bertahan. Aku telah diberitahu bahwa kau sudah memperlihatkan bakat melawan Kutukan Imperius. Kau akan mendapati bahwa kekuatan yang serupa dibutuhkan untuk ini … kuatkan dirimu, sekarang. Legilimens!’

Snape telah menyerang sebelum Harry siap, sebelum dia bahkan mulai memanggil kekuatan bertahan apapun. Kantor itu berdengung di depan matanya dan menghilang; gambar demi gambar berpacu di pikirannya seperti sebuah film yang berkelap-kelip begitu hidup sehingga membutakannya dari sekelilingnya.

Dia berumur lima tahun, sedang menyaksikan Dudley mengendarai sepeda baru berwarna merah, dan hatinya penuh dengan kecemburuan … dia berumur sembilan tahun, dan Ripper si bulldog sedang mengejarnya naik ke sebuah pohon dan keluarga Dursley sedang tertawa di bawah di halaman … dia sedang duduk di bawah Topi Seleksi, dan topi itu sedang memberitahunya dia akan berhasil di Slytherin … Hermione sedang berbaring di sayap rumah sakit, wajahnya tertutup bulu hitam tebal … seratus Dementor menuju ke arahnya di samping danau yang gelap … Cho Chang sedang mendekatinya di bawah mistletoe …

Tidak, kata sebuah suara di dalam kepala Harry, selagi memori Cho semakin mendekat, kau tidak akan menyaksikan itu, kau tidak akan menyaksikan itu, itu pribadi –

Dia merasakan sakit menusuk di lututnya. Kantor Snape telah kembali ke penglihatannya dan dia menyadari bahwa dia telah jatuh ke lantai; salah satu lututnya terbentuk kaki meja tulis Snape dengan menyakitkan. Dia memandang kepada Snape, yang telah menurunkan tongkatnya dan sedang menggosok pergelangan tangannya. Ada bekas lecutan besar di sana, seperti bekas terbakar.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.