Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

‘Er –yeah,’ kata Harry. ‘Lihat –‘ dia berpaling kembali kepada Lupin, ‘apa yang sedang terjadi, aku belum mendengar apapun dari siapapun, apa yang Vol–?’

Beberapa penyihir membuat bunyi mendesis aneh; Dedalus Diggle menjatuhkan topinya lagi dan Moody menggeram, ‘Diam!’

‘Apa?’ kata Harry.

‘Kita tidak akan membahas apapun di sini, terlalu beresiko,’ kata Moody, sambil memalingkan mata normalnya kepada Harry. Mata sihirnya tetap berfokus ke langitlangit. ‘Sialan,’ dia menambahkan dengan marah, sambil meletakkan sebuah tangan ke tangan mata sihirnya, ‘terus macet — sejak dipakai bajingan itu.’

Dan dengan suara mengisap mengerikan seperti alat penyedot yang ditarik dari bak cuci, dia menarik keluar matanya.

‘Mad-Eye, kamu tahu itu menjijikan, ‘kan?’ kata Tonks memulai percakapan.

‘Ambilkan aku segelas air, maukah kau, Harry,’ pinta Moody.

Harry menyeberang ke alat pencuci piring, mengeluarkan sebuah gelas bersih dan mengisinya dengan air di bak cuci, masih dipandangi dengan penuh minat oleh kelompok penyihir itu. Pandangan mereka yang tidak berhenti mulai membuatnya jengkel.

‘Sulang,’ kata Moody, ketika Harry mengulurkan kepadanya gelas itu. Dia menjatuhkan bola mata sihir itu ke dalam air dan mendorongnya naik turun; mata ini berputar-putar, menatap mereka bergantian. ‘Aku mau daya pandang tiga ratus enam puluh derajat pada perjalanan pulang.’

‘Bagaimana kita akan pergi — kemanapun kita akan pergi?’ Harry bertanya.

‘Dengan sapu,’ kata Lupin. ‘Satu-satunya cara. Kau terlalu muda untuk ber-Apparate, mereka akan mengawasi Jaringan Floo dan lebih dari nilai hidup kita untuk merangkai Portkey tidak sah.’

‘Remus bilang kau penerbang yang andal,’ kata Kingsley Shaklebolt dengan suara dalamnya.

‘Dia sangat pandai,’ kata Lupin, yang sedang memeriksa jam tangannya. ‘Walau begitu, kamu sebaiknya pergi dan berkemas, Harry, kita ingin siap pergi ketika tandanya sampai.’

‘Aku akan ikut dan membantumu,’ kata Tonks dengan riang.

Dia mengikuti Harry kembali ke aula dan naik tangga, melihat sekeliling dengan rasa ingin tahu dan minat yang besar.

‘Tempat aneh,’ katanya. ‘Agak terlalu bersih, kau tahu maksudku? Agak kurang alami. Oh, ini lebih baik,’ dia menambahkan, ketika mereka memasuki kamar tidur Harry dan dia menyalakan lampunya.

Kamarnya jelas jauh lebih berantakan daripada bagian rumah yang lain. Terkurung di dalamnya selama empat hari dengan perasaan murung, Harry tidak repot merapikan tempat itu. Kebanyakan buku yang dimilikinya terserak di lantai di tempat dia mencoba mengalihkan perhatian dengan cara membacanya bergantian dan melemparnya ke samping; sangkar Hedwig perlu dibersihkan dan mulai berbau; dan kopernya tergeletak terbuka, menyingkapkan gabungan baju Muggle dan jubah penyihir yang campur aduk yang telah berjatuhan ke lantai di sekitarnya.

Harry mulai memunguti buku-buku dan melemparkannya dengan terburu-buru ke dalam kopernya. Tonks berhenti sejenak di depan lemari pakaiannya yang terbuka untuk melihat pantulannya pada kaca di bagian dalam pintu secara kritis.

‘Kau tahu, aku tidak merasa violet warna yang cocok denganku,’ dia berkata sambil termenung, sambil menarik-narik seikat rambut jigraknya. ‘Apa menurutmu ini membuatku terlihat agak bertanduk?’

‘Er –‘ kata Harry, sambil menatapnya dari balik Tim-Tim Quidditch Britania dan Irlandia.

‘Yeah, benar,’ kata Tonks memutuskan. Dia menegangkan matanya dengan ekspresi dipaksakan seakan-akan dia sedang berjuang mengingat sesuatu. Sedetik kemudian, rambutnya berubah menjadi merah muda permen karet.

‘Bagaimana caramu melakukan itu?’ kata Harry, sambil menganga kepadanya ketika dia membuka mata lagi.

‘Aku seorang Metamorphmagus,’ katanya sambil melihat balik ke bayangannya dan memalingkan kepalanya sehingga dia bisa melihat rambutnya dari segala arah. Maksudnya aku bisa mengubah penampilanku sekehendak hati,’ dia menambahkan, ketika melihat ekspresi kebingungan Harry pada cermin di belakangnya. ‘Aku terlahir begitu. Aku mendapat nilai tertinggi dalam Persembunyian dan Penyamaran selama pelatihan Auror tanpa belajar sama sekali, hebat sekali.’

‘Kau seorang Auror?’ kata Harry, terkesan. Menjadi penangkap Penyihir Gelap adalah satu-satunya karir yang pernah dipertimbangkannya setelah Hogwarts.

‘Yeah,’ kata Tonks, terlihat bangga. ‘Kingsley juga, walau dia sedikit lebih tinggi dariku. Aku baru memenuhi syarat setahun yang lalu. Hampir gagal di Masuk Diam-Diam dan Mencari Jejak. Aku sangat kagok, apakah kau mendengarku memecahkan piring itu ketika kami tiba di bawah?’

‘Dapatkah kau belajar jadi seorang Metamorphmagus?’ Harry bertanya kepadanya, sambil meluruskan diri, sepenuhnya lupa berkemas.

Tonks tertawa kecil.

‘Aku bertaruh kamu pasti tidak keberatan menyembunyikan bekas luka itu kadangkadang, eh?’

Matanya menemukan bekas luka berbentuk kilat di dahi Harry.

‘Tidak, aku takkan keberatan,’ Harry bergumam, sambil memalingkan muka. Dia tidak suka orang-orang menatap bekas lukanya.

‘Well, kutakut kamu harus belajar cara yang susah,’ kata Tonks. ‘Para Metamorphmagus sangat langka, mereka terlahir begitu, bukan dibuat. Kebanyakan penyihir menggunakan tongkat, atau ramuan, untuk mengubah penampilan mereka.

Tetapi kita harus bergegas, Harry, kita seharusnya berkemas,’ dia menambahkan dengan rasa bersalah, sambil melihat berkeliling pada semua kekacauan di lantai.

‘Oh –yeah,’ kata Harry sambil mengambil beberapa buku lagi.

‘Jangan bodoh, jauh lebih cepat kalau aku yang — berkemas!’ teriak Tonks, sambil melambaikan tongkatnya dengan gerakan menyapu yang panjang ke lantai.

Buku-buku, pakaian, teleskop dan timbangan semuanya membumbung ke udara dan terbang kacau balau ke dalam koper.

‘Tidak terlalu rapi,’ kata Tonks sambil berjalan ke koper dan melihat ke tumpukan di dalamnya. ‘Ibuku punya ketangkasan untuk membuat benda-benda masuk dengan rapi -dia bahkan membuat kaus kaki terlipat sendiri — tapi aku belum menguasai bagaimana dia melakukannya — mirip jentikan seperti ini –‘ Dia menjentikkan tongkatnya dengan penuh harapan.

Salah satu kaus kaki Harry bergeliut dengan lemah dan tergeletak kembali ke puncak tumpukan kacau di dalam koper.

‘Ah, well,’ kata Tonks, sambil membanting tutup koper hingga tertutup, ‘setidaknya semua sudah masuk. Itu juga perlu sedikit pembersihan.’ Dia menunjukkan tongkatnya ke sangkar Hedwig. ‘Scurgify.’ Beberapa bulu dan kotoran menghilang. ‘Well, itu agak lebih baik — aku tidak pernah benar-benar bisa semua mantera jenis pekerjaan rumah ini. Benar — sudah semuanya? Kuali? Sapu? Wow! — Sebuah Firebolt?’

Matanya melebar ketika memandang sapu terbang di tangan kanan Harry. Itu adalah kebanggaan dan kesayangannya, sebuah kado dari Sirius, sebuah sapu terbang berstandar internasional.

‘Dan aku masih naik Komet Dua Enam Puluh,’ kata Tonks dengan iri. ‘Ah well … tongkatmu masih di celana jinsmu? Kedua pantat masih ada? OK, ayo pergi. Locomotor koper.’

Koper Harry naik beberapa inci ke udara. Sambil memegang tongkatnya seperti tongkat dirigen, Tonks membuat koper itu melayang menyeberangi ruangan dan keluar dari pintu di hadapan mereka, dengan sangkar Hedwig di tangan kirinya. Harry mengikutinya menuruni tangga sambil membawa sapu terbangnya.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.