Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

‘Sirius!’ kata Harry keras-keras, tetapi Sirius tampaknya tidak mendengar dia.

‘Kuperingatkan kau, Snivellus,’ kata Sirius, wajahnya tidak sampai satu kaki dari wajah Snape, ‘Aku tidak peduli kalau Dumbledore mengira kau sudah tobat, aku lebih tahu –‘

‘Oh, tapi kenapa kau tidak memberitahunya begitu?’ bisik Snape. ‘Atau apakah kau takut dia mungkin tidak menganggap serius nasehat dari seorang lelaki yang telah bersembunyi di dalam rumah ibunya selama enam bulan?’

‘Beritahu aku, bagaimana keadaan Lucius Malfoy akhir-akhir ini? Kuduga dia senang anjing piaraannya bekerja di Hogwarts, bukan?’

‘Berbicara tentang anjing,’ kata Snape dengan lembut, ‘tahukah kau bahwa Lucius Malfoy mengenalimu terakhir kali kau mempertaruhkan pesiar kecil ke luar? Gagasan yang pintar, Black, membuat dirimu terlihat di atas sebuah peron stasiun yang aman … memberimu alasan sekuat besi untuk tidak meninggalkan lubang persembunyianmu di masa mendatang, bukan?’

Sirius mengangkat tongkatnya.

‘TIDAK!’ Harry berteriak, sambil melompati meja dan mencoba berada di antara mereka. ‘Sirius, jangan!’

‘Apakah kau menyebutku pengecut?’ raung Sirius, mencoba mendorong Harry, tetapi Harry tidak mau bergeming.

‘Ya, kurasa begitu,’ kata Snape.

‘Harry — menyingkirlah!’ bentak Sirius, sambil mendorongnya ke samping dengan tangannya yang bebas.

Pintu dapur terbuka dan seluruh keluarga Weasley, ditambah Hermione, masuk, semuanya terlihat sangat gembira, dengan Mr Weasley berjalan dengan bangga di tengahtengah mereka berpakaian piyama garis-garis yang ditutupi dengan jas hujan.

‘Sembuh!’ dia mengumumkan dengan ceria kepada dapur secara keseluruhan. ‘Sepenuhnya sembuh!’

Dia dan semua anggota keluarga Weasley lainnya membeku di ambang pintu, menatap ke adegan di depan mereka, yang juga terhenti di tengah-tengah, baik Sirius maupun Snape sedang memandang pintu dengan tongkat mereka saling menunjuk wajah satu sama lain dan Harry tidak bergerak di antara mereka, sebuah tangan direntangkan ke masing-masing orang, mencoba memaksa mereka berpisah.

‘Jenggot Merlin,’ kata Mr Weasley, senyum memudar dari wajahnya, ‘apa yang sedang terjadi di sini?’

Sirius dan Snape menurunkan tongkat mereka. Harry memandang dari yang satu ke yang lain. Masing-masing mengenakan ekspresi sangat jijik, namun masuknya begitu banyak saksi yang tidak terduga tampaknya telah menyadarkan mereka. Snape mengantongi tongkatnya, berpaling dan berjalan kembali menyeberangi dapur, melewati keluarga Weasley tanpa komentar. Di pintu dia memandang balik.

‘Pukul enam, Senin malam, Potter.’

Dan dia pergi. Sirius melotot di belakangnya, tongkatnya di sampingnya.

‘Apa yang sudah terjadi?’ tanya Mr Weasley lagi.

‘Tidak apa-apa, Arthur,’ kata Sirius, yang sedang bernapas dengan berat seolah-olah dia baru saja berlari jarak jauh. ‘Cuma perbincangan kecil yang ramah antara dua teman sekolah lama.’ Dengan apa yang tampak seperti usaha berat, dia tersenyum. ‘Jadi … kau sembuh? Itu kabar yang sangat bagus, benar-benar hebat.’

‘Ya, bukan begitu?’ kata Mrs Weasley sambil menuntun suaminya maju ke sebuah kursi. ‘Penyembuh Smethwyck melakukan sihirnya akhirnya, menemukan sebuah penawar racun atas apapun yang ular itu punya di taringnya, dan Arthur sudah jera mencoba-coba obat Muggle, bukan begitu, sayang?’ dia menambahkan, agak mengancam.

‘Ya, Molly, sayang,’ kata Mr Weasley tanpa perlawanan.

Makan malam ini seharusnya ceria, dengan Mr Weasley kembali di antara mereka. Harry bisa tahu Sirius sedang berusaha membuatnya demikian, tetapi ketika ayah angkatnya tidak sedang memaksa diirnya sendiri untuk tertawa keras-keras pada leluconlelucon Fred dan George atau menawari semua orang makanan lagi, wajahnya kembali ke ekspresi murung dan memikirkan hal-hal yang menyedihkan. Harry dipisahkan darinya oleh Mundungus dan Mad-Eye, yang mampir untuk memberi Mr Weasley selamat. Dia ingin berbicara kepada Sirius, untuk memberitahunya dia seharusnya tidak mendengarkan sepatah katapun yang dikatakan Snape, bahwa Snape sedang menghasutnya dengan sengaja dan bahwa yang lainnya tidak menganggap Sirius seorang pengecut karena melakukan seperti yang disuruh Dumbledore dan tinggal di Grimmauld Place. Tetapi dia tidak mempunyai kesempatan untuk melakukannya, dan, sambil memandang tampang jelek di wajah Sirius, Harry terkadang bertanya-tanya apakah dia akan berani menyebutnya kalaupun dia memiliki kesempatan. Alih-alih, dia memberitahu Ron dan Hermione dengan suara rendah tentang harus mengambil pelajaran-pelajaran Occlumency dengan Snape.

‘Dumbledore mau kamu berhenti mendapatkan mimpi-mimpi tentang Voldemort itu,’ kata Hermione seketika. ‘Well, kamu tidak akan menyesal tidak mendapatkannya lagi, bukan?’

‘Pelajaran tambahan dengan Snape?’ kata Ron, terdengar kaget. ‘Aku lebih suka dapat mimpi buruk!’

Mereka harus kembali ke Hogwarts naik Bus Ksatria hari berikutnya, dikawal sekali lagi oleh Tonks dan Lupin, yang keduanya sedang makan pagi di dapur ketika Harry, Ron dan Hermione turun pagi berikutnya. Orang-orang dewasa tampaknya sedang mengadakan percakapan bisik-bisik ketika Harry membuka pintu; mereka semua memandang berkeliling dengan buru-buru dan terdiam.

Setelah makan pagi tergesa-gesa, mereka semua mengenakan jaket dan scarf melawan pagi Januari yang dingin kelabu. Harry memiliki perasaan tertarik yang tidak menyenangkan di dadanya; dia tidak mau mengatakan selamat tinggal kepada Sirius. Dia memiliki perasaan buruk tentang perpisahan ini; dia tidak tahu kapan mereka akan bertemu satu sama lain lagi dan dia merasa berkewajiban mengatakan sesuatu kepada Sirius untuk menghentikannya melakukan apapun yang bodoh — Harry kuatir bahwa tuduhan kepengecutan Snape telah menusuk Sirius begitu hebat sehingga sekarang dia bahkan mungkin merencanakan beberapa perjalanan gila-gilaan keluar dari Grimmauld Place. Namun, sebelum dia bisa memikirkan apa yang harus dikatakan, Sirius telah memberinya isyarat untuk datang ke sampingnya.

‘Aku mau kau bawa ini,’ dia berkata pelan, sambil menyodorkan sebuah paket yang dibungkus sekenanya yang kurang lebih seukuran sebuah buku tulis ke dalam tangan Harry.

‘Apa itu?’ Harry bertanya.

‘Suatu cara memberitahuku kalau Snape sedang menyulitkanmu. Tidak, jangan buka di sini!’ kata Sirius, dengan pandangan waspada kepada Mrs Weasley, yang sedang mencoba membujuk si kembar untuk mengenakan sarung tangan rajutan tangan. ‘Aku ragu Molly akan menyetujui — tapi aku mau kau menggunakannya kalau kau perlu aku, oke?’

‘OK,’ kata Harry sambil menyimpan paket itu di kantong bagian dalam jaketnya, tetapi dia tahu dia tidak akan pernah menggunakan apapun itu. Bukan dia, Harry, yang akan memikat Sirius keluar dari tempat keselamatannya, tak peduli betapa buruknya Snape memperlakukan dia dalam kelas-kelas Occlumency mereka yang akan datang.

‘Kalau begitu, ayo pergi,’ kata Sirius sambil menepuk bahu Harry dan tersenyum suram, dan sebelum Harry bisa mengatakan hal lai, mereka sedang menuju lantai atas, berhenti di depan pintu depan yang penuh rantai dan terkunci, dikelilingi oleh keluarga Weasley.

‘Selamat tinggal, Harry, jaga dirimu,’ kata Mrs Weasley sambil memeluknya.

‘Sampai jumpa, Harry, dan hati-hati dengan ular!’ kata Mr Weasley dengan riang, sambil menjabat tangannya.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.