Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

Sekitar pukul enam malam bel pintu berbunyi dan Mrs Black mulai menjerit lagi. Mengasumsikan bahwa Mundungus atau beberapa anggota Order yang lain telah datang berkunjung, Harry hanya membuat dirinya lebih nyaman di dinding kamar Buckbeak tempat dia sedang bersembunyi, berusaha mengabaikan bagaimana laparnya dia selagi dia memberi makan Hippogriff itu dengan tikus-tikus mati. Membuatnya sedikit terguncang ketika seseorang menggedor-gedor pintu dengan keras beberapa menit kemudian.

‘Aku tahu kau di dalam sana,’ kata suara Hermione. ‘Maukah kau keluar? Aku ingin berbicara kepadamu.’

‘Apa yang sedang kau lakukan di sini?’ Harry bertanya kepadanya, sambil menarik pintu hingga terbuka sementara Buckbeak melanjutkan cakarannya pada lantai yang dilapis jerami untuk mencari potongan-potongan tikus yang mungkin telah dijatuhkannya. ‘Kukira kau sedang berski dengan ayah dan ibumu?’

‘Well, sejujurnya, ski bukan keahlianku,’ kata Hermione. ‘Jadi, aku datang ke sini untuk Natalan.’ Ada salju di rambutnya dan wajahnya merah jambu karena kedinginan. ‘Tapi jangan beritahu Ron. Kubilang padanya ski sangat menyenangkan karena dia terus tertawa. Mum dan Dad sedikit kecewa, tapi kuberitahu mereka bahwa semua orang yang serius tentang ujian tinggal di Hogwarts untuk belajar. Mereka mau aku dapat nilai bagus, mereka akan mengerti. Ngomong-ngomong,’ dia berkata dengan cepat, ‘mari pergi ke kamar tidurmu, ibu Ron sudah menyalakan api di sana dan dia sudah mengirimkan roti isi.’

Harry mengikutinya kembali ke lantai dua. Ketika dia memasuki kamar tidur itu, dia agak terkejut melihat Ron dan Ginny sedang menunggu mereka, sambil duduk di tempat tidur Ron.

‘Aku datang naik Bus Ksatria,’ kata Hermione dengan ringan, sambil melepaskan jaketnya sebelum Harry bisa berbicara. ‘Dumbledore memberitahuku apa yang terjadi pagi-pagi sekali, tapi aku harus menunggu semester berakhir secara resmi sebelum berangkat. Umbridge sudah marah besar karena kalian semua menghilang tepat di bawah hidungnya, walaupun Dumbledore memberitahunya Mr Weasley ada di St Mungo dan dia sudah memberi kalian semua izin untuk menjenguk. Jadi …’

Dia duduk di samping Ginny, dan kedua gadis itu dan Ron semua memandang Harry.

‘Bagaimana perasaanmu?’ tanya Hermione.

‘Baik,’ kata Harry kaku.

‘Oh, jangan bohong, Harry,’ dia berkata dengan tidak sabar. ‘Ron dan Ginny bilang kau sudah bersembunyi dari semua orang sejak kalian kembali dari St Mungo.’

‘Mereka bilang begitu, bukan?’ kata Harry sambil melotot kepada Ron dan Ginny. Ron melihat ke bawah pada kakinya tetapi Ginny tampaknya tidak merasa malu.

‘Well, kau memang begitu!’ dia berkata. ‘Dan kau tak mau memandang satupun dari kami!’

‘Kalian semua yang tak mau memandangku!’ kata Harry dengan marah.

‘Mungkin kalian bergantian memandang, dan terus tak melihat satu sama lain,’ saran Hermione, sudut mulutnya berkedut.

‘Sangat lucu,’ sambar Harry sambil berpaling.

‘Oh, berhenti merasa salah dimengerti,’ kata Hermione dengan tajam. ‘Lihat, yang lain sudah memberitahuku apa yang kalian dengar tadi malam pada Telinga Yang-Dapat-Dipanjangkan –‘

‘Yeah?’ geram Harry, tangannya berada dalam-dalam di kantongnya selagi dia mengamati salju yang sekarang turun dengan lebat di luar. ‘Semua sudah berbicara tentang aku, bukan begitu? Well, aku sudah terbiasa.’

‘Kami ingin berbicara denganmu, Harry,’ kata Ginny, ‘tapi karena kau sudah bersembunyi sejak kita kembali –‘

‘Aku tak butuh siapapun berbicara kepadaku,’ kata Harry, yang merasa semakin terluka.

‘Well, kau agak bodoh,’ kata Ginny dengan marah, ‘mengingat kau tak kenal siapapun kecuali aku yang pernah dirasuki oleh Kau-Tahu-Siapa, dan aku bisa memberitahumu bagaimana rasanya.’

Harry terdiam sementara pengaruh kata-kata ini menghantamnya. Lalu dia berputar.

‘Aku lupa,’ dia berkata.

‘Beruntungnya kau,’ kata Ginny dengan dingin.

‘Maafkan aku,’ Harry berkata, dan dia bersungguh-sungguh. ‘Jadi … jadi, kalau begitu,

apakah menurutmu aku dirasuki?”Well, bisakah kau ingat semua hal yang pernah kau lakukan?’ Ginny bertanya.

‘Apakah ada periode-periode kosong di mana kau tidak tahu apa yang telah kau perbuat?’

Harry memutar otaknya.

‘Tidak,’ dia berkata.

‘Kalau begitu Kau-Tahu-Siapa tidak pernah merasukimu,’ kata Ginny dengan sederhana. ‘Waktu dia melakukannya padaku, aku tak bisa ingat apa yang telah kulakukan selama berjam-jam pada sekali waktu. Aku akan menemukan diriku sendiri di suatu tempat dan tidak tahu bagaimana aku sampai di sana.’

Harry hampir tidak berani mempercayainya, namun walau begitu hatinya semakin ringan.

‘Akan tetapi, mimpi yang kudapatkan tentang ayahmu dan ular itu –‘

‘Harry, kau sudah pernah mendapatkan mimpi-mimpi ini sebelumnya,’ Hermione berkata. ‘Kau mendapatkan kilasan-kilasan tentang apa yang sedang diperbuat Voldemort tahun lalu.’

‘Itu berbeda,’ kata Harry sambil menggelengkan kepalanya. ‘Aku ada di dalam ular itu. Sepertinya akulah ular itu … bagaimana kalau Voldemort dengan suatu cara memindahkanku ke London –?’

‘Suatu hari,’ kata Hermione, terdengar benar-benar putus asa, ‘kau akan membaca Sejarah Hogwarts, dan mungkin itu akan mengingatkanmu bahwa kau tak bisa ber-Apparate atau ber-Disapparate di dalam Hogwarts. Bahkan Voldemort tidak bisa membuat kau terbang begitu saja keluar dari kamar asramamu, Harry.’

‘Kau tidak meninggalkan tempat tidurmu, sobat,’ kata Ron. ‘Aku melihatmu tidak tenang dalam tidurmu selama setidaknya satu menit sebelum kami bisa membangunkanmu.’

Harry mulai berjalan bolak-balik di kamar itu lagi, sambil berpikir. Apa yang mereka semua katakan bukan hanya menenangkan, itu masuk akal … tanpa benar-benar berpikir, dia mengambil sebuah roti isi dari piring di atas tempat tidur dan menjejalkannya dengan lapar ke dalam mulutnya.

Ternyata aku bukan senjatanya, pikir Harry. Hatinya menggembung dengan kebahagiaan dan kelegaan, dan dia merasa ingin ikut serta ketika mereka mendengar Sirius berderap melewati pintu mereka menuju kamar Buckbeak, sambil menyanyikan ‘Tuhan Selamatkan Engkau, Hippogriff Gembira’ sekeras-kerasnya.

*

Bagaimana mungkin dia bermimpi kembali ke Privet Drive untuk Natalan? Kegembiraan Sirius mendapati rumahnya penuh lagi, dan terutama mendapatkan Harry kembali, menjalar. Dia tidak lagi tuan rumah cemberut di musim panas, sekarang dia tampak bertekad bahwa semua orang harus bersenang-senang sebesar, kalau tidak lebih lebih dari yang akan mereka alami di Hogwarts, dan dia bekerja tanpa lelah di hari-hari menjelang Hari Natal, membersihkan dan mendekorasi dengan bantuan mereka, sehingga pada saat mereka semua pergi tidur pada Malam Natal rumah itu hampir tidak bisa dikenali. Tempat-tempat lilin ternoda tak lagi bergantung dengan sarang laba-laba melainkan dengan kalung tanaman holly dan pita-pita emas dan perak; salju sihir berkilauan bertumpuk-tumpuk di atas karpet-karpet tipis; sebuah pohon Natal besar, yang didapat oleh Mundungus dan dihiasi dengan peri-peri hidup, menghalangi pohon keluarga Sirius dari pandangan, dan bahkan kepala-kepala peri yang disumpal di aula mengenakan topi dan janggut Bapa Natal.

Harry terbangun di pagi Natal untuk menemukan setumpuk hadiah di kaki tempat tidurnya dan Ron sudah setengah jalan membuka miliknya sendiri, tumpukan yang lumayan besar.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.