Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

Well, kalau dia harus melakukannya, pikirnya, tak ada gunanya berlama-lama. Mencoba sebisanya untuk tidak memikirkan bagaimana keluarga Dursley akan bereaksi ketika mereka menemukannya di ambang pintu mereka enam bulan lebih awal dari yang mereka harapkan, dia berjalan ke kopernya, membanting tutupnya dan menguncinya, lalu memandang sekilas ke sekelilingnya dengan otomatis untuk mencari Hedwig sebelum teringat bahwa dia masih di Hogwarts — well, kandangnya akan menjadi satu hal yang tak perlu dibawa — dia meraih salah satu ujung kopernya dan telah menyeretnya setengah jalan menuju pintu ketika sebuah suara menyindir berkata, ‘Melarikan diri, bukan begitu?’

Dia memandang berkeliling. Phineas Nigellus telah muncul di kanvas potretnya dan sedang mencondongkan badan pada bingkainya, sambil mengamati Harry dengan ekspresi geli di wajahnya.

‘Bukan melarikan diri, bukan,’ kata Harry singkat, sambil menyeret kopernya beberapa kaki lagi menyeberangi ruangan.

‘Kukira,’ kata Phineas Nigellus sambil membelai janggut runcingnya, ‘bahwa untuk berada di Asrama Gryffindor kau seharusnya berani! Tampaknya bagiku seolah-olah kau akan lebih baik di asramaku. Kami para Slytherin berani, ya, tapi tidak bodoh. Misalnya, kalau diberi pilihan, kami akan selalu memilih menyelamatkan hidup kami sendiri.’

‘Bukan hidupku yang sedang kuselamatkan,’ kata Harry ringkas, sambil menyentak koper itu melalui sepotong karpet termakan ngengat yang tidak rata tepat di depan pintu.

‘Oh, aku mengerti,’ kata Phineas Nigellus, masih membelai janggutnya, ‘ini bukan pelarian secara pengecut — kau sedang bersikap mulia.’

Harry mengabaikannya. Tangannya berada di kenop pintu ketika Phineas Nigellus berkata dengan malas, ‘Aku punya pesan untukmu dari Albus Dumbledore.’

Harry berputar.

‘Apa itu?’

‘”Tetaplah di tempatmu.”‘

‘Aku belum bergerak!’ kata Harry, tangannya masih di kenop pintu. ‘Jadi apa pesannya?’

‘Aku baru saja memberikannya kepadamu, tolol,’ kata Phineas Nigellus dengan lancar. ‘Dumbledore bilang, “Tetaplah di tempatmu.”‘

‘Kenapa?’ kata Harry dengan tidak sabar sambil menjatuhkan ujung kopernya. ‘Kenapa dia ingin aku tinggal? Apa lagi yang dikatakannya?’

‘Tak ada apapun,’ kata Phineas Nigellus, sambil mengangkat alis hitam tipis seolaholah dia mendapati Harry kurang ajar.

Amarah Harry naik ke permukaan seperti seekor ular yang membumbung dari rumput panjang. Dia letih sekali, dia sangat bingung, dia telah mengalami teror, kelegaan, lalu teror lagi dalam dua belas jam terakhir ini, dan masih saja Dumbledore tidak mau berbicara kepadanya!

‘Jadi begitu saja, bukan?’ dia berkata keras-keras. ‘”Tetaplah di tempatmu”! Hanya itu jugalah yang bisa dikatakan semua orang kepadaku setelah aku diserang oleh Dementor-Dementor itu! Jangan ke mana-mana sementara para orang dewasa menyelesaikannya, Harry! Walaupun kami takkan repot-repot memberitahumu apa-apa, karena otakmu yang kecil mungkin takkan bisa mengatasinya!’

‘Kau tahu,’ kata Phineas Nigellus, bahkan lebih keras daripada Harry, ‘inilah persisnya kenapa aku benci menjadi seorang guru! Para orang muda begitu yakin bahwa mereka sepenuhnya benar tentang segala hal. Tidakkah pernah terpikir olehmu, anak manja sombong yang malang, bahwa mungkin ada alasan bagus kenapa Kepala Sekolah Hogwarts tidak mempercayakan setiap detil kecil dari rencana-rencananya kepadamu? Pernahkah kau berhenti sejenak, selagi merasa diperlakukan tidak adil, untuk memperhatikan bahwa mengikuti perintah-perintah Dumbledore belum pernah menuntunmu ke bahaya? Tidak. Tidak, seperti semua orang muda, kau sangat yakin bahwa kau seorang yang merasa dan berpikir, kau seorang yang mengenali bahaya, kau seorang satu-satunya yang cukup pintar untuk menyadari apa yang mungkin sedang direncanakan Pangeran Kegelapan –‘

‘Kalau begitu, dia sedang merencanakan sesuatu yang berhubungan denganku?’ kata Harry dengan cepat.

‘Apa aku bilang begitu?’ kata Phineas Nigellus, sambil memeriksa sarung tangan suteranya dengan malas-malasan. ‘Sekarang, kalau kau bisa memaafkanku, aku punya hal-hal yang lebih baik untuk dilakukan daripada mendengarkan remaja mengeluh … selamat siang untukmu.’

Dan dia berjalan ke tepi bingkainya dan keluar dari pandangan.

‘Baik, pergilah kalau begitu!’ Harry berteriak kepada bingkai kosong itu. ‘Dan beritahu Dumbledore terima kasih tanpa alasan!’

Kanvas kosong itu tetap diam. Sambil mengomel, Harry menyeret kopernya kembali ke kaki ranjangnya, lalu melemparkan dirinya sendiri dengan muka duluan ke seprei termakan ngengat, matanya tertutup, tubuhnya berat dan sakit.

Dia merasa seolah-olah dia telah melakukan perjalanan selama bermil-mil … tampaknya tidak mungkin bahwa kurang dari dua puluh empat jam yang lalu Cho Chang telah mendekatinya di bawah mistletoe … dia begitu capek … dia takut untuk tidur … tapi dia tidak tahu berapa lama dia bisa melawannya … Dumbledore telah menyuruhnya untuk tinggal … itu pasti berarti dia boleh tidur … tapi dia takut … bagaimana kalau terjadi lagi?

Dia terbenam ke dalam bayang-bayang …

Seakan-akan sebuah film dalam kepalanya telah menunggu dimulai. Dia sedang berjalan di sebuah koridor sepi menuju sebuah pintu hitam sederhana, melalui dindingdinding batu yang kasar, obor-obor, dan sebuah ambang pintu terbuka menuju serangkaian anak-anak tangga yang mengarah ke bawah di sebelah kiri …

Dia mencapai pintu hitam itu tetapi tidak bisa membukanya … dia berdiri menatapnya, putus asa ingin masuk … sesuatu yang diinginkannya dengan sepenuh hati ada di baliknya … sesuatu yang berharga melampaui mimpi-mimpinya … kalau saja bekas lukanya bisa berhenti menusuk-nusuk … dengan begitu dia akan bisa berpikir lebih jernih …

‘Harry,’ kata suara Ron, dari tempat yang jauh, ‘Mum bilang makan malam sudah siap, tapi dia akan menyisakan sesuatu untukmu kalau kau mau tetap di tempat tidur.’

Harry membuka matanya, tetapi Ron telah meninggalkan ruangan itu.

Dia tidak mau sendirian bersamaku, Harry berpikir. Tidak setelah dia mendengar apa yang telah dikatakan Moody.

Dia merasa tak seorangpun dari mereka akan mau dia di sana lagi, sekarang setelah mereka tahu apa yang ada dalam dirinya.

Dia tidak akan turun untuk makan malam,. dia tidak akan memaksakan kehadirannya pada mereka. Dia berpaling ke sisi yang lain dan, setelah beberapa saat, kembali tidur. Dia bangun lama kemudian, pagi-pagi sekali, isi tubuhnya sakit karena lapar dan Ron sedang mendengkur di ranjang sebelah. Sambil memicingkan mata ke sekitar kamar, dia melihat garis-garis tubuh Phineas Nigellus berdiri lagi di potretnya dan terpikir oleh Harry bahwa Dumbledore mungkin telah mengirim Phineas Nigellus untuk mengawasinya, kalau-kalau dia menyerang orang lain.

Perasaan tidak bersih itu semakin kuat. Dia setengah berharap dia tidak mematuhi Dumbledore … kalau ini kehidupan yang akan dialaminya di Grimmauld Place dari sekarang, mungkin dia lebih baik di Privet Drive.

*

Semua orang lain menghabiskan pagi berikutnya memasang hiasan Natal. Harry tidak bisa mengingat Sirius pernah berada dalam suasana hati yang demikian bagus; dia bahkan menyanyikan lagu-lagu Natal, tampaknya senang dia mendapat teman melewati Natal. Harry bisa mendengar suaranya menggema naik melalui lantai di ruang duduk yang dingin di mana dia sedang duduk sendirian, mengamati langit semakin putih di luar jendela, salju yang mengancam, sepanjang waktu merasakan kesenangan kejam bahwa dia sedang memberikan kesempatan kepada yang lainnya untuk terus membicarakannya, yang pasti sedang mereka lakukan. Ketika dia mendengar Mrs Weasley memanggil namanya dengan lembut di tangga sekitar waktu makan siang, dia mundur ke atas lagi dan mengabaikannya.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.