Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

‘Tidak apa-apa, Harry. Kami telah datang untuk membawamu pergi.’

Jantung Harry melonjak. Dia juga mengenal suara itu, walaupun dia sudah tidak mendengarnya selama lebih dari setahun.

‘P-Profesor Lupin?’ dia berkata dengan tidak percaya. ‘Andakah itu?’

‘Mengapa kita semua berdiri dalam kegelapan?’ kata suara ketiga, yang satu ini benarbenar tidak dikenal, suara seorang wanita. ‘Lumos.’

Ujung sebuah tongkat menyala, menerangi aula itu dengan cahaya sihir. Harry berkedip. Orang-orang di bawah berkerumun di sekitar kaki tangga, menatap kepadanya lekat-lekat, beberapa menjulurkan kepala-kepala mereka untuk mendapatkan pandangan yang lebih baik.

Remus Lupin berdiri paling dekat dengannya. Walaupun masih lumayan muda, Lupin terlihat lelah dan agak sakit; dia punya lebih banyak rambut kelabu daripada ketika Harry mengucapkan selamat berpisah kepadanya terakhir kali dan jubahnya lebih banyak tambalan dan lebih kusam daripada dulu. Walaupun begitu, dia tersenyum lebar kepada Harry, yang mencoba tersenyum balik walau sedang dalam keadaan terguncang.

‘Oooh, dia terlihat persis seperti yang kuduga,’ kata penyihir wanita yang sedang memegang tongkatnya yang menyala tinggi-tinggi. Dia terlihat yang paling muda di sana; dia memiliki wajah pucat berbentuk hati, mata gelap bersinar, dan rambut jigrak pendek yang berwarna violet berat. ‘Pakabar, Harry!’

‘Yeah, aku tahu maksudmu, Remus,’ kata seorang penyihir hitam botak yang berdiri paling belakang — dia memiliki suara dalam yang pelan dan mengenakan sebuah anting emas tunggal di telinganya –‘dia tampak persis seperti James.’

‘Kecuali matanya,’ kata seorang penyihir pria berambut perak dengan suara mencicit di belakang. ‘Mata Lily.’

Mad-Eye Moody, yang mempunyai rambut kelabu beruban yang panjang dan sepotong daging yang hilang dari hidungnya, sedang mengedipkan mata dengan curiga kepada Harry melalui matanya yang tidak sepadan. Salah satu matanya kecil, gelap dan seperti manik-manik, mata yang lain besar, bundar dan berwarna biru elektrik — mata ajaib yang bisa menembus dinding, pintu dan bagian belakang kepala Moody sendiri.

‘Apakah kamu cukup yakin itu dia, Lupin?’ dia menggeram. ‘Pasti jadi pengintai yang bagus kalau kita membawa pulang Pelahap Maut yang menyamar sebagai dia. Kita harus menanyainya sesuatu yang hanya akan diketahui Potter asli. Kecuali ada yang bawa Veritaserum?’

‘Harry, bentuk apa yang diambil Patronusmu?’ Lupin bertanya.

‘Seekor kijang jantan,’ kata Harry dengan gugup.

‘Itu dia, Mad-Eye,’ kata Lupin.

Sangat sadar bahwa semua orang masih menatapnya, Harry menuruni tangga sambil menyimpan tongkatnya di kantong belakang celana jinsnya ketika dia tiba.

‘Jangan taruh tongkatmu di sana, nak!’ raung Moody. ‘Bagaimana kalau menyala? Penyihir yang lebih baik darimu sudah kehilangan pantat, kau tahu!’

‘Siapa yang kamu kenal yang sudah kehilangan pantat?’ wanita berambut violet itu bertanya kepada Moody dengan tertarik.

‘Tidak usah tahu, kau cukup jauhkan tongkatmu dari kantong belakangmu!’ geram Mad-Eye. ‘Keamanan tongkat tingkat dasar, tidak ada lagi yang mau repot mematuhinya.’ Dia tertatih menuju dapur. ‘Dan aku melihat itu,’ dia menambahkan dengan agak marah, ketika wanita itu menggulirkan matanya ke langit-langit.

Lupin mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Harry.

‘Bagaimana kabarmu?’ dia bertanya sambil melihat Harry dengan seksama.

‘B-baik …’

Harry hampir tidak dapat mempercayai bahwa ini nyata. Empat minggu tanpa apapun, tidak secuilpun petunjuk mengenai rencana memindahkan dia dari Privet Drive, dan tibatiba sekelompok besar penyihir berdiri bukan khayalan di rumah itu seoleh-olah ini adalah pengaturan yang telah lama disepakati. Dia melirik sekilas kepada orang-orang yang mengelilingi Lupin; mereka masih menatapnya dengan tertarik. Dia merasa sangat sadar akan fakta bahwa dia belum menyisir rambut selama empat hari.

‘Aku — kalian sangat beruntung keluarga Dursley sedang keluar …’ dia bergumam.

‘Beruntung, ha!’ kata wanita berambut violet. ‘Aku yang memikat mereka agar tidak jadi penghalang. Mengirim sepucuk surat dengan pos Muggle memberitahu mereka telah diikutkan dalam Kompetisi Halaman Suburban Yang Terawat Paling Rapi Seluruh Inggris. Mereka sedang menuju ke acara pemberian hadiah sekarang … atau itu yang mereka pikir.’

Harry mendapat bayangan sekilas dari wajah Paman Vernon ketika dia menyadari tidak ada Kompetisi Halaman Suburban Yang Terawat Paling Rapi Seluruh Inggris.

‘Kita akan berangkat, bukan?’ dia bertanya. ‘Segera?’

‘Hampir seketika,’ kata Lupin, ‘kita hanya menunggu tanda aman.’

‘Ke mana kita akan pergi? The Burrow?’ Harry bertanya dengan penuh harapan.

‘Bukan The Burrow, bukan,’ kata Lupin, sambil memberi isyarat kepada Harry menuju dapur; kelompok kecil penyihir itu mengikuti, semuanya masih memandang Harry dengan rasa ingin tahu. ‘Terlalu beresiko. Kami sudah mendirikan Markas Besar di suatu tempat yang tidak terdeteksi. Sudah beberapa lama …’

Mad-Eye Moody sekarang sedang duduk di meja dapur sambil minum dari botolnya, mata sihirnya berputar ke segala arah, mengamati banyak peralatan penghemat tenaga keluarga Dursley.

‘Ini Alastor Moody, Harry,’ Lupin melanjutkan, sambil menunjuk kepada Moody.

‘Yeah, aku tahu,’ kata Harry tidak nyaman. Rasanya aneh diperkenalkan kepada seseorang yang dikiranya sudah dikenalnya selama setahun.

‘Dan ini Nymphadora –‘

‘Jangan panggil aku Nymphadora, Remus,’ kata penyihir wanita muda itu dengan rasa jijik, ‘namaku Tonks.’

‘Nymphadora Tonks, yang lebih suka dikenal dengan nama keluarganya saja,’ Lupin menyudahi.

‘Kau juga akan begitu kalau ibumu yang bodoh memberimu nama Nymphadora,’ gumam Tonks.

‘Dan ini Kingsley Shacklebolt,’ Dia menunjuk kepada penyihir pria tinggi hitam, yang membungkuk. ‘Elphias Doge.’ Penyihir pria bersuara mencicit mengangguk. ‘Dedalus Diggle –‘

‘Kita sudah pernah berjumpa,’ ciut Diggle yang bersemangat, sambil menjatuhkan topinya yang berwarna violet.

‘Emmeline Vance.’ Seorang peyihir wanita yang tampak agung dengan syal hijau jamrud mencondongkan kepalanya. ‘Sturgis Podmore.’ Seorang penyihir pria berahang persegi dengan rambut tebal berwarna jerami mengedipkan matanya. ‘Dan Hestia Jones.’ Seorang penyihir wanita berpipi merah dan berambut hitam melambai dari sebelah pemanggang roti.

Harry mencondongkan kepalanya dengan canggung kepada setiap orang ketika mereka sedang diperkenalkan. Dia berharap mereka bisa melihat ke benda lain selain dirinya; rasanya seolah dia mendadak dibawa ke atas panggung. Dia juga bertanya-tanya mengapa mereka begitu banyak yang berada di sini.

‘Sejumlah orang dalam jumlah mengejutkan mengajukan diri untuk datang dan menjemputmu,’ kata Lupin, seoleh-oleh dia telah membaca pikiran Harry; sudut mulutnya berkedut sedikit.

‘Yeah, well, semakin banyak semakin baik,’ kata Moody dengan suram. ‘Kami adalah pengawalmu, Potter.’

‘Kita hanya menunggu pertanda untuk memberitahu kita sudah aman untuk berangkat,’ kata Lupin sambil melirik ke luar jendela dapur. ‘Kita punya waktu sekitar lima belas menit.’

‘Sangat bersih, para Muggle ini, bukan begitu?’ kata penyihir wanita yang dipanggil Tonks, yang sedang melihat-lihat sekeliling dapur dengan minat besar. ‘Ayahku seorang yang terlahir dari Muggle dan dia sangat pemalas. Kukira mereka bermacam-macam juga seperti penyihir?’

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.