Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

‘Oh, Sirius, aku sangat berterima kasih … mereka mengira dia akan berada di sana selama beberapa waktu dan pastilah menyenangkan berada lebih dekat … tentu saja, itu berarti kami akan berada di sini selama Natal.’

‘Semakin banyak semakin riang!’ kata Sirius dengan ketulusan yang tampak jelas sehingga Mrs Weasley tersenyum kepadanya, mengenakan sebuah celemek dan mulai membantu membuat sarapan.

‘Sirius,’ Harry bergumam, tidak dapat menahannya lebih lama lagi. ‘Boleh aku bicara sebentar? Er — sekarang?’

Dia berjalan ke dalam ruang penyimpanan yang gelap dan Sirius mengikuti. Tanpa pembukaan, Harry memberitahu ayah angkatnya setiap detil dari penglihatan yang dialaminya, termasuk fakta bahwa dia sendiri yang telah menjadi ular yang menyerang Mr Weasley.

Ketika dia berhenti sejenak untuk mengambil napas, Sirius berkata, ‘Apakah kamu memberitahukan Dumbledore hal ini?’

‘Ya,’ kata Harry tidak sabar, ‘tapi dia tidak memberitahuku apa artinya itu. Well, dia tidak memberitahuku apa-apa lagi.’

‘Aku yakin dia pasti akan memberitahumu kalau itu sesuatu yang perlu dikhawatirkan,’ kata Sirius dengan mantap.

‘Tapi bukan itu saja,’ kata Harry, dengan suara yang hanya sedikit di atas bisikan. ‘Sirius, aku … kukira aku akan jadi gila. Tadi di kantor Dumbledore, persis sebelum kami mengambil Portkey … selama beberapa detik di sana aku berpikir aku seekor ular, aku merasa seperti seekor –bekas lukaku sangat sakit ketika aku melihat kepada Dumbledore — Sirius, aku ingin menyerangnya.’

Dia hanya bisa melihat sepotong wajah Sirius; sisanya berada dalam kegelapan.

‘Itu pasti lanjutan dari penglihatan tadi, itu saja,’ kata Sirius. ‘Kamu masih memikirkan mimpi atau apapun itu dan –‘

‘Bukan itu,’ kata Harry sambil menggelengkan kepalanya, ‘rasanya seperti sesuatu bangkit dalam diriku, seperti ada seekor ular di dalam diriku.’

‘Kamu butuh tidur,’ kata Sirius dengan tegas. ‘Kamu akan sarapan pagi, lalu naik ke atas ke tempat tidur, dan setelah makan siang kamu bisa pergi dan menjenguk Arthur dengan yang lain. Kamu sedang terguncang, Harry; kamu menyalahkan dirimu untuk sesuatu yang hanya kausaksikan, dan beruntunglah kau menyaksikannya atau Arthur mungkin sudah mati. Berhentilah khawatir.’

Dia menepuk pundak Harry dan meninggalkan ruang penyimpanan, meninggalkan Harry berdiri sendiri dalam kegelapan.

*

Semua orang kecuali Harry menghabiskan sisa pagi itu dengan tidur. Dia naik ke kamar tidur yang telah dipakai bersama olehnya dan Ron selama beberapa minggu dalam musim panas, tetapi sementara Ron merangkak ke tempat tidur dan tertidur dalam beberapa menit, Harry duduk berpakaian lengkap, membungkuk pada batang logam kepala tempat tidur yang dingin, dengan sengaja menjaga dirinya dalam keadaan tidak nyamam, bertekad untuk tidak tertidur, takut bahwa dia mungkin berubah menjadi ular lagi dalam tidurnya dan terbangun menemukan bahwa dia telah menyerang Ron, atau merayap di rumah itu mengejar salah satu dari yang lain …

Ketika Ron terbangun, Harry berpura-pura telah menikmati tidur sejenak yang menyegarkan juga. Koper-koper mereka tiba dari Hogwarts ketika mereka sedang makan siang, sehingga mereka bisa berpakaian sebagai Muggle untuk perjalanan ke St Mungo. Semua orang kecuali Harry senang tidak karuan dan cerewet ketika mereka mengganti jubah mereka ke dalam celana jins dan baju kaus. Ketika Tonks dan Mad-Eye muncul untuk mengawal mereka menyeberangi London, mereka menyambut dengan riang gembira, sambil menertawakan topi bowler yang sedang dikenakan Mad-Eye pada sudut yang menyembunyikan mata sihirnya dan meyakinkan dia, dengan sebenarnya, bahwa Tonks, yang rambutnya pendek dan berwarna merah muda menyala lagi, akan menarik lebih sedikit perhatian di Kereta Bawah Tanah.

Tonks sangat tertarik dengan penglihatan Harry mengenai penyerangan Mr Weasley, sesuatu yang Harry sama sekali tidak berminat membahas.

‘Tidak ada darah Penglihat dalam keluargamu, ‘kan?’ dia bertanya dengan penuh rasa ingin tahu, ketika mereka duduk bersebelahan dalam kereta api yang sedang berderak menuju jantung kota.

‘Tidak,’ kata Harry, memikirkan Profesor Trelawney dan merasa terhina.

‘Tidak,’ kata Tonks sambil merenung, ‘tidak, kukira itu bukan ramalan yang sebenarnya yang kau lakukan itu, benar ‘kan? Maksudku, kau tidak melihat masa depan, kau melihat masa sekarang … aneh, bukan? Walau berguna …’

Harry tidak menjawab; untung saja, mereka keluar di pemberhentian berikutnya, sebuah stasiun di pusat kota London, dan dalam kesibukan meninggalkan kereta api dia bisa membuat Fred dan George berada di antara dirinya dan Tonks, yang sedang memimpin jalan. Mereka semua mengikutinya menaiki eskalator, Moody sambil berdebam di belakang kelompok, topinya miring dengan sudut rendah dan satu tangan berbonggol tersangkut di antara kancing-kancing mantelnya, memegang tongkatnya. Harry mengira dia merasakan mata tersembunyi menatap lekat kepadanya. Berusaha menghindari pertanyaan lagi mengenai mimpinya, dia bertanya kepada Mad-Eye di mana St Mungo tersembunyi.

‘Tidak jauh dari sini,’ gerutu Moody ketika mereka melangkah keluar ke udara musim dingin di jalan lebar yang diapit toko-toko dan dipenuhi orang-orang yang belanja untuk Natal. Dia mendorong Harry sedikit ke depannya dan tertatih persis di belakang; Harry tahu matanya sedang bergulir ke segala arah di bawah topi miring itu. ‘Tidak mudah menemukan lokasi yang bagus untuk sebuah rumah sakit. Tidak ada tempat di Diagon Alley yang cukup besar dan kami tidak bisa mendirikannya di bawah tanah seperti Kementerian — tidak sehat. Akhirnya mereka berhasil mendapatkan sebuah bangunan di sini. Secara teori, penyihir yang sakit bisa datang dan pergi dan cukup berbaur dengan kerumunan.’

Dia meraih bahu Harry untuk mencegah mereka dipisahkan oleh serombongan pembelanja yang jelas hanya ingin masuk ke dalam sebuah toko di dekat situ yang penuh dengan peralatan listrik.

‘Ini dia,’ kata Moody sejenak kemudian.

Mereka telah tiba di luar sebuah department store besar, kuno, merah bata yang dinamakan Purge & Dowse Ltd. Tempat itu memiliki hawa kumuh dan menyedihkan; pajangan di jendela terdiri atas bebrapa boneka retak dengan rambut palsu miring, berdiri sembarangan dan memperagakan mode yang sedikitnya sepuluh tahun ketinggalan zaman. Tanda-tanda besar pada pintu-pintu yang penuh debu bertuliskan: ‘Ditutup untuk Pembaruan’. Harry jelas-jelas mendengar seorang wanita bertubuh besar dengan tas-tas belanja plastik berkata kepada temannya ketika mereka lewat, ‘Tidak pernah buka, tempat itu …’

‘Benar,’ kata Tonks sambil memberi isyarat kepada mereka ke sebuah jendela yang tidak memperlihatkan apa-apa kecuali sebuah boneka wanita yang sangat jelek. Bulu mata palsu boneka itu sudah hampir jatuh dan dia sedang memperagakan sebuah baju luar nilon berwarna hijau. ‘Semua siap?’

Mereka mengangguk, berkumpul di dekatnya. Moody memmberi Harry dorongan lagi di antara tulang bahunya untuk mendesaknya maju dan Tonks bersandar dekat ke kaca, sambil melihat kepada boneka yang sangat jelek itu, napasnya menguap ke kaca. ‘Pakabar,’ katanya, ‘kami ke sini untuk menjenguk Arthur Weasley.’

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.