Baca Novel Online

Harry Potter Dan Orde Phoenix

Profesor McGonagall menarik tongkatnya keluar dari jubah longgarnya dan melambaikannya; tiga kursi muncul di udara, dengan sandaran tegak dan terbuat dari kayu, sama sekali lain dengan kursi berlengan nyaman dengan kain cita yang disihir Dumbledore di acara dengar pendapat Harry. Harry duduk, memandangi Dumbledore dari balik bahunya. Dumbledore sekarang sedang mengelus kepala Fawkes yang berbulu halus keemasan dengan satu jari. Burung phoenix itu terbangun dengan segera. Dia merentangkan kepalanya yang indah tinggi-tinggi dan memandangi Dumbledore melalui mata gelap yang cemerlang.

‘Kami akan butuh,’ Dumbledore berkata sangat pelan kepada burung itu, ‘sebuah peringatan.’

Ada kilasan api dan burung phoenix itu pergi.

Dumbledore sekarang berjalan ke salah satu instrumen perak yang mudh pecah yang kegunaannya belum pernah diketahui Harry, membawanya ke meja tulisnya, duduk menghadap mereka lagi dan mengetuknya dengan pelan menggunakan ujung tongkatnya.

Instrumen itu seketika menjadi hidup dengan bunyi denting yang berirama. Gumpalan kekil asap hijau muncul dari tabung perak yang amat kecil di puncaknya. Dumbledore memperhatikan asap itu dengan seksama, alisnya mengerut. Setelah beberapa detik, gumpalan-gumpalan kecil tersebut menjadi aliran asap yang kuat yang menebal dan bergelung di udara … kepala seekor ular tumbuh di ujungnya, membuka mulut lebarlebar. Harry mengira-ngira apakan instrumen tersebut membenarkan ceritanya: dia melihat dengan tidak sabar kepada Dumbledore untuk mencari tanda-tanda bahwa dirinya

benar, tetapi Dumbledore tidak melihat ke atas.

‘Tentu saja, tentu saja,’ gumam Dumbledore tampaknya kepada diri sendiri, masih memandangi aliran asap tanpa tanda-tanda keterkejutan sama sekali. ‘Tetapi intisarinya terbagi?’

Harry sama sekali tidak mengerti arti pertanyaan itu. Akan tetapi, ular berasap itu membelah diri seketika menjadi dua ekor ular, keduanya bergelung dan bergoyang seperti ombak di udara yang gelap. Dengan pandangan puas yang suram, Dumbledore mengetuk instrumen itu sekali lagi dengan tongkatnya: bunyi denting semakin pelan dan menghilang dan ular berasap memudar, menjadi kabut yang tidak berbentuk dan menghilang.

Dumbledore mengembalikan instrumen tersebut ke atas meja kecil berkaki panjangnya. Harry melihat banyak dari kepala sekolah lama dalam potret-potret mereka mengikuti dia dengan mata mereka, lalu, menyadari bahwa Harry sedang mengamati mereka, cepat-cepat berpura-pura tidut lagi. Harry ingin bertanya apa kegunaan instrumen perak aneh itu, tetapi sebelum dia dapat melakukannya, ada teriakan dari bagian atas dinding di sebelah kanan mereka; penyihir yang disebut Everard telah muncul kembali ke dalam potretnya, sedikit terengah-engah.

‘Dumbledore!’

‘Ada berita apa?’ kata Dumbledore segera.

‘Aku berteriak sampai seseorang datang sambil berlari,’ kata si penyihir, yang sedang mengelap alisnya pada tirai di belakangnya, ‘berkata kudengar sesuatu bergerak di lantai bawah — mereka tidak yakin apakah harus percaya padaku tetapi turun juga untuk mengecek — kamu ‘kan tahu tidak ada potret di bawah sana untuk menyaksikannya. Namun demikian, mereka membawanya ke atas beberapa menit kemudian. Dia tidak tampak baik, dia penuh darah, aku berlari ke potret Elfrida Cragg untuk mendapatkan pandangan yang utuh sewaktu mereka pergi –‘

‘Bagus,’ kata Dumbledore sementara Ron membuat gerakan menggelepar. ‘Kurasa Dilys pasti telah melihatnya tiba, lalu –‘

Dan sejenak kemudian, penyihir wanita berikal keperakan itu juga telah muncul kembali ke dalam lukisannya, dia terhenyak, batuk-batuk, ke dalam kursi berlengannya dan berkata, ‘Ya, mereka telah membawanya ke St Mungo, Dumbledore … mereka membawanya melewati potretku … dia tampak parah …’

‘Terima kasih,’ kata Dumbledore. Dia memandang ke sekitar ke arah Profesor McGonagall.

‘Minerva, aku perlu kamu pergi dan membangunkan anak-anak Weasley yang lain.’

‘Tentu saja …’

Profesor McGonagall bangkit dan bergerak cepat menuju pintu. Harry melayangkan pandangan ke samping kepada Ron, yang terlihat ketakutan.

‘Dan Dumbledore — bagaimana dengan Molly?’ kata Profesor McGonagall, berhenti sejenak di pintu.

‘Itu adalah tugas Fawkes ketika dia selesai berjaga-jaga terhadap siapapun yang mendekat,’ kata Dumbledore. ‘Tetapi dia mungkin sudah tahu … jamnya yang ulung itu …’

Harry tahu Dumbledore sedang membicarakan jam yang memberitahu, bukan waktu, tetapi keberadaan dan kondisi berbagai anggota keluarga Weasley, dan dengan kepedihan tiba-tiba dia berpikir bahwa jarum Mr Weasley pastilah, bahkan sekarang, menunjuk ke bahaya maut. Tetapi hari sudah sangat malam. Mrs Weasley mungkin sudah tertidur, tidak memperhatikan jam itu. Harry merasa dingin sewaktu dia mengingat Boggart Mrs Weasley yang berubah menjadi tubuh tidak bernyawa Mr Weasley, kacamatanya miring, darah bercucuran di wajahnya … tetapi Mr Weasley tidak akan mati … dia tidak mungkin …

Dumbledore sekarang menggeledah sebuah lemari di belakang Harry dan Ron. Dia keluar dari lemari itu sambil membawa sebuah ketel tua yang telah menghitam, yang diletakkannya dengan hati-hati dia atas meja tulisnya. Dia menaikkan tongkatnya dan bergumam, ‘Portus!’ Sejenak ketel itu bergetar, mengeluarkan cahaya biru yang aneh; lalu bergetar diam, masih sehitam dulu.

Dumbledore berjalan ke potret lainnya, kali ini seorang peyihir pria berwajah cerdas dengan janggut runcing, yang telah dilukis mengenakan warna-warna Slytherin hijau dan perak dan tampaknya sedang tertidur begitu lelapnya sehingga dia tidak bisa mendengar suara Dumbledore sewaktu mencoba membangunkannya.

‘Phineas. Phineas.’

Subyek potret-potret yang berbaris di ruangan itu tidak lagi berpura-pura tidur; mereka bergeser-geser dalam bingkai mereka, supaya melihat apa yang sedang terjadi dengan baik. Ketika penyihir berwajah cerdas itu terus berpura-pura tertidur, beberapa dari mereka meneriakkan namanya juga.

‘Phineas! Phineas! PHINEAS!’

Dia tidak bisa berpura-pura lebih lama lagi; dia memberi sentakan yang dibuat-buat dan membuka matanya lebar-lebar.

‘Apakah ada yang memanggil?’

‘Aku perlu kamu mengunjungi potretmu yang satu lagi, Phineas,’ kata Dumbledore.

‘Aku punya pesan lain.’

‘Mengunjungi potretku yang lain?’ kata Phineas dengan suara nyaring, mengeluarkan kuap panjang yang palsu (matanya jelalatan ke seluruh ruangan dan berfokus pada Harry). ‘Oh, tidak, Dumbledore, aku terlalu lelah malam ini.’

Sesuatu mengenai suara Phineas terasa akrab bagi Harry, di mana pernah didengarnya? Tetapi sebelum dia sempat berpikir, potret-potret pada dinding-dinding yang mengelilingi mengeluarkan serangan protes.

‘Ketidakpatuhan, sir!’ raung seorang penyihir gemuk berhidung merah, sambil memamerkan kepalan tangannya. ‘Kelalaian melakukan tugas!’

‘Kita terikat kehormatan untuk memberi jasa kepada Kepala Sekolah Hogwarts yang sekarang!’ teriak seorang penyihir tua yang tampak rapuh yang dikenali Harry sebagai pendahulu Dumbledore, Armando Dippet. ‘Seharusnya kamu malu, Phineas!’

‘Haruskah aku membujuknya, Dumbledore?’ panggil seorang penyihir wanita bermata jelalatan, mengangkat sebuah tongkat yang ketebalannya tidak biasa yang mirip cambuk dari kayu birch.

‘Oh, baiklah,’ kata penyihir yang dipanggil Phineas, menatap tongkat itu dengan pengertian, ‘walaupun dia mungkin telah menghancurkan lukisanku sekarang, dia telah membuang sebagian besar anggota keluarga –‘

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.